Semua sudah bersiap-siap, Hayu diboyong untuk didandani dan dipakaikan kebaya. Air matanya telah berhenti, namun disaat ia mendengar ijab qobul telah dilontarkan pria yang baru saja ia kenal, pria yang sempat membuatnya jatuh cinta. Namun, ia hanya bisa menangis dan terdiam tanpa mengucapkan apapun.
"Sudahlah. Semuanya sudah terjadi... Ibu harap kamu bisa jadi Istri yang Sholeha. Walau pun Devan adalah orang asing bagi kamu dia tetap Suamimu sekarang dan selamanya."
Deg!
Rasa sakit di hatinya, terasa seperti tersayat pisau. Selamanya? Kata itu terasa begitu ambigu, apa iya pernikahan ini akan bertahan selamanya seperti yang Ibunya inginkan? Apa Hayu bisa mempertahankan cintanya pada Devan.
Bu, Aku minta maaf. Aku juga harap aku bisa bersama Devan selamanya, sampai hembusan nafas terakhirku, namun jika Allah berkehendak dan kami memang tidak ditakdirkan bersama... aku tidak bisa apa-apa,' batin Hayu, ia merasa bingung juga sedih. Harusnya ini adalah momen bahagia untuk Hayu, akan tetapi dirinya harus memikirkan bagaimana kedepannya, apa mereka akan berpisah setelah ini?
"Hayu!"
Hayu hanya diam, karena ia tak mendengar sama sekali.
"Nak." Hayu terkejut saat seseorang memegang bahunya.
"Ah, Ibu? Kenapa?" tanya Hayu.
"Kamu harus keluar menemui Suamimu, emangnya apa lagi," cetus seseorang dibelakang sana. Kiem dia adalah orang paling rempong, rese dan selalu kepo dengan urusan orang lain.
Hayu hanya ber'oh', ia melewati Kiem begitu saja bagaimanapun ia masih tahu cara menghormati yang lebih tua dengan tidak menjawab balik Kiem atas ucapannya.
"Dasar tidak tahu diri," umpat Kiem, karena malas ribut lagi Hayu hanya diam tak meladeni.
Hayu capek, jika setiap hari harus merasakan keributan dan pertengkaran ia sebenarnya sudah lama muak tinggal di Desa ini. Desa yang menurutnya isi orang-orangnya tidak menghargai orang lain, main hakim sendiri, terlalu mudah dihasut dan banyak lagi yang membuat Hayu semakin muak.
Namun apa dayanya, untuk pindah ke Desa lain, Hayu dan Ibunya perlu melewati kota. Akan tetapi Ibunya trauma dengan yang namanya perkotaan.
Dengan gontai Hayu berjalan menuju Devan, pria itu terlihat sangat gagah dan tampan menggunakan stelan jas putih itu. Jika saja... Ini bukan karena paksaan ia pasti akan merasa sangat bahagia dan terpesona dengan sosok Suaminya.
Sayangnya, pernikahan kita bukan karena cinta... Aku harap suatu hari nanti kamu merasakan hal itu terhadapku,' batin Hayu, memandang lurus pada Devan. Hayu tak ingin melihat sekitar, melihat orang-orang yang terlihat jijik, kesal, terpesona juga iri dengan tampilan Hayu.
Hayu tampil sangat cantik dengan kebaya yang memperlihatkan sedikit punggung mulusnya yang putih, juga rambut panjangnya yang di sanggul, serta make up yang tak pernah ia sentuh sekalipun selama hidupnya. Perubahan Hayu membuat semua orang terkejut, mereka memang tahu Hayu cantik, namun sekarang mereka merasa Hayu sangat cantik.
Para gadis menganggumi sosok Devan, sedangkan para pria menganggumi sosok Hayu. Terlintas dipikiran warga Desa bahwa Hayu dan Devan memang ditakdirkan bersama.
Ibu harap kamu bahagia... Ibu rasa Devan memang jodohmu, nak,' batin Ratna, yang mulai menerima keadaan.
Hayu menyalami Devan, laku Devan dengan kaku mencium kening Hayu karena pintaan penghulu dan Tante Ratna, et Ibu mertuanya.
Deg!
Lagi-lagi disaat yang tidak tepat, jantung Hayu berdegup sangat kencang dengan wajah memerah.
'Akhh, aku sangat malu. Kenapa ... Kenapa aku harus berdebar-debar.'
🦋🦋🦋
Selesainya semua acara, mereka kembali kerumah masing-masing begitupun Hayu dan keluarganya. Devan harus ikut Hayu dan Ratna kembali, bagaimanapun sekarang ia sudah menjadi bagian dari keluarga Ratna.
"Devan," panggil Ratna, tersenyum lembut.
"Ya, Tan?" tanya Devan bingung.
"Kenapa masih panggil Tante, kamu panggil Ibu dong. Ibu Hayu juga Ibu kamu sekarang," jelas Ratna sangat lembut. Ia menganggap Devan seperti anaknya sendiri.
Devan pun merasakan sesuatu dengan perilaku Ratna padanya. Seperti sesuatu yang memang sudah lama hilang darinya, namun kembali dengan adanya Ratna.
Tapi apa itu? Aku sungguh tidak bisa mengingat apapun saat ini, sial,' batin Devan merasa bodoh.
"Ya, Bu." Hayu yang melihat itu hanya bisa cekikikan dibelakang sana, melihat wajah kaku plus dingin Devan mengatakan Ibu.
Deg!
Hayu terdiam, ia baru teringat sesuatu sekarang.
"Kita sudah menikah artinya? Kita bakalan... Mala---." Hayu menutup mulutnya sendiri dengan menahan rasa mu teramat dalam. Bagaimana bisa pikirannya sudah seliar ini, melakukan hal itu tentu saja ia tidak mau apa lagi mereka tidak saling mencintai.
"Kalo enggak itu... Pasti tidur bersama. Ak-Aku, aku harus bagaimana ini?" gumam Hayu mondar-mandir di kamarnya.
Hayu berlari mengambil handuk untuk mandi, tubuhnya sudah berkeringat akibat menggunakan kebaya yang menurutnya cukup panas.
Sementara itu, Devan dan Ratna.
Ratna menatap dalam Devan. Ia ingin mencari kepastian dimata anak itu, anak yang sekarang adalah menantunya, Suami dari Putri satu-satunya.
"Ibu harap, kamu bisa menjaga dan merawat Hayu. Ibu pastikan kamu tidak akan menyesal memiliki Hayu sebagai Istrimu, Nak."
Ratna menangis. "Sebenarnya ini semua salah, Hayu yang terlalu mudah percaya, sehingga kalian bisa terjebak seperti ini. Ibu tau, kamu bukan sosok orang yang banyak bicara, tapi Ibu mohon untuk menjaga hatinya," jelas Ratna.
Devan yang melihat itu seketika merasa bersalah direlung hatinya.
'Salahkah, jika aku tak bisa menepati janji itu? Aku tak ingin mengecewakan Hayu, bagaimanapun aku hanyalah manusia tanpa ingatan masa lalu, aku tidak mengetahui bagaimana masa laluku, aku tidak ingin menyakiti siapapun,' batin Devan, ini adalah isi hatinya yang sebenarnya.
"Baik, B-bu. Aku akan berusaha menjadi Suami yang baik untuk Hayu," jelas Devan, membuat Ratna tersenyum lega.
"Terima kasih, Devan."
Ratna lalu mengizinkan Devan untuk kembali ke kamar Hayu. Pria itu dengan canggung berjalan menuju kamar Hayu dan membuka pintu kamar gadis itu.
Sontak membuat Hayu yang sedang berganti pakaian berteriak.
"Arghh! Devan apa-apa kamu, ketok dulu dong!" teriak Hayu, kelabakan menutupi tubuhnya yang hanya menggunakan dalama-n.
Devan yang ikut terkejut reflek membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi.
'Astaga, apa yang baru saja aku lihat,' batin Devan dengan jantung yang berdetak kencang. Tubuhnya memanas tiba-tiba.
Hayu menggunakan pakaiannya secepat kilat setelah kepergian Devan. Ia sangat malu, mau ditaruhnya dimana wajahnya saat bertemu Devan lagi nanti.
Hayu ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Ia berjalan tanpa melihat sekitar karena ia melihat Devan berada di meja makan. Hayu menguncir rambutnya, hingga terlihatlah leher jenjang Hayu. Tanpa melihat Devan, Hayu memulai pekerjaannya memotong sayuran, cabai, lalu mengaduk adonanan.
Menu hari ini tidak banyak. Ia memasak tumis kangkung, sambal hijau dan tempe tepung. Ia sudah dan Ibunya tidak berbelanja keluar karena kondisi diluar masih tidak stabil para warga masih bergosip tanpa tahu waktu.
Sehingga Hayu, hanya mengambil sayuran dikebun kecilnya, dan tempe yang belum sempat ia masak kemarin.
"Ehem. Devan... Kamu sebaiknya mandi, sebentar lagi kita makan malam," jelas Hayu, terdengar Ratna.
"Hayu... Apa baik memanggil Suamimu dengan namanya?" tanya Ratna menegur Putrinya. Hayu yang ditegur tiba-tiba hanya terdiam menundukkan kepalanya.
"Maaf, Bu. Aku belum terbiasa," jelas Hayu, dengan gugup.
"Biasa tidak biasa, kamu harus mau. Kamu mau dosa sama suamimu?" tanya Ratna, dijawab gelengan kepala.
"Sudahlah, Bu. Tidak apa-apa, semua butuh proses jika dia belum bisa sekarang dia bisa besok," jelas Devan tiba-tiba membantu Hayu. Membuat gadis itu, merasa senang sepertinya Devan sudah mulai peduli padanya walau hanya sedikit.
"Tapi jika dia bisa sekarang bukankah lebih cepat lebih baik?" tanya Ratna, menyudutkan Devan.
Hayu yang melihat itu tidak mau pembelaan Devan terhadapnya sia-sia.
"Ma-mas kamu mandi dulu, nanti aku siapin pakaiannya!" seru Hayu tiba-tiba, dengan menahan malu. Lalu ia langsung berbalik dengan cepat.
Baik Ratna maupun Devan sama-sama terkejut, namun keduanya juga sama-sama bahagia tanpa kata.
*****
Selesai dengan kegiatan mandinya. Devan melihat pakaiannya sudah disiapkan Hayu, atau lebih tepatnya Istrinya. Devan tersenyum kecil, tidak menyangka menikah sedikit menyenangkan.
Hayu, Devan dan Ratna memakan masakan Hayu. Sebenarnya Hayu jarang memasak biasanya Ratna yang memasak, namun edisi hari pertama menjadi seorang istri ia diwajibkan memasak untuk sang Suami.
Masakannya semakin lama semakin enak,' batin Devan. Ia merasa selera hanya dengan memakan bubur buatan Hayu saat sakit. Ia bahkan sudah terbiasa memakan masakan Hayu, karena gadis itu terus mengiriminya makanan saat bekerja bersama Pian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
Lalisa Manobaaa
Lanjut Thor, suka banget liat merekaaaa
2022-08-28
2