Kejadian kemarin membuat Ratna semakin gusar memikirkan bagaimana cara menjelaskan semuanya. Bagaimana agar Hayu tidak dipaksa menikahi orang yang baru ia temui.
Begitupula dengan Hayu, walau gadis ini sudah memiliki sedikit perasaan untuk Devan. Ia tak mau menikah dengan orang yang tak mencintainya, bahkan Hayu sendiri ragu apakah ia mencintai Devan atau tidak?
"Apa yang harus kita lakukan, Bu? Kenapa sekarang harus Hayu..." Hayu menangis, memeluk Ibunya.
Tak disangka, niat baiknya malah mendatangkan petaka untuknya seumur hidup. Hayu tidak ingin menikah seperti ini, dikeadaan yang tidak saling mencintai. Hayu hanya ingin menikah sekali seumur hidup.
"Maaf, Ibu tidak bisa membantu apapun lagi, Nak." Ratna mengusap lembut rambut Hayu.
"Tapi, percayalah. Cinta itu pasti akan ada seiring berjalannya waktu. Apalagi kalian akan selalu bersama tidak mungkin kalian tidak saling jatuh cinta, bukan?" tanya Ratna pada putrinya. Berusaha menenangkan Hayu, walau dirinya juga sangat gelisah memikirkan masa depan Putrinya.
Kamar Hayu.
Hayu menatap lurus, dengan mata kosong. Ia menatap bintang-bintang yang bertabur bebas, ia juga menginginkan kebebasan seperti bintang. Namun, ia tak mungkin lari dari ini semua.
Apa yang harus aku lakukan?'
Hayu mengambil air wudhu dan segera menunaikan sholat isya. Satu-satunya petunjuk adalah sang maha pencipta.
"Tidak ada tempat lain untuk hamba mengadu, tidak ada masalah didunia ini yang tidak engkau ketahui. Hamba mohon, beri hamba petunjuk untuk melanjutkan pernikahan ini atau tidak." Hayu menangis dalam diam.
Ia tidak bisa tidur memikirkan hari esok. Ia juga berpikir apa lelaki itu juga merasakan hal yang sama. Namun, Hayu mengurungkan niatnya untuk memikirkan Devan, bagaimanapun pria itu sangat cuek.
"Padahal tadi kami didesak, tapi dia masih bisa memasang wajah datar. Dia sangat menyebalkan, harusnya dia membantu supaya pernikahan ini batal," gumam Hayu, merasa Devan terlalu bodoh amat dengan dunia.
Hingga tengah malam, ia juga belum bisa tidur. Akhirnya memutuskan untuk sholat tahajud dan meminta petunjuk Allah sekali lagi, tentang semuanya.
...----------------...
Terdengar keributan di luar sana. Yang Hayu yakin adalah para warga yang dihasut Wati dan Luna untuk segera menikahkan dirinya dan Devan. Hayu masih tak bergerak, ia masih tidak yakin untuk keluar dan dipaksa menikah. Bagaimanapun para warga juga tidak akan bisa mendobrak masuk ke rumah orang lain dan itu melanggar hukum desa ini.
"Ada apa ini! Hentikan!"
Teriakan didepan rumah Hayu terdengar nyaring, membuat Hayu dan Ratna penasaran keduanya langsung mengintip dibalik jendela. Ada kepala Desa disana, Ratna dan Hayu tersebut senang. Ini adalah pertanda baik, bahwa mereka akan bebas dari ancaman warga tentang paksaan pernikahan ini.
Ratna dan Hayu keluar menghadap Kepala Desa.
"Pak, untunglah Bapak datang," ucap Ratna bersyukur.
"Ya, maaf Bu Ratna saya ada urusan diluar Desa. Saya mendengar bahwa ada kesalahpahaman disini, dan ada yang mengatakan bahwa saya tidak mempercayai Ini Ratna, jadi saya merasa bersalah," jelas Pak Kepala Desa.
"Tidak apa-apa, Pak. Untunglah Bapak tepat waktu," jelas Ratna.
"Bapak-bapak dan Ibu-ibu mohon tenang. Kalian tidak bisa main hakim sendiri seperti ini. Saya sebagai kepala Desa sudah mengizinkan Ibu Ratna untuk merawat nak Devan hingga lekas sembuh," jelas Pak Kades, membuat semua orang terdiam malu.
"Hu!" teriak mereka. Mereka tahu betul kesalahan mereka tetapi perkataan maaf sedikitpun tidak mereka ucapkan.
"Maaf, sekali lagi pada Ibu Ratna dan Hayu." Hayu mengangguk.
"Nak Devan juga, saya minta maaf," sambung Pak Kades. Devan yang memang sejak tadi menyimak mengangguk.
Keadaan menjadi hening setelah kepergian Pak Kades.
"Masuk Devan, Pian," pinta Ratna, mereka kemudian masuk.
"Syukurlah, Pak Kades datang. Jika tidak kalian harus menikah," jelas Ratna mengeluarkan rasa leganya.
......................
Devan mendapatkan pekerjaan atas bantuan Pian. Mereka bekerja bersama, dan Hayu yang membantu Ibunya berjualan sesekali menjenguk Devan.
"Pian! Deva!" pekik Hayu. Entah kenapa, Hayu selalu merasa ingin melihat wajah Devan, walau diwajah lelaki itu tidak mengeluarkan ekspresi sedikitpun.
"Hayu!" pekik Pian, menggoda Hayu. Ia merentangkan tangannya, bermaksud menyuruh Hayu memeluknya.
"Ish, Pian! Siapa juga yang mau peluk kamu!"
Hayu menyodorkan rantang makanan ia tak mau keduanya sakit.
"Makanlah, supaya semangat kerjanya," ujar Hayu menyiapkan makanan.
"Yu, harusnya kamu dirumah. Bagaimanapun rumor belum meredah," jelas Pian, khawatir.
"Ya, tapi aku hanya mengatar makanan untuk Devan. Pak Kades juga udah cerita kalau keluarga aku yang harusnya merawat Devan," jelas Hayu, tak dibisa dipungkiri bahwa itu kebenarannya.
"Terserah deh."
"Devan, gimana enak?" tanya Hayu malu, ia hanya memerhatikan wajah tampan Devan yang mengunyah makanan.
Wajah bak pahatan patung begitu sempurna, sehingga sejak tadi Hayu memerhatikannya tanpa henti. Tanpa Hayu sadari para gadis Desa yang lewat juga merasakan hal yang sama pada Devan. Mereka menatap Devan tanpa henti, seakan-akan sudah seharusnya mereka menatap pria itu.
"Astaga lihat dia! Dia sangat tampan!"
"Ternyata ada yah, pria setampan Devan?" tanya seorang gadis.
"Dia bisa jadi pria paling tampan diDesa," ungkap gadis lainnya dengan semangat.
Mendengar itu, kuping dan hati Hayu memanas bak bom yang akan meledak kapan saja. Tapi yang ditatap hanya diam, merasa jika hal itu sudah wajar untuknya.
"Huh, dasar genit," umpat Hayu. Membuat Pian melongo tak percaya, sedangkan Devan mengeleng-gelengkan kepalanya.
Pian mencolek bahu Hayu. "Kalo cemburu bilang aja, mbak. Pakek ngatain orang genit, padalah diri sendiri dari tadi melotot ngeliatin Devan, sampe tuh mata kek mau copot," sindir Pian, sukses membuat Hayu sangat, sangat malu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
Lalisa Manobaaa
lanjut, thor. Makin penasaran nihh
2022-08-21
2