Dua hari berlalu, dan Hayu masih tetap mendiami Suaminya itu. Bagaimanapun Devan tetap harus diberi pelajaran supaya sadar, walau sempat beberapa kali Devan ingin berbicara dan meminta maaf padanya. Hayu hanya mengabaikannya, namun tidak dengan kewajibannya untuk mengurus Suaminya. Menyiapkan pakaian kerja, membuat sarapan dan terakhir mengantar makan siang, yang tentu saja melalui perantara Pian.
Sebenarnya Hayu juga tidak tega mendiami Devan seperti ini, apa lagi mengingat dirinya adalah Istri Devan yang tugasnya melayani Suaminya. Bahkan, dua hari ini Hayu tidak mencium tangan Suaminya itu saat berangkat dan pulang kerja.
"Hah... Kapan barang-barang itu sampai," gumam Hayu menatap keluar jendela. Hayu mengernyit menatap Pian yang berjalan dengan tangan melambai-lambai, membuat senyum Hayu sumringah.
"Pian!" teriak Hayu, dengan cepat ia berlari keluar dan menghampiri lelaki itu.
"Yu."
"Gimana, Pian? Barangnya udah sampai?" tanya Hayu tak sabaran, membuat Pian tersenyum jahil.
"Gak sabar banget sih, bukannya ditanyai kabar aku," sindir Pian.
"Basi Pian... Tuh liat, kamu sehat-sehat aja kok tadi aja lari-lari. Cepetan apa? Gimana?" tanya Hayu mendesak.
"Ck! Iya, ya. Dasar bawel. Jadi, besok aku bakalan ke kota buat ambil barang-barangnya, sekarang mau tagih uangnya," ujar Pian, Hayu mengangguk mengerti.
"Tunggu! Aku ambil uangnya. 250 ribu, kan?" Pian mengangguk.
Hayu kembali dengan uang ditangannya. Uang terakhirnya setelah biaya pengobatan Devan dan ini sisanya.
"Makasih, Pian."
"Kaya sama siapa aja. Biasa aja dong, kamu juga jarang merepotkan aku," jelas Pian, membuat Hayu terkekeh.
Saat lelaki itu hendak pergi, Hayu menahan Pian. "Eh, Pian," panggil Hayu, ia sedikit ragu ingin bertanya namun, akhirnya bertanya.
"Emmm... De-Devan gimana? Dia baik-baik aja, kan?" tanya Hayu malu, membuat Pian lagi-lagi menahan tawanya bisa-bisanya gadis itu malu menanyakan kabar Suaminya sendiri.
"Dia baik-baik aja kok. Mungkin besok enggak, liat Istrinya ayu tenan," goda Pian, membuat Hayu salting.
Hari sudah sore, tapi Hayu belum juga melihat batang hidung Suaminya. Cemas? Tentu saja ia sangat mencemaskan Suaminya itu.
"Astaghfirullah, dimana sih Mas Devan. Jam segini belum juga pulang," gumam Hayu, melirik jam dinding.
"Loh, Yu. Devan belum pulang?" tanya Ratna, yang baru saja pulang.
Hayu mengangguk. "Ya, Buk. Ya udah, Hayu pamit mau cari dulu, ya," ujar Hayu menyalami tangan Ratna.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam. Hati-hati kamu."
Tujuan utama Hayu ialah, tempat kerja Devan dan Pian. Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya ia sampai dan mendapati Pian yang masih bekerja, namun tidak ada Suaminya. Dimana Devan? Perasaan Hayu mulai cemas!
"Pian!" Pian yang dipanggil menoleh.
"Loh, ada apa?" tanya Pian, menghampiri Hayu.
"Itu, Devan kemana? Kenapa enggak ada? Dia enggak kenapa-kenapakan, Yan?" Hayu celingak-celinguk menunggu Devan lewat.
"Haha... Hayu... Hayu, kalo khawatir terus mendingan baikan aja. Emangnya Devan enggak bilang hari ini bakalan lembur nanemin bibit baru?" tanya Pian, membuat Hayu terdiam cengo.
"Enggak sih. Tapi, kayaknya tapi pagi dia mau ngomong sesuatu tapi aku langsung pergi," jelas Hayu, merasa bodoh dengan dirinya sendiri. Padahal mau bersikap cuek tapi malah tetap khawatir.
"Hadeh, capek aku lihat kalian berdua. Kenapa enggak baikan aja sih, Yu?" tanya Pian heran.
"Bukannya, enggak mau... Tapi, aku mau berubah dulu baru melawan tuh nenek lampir," sungut Hayu.
"Ya udah, terserah. Mau aku panggilin Devan?" tanya Pian, Hayu mengeleng dengan cepat.
"Jangan. Bisa geer entar dia," jawab Hayu, sebenarnya ia yang malu.
"Udah, aku balik dulu. Awas ya kamu bilang-bilang sama Devan," ancam Hayu, Pian memutar bola matanya malas.
Saat kakinya telah melangkah beberapa langkah, panggilan yang sangat ia kenali terdengar dari kejauhan. Membuat tubuh Hayu terdiam kaku tak dapat bergerak.
"Hayu!"
'Ha... Sial banget sih Aku,' batin Hayu.
"Kamu kenapa kesini? Aku tadi mau bilang kalo lembur, tapi kamu malah pergi," jelas Devan, yang tahu Hayu mencemaskan dirinya.
"Haha. Enggak kok, aku kesini mau bicara sama Pian," kilah Hayu, tak berani menatap Devan.
Devan hanya tersenyum, ia tahu Istrinya berbohong. "Ya udah, terserah kamu. Tunggu, ya... Bentar lagi pulang, kita bareng," ajak Devan, membuat Hayu bingung.
Melihat wajah Devan seketika luntur sudah kepercayaan diri Hayu yang ingin meninggalkan lelaki itu sekarang. "Akh, baiklah," sungut Hayu, berjalan duduk di kursi. Melihat itu Devan tersenyum dan segera berlari membersihkan peralatannya.
Lima belas menit kemudian.
Devan kembali dengan ekspresi wajah biasanya, yaitu datar.
"Ayo pulang," ajak Devan menggenggam tangan Hayu. Membuat gadis itu berdebar-debar, namun egonya mengalahkan semuanya dengan cepat menghempaskan tangan Devan.
"Malu diliatin orang," kilah Hayu. Devan hanya terdiam dengan wajah datarnya, namun... Jauh di lubuk hatinya terasa begitu teriris.
Mereka hanya berjalan dengan keheningan. Tanpa tahu harus membuka percakapan apapun.
"Devan!"
Langkah kaki mereka terhenti. Hayu sangat mengenal suara ini, suara dari wanita yang akan mengambil Suaminya. Namun... Rasanya ia belum siap untuk melawan Luna sekarang. Apa memang ini sudah waktunya, ia harus tegas agar sesuatu dari dirinya tak diambil lagi.
Hayu berbalik dengan mantap. Menatap Luna yang mulai mendekati Suaminya.
"Apa?" tanya Devan dingin.
'Ck! Kenapa wanita ini datang diwaktu yang tidak tepat, bahkan kami belum berbaikan dan sekarang akan bertengkar lagi,' batin Devan, menahan kekesalannya.
"Devan ngapain kamu sama dia?" tanya Luna, dengan tidak tahu malunya memeluk tangan Suami orang. Hayu merasa sakit di dadanya, rasa sesak yang tak dapat ia jelaskan.
Belum sempat Devan menjawab Hayu lebih dulu mencela. "Kamu tanya kenapa? Karena aku Istrinya, itu wajar. Dan sekarang aku tanya kamu ngapain sama Suami orang," cela Hayu, dengan amarah dimatanya.
Luna terdiam tak percaya. 'Sialan! Dia sudah mulai berani rupanya,' batin Luna, semakin tertantang.
"Haha. Kau memang Istrinya tapi, apa dia mencintaimu? Tidak, kan? Jangan berharap deh, Yu," celetuk Luna, tidak membuat Hayu kehabisan kata-kata.
"Tidak penting, dia cinta atau tidak. Yang jelas status kami sah di mata agama dan kamu... Adalah pelakor tidak tahu malu yang berkeliaran di tempat yang bersih ini," balas Hayu, membuat Luna terdiam. Skakmat!
Hayu mendorong Luna menjauh dari Devan. Dan, dengan cepat Hayu menarik tangan Devan pergi. "Aku tidak akan tinggal diam, kalau kamu mau mengambil Suamiku dariku! Tidak kali ini, Luna," tekan Hayu, menatap Luna.
Gadis itu mengepalkan tangannya kuat, menaruh dendam pada Hayu.
"Sialan! Berani Lo ngelawan gue sekarang! Oke. Gue bakalan liatin gimana Suami yang Lo pertahanin itu bertekuk lutut sama gue, haha!" Luna ketawa bak kesetanan sesaat setelah kepergian Hayu.
Hayu menetralisir detak jantungnya, ia tanpa sadar mengeluarkan segala uneg-unegnya dalam dirinya, dengan kemarahan yang sudah lama terpendam. Sedangkan Devan, lelaki itu masih tersenyum bangga pada Hayu yang berani menjawab Luna. Bahkan, berkata tidak ingin dirinya diambil oleh Luna.
'Ternyata dia mengkhawatirkan diriku. Dan, aku? Ha... Sepertinya aku memang harus jujur daripada semuanya menjadi berbelit-belit.' batin Devan.
Sesampainya di rumah. Hayu dengan panik melepaskan tangan Devan.
'Aduh, aku lupa narik tangan dia,' batin Hayu malu sendiri. Apa lagi, dengan lantang mengatakan tidak akan membiarkan Devan direbut.
"Hayu," panggil Devan lirih, menatap Istrinya yang malu-malu.
"Ap-apa," jawab Hayu.
"Aku senang. Kamu berani dan mau mempertahankan aku... Dan, aku mau jujur sesuatu sama kamu. Sebenarnya---."
"Devan! Udah pulang kamu?" tanya Ratna yang baru selesai memasak makan malam.
"Ah iya, Bu."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
murniati cls
jujur aja,biar kalian berdua jebak mrk
2022-11-09
0
Lalisa Manobaaa
Lanjut Thor... kenapa enggak up-up??? whyyy!😌
2022-09-05
1