Hayu hanya bisa terdiam di gudang kosong. Ia tahu ini dimana, ini adalah gudang bekas penggilingan padi. Dan pemiliknya adalah Wati dan Luna.
Kenapa.... Kenapa? Mereka sebegitu bencinya dengan kami, sampai tega melakukan hal ini?' batin Hayu, heran.
Tangannya gemetar hebat, kala melihat tiga preman itu mendekati dirinya.
"Ja-jangan mendekat!" teriak Hayu ketakutan. Ia bergeser mundur, seiring dengan langkah preman yang semakin mendekatinya.
Apa? Apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia sekarang hanya gadis lemah yang tak mungkin melawan tiga orang bertubuh kekar itu. Hayu hanya bisa menangis dan memberontak saat tubuhnya sudah ditarik para preman itu.
"Dasar ******. Diamlah," ujar preman itu, mencengkeram dagu Hayu.
Dua pria itu mencoba membuka pakaian Hayu, dan satunya lagi menahan Hayu, pria lainnya merekam dan menjaga diluar. Hayu semakin prustasi dibuatnya, tidak aja jalan lain lagi.
Ya Allah, dimana Suamiku? Kumohon, aku tidak ingin ini terjadi, aku tidak mau,' batin Hayu meronta-ronta.
Hayu dengan kuat menahan pakaian yang sudah hampir full naked. Ia menangis segukan, namun saat para preman itu hampir memegang sesuatu yang fatal itu, suatu riuh didepan mengalihkan perhatiannya.
Bruk!
Bum!
Hayu bernapas lega, ia menatap ke arah pintu. Hayu melihat sosok Suaminya disana, dengan wajah yang dipenuhi amarah saat melihat tubuhnya yang hampir telanjang.
Tanpa babibu, Devan dengan membabi buta menghajar pada preman itu tanpa ampun. Hayu kaget, ia tidak tahu Devan bisa semarah dan sekuat itu melawan empat pria bertubuh kekar seperti itu. Sementara, Hayu terpesona dengan Suaminya, orang-orang sudah menandinginya iba, jijik, dan liar.
Devan yang melihat itu dengan cepat menyelesaikan pertarungannya dan menutupi tubuh sang Istri dengan pakaiannya.
"Apa yang kalian lihat! Pergi!" bentak Devan.
"Kenapa kau hanya diam! Kau ingin tubuhmu ini dipertontonkan mereka?" tanya Devan dengan nada yang meninggi.
Membuat Hayu terdiam, dengan dadanya yang sesak. Air mata itu mengalir deras tanpa izin.
"Hiks... hiks... Maaf. Ak-aku, hiks... salah." Hayu menangis segukan memeluk tubuh Devan yang nyaman dan hangat. Ia sangat takut, takut dirinya akan kehilangan sesuatu yang paling berharga yang satu-satunya ia miliki, dan belum ia berikan kepada Suaminya.
Devan mencoba menenangkan Hayu, laku mengangkat tubuh Hayu ala bridal style. Semua warga menatapi mereka.
"Astaga, Hayu! Kenapa dia bisa begini Devan!" teriak Ratna sedih, melihat keadaan Putrinya yang mengenaskan.
Devan tanpa menjawab pertanyaan Ratna segera membawa Hayu masuk dan membaringkan gadis itu diranjang. Setelah menyelimuti tubuh Hayu, Devan kembali menemui Ratna.
"Ada apa ini, Devan? Jelasin sama Ibu?" tanya Ratna.
"Maafin Devan. Saya tidak bisa menjaga Istri saya dengan baik, Bu. Sampai membiarkan dia merasa ini, saya benar-benar tidak becus," ungkap Devan, ia merasa sangat bersalah atas semua janjinya yang akan melindungi Hayu.
Ratna tersentuh. "Ini bukan salahmu. Ini sudah menjadi takdir. Dan, akhirnya kamu menyelamatkan Hayu, bukan?" hibur Ratna.
Kejadian itu, sampai hingga ketelinga Pian. Lelaki itu yang sedang sibuk menggarap sawah, dengan cepat meninggalkan pekerjaannya dan berlari menuju rumah Hayu.
"Apa lagi yang sebenarnya terjadi... Kumohon, jangan membuat dia menderita lagi, Tuhan..." Pian berdoa sepanjang perjalanannya. Ia sangat menyayangi Hayu, dan tidak ingin gadis itu kenapa-kenapa lagi.
Kenapa Pian begitu menyayangi Hayu? Karena Pian sudah menyukai Hayu sejak lima tahun yang lalu, ia mulai menyadari perasaannya saat berusia 16 tahun. Perasaan yang menginginkan lebih dari sekedar pertemanan masa kecil. Pian berusaha menyembunyikan perasaannya sebisa mungkin, hingga sampai kini tidak ada yang mengetahui akan perasaannya itu.
"Bagaimana Devan menjaganya, hingga ini terjadi..." Jujur hatinya sakit saat tahu Devan dan Hayu menikah namun, setelah dipikir-pikir mungkin ini jalan terbaik untuknya melupakan perasaannya terhadap Hayu. Perasaan yang membuatnya takut, takut kehilangan Hayu sebagai sahabatnya.
Sejak kedua orang tuanya meninggal ia semakin dekat dengan keluarga Hayu, karena Ratna merasa bertanggung jawab untuk Pian, karena keluarga Pian begitu baik padanya.
...----------------...
Hayu mengedipkan matanya, mencoba menetralkan matanya.
"Ugh, dimana ini...?" Hayu menelusuri setiap sudut kamarnya, hingga melihat wajah sang Suami, Ibu dan Sahabatnya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Ratna, Hayu mengangguk pelan.
"Syukurlah. Aku benar-benar takut terjadi sesuatu," gumam Pian, lega. Tapi ia masih memendam amarah pada Devan yang tidak becus menjaga Hayu, gadis yang secara tidak langsung sudah ia serahkan untuk Devan, sebelum dirinya benar-benar berjuang untuk Hayu.
"Minum."
Devan dan Pian serentak memegang gelas, membuat Ratna dan Hayu kaget. Keduanya juga tidak mau mengalah melepaskan gelas itu, sehingga mau tak mau Devan yang mengalah.
Jangan harap kamu, Dev! Aku bakalan kasih kamu pelajaran,' batin Pian, tersenyum jahil.
Pian membantu Hayu minum. Devan hanya menatap datar ke depan, menurutnya sikap Pian kekanak-kanakan, bahkan dirinya sudah menebak Pian saat ini sedang mencoba memanas-manasi dirinya.
Kamu masih terlalu dini untuk itu,' batin Devan sombong.
"Sebenarnya ini, ulah siapa? Tidak mungkin preman-preman itu menyerang tanpa masalah?" tanya Pian tiba-tiba, ia tidak lagi memikirkan kesalahan Devan, yang ingin ia tahu hanyalah pelakunya.
Hayu terdiam, ia merasa dilema antara mengatakan yang sebenarnya atau tetap diam seperti tidak tahu apa-apa.
Apa yang harus aku katakan... Haruskah aku jujur, tapi ... pasti akan ada keributan lagi,' batin Hayu bingung, ia melamun hingga tak mendengar percakapan ketiga orang yang mencemaskan dirinya.
"Hayu!"
"Rahayu!"
"Hah? A-ah, ada apa?" tanya Hayu memegang jantungnya yang kaget.
"Kamu kenapa bengong? Jangan bilang kamu tahu siapa pelakunya dan berniat menutupinya, kan?" tebak Pian, yang tahu bagaimana watak Hayu yang terlalu baik.
"Benar itu, Hayu? Jangan begitu nak, ini demi keselamatan kamu dan kita... Jika dibiarkan ini akan terjadi lagi, malah... mungkin lebih parah," ujar Ratna sangat khawatir, terlihat dari wajahnya. Ia seperti telah menebak siapa pelakunya, hanya saja tidak ada bukti.
Hayu menghirup napas panjang. "Sebenarnya... Tadi, aku disekap di gudang padi punya Tante Wati," jelas Hayu, menundukkan kepalanya. Ratna langsung terduduk lemas, ia sudah tidak tahu lagi harus apa.
"Hiks... sebenarnya apa kesalahan kita? Hiks... Ibu bingung, kenapa mereka sebegitu bencinya sama kita. Sampai berniat melecehkan kamu, hiks..." Ratna menangis tersedu-sedu, memegang dadanya yang berdegup kencang membayangkan bagaimana jika kesucian anaknya benar-benar direnggut pria-pria jahat itu.
"Sabar, Bu... Jangan emosi, udah tenang Bu," pinta Hayu, menenangkan Ratna.
"Ibu benar-benar harus berbicara dengannya. Ibu benar-benar sudah capek, Yu! Mereka kali ini sudah keterlaluan, dan Ibu punya bukti untuk membuat mereka bungkam kali ini!" Ratna berucap penuh keyakinan, ia tak akan tinggal diam karena harga diri anaknya hampir saja hilang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
kenapa orang kecil selalu teraniaya
2022-12-13
0
Red Cherry
Jujur aj Yu, entar keenakan mereka!!
2022-08-29
1
Agatha Pricilla
Luna sama maknya nih, emang jahanammm!
2022-08-29
4