Hai semuanya, kenalin Aku Author Rose_jm, mohon dukungan sahabat reader yah, buat LIKE and KOMENT.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hayu dan Devan duduk berdua di depan rumah. Keduanya nampak canggung satu sama lain, membuat siapapun yang melihat pasti tau mereka tidak punya hubungan dekat.
Hayu diam, tidak tahu harus mengatakan apa agar suasana tidak terlalu canggung untuk mereka.
Hiks... kenapa suasananya jadi canggung begini,' batin Hayu, menggaruk-garuk tengkuknya.
"Door!"
"Ayam! Eh, ayam!" pekik Hayu terkejut, ia benar-benar kesal. "Pianto!" teriak Hayu kesal. Ia jadi melihatkan sisi memalukan dirinya pada Devan. Pria yang diam-diam ia kagumi.
"Haha. Maaf, Aku iseng habisnya suasananya aneh," ucap Pian, ia merasa harus membuat suasana sedikit lebih baik.
"Tapi enggak gitu juga, Pian! Kalo aku jantungan terus koit gimana?" tanya Hayu, sambil meragakan tangannya seperti membela leher.
"Ya enggak gitu juga, Hayuuu."
Hayu dan Pian, tanpa sadar saling melontarkan celoteh satu sama lain, hingga meninggalkan Devan yang hanya diam menatap Hayu dan Pian yang sejak tadi beradu mulut.
"Ehem," dehem Devan, langsung mengalihkan pandangannya.
"Ah." Hayu dan Pian seketika sadar, bahwa dari tadi mereka mencueki Devan.
"Ini gara-gara kamu ya, Pian," bisik Hayu, mendorong Pian.
"Kamu! enak saja aku yang selalu disalahkan," bisik Pian, ikut mendorong Hayu. Tanpa sengaja ia mengeluarkan sedikit kuat tenaganya.
Bruk!
"Akh!" Hayu terduduk dilantai, membuat kedua pria itu panik. Hayu hanya diam, membuat Pian yakin Hayu sedang menyiapkan emosinya.
"Ah, Ha-hayu. En-enggak sengaja loh," cicit Pian, takut.
"PIAN!" pekik Hayu, dengan wajah memerah. Seperti inilah mereka, tidak pernah akur sekalipun.
"Hiks... kamu nyebelin," rengek Hayu, ia menangis. Bukan karena sakit, tapi karena terlalu malu untuk berdiri.
Awas kamu, Pian! Aku akan membunuhmu,' batin Hayu dengan tatapan tajam, sedangkan matanya mengeluarkan air mata.
Devan yang melihat itu langsung jongkok dan mencoba membantu Hayu. Yang otomatis membuat Hayu semakin malu dan wajahnya panas.
"Ayo berdiri," ucap Devan, mengulurkan tangannya untuk membantu Hayu.
Hayu menerimanya dan berdiri.
Tanpa mereka sadari, kegiatan mereka sudah disaksikan beberapa orang yang dengan cepat menyebar keseluruh Desa.
...****************...
"Hayu!"
"Rahayu!"
Hayu yang dipanggil dengan cepat mencari Ibunya.
Kenapa Ibu teriak-teriak sih,' batin Hayu bingung, Ibunya jarang seperti ini, jika tidak ada hal mendesak.
"Ya, Bu? Kenapa?" tanya Hayu, cemas.
"Sebenarnya apa yang kamu lakukan kemarin, Hayu?" tanya Ratna dengan raut wajah lelah. Ia benar-benar bingung saat ini harus apa, harus melakukan apa untuk meredahkan semuanya.
"Kemarin? Enggak ada apa-apa kok, Bu?" Hayu bingung sendiri melihat wajah panik dan lelah diwajah sang Ibu.
"Kamu tahu, rumor aneh sudah menyebar, Hayu. Semua warga membicarakan kamu dan Devan. Mereka mengira kalian melakukan sesuatu saat dirumah berdua saja. Kenapa kamu melanggar janji dan membawa Devan keluar dari rumah?" tanya Ratna, memegang keningnya pusing.
"Hah? Maaf, Bu. Tapi, Hayu kasihan sama Devan dia keliatan bosan didalam terus. Jadi.... jadi Hayu bermaksud mengajak Devan berjemur," jawab Hayu, menundukkan kepalanya merasa bersalah.
"Sekarang bagaimana, Hayu. Semua orang menghakimi kamu, Nak. Ibu tidak bisa berbuat apa-apa lagi, mau dijelaskan pun mereka tidak akan ada yang percaya. Pasti ada yang membumbui mereka sehingga berita ini semakin parah," jelas Ratna, ia terduduk dengan takut.
Apa yang akan terjadi pada Putrinya nanti. Ratna seakan-akan memang tahu ini akan terjadi sebelumnya, sebelum ia memutuskan Devan tinggal disini. Apa lagi, ia tahu ada orang yang sangat tidak menyukainya diDesa ini, walau ia tak berbuat apapun.
"Ada apa, Tante?" Devan tiba-tiba datang dan bertanya, membuat keduanya saling pandang dan hanya bisa menghela nafas panjang.
"Maaf, nak Devan. Sepertinya kami tidak bisa lagi, membiarkan kamu tinggal disini. Karena... ada rumor buruk tentang kamu dan Hayu," jelas Ratna, merasa bersalah.
Devan terdiam. "Baiklah, tidak apa-apa. Jika memang begitu, saya akan pergi dari sini," jelas Devan mengerti. Namun, ia bingung saat ini harus kemana. Ia juga tidak bisa mengingat apapun tempat tinggalnya? Keluarganya? bahkan nama panjangnya, yang ia tahu dan ingat hanya Devan.
Devan dengan segera membereskan pakaiannya, yang ia pinjam dari pakaian mendiang Ayah Hayu.
Tok! Tok!
Devan menoleh. "Masuk."
Hayu datang dengan menundukkan kepalanya, ia tampak sangat merasa bersalah. Hayu menggenggam tangan erat.
"Devan, kamu bakalan kemana? Kamu, kan tidak punya tempat tinggal lain?" tanya Hayu dengan cemas. Ia sebenarnya tidak mau mengusir Devan seperti ini, apa lagi dengan keadaan lelaki itu tak mengingat apapun saat ini.
"Entahlah," jawab Devan singkat, karena memang ia tidak tahu.
Hayu semakin merasa bersalah, ia menunduk. Devan yang melihat itu tahu, bahwa gadis ini sekarang sedang merasa bersalah terhadapnya. "Hmm. Ini bukan salahmu, lagipula Aku seharusnya bisa saja menolak permintaanmu mengajakku kemarin," jelas Devan, Hayu yang mendengarnya tertegun.
Bukan karena apa, karena sejak sadar. Devan tidak pernah mengucapkan lebih dari 2 kalimat, namun kali ini dia berbicara panjang.
"Ah, iya. Aku akan membantumu mencari tempat tinggal, kumohon sebagai penebus kesalahanku," jelas Hayu. Devan awalnya ragu, namun melihat mata Hayu yang penuh harap, membuatnya akhirnya menyetujuinya.
"Hayu kamu pikirkan lagi, Nak. Bagaimanapun, rumor kalian masih panas-panasnya, jika kalian pergi berdua saja, apa kata orang-orang nantinya," ucap Ratna menyuarakan rasa khawatirnya.
Hayu terdiam, benar kata Ibunya. Ini akan menjadi sangat sulit jika dirinya bertindak gegabah. Disaat-saat hening, bantuan datang tiba-tiba.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam!"
"Ya. Aku tahu, Pian! Pian saja yang mengantar Devan dan Aku tunggu dirumah," ujar Hayu, membuat Pian yang baru saja datang bingung tiba-tiba dirinya dilibatkan.
"Apa? Ada apa?" tanya Pian.
"Ini kamu pegang uang ini dan carikan Devan tempat untuk tinggal sebulan ini, selama masa pemulihannya," jelas Hayu, menyodorkan uang lima ratus ribu, uang tabungannya selama ini. Ia rela memberikannya, karena ia sudah menganggap Devan penting.
Dan, ia tidak mau Devan harus menderita diluar sana tanpa tempat tinggal.
"Hah? Tidak perlu, kenapa kau harus mengeluarkan uang?" tanya Devan, merasa tidak enak. Bagaimanapun, ia tidak mungkin menggunakan uang seorang gadis.
"Hayu, itu tabunganmu?" tanya Ratna, ia juga bingung. Karena selama ini, Hayu menabung sedikit demi sedikit untuk modal kerjanya.
"Tidak apa-apa. Aku masih punya banyak kok, ini hanya seperempatnya saja," jawab Hayu tersenyum manis.
Devan hanya diam.
"Sudahlah, bagaimana jika Devan tinggal bersamaku saja? Aku juga sendirian dirumah?" tanya Pian, seketika pikiran mereka tercerahkan.
"Astaga, benar! Kenapa aku harus pusing-pusing memikirkannya dari tadi. Karena panik Aku lupa kamu tinggal sendirian, Pian," jelas Hayu terkekeh geli dengan kebodohannya.
"Kau memang tidak setia kawan," cicit Pian.
Akhirnya, Devan dibawa Pian tinggal dirumahnya. Karena orangtua Pian sudah lama meninggal dan sekarang ia tinggal sendiri dirumah warisan orang tuanya dan bekerja serabutan agar bisa bertahan hidup.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
semakin seru
2022-12-13
1
🌻🌟Bunga✨🥀
Hayu mulai suka sama Devan. Kasih visual dong thor, penasaran sama Devan dan Hayuu
2022-08-22
2