Tampil begitu cantik, Hayu berusaha kerasa untuk tidak malu. Karena sepanjang perjalanannya ia selalu dilirik banyak orang, bahkan dengan terang-terangan orang-orang mengatai dirinya. Mulai dari pujian, cacian, bahkan rasa iri karena kecantikannya yang begitu sempurna.
Huh, sabar. Sebentar lagi sampai,' batin Hayu. Hayu menetralkan degup jantungnya, seiring dengan langkah kakinya yang semakin dekat dengan tempat kerja Devan. Yaps... Iya berniat menjemput lelaki itu, karena ia juga lupa mengatar makanan karena terlalu sibuk dengan urusannya.
"Eh, tunggu." Hayu sontak menghentikan langkahnya, padahal ia sudah berusaha cepat agar tidak terjadi hal ini.
"Kamu Hayu, kan?" tanya seorang Ibu-ibu, yang jelas sangat kepo.
"Enggh. Iya, Bu," jawab Hayu malu-malu. Ketiga ibu-ibu itu melongo tak percaya.
"Wah, kamu cantik banget. Udah kaya artis? Tumben kamu dandan, biasa juga kumel?" tanya Ibu-ibu berbaju putih.
"Betul itu. Apa karena Suamimu deket sama cewek lain yang lebih cantik," sindir Ibu berbaju kuning. Membuat Hayu kesal, jantungnya berpacu dengan cepat. Ingin sekali rasanya merobek-robek mulut Ibu-ibu itu, namun sayangnya ia harus menahan emosinya untuk hal itu.
Hayu lalu tersenyum anggun. "Maaf. Tapi saya Istri dari Suami saya, Devan! Sudah sewajarnya seorang istri ingin terlihat cantik didepan Suaminya... Apakah Ibu-ibu juga tidak begitu? Apa jika Ibu-ibu disini dandan itu tandanya Suami Ibu-ibu dekat sama gadis lain," sindir Hayu tanpa takut. Ia bukan hanya sekedar omong kosong untuk berubah, ia benar-benar akan berubah.
Ketiga Ibu-ibu itu terdiam bak pantung, jujur bagi mereka ini pertama kali Hayu menjawab seseorang. Biasanya dia hanya akan diam menahan amarahnya.
"Kamu tidak sopan berbicara dengan orang yang lebih tua," sentak Ibu berbaju biru, dengan wajah sok ganas.
Hayu terkekeh. "Sopan itu harus Ibu-ibu. Kalo orang sopan sama kita, kita balas sopan. Kalo orang jahat, bales jahat dong," jawab Hayu dengan tersenyum puas. Lalu dengan cepat meninggalkan Ibu-ibu yang menahan amarahnya terhadap Hayu, karena tidak dapat berkata apa-apa lagi.
"Kurang ajar."
Hayu semakin melambatkan langkahnya. Jujur ia sangat takut tadinya, tapi ia juga puas bisa mengeluarkan semua emosinya. Hayu terduduk lemas, antaran senang juga takut.
Hah... ini sangat menegangkan, tapi juga menyenangkan. Apa aku akan seberani ini lagi untuk melawan Luna dan Ibunya?' batin Hayu, sambil memeluk kedua kakinya.
"Hayu!" Hayu mendongkrak menatap seorang lelaki yang berlari tergesa-gesa dengan raut wajah khawatir.
Devan? Kenapa ekspresinya---.'
Hap!
Devan memeluk Hayu.
"Kamu kenapa? Kenapa duduk disini?" tanya Devan dengan nada khawatir. Pasalnya ia melihat istrinya dari kejauhan. Tiba-tiba terduduk lemas, dengan ekspresi aneh antara ketakutan juga rasa bahagia disana.
Dia pelu-peluk aku?' Hayu hanya bisa diam, menikmati sejenak perasaan hangat yang mengalir ditubuhnya.
"Hei, kenapa diam?" tanya Devan. Lalu menangkup wajah Hayu lalu menatapnya dalam.
"Kenapa? ada apa?" tanya Devan serius.
Devan seketika tersadar. ada yang berbeda dari Istrinya, penampilannya juga gayanya. Devan meroling matanya menatap tubuh Istrinya, juga wajah Istirnya yang semakin ia lihat semakin cantik juga menggemaskan.
"Mmm... Ak-Aku tadi cuma balas omongan Ibu-ibu disana," jelas Hayu dengan gugup, melihat reaksi Devan yang menatap dirinya.
Devan menghela nafas lega. Tetapi, degup jantungnya kembali berpacu setelah menyadari posisi mereka saat ini, yang membuat siapapun yang melihatnya pasti salah sangka.
Devan mendorong pelan Hayu. "Ah, maaf. Ayo berdiri," ajak Devan mengulur tangannya.
Mereka benar-benar terlihat serasi jika seperti ini, walau dengan keadaan Devan yang saat ini terlihat kumel dan kotor karena pekerjaannya sebagai petani tetapi itu tidak membuat karisma dan aura ketampanannya hilang.
"Kamu kenapa disini?" tanya Devan mengusir kegugupannya.
Hayu cengo. "Ah, emmm... oh. It-itu jemput kamu, karena aku lupa bawa makan siang buat kamu," jelas Hayu dengan malu, ia menunduk tak berani menatap mata Devan.
Sebenarnya apa reaksinya? Apa dia menyukai tampilan ku sekarang? Atau tidak...' Dalam hatinya Hayu terus bertanya-tanya, tentang pendapat Devan namun pria itu hanya diam.
"Oh, baiklah. Kamu tunggu saja, sebentar lagi selesai kok," ujar Devan mengarahkan Hayu ketempat duduk, dan langsung meninggalkan Hayu begitu saja.
Ya, tentu saja itu membuat Hayu kecewa berat. Ternyata perjuangannya dari lagi hingga sore tidak mendapatkan hasil apapun dari Suaminya.
Kalo tau gini, buat apa aku dandan,' batin Hayu, tak dapat menahan air matanya yang mengalir.
"Hai, Sayang."
"Aduh, kenapa nangis? Lagi cantik-cantik gini, kok nangis," godanya.
Hayu tau betul suara siapa itu, dengan cepat menatap tajam Johan. Sepertinya pria itu tidak akan ada habis-habisnya mengusik hidupnya. Hayu muak juga lelah, menghadapi sikap gila lelaki ini. Namun, ia masih berpikir bisa memanfaatkan Johan.
"Ada apa kamu disini?" tanya Hayu dengan ketus. Johan mendekat dan duduk disebelah Hayu tanpa izin dan tanpa malu.
"Hadeh... pake ditanya lagi. Ya mau lihat calon Istri dong," jawab Johan dengan nada rayuan karetnya membaut Hayu merinding geli.
Bisa-bisanya didunia ini ada orang setidak tau malu seperti dia! Tuhan singkirkan makhluk bertulang lunak satu ini!' Hayu hanya dapat mengumpat didalam hatinya, dengan ekspresi senyum terpaksa meladeni Johan.
"Oh," jawab Hayu seadanya.
Devan yang hendak menghampiri Hayu setelah selesai dengan kerjaannya, terhenti saat melihat istrinya sedang berduaan dengan lelaki lain. Bahkan, terlihat akrab. Yang sebenarnya Hayu hanya terpaksa mengakrabkan diri.
Jangan bilang dia berdandan cantik seperti itu untuk menarik perhatian lelaki itu,' batin Devan, sangat marah. Devan tidak dapat menahan debaran didadanya, amarah yang terus meluap melihat hal itu sempat Devan terpikir apa yang membuatnya begitu marah apa ia cemburu! Okelah, saat ini ia akui itu.
Devan langsung berjalan dengan cepat. Lalu, dengan sekali tarikan menarik Hayu pergi tanpa mendengarkan keluhan Hayu yang kesakitan.
"Arghhh. Dev-Devan! Berhenti, apaan sih kamu tiba-tiba narik-narik?" tanya Hayu tidak mengerti. (Aelah, ternyata betina sama ae enggak peka jugakkk 😌)
"Diam." Devan sedikit menekan perkataannya. Dadanya terbakar emosi. Padahal ia sudah berencana akan memberitahu Hayu tentang rencananya dan ia juga sudah mendapatkan bukti kelakukan Luna. Apa lagi setelah melihat Hayu berdandan sangat cantik, yang Devan pikir Hayu berdandan untuknya, nyatanya memang benar namun ia salah paham terhadap Istrinya.
Ego masing-masing membuat hubungan keduanya semakin sulit. Itulah kenapa pentingnya saling terbuka terhadap pasangan kita. Terbuka membuat semuanya menjadi jelas apa lagi dengan banyak kesalahpahaman diantara hubungan harmonis sebuah keluarga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
murniati cls
jujur aja,masa scewe uga gak tau,knp tak pintar sdkit
2022-11-09
1