Pian, Hayu dan Devan mereka menerima sejumlah uang dari Pak Rito atas kerja keras mereka selama seminggu. Jujur Hayu sangat bahagia, ia bisa masak enak untuk sang Suami.
Selama seminggu ini, mereka makan seadanya saja. Untungnya Devan bukan tipe orang yang memilih makanan. Selama seminggu mengenal pria itu sebagai suaminya, Hayu tahu Devan tidak suka kol dan bayam.
"Cie... Gajinya dobel, traktir dong," goda Pian. Lelaki itu tau, kebutuhan hidup Hayu dan Devan tidak akan cukup hanya dengan gaji double.
Hayu tampak berpikir dan berhitung cepat dikepalanya. "Ya udah, boleh," jawab Hayu, ia merasa tidak enak juga dengan Pian yang selama ini sudah membantu Suaminya.
Pian terkejut, lalu tertawa biasanya Hayu bakalan nolak. "Udah, aku bercanda. Uangnya untuk kalian berdua saja," ujar Pian menolak.
"Beneran?" Hayu memastikan. Pian mengangguk dengan tersenyum geli.
"Mas... Kita ke pasar dulu, mau?" tanya Hayu, seperti berbisik. Karena ia masih malu berinteraksi dengan Devan.
"Boleh."
"Ya udah. Aku mau urusin kerjaan yang lain, kalian nikmati aja kencannya," ujar Pian. Membuat Hayu heran, kenapa lelaki itu tak habis-habisnya menggoda dirinya dan Devan.
"Dasar enggak ada kerjaan! Kerjaannya ngeggodain orang mulu. Bini orang nih yah!" teriak Hayu seraya bercanda, dijawab kekeh Pian.
Sepanjang jalan mereka hanya diam. Walau gosip tentang mereka sudah tenang, tetapi tetap saja masih ada beberapa orang yang masih melirik mereka dengan pandangan jijik dan menghina. Hayu juga Devan berusaha untuk tidak peduli selagi mereka tidak menyakiti mereka, Hayu dan Devan terima.
"Maaf, ya. Jalannya agak becek," ujar Hayu, berhenti sebelum masuk ke daerah pasar.
Wajar sih becek, karena sehabis hujan deras dan juga sepertinya ikan-ikan segar baru masuk dari kota sehingga pasar bertambah becek.
Devan hanya mengangguk mengerti, walau ia merasa sedikit geli dan jijik untuk menginjakkan kakinya di lumpur kotor. Walau sudah bekerja dengan tanah dan lumpur, Devan tetap risih.
Hayu yang mengerti itu, langsung memegang tangan sang Suami, dan menuntun pria itu untuk berjalan.
"Ayo, kamu ikutin arah pijakan kaki aku yah." Hayu memberi aba-aba. Devan terdiam menatap punggung Hayu, ia merasa dilindungi dan dimengerti oleh Hayu.
Gadis itu sangat peka dengan kemauannya dan juga perhatian. Namun, Devan lagi-lagi memikirkan identitas dirinya sehingga menepis jauh-jauh rasa simpatinya untuk Hayu. Ia masih harus menyelidiki siapa dia dan bagaimana dia bisa berada disini.
'Maaf, Hayu... Untuk kerja dan menafkahimu saja aku masih tidak berkecukupan,' batin Devan, sedikit sesak di dadanya. Dia bertekad akan menemukan jati dirinya yang sesungguhnya dan membahagiakan Hayu.
"Mas!"
"Mas!" Hayu memegang bahu Devan, membuat pria itu terkejut karena sejak tadi melamun.
"Ah, ya. Ada apa?"
"Kamu kenapa, bengong gitu? Sakit? Atau ada yang enggak enak?" tanya Hayu khawatir. Devan tersenyum, dengan mengeleng-geleng. "Aku tidak apa-apa."
"Oh, baiklah. Jadi... Kau ingin ikan apa? Apa kamu suka ikan tongkol?" tanya Hayu, karena ia sangat menyukai ikan itu, berniat membelinya tapi ia takut jika Devan tak menyukai ikan itu. Beli dua pasti uang mereka tidak akan cukup.
"Aku suka," jawab Devan jujur.
"Oke. Mang, ikan tongkolnya sekilo ya!" Hayu menunggu dengan semangat.
Semua mata teralihkan pada Devan. Ibu-ibu juga gadis-gadis yang berada di pasar menatapi pria itu dengan seksama. Mencari kekurangan disetiap sudut dan celah, namun nihil. Devan adalah sosok manusia tampan, seperti aktor.
"Gila, ternyata dia ganteng banget!" seru gadis-gadis.
"Punya mantu kaya dia, lumayan juga. Udah gagah, mau diajak ke pasar terus ganteng lagi, bisa pamer sama tetangga," sirik ibu-ibu yang awalnya menghina sekarang membanggakan Devan.
'Ish, apaan sih. Kenapa mereka menatapi Suamiku seperti itu. Mau aku congkel tuh mata,' geram Hayu dalam hatinya. Kakinya tanpa sadar bergerak membelakangi Devan, ia menutup Devan dengan tubuh kecilnya.
'Apa yang sedang dia lakukan? Apa dia tidak mau orang-orang itu memandangiku?' batin Devan, dalam hatinya ia senang dengan kelakuan Hayu yang terlihat menggemaskan.
Diperjalanan pulang, Hayu memikirkan sesuatu seperti ada sesuatu yang ia lupakan.
"Ah, astaga!" pekik Hayu tiba-tiba. Membuat Devan ikut kaget.
"Hah? Ada apa?" tanya Devan. Hayu menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan tersenyum canggung.
"Ak-Aku lupa sayur labu Siamnya gara-gara ibu-ibu itu liatin kamu terus," ceplos Hayu, dengan segera menutup mulutnya.
"Bu-bukan, itu maksudnya... ya, kan aneh aja gitu, kalo orang-orang ngeliatin suami orang," cicit Hayu.
"Udah, kamu tunggu sini." Hayu pergi meninggalkan Devan yang tersenyum melihat tingkah Hayu yang semakin hari semakin terlihat menggemaskan seperti Devan tidak pernah bosan dengan semua tingkah istrinya itu.
"Bodohnya aku... kenapa bisa sampe keceplosan gitu sih, nih mulut ember," gumam Hayu memukul pelan bibirnya.
Langkah kakinya terhenti, kala melihat beberapa orang dengan pakaian dan wajah mengerikan.
Aduh, kenapa mereka harus berdiri disitu sih... Bismillah, lindungi hamba ya Allah,' batin Hayu berdoa, ia berencana melewati mereka begitu saja.
Namun, tangannya di cekal hingga tak bisa bergerak.
"Hah, hei lepasin! Tidak sopan memegang tangan perempuan!" teriak Hayu, ia mulai ketakutan apa lagi orang-orang hanya menandingi saja tanpa berniat menolong.
"Kamu harus ikut kami," ujar salah seorang Laki-laki itu, menarik tangan Hayu.
"Enggak! Saya enggak mau, lepasin saya! Tolong! Tolongin saya Pak, Bu!" teriak Hayu menatap dengan belas kasihan dua orang yang melihat kejadian ini.
Hayu yakin alasan antara takut melihat para preman itu atau karena memang tidak mau menolong orang yang tercemar zina seperti dirinya.
Hayu hanya bisa menangis, berharap Devan mencari dirinya.
Tolongin Aku, mas... Aku takut,' batin Hayu, terisak.
Sedangkan dilain tempat, Devan dengan gelisah menunggu Hayu kembali, hingga sudah hampir satu jam menunggu tapi Istrinya itu belum juga kembali.
"Oh, ayolah dimana dia?" gumam Devan memerhatikan sekitarnya.
Sekumpulan gadis-gadis mendekati dirinya, tapi Devan masih tetap cuek dan memikirkan Hayu.
"Kamu Devan, ya?" tanya seorang gadis dengan malu-malu.
Devan hanya melirik sekilas lalu, pergi. Gadis-gadis yang kesal itu, mengejar Devan.
"Hei berhenti! Kamu ini sombong sekali jadi orang," cibir gadis berambut pendek.
"Betul, perusak nama baik Desa saja sombong sekali," balas gadis lainnya.
"Apa cantiknya sih Rahayu wanita penggoda itu," ujar gadis berambut panjang.
Devan menghentikan langkahnya mendadak, lalu berbalik menatap gadis-gadis yang menghina Istrinya.
"Kalian tentu tidak secantik Istriku, berani-beraninya mulut kotor kalian mengatai Istriku penggoda, dasar ******," ucap Devan acuh, lalu meninggalkan keempat gadis itu dengan keadaan mereka yang terkejut, terdiam dan takut.
Devan berjalan menuju arah pasar dan mencari-cari.
"Bapak, melihat Rahayu tidak?" tanya Devan.
"Tidak," jawab mereka ketus.
Devan tidak menyerah terus bertanya, hingga bertemu lagi dengan sekumpulan gadis yang menghina Istrinya. Tampaknya mereka tidak rela dikatai ******.
"Hah, percuma kamu mencari Istrimu kemana-mana. Dia tidak akan ketemu, iyakan?" ujar gadis yang menghina Hayu tadi.
"Benar, mangkanya jadi orang jangan sombong," jawab gadis lainnya.
Devan yang mendengar itu langsung naik pitam, tidak ketemu apa maksudnya.
"Apa maksud kalian, jelaskan!" Devan menatap tajam keempat gadis itu. Ia benar-benar menakutkan dengan mata elangnya.
Keempat gadis itu langsung gugup dan mengatakan sesuatu.
"Di-Dia dibawa preman," jawab gadis berambut pendek.
"Preman? Kemana?" tanya Devan penuh penekanan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
🌻🌟Bunga✨🥀
Gila sih, warganya enggak ada yg mau nolong apa!! bikin kesal aja, pen tabokk!!
2022-08-29
5