"Hiks... hiks, sakit, Mas... lepasin," rintih Hayu mencoba melepaskan genggaman tangan Devan terhadapnya.
Devan yang mendengar suara tangisan, langsung tersadar dan menghentikan langkah kakinya untuk melihat keadaan Istirnya.
Ya, Tuhan. Apa aku sudah keterlaluan?' batin Devan menatap Hayu yang masih dengan wajah menunduk karena ketakutan terhadap Devan. Lelaki itu tak pernah bersikap seperti ini selama ini.
Hal ini membuat Hayu takut.
Ada apa dengannya? Kenapa dia tiba-tiba marah-marah tidak jelas, aku takut melihatnya,' batin Hayu mencoba untuk diam.
"Udahlah. Aku cape mau istirahat," putus Devan. Tak ingin lagi mencari masalah, ia hanya ingin mendinginkan kepalanya. Agar tidak terjebak orang amarahnya sendiri hingga melukai orang-orang yang ia sayangi.
"Berhenti!" teriak Hayu, dengan segala keberanian yang ia kumpulkan. Ia tidak terima dengan sikap Devan yang menariknya tiba-tiba, dan sekarang ia ingin pergi begitu saja tanpa penjelasan.
"Apa lagi! Belum cukup kamu berduaan sama lelaki lain! Kamu bilang benci, hah... bohong," tekan Devan menatap Hayu penuh amarah. Hayu kaget dengan amarah Devan, kenapa lelaki itu sejarah itu? Sedangkan, saat Devan berduaan dengan Luna, Hayu tidak masalah ia tidak pernah memperlihatkan amarahnya sampai seperti ini pada pasangannya.
"Kenapa!" Devan menghentikan langkahnya saat mendengar Isak tangis Hayu yang bertanya kenapa.
"Kenapa... kenapa kamu boleh kamu bisa dekat dengan Luna sedangkan aku enggak! Kamu egosi, Mas!" teriak Hayu dengan menahan tangisnya, ia tidak akan terlihat lemah ia tidak mau hal itu.
"Aku diam saat kamu berduaan dengan orang yang bukan muhrim kamu! Kamu bahkan enggak mikirin perasaan aku gimana. Aku dihina warga-warga karena ini!" bentak Hayu marah, membuat Devan juga terpancing emosi.
"Halah, kamu mau ngeles aja. Aku ada kepentingan sama Luna, dan itu alasan yang menjanjikan. Aku enggak akan pernah yang namanya menghianati suatu hubungan. Apa lagi ini jenjang paling serius pernikahan, Hayu!"
Tidak ada yang mau mengalah. Hayu yang keras kepala langsung berlari memasuki kamarnya dan menguncinya. Ia hanya bisa menangis tersedu-sedu. Padahal rencana awalnya ia ingin melupakan semuanya dan melewati waktu-waktu romantis dengan Devan. Bahkan ia sudah menyulap kamar yang awalnya biasa saja menjadi sangat cantik. Semuanya sirna, hanya karena hal sepele seperti ini.
Devan terdiam, ia mengacak-acak rambutnya kasar. Akhir-akhir ini emosinya tidak dapat dikontrol dengan baik.
Sebenarnya aku sepertinya... memang sudah mulai menyukai Hayu. Jika tidak aku tidak mungkin merasakan semua ini,' batin Devan merenungi semua hal yang terjadi.
"Tapi kenapa... kenapa sampai sekarang aku belum juga bisa mengingat semua hal tentang aku yang sebenarnya. Sebelum itu semua aku ketahui, aku tidak ingin mengikatnya dengan perkataan cinta yang tidak memastikan," gumam Devan menghela nafas lesu. Ia bergegas ke kamar mandi untuk mandi sekaligus menyegarkan pikirannya agar tidak terbawa suasana lagi.
"Hiks... jahat kamu, Mas. Padahal aku sudah susah payah merencanakan semuanya," gumam Hayu, lalu tertidur. Tanpa peduli dengan Suaminya yang akan tidur dimana.
Untungnya Ratna sudah tidur karena kelelahan bekerja. Dan lokasi mereka ribut adalah didepan rumah. Apa ada orang yang mendengar? Tentu tidak, karena waktu magrib semua orang jarang keluar.
Keesokan Harinya.
Hayu terbangun dengan mata panda, ia bergegas untuk mandi. Matanya menangkap sosok Suaminya yang tertidur diatas kursi yang nampaknya sangat tidak nyaman bahkan menggigil kedinginan. Maklum ini masih jam setengah empat pagi, yang jelas Hayu ingin mandi dan sholat untuk menenangkan hati dan pikirannya.
"Aku mencintaimu, Mas. Benar adanya, namun kenapa sulit bagiku Istrimu ini untuk mendapatkan hatimu yang lebih kuat daripada bongkahan es yang pastinya akan cair," gumam Hayu menatap wajah pulas Suaminya yang tertidur dengan nyaman setleha ia meletakkan selimut.
"Aku jujur. Karena mulai saat ini aku akan mempertahankan kamu apapun resikonya," lanjut Hayu lalu dengan cepat meninggalkan ruang tengah.
Ratna nampaknya sudah terbangun.
"Hayu... kenapa itu suamimu tidur di kursi? Kalian bertengkar lagi?" tanya Ratna. Hayu hanya mengangguk jujur.
Membuat Ratna mengeleng-gelengkan kepalanya pusing dengan tingkah anak dan menantunya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
murniati cls
makanya nanya dong sama suaminya knp,jujur gtu
2022-11-09
2