"Hentikan, Bu Maya! Tidakkah kau ingat kepada saya? Ini aku Andi sahabat suamimu Pak Rahman!" pekik Ayah kepada Bu Maya, rupanya ucapan Ayah membuat Bu Maya melepaskan tangannya lalu diam termenung di atas ranjang rumah sakit.
Ayah yang merasa iba dengan keadaan Bu Maya lalu menghampiri Bu Maya.
"Maafkan saya, Bu Maya! Pak Rahman telah mengorbankan nyawanya demi kami, kami tidak akan melupakan jasa-jasanya kepada keluarga kami!-
"Karena itu, aku bermaksud ingin merawat anda nanti untuk tinggal bersama istri dan anak-anak saya. Ini semua saya lakukan untuk membalas kebaikan dan pengorbanan Pak Rahman!" ucap Ayah panjang.
Mendengar ucapan ayah, Bu Maya pun mengangkat kepalanya dan menatap tajam ke arah Ayah. Namun, tiba-tiba mata Bu Maya menjadi berkaca-kaca dan lalu meneteskan air mata. Bu Maya menangis sangat sedih.
"Anda pasti menangis karena kehilangan suami tercinta, ahh sebentar! Aku akan menelpon istriku, Maryam!" ucap Ayah lalu melangkah menuju jendela kamar perawatan agar suara ponsel bisa terdengar lebih jelas.
Diambilnya ponsel miliknya dari saku celananya, lalu ia telpon nomor istrinya via aplikasi chatting. Selang waktu beberapa detik terdengar kalau istrinya menerima panggilan tersebut.
"Halo, Assalaamualaikum! Ada apa Ayah menelpon? Ada yang ketinggalan ya?" tanya Mamah.
"Ahh, tidak Mamah! Tidak ada yang ketinggalan! Ayah hanya ingin berkata jujur kepadamu, kalau Ayah sekarang sedang menjenguk Ibu Maya istrinya Pak Rahman!-
"Kondisinya sangat kritis, Aku memberitahukan kabar yang sebenarnya terjadi kepada Pak Rahman. Tapi Bu Maya justru menunjukkan reaksi yang aneh, ia malah menangis! Aku rasa hanya Mamah yang bisa menenangkan dirinya!" ucap Ayah.
"Hmmm,, kenapa Ayah tidak memberitahu Mamah kalau Mamah mau menjenguk Bu Maya? Mamah sih nggak cemburu ya, cuman kan kalau Ayah tadi kasih tahu pasti Mamah akan ikut Ayah jenguk Bu Maya!" jawab Mamah dengan nada jutek.
"Ahh maafkan Ayah ya Mamah! Ayah tidak ada maksud jahat kok!" berulang kali meminta maaf, "Kalau begitu Mamah mau Ayah jemput atau Ayah pesankan Taksi Online?" tanya Ayah.
"Sudah pasti Mamah kepinginnya dijemput sama Ayah dong!" jawab Mamah dengan nada jutek.
"Ahh, baiklah tunggu Ayah sebentar ya, Mah!" ucap Ayah menghibur.
Lalu Ayah pun melangkah keluar rumah sakit jiwa dan segera mengendarai motornya untuk pulang menjemput Mamah. Sementara Bu Maya terus menangis dan bersandar di ranjang rumah sakit.
Saat Bu Maya bersandar di ranjang rumah sakit, ia mendengar ada suara lirih yang memanggilnya dari jendela. Ia angkat kepalanya dan ia buka kedua matanya untuk melihat sosok yang memanggilnya itu. Terlihat oleh Bu Maya sosok itu seperti sosok anak kecil. Ia terlihat sedang menghadap ke belakang.
"Kamu siapa, Nak?" ucap Bu Maya dengan suara lirih.
Anak itu belum juga menoleh ke arah Bu Maya. Bu Maya kembali memanggil anak itu dengan nada sudara yang sedikit meninggi. Karena Bu Maya memanggilnya dengan nada yang cukup tinggi, sosok anak-anak tersebut pun menoleh ke arah Bu Maya.
Betapa terkejutnya Bu Maya saat sosok anak-anak itu menoleh ke arah Bu Maya. Sosok itu seperti mirip dengan orang yang ia kenal. Sosok yang membuat air mata Bu Maya kembali harus menetes. Sosok itu adalah Linda, putrinya yang telah tewas oleh ulah tangannya sendiri.
"Ibu, Ibu harus menolong Tirta, Bu! Ayah sudah kelewat batas!" ucap sosok hantu yang mirip dengan Linda putrinya Bu Maya.
Bu Maya sambil terus menangis, mencoba untuk menguatkan diri untuk bertanya kepada arwah Linda.
"Apakah memang benar ini semua ulah Ayahmu, Nak?" tanya Bu Maya kepada arwah Linda, arwah Linda menjawab dengan mengangguk pelan.
Lagi-lagi Bu Maya menangis deras, ia tidak percaya kalau ini semua benar-benar ulah suaminya. Sosok suami yang sudah 10 tahun ia temani hidupnya, begitu teganya melakukan hal ini kepada keluarga Tirta dan juga keluarganya sendiri.
Sambil menguatkan nafasnya, kembali Bu Maya bertanya kepada arwah Linda.
"Memangnya apa alasan Bapakmu melakukan ini, Nak?" tanya Bu Maya lagi.
"Ayah melakukan persekutuan dengan Iblis, Mah! Jangan biarkan semua ini semakin menjadi-jadi!" ucap arwah Linda.
Setelah mengucapkan kata-kata itu, arwah Linda pun perlahan menghilang bagaikan debu tertiup angin. Bu Maya yang masih rindu dengan anaknya tersebut, terus-menerus memanggil nama anaknya itu. Tak lama kemudian, dokter rumah sakit jiwa masuk ke kamar perawatan Bu Maya.
"Selamat sore, Bu Maya! Bagaimana apakah kondisi anda sudah membaik?" tanya dokter kejiwaan kepada Bu Maya, Bu Maya hanya diam tidak menjawab. Terlihat sebuah Name Tag di seragam dokter tersebut bertuliskan nama Arman.
"Perkenalkan, nama saya Arman! Saya yang akan menjadi dokter kejiwaan anda! Mohon kerjasamanya agar anda bisa cepat sembuh!" lanjut Dokter Arman.
Bu Maya masih terdiam saja, Bu Maya masih memikirkan ucapan arwah Linda yang meminta agar dirinya membantu keluarga Tirta dan menghentikan sepak terjang suaminya. Melihat Dokter Arman yang terus berbicara kepada Bu Maya, membuat Bu Maya ingin meminta pertolongan kepada sang Dokter.
"Saya tidak sakit jiwa, Dokter! Semua yang saya alami ini adalah ulah suami saya yang bersekutu dengan Iblis!" ucap Bu Maya.
Dokter yang merasa penasaran lantas melayangkan pertanyaan kepada Bu Maya.
"Iblis? Bisa anda ceritakan Iblis itu semacam makhluk dari planet mana?" tanya Dokter Arman sambil tersenyum, sepertinya Dokter Arman hanya bercanda.
"Saya tidak sedang bercanda Pak Dokter! Kalau saya tidak bisa menghentikan Suami saya, maka akan ada banyak korban yang akan berjatuhan!" ucap Bu Maya berusaha meyakinkan Pak Dokter.
Sementara Pak Dokter masih saja tidak menggubris ucapan Bu Maya. Baginya semua pasien di rumah sakit jiwa memang sering berbicara hal-hal yang berbau mistis. Jadi Bu Maya bukanlah pasien yang pertama kali mengucapkan hal-hal berbau mistis.
Bu Maya yang merasa kalau ucapannya tidak digubris oleh Dokter Arman kembali berusaha meyakinkan Dokter Arman.
"Kalau anda tidak percaya, anda boleh ikut bersamaku untuk menghentikan suamiku! Jika aku melakukan hal yang tidak wajar, kau boleh langsung menyuntikku dengan suntikan bius!" pekik Bu Maya agar Dokter Arman percaya.
"Kenapa kau sangat begitu yakin? Baiklah aku akan bertanya kepadamu, jawablah pertanyaan ini!" ucap Dokter Arman.
"Silahkan Pak Dokter!" balas Bu Maya.
"Jika ada 2 bak air, satunya kosong dan satunya terisi penuh 20 liter, dibutuhkan berapa kali putarankah untuk bisa memindahkan air dari bak yang terisi ke yang bak yang kosong jika setiap pemindahan hanya bisa membawa 1 liter air?" tanya Dokter Arman untuk mengetes logika Bu Maya.
Bu Maya terdiam sejenak untuk berpikir jawaban dari pertanyaan Dokter tersebut. Lalu dalam waktu 1 menit, Bu Maya pun menjawab pertanyaan tersebut.
"Jawabannya adalah Empat Puluh putaran, Pak!" jawab Bu Maya dengan penuh keyakinan.
Mendengar jawaban Bu Maya, Dokter Arman pun langsung menghampiri Bu Maya lebih dekat.
"Kalau begitu, saya akan mengajukan kepada Pihak rumah sakit kalau anda akan menjadi pasien eksklusif yang akan saya rawat di rumah saya sendiri!" ucap Dokter Arman, Bu Maya pun tersenyum mendengar ucapan yang keluar dari Dokter Arman.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments