Ayah, Mamah dan Tirta masih belum menemukan cara untuk bisa membawa mustika ular tersebut. Hingga akhirnya Ayah teringat pada adegan sebuah film superhero Hollywood. Dimana dalam film tersebut, manusia bumi kesulitan membawa sebuah Palu dewa yang tidak bisa ditarik meski sudah menggunakan bantuan alat berat. Akhirnya palu itu bisa dibawa dengan cara digali tanahnya dan palu itu masih menempel di atas tanah yang digali. Ayah pun mendapatkan ide tersebut, dan mencobanya kepada mustika ular dihadapannya. Mustika ular itu tersimpan di dalam sebuah sangkar yang terbuat dari kayu jati yang kokoh dan wangi. Ayah membuka jaketnya dan mencoba untuk mengangkat sangkar mustika ular tersebut. Benar saja, sangkar itu dengan mudannya di angkat oleh ayah dan dipindahkan ke atas jaket milik ayah. Kini mereka berhasil memindahkan mustika ular tersebut. Mamah dan Tirta tersenyum dan memuji kecerdasan ayah.
"Kamu memang cerdas mas, pantas saja dulu aku tergila-gila kepadamu!" puji Mamah kepada Ayah.
"Ayah memang cerdas, Tirta bangga punya ayah yang cerdas seperti Ayah!" Tirta ikut memuji ayahnya.8
"Terima kasih atas pujian kalian, ayo kita harus cepat-cepat keluar dari sini sebelum ratu ular telah selesai dengan Pak Rahman!" pekik Ayah.
Mereka bertigapun segera bergegas keluar dari istana ratu siluman ular tersebut. Saat ketiganya sudah sampai di luar, mereka melihat kalau para siluman ular penjaga istana sedang menuju ke arah istana. Mere bertiga pun langsung secepat mungkin pergi jauh dari tempat itu.
"Ayah, bagaimana dengan keadaan Pak Rahman, apakah dia berhasil selamat? Soalnya aku dari tadi tidak melihat adanya Pak Rahman?" tanya Mamah kepada Ayah.
"Entahlah, Mah! Ayah justru mengira kalau Pak Rahman memang sengaja ingin membantu kita dengan mengorbankan nyawanya! Tadi saat aku berlari ingin menemui kalian, aku menoleh ke belakang dan aku melihat kalau Pak Rahman sudah habis dicabik-cabik oleh Ratu Siluman Ular!-
Ayah menggelengkan kepalanya lalu menunduk, "Sepertinya mustahil kalau Pak Rahman bisa selamat dalam pertarungan tersebut!" ucap Ayah.
"Innalillahi wa innailaihirojiuun, apakah memang semengerikan itu ratu siluman ular?" lanjut Mamah bertanya.
"Bagaimanapun yang namanya Ratu pasti memiliki kekuatan yang sangat kuat, maka dari itu kita jangan sia-siakan pengorbanan Pak Rahman. Kita harus hancurkan Hantu Lembu! Kita selamatkan Nana dan membalaskan dendam Pak Rahman 35 tahun yang lalu!" ucap Ayah dengan penuh semangat.
"Kalah begitu kita lanjutkan besok malam! Sekarang sudah pukul 3 dini hari, kita harus pulang dan istirahat agar besok tenaga kita pulih!" ucap Mamah.
"Baiklah ayo kita segera ke motor, tapi sebelumnya kita ke rumah Pak Rahman dulu untuk memberikan kabar kepada istri dan anaknya!" balas Ayah.
Mereka bertiga bergegas menaiki motor milik ayah dan melanjutkan perjalanan menuju rumah Pak Rahman. Mereka akan memberitahukan kabar duka kepada keluarga Pak Rahman di rumah.
Saat dalam perjalanan, ponsel milik ayah berbunyi pertanda ada panggilan masuk. Ayah pun menepikan motornya dan menerima panggilan masuk tersebut. Rupanya itu adalah panggilan masuk dari Tim SAR yang bertugas mencari jasad Nana di Danau Setu Cikaret.
"Selamat malam pak, maaf mengganggu pak! Kami ingin memberikan kabar kalau kami baru saja mendapat kabar dari warga sekitar kalau mereka pernah melihat sosok anak perempuan kecil yang usianya kira-kira sama dengan usia putri bapak. Kalau informasi itu valid, kemungkinan putri bapak masih selamat! Sebaiknya anda banyak berdoa ya Pak, kami akan lakukan pencarian dengan semaksimal mungkin!" ucap Tim SAR yang dalam telpon.
"Selamat malam juga pak! Terima kasih pak atas informasi dari anda yang sangat penting bagi kami. Kalau ada informasi lagi, mohon segera kabari saya ya pak!" pinta Ayah kepada Tim SAR.
"Baik pak, kalau begitu saya sudahi telponnya. Maaf mengganggu, selamat malam!" ucap Tim SAR dan lalu menutup panggilan telponnya.
Mamah yang penasaran lalu bertanya kepada Ayah, "Telpon dari siapa Ayah?" tanya Mamah.
"Dari Tim SAR, mereka bilang ada warga yang melihat sosok anak kecil yang mirip dengan ciri-ciri putri kita Nana!" ucap Ayah.
"Sungguhkah! Semoga saja benar, kalau benar kabar itu, maka kita tidak perlu menjalani ritual membuka portal pemisah alam gaib dan alam manusia!-
"Entah kenapa, Mamah masih merasakan firasat yang buruk!" ucap Mamah.
"Kau jangan terlalu berpikiran buruk, Maryam. Percayalah pada kekuatan cinta kita, kita pasti bisa menyelamatkan putri kita Nana!" pekik Ayah penuh semangat.
Sementara Mamah dan Tirta haya bisa mengangguk saja tanpa ada kata-kata yang keluar dari mulutnya.
#### #### #### #### #### #### ####
Sementara ditempat lain. Disebuah tempat yang sangat gelap dan penuh dengan pohon-pohon yang besar. Terdapat sosok berpakaian hitam seperti di film-film nenek sihir di Hollywood. Sosok tersebut terlihat sedang merapal sebuah mantera dalam bahasa jawa kuno. Terlihat dihadapannya terdapat kemenyan yang dibakar dan sebuah mangkuk yang terbuat dari tanah liat yang berisikan darah segar.
"Terbukalah!" ucap sosok hitam tersebut.
Rupanya sosok hitam tersebut sedang membuka portal alam gaib yang bersifat sementara. Lalu dari portal tersebut terlihat sebuah pemandangan yang mengerikan. Tempat tersebut memiliki latar tanah gersang, penuh kegelapan dan menyeramkan.
Tak lama kemudian terdengar sebuah ucapan dari portal gaib tersebut.
"Mengapa kau memanggilku sekarang Rahman? Apakah kau sudah membawakanku tumbal yang bisa membuatku kenyang?" ucap suara dari dalam portal.
Rupanya sosok hitam seperti nenek sihir tersebut adalah Pak Rahman. Rupanya dia bisa membuka portal gaib sementara, dan ia gunakan itu untuk berkomunikasi dengan makhluk lain di dalam portal tersebut.
"Sebentar lagi tumbal untukmu akan datang dengan sendirinya tuan, tetapi sebelumnya aku akan mencari anak perempuan yang bernama Nana, untuk memastikan apakah dia benar sudah mati atau masih hidup!" ucap Pak Rahman meyakinkan.
"Baiklah kalau begitu silahkan kau tuntaskan tugas yang seharusnya kau tuntaskan! Setelah itu kamu akan aku berikan kekuatan yang super dahsyat!" ucap sosok di balik cermin.
"Terima kasih tuan, aku akan pastikan kalau anak perempuan itu juga akan menjadi tumbal untukmu jika ia masih hidup di Alam ni" jawab Pak Rahman ketika sudah masuk ke alam gaib.
Entah apa yang sedang di rencanakan oleh Pak Rahman. Bukankah dulu ia sangat memusuhi hantu di danau setu cikaret. Lantas kenapa sekarang ia berubah secara drastis 360 derajat.
#### #### #### #### #### #### ####
Sementara di tempat lain, Ayah, Mamah dan Tirta sudah sampak di rumah Pak Rahman. Terlihat kalau rumah Pak Rahman sangat gelap seperti sedang mati lampu. Mereka bertiga memutuskan untuk mengetuk pintu rumah Pak Rahman. Namun tidak ada sama sekali suara orang yang menyahut panggilan dari Ayah.
"Kemanakah Ibu Maya? Kenapa rumahnya gelap sekali?" tanya Ayah kebingungan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments