Chapter 5

Pak Andi sudah kembali kerumah Pak Rahman untuk melaporkan keberhasilannya dalam mendapatkan anggrek hitam yang menjadi syarat untuk melakukan ritual penyelamatan anaknya. Pak Andi terlihat sangat senang saat menceritakan, begitupun putranya yang bernama Tirta juga ikut senang mendengar keberhasilan ayahnya dalam melaksanankan tugas pertamanya. Namun itu hanyalah baru tugas pertama saja, setelah ini akan ada lagi tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh mereka.

"Wow, nampaknya anda cukup hebat juga ya Pak Andi," memberikan acungan jempol, Anda berhasil mendapatkan anggrek itu tanpa kesulutan!" puji Pak Rahman sambil menaruh gelas berisi air putih di meja tamu.

"Ya memang cukup mudah untuk membodohi makhluk gaib yang tidak diciptakan oleh Tuhan dalam keadaan berakal," lalu duduk dan menyilangkan kakinya, "Aku sama sekali tidak perlu susah payah untuk mendapatkannya" ucap Ayah sambil meneguk air yang disediakan oleh Pak Rahman di meja tamu.

"Padahal untuk mencabut anggrek hitam ini dibutuhkan kanuragan yang sangat besar" ucap Pak Rahman seraya mengambil kantong plastik hitam yang berisi anggrek hitam tersebut.

"Oh siapa bilang kalau saya yang mencabutnya pak?" kembali meneguk air minumnya, "Saya tidak mencabutnya, melainkan saya meminta hantu Krenyem itu untuk membawakan anggrek hitam itu untuk saya, jadi saya tidak perlu capek-capek mencabutnya sendiri" ucap Ayah.

Dengan wajah penasaran Pak Rahman kembali bertanya, "Maksud Pak Andi bagaimana?"

"Saya meminta Hantu Krenyem untuk mencabut anggrek itu dan membawakannya untuk saya, lalu sebagai imbalan maka saya berikan ayam cemani itu kepadanya. haha!" ucap Ayah sambil tertawa lepas.

"Luar biasa, anda bisa bernegosiasi dengan hantu Krenyem. anda memang luar biasa pak!-

"Padahal menurut sejarah, belum pernah ada satu manusia yang bisa memerintah bangsa jin selain Nabi, tapi anda bisa memerintah hantu krenyem itu dengan imbalan satu ekor ayam cemani, itu hebat pak!" puji Pak Rahman kepada Ayah Tirta.

Mendengar pembicaraan antara Ayahnya dengan Pak Rahman, Tirta melihat bahwa ayahnya adalah sosok yang pemberani dan cerdas. Hal ini membuat Tirta semakin menyayangi ayahnya, karena selain tidak pernah marah, rupanya ayahnya juga adalah seorang yang pemberani.

"Tapi anda jangan merasa puas dulu pak Andi! Masih ada benda lain yang harus kalian dapatkan pak!" ucap Pak Rahman.

"Benda apa lagi yang harus aku dapatkan pak?" Tanya Ayah Tirta.

"Anda harus mengambil rambut dari Hantu Kolong Wewe, tidak perlu banyak-banyak, hanya perlu satu helai saja pak!" tutur Pak Rahman.

Mendengar penuturan dari Pak Rahman tersebut, sontak membuat Ayah dan Tirta terbelalak matanya karena terkejut. Bagaimana mungkin ia bisa mengambil sehelai rambut dari Hantu Kolong Wewe, mengingat Hantu Kolong Wewe itu terkenal sangat jahat dan menyeramkan. Namun Ayah Tirta mencoba untuk tetap tenang dan menanyakan kembali maksud dari perkataan Pak Rahman tersebut.

"Ram, ram, rambut kolong wewe," Ayah sepertinya gugup, "Bagaimana bisa saya mengambil rambut kolong wewe pak? Pasti kolong wewe itu akan mengamuk!

"Itu hal yang sangat rumit. Aku tidak punya strategi untuk hal itu!" ucap Ayah pesimis.

Mendengar ucapan Pak Andi yang pesimis membuat Pak Rahman tertawa kecil. Terlihat dari gerakan bahunya yang bergetar naik turun menandakan bahwa Pak Rahman sedang tertawa.

"Apakah anda akan menyerah sampai disini Pak Andi? Bukankah kalian sekeluarga sangat menyayangi Nana dan menginginkan dia bisa pulang kerumah?" tanya Pak Rahman.

Sejenak Ayah dan Tirta terdiam. Mereka tidak punya ide cemerlang untuk bisa mendapatkan rambut kolong wewe itu dengan mudah. Apalagi konon katanya, hantu kolong wewe itu memiliki rupa yang sangat menakutkan dan menjijikkan.

Akan tetapi Pak Andi yang teringat akan putri tercintanya yaitu Nana dan ia menatap ke arah putra tercintanya yaitu Tirta. Ia telah bersumpah kepada putranya kalau ia akan melakukan apapun demi membawa pulang Nana kerumah untuk berkumpul kembali bersamanya. Tiba-tiba lamunan Pak Andi pun dibuyarkan oleh suara Pak Rahman.

"Pak Andi, kenapa anda terdiam?" tanya Pak Rahman.

Pak Andi menghela nafasnya, "Tidak apa-apa pak, aku siap melaksanakan tugas tersebut. Akan ku ambil dan kubawakan rambut kolong wewe segera!" ucap Pak Andi seraya langsung bangun dari duduknya hendak melangkah keluar, namun dihentikan oleh Pak Rahman.

"Tunggu dulu pak, biar saya jelaskan terlebih dahulu! Tugas ini tidak akan pernah berhasil jika anda yang melaksanakannya!" ucap Pak Rahman.

"Ma, maksud Pak Rahman apa?!" tanya Pak Andi terheran.

"Kolong wewe itu hantu yang menyukai anak-anak. Dengan kata lain tugas ini hanya bisa dilaksanakan oleh seorang anak kecil!

"Karena hanya pada anak kecil lah kolong wewe tertarik, mereka adalah jin perempuan yang menyukai anak-anak. Jadi yang bisa memancing mereka keluar untuk bertemu hanyalah anak anda pak!" tutur Pak Rahman.

"Apa, jadi dengan kata lain aku harus mempercayakan tugas ini kepada Tirta putraku?", mengerlingkan dahinya, "Apakah tidak ada cara lain pak?" ucap Pak Andi.

Pak Rahman menggelengkan kepalanya sebagai pertanda bahwa memang tidak ada lagi cara alternatif lain untuk bisa mendapatkan rambut kolong wewe selain dengan mempercayakan tugas ini kepada Tirta.

Pak Andi pun menghela nafasnya kembali, kali ini dia benar-benar di posisi yang sulit.

"Baiklah pak, kalau begitu aku dan Tirta akan pulang dahulu untuk mempersiapkan segala sesuati yang diperlukan oleh putraku. Setelah itu aku akan kembali lagi kesini, mungkin satu jam kemudian!" ucap Pak Andi yang lalu dijawab oleh Pak Rahman dengan anggukan.

Pak Andi dan putranya yaitu Tirta pulang dengan mengendarai motor. Sesampainya di rumah mereka mempersiapkan segala sesuatu yang mungkin bisa berguna nanti. Ayah pun tak lupa untuk mandi karena tangannya masih tercium bau darah dari ayam cemani. Setelah semua siap, keduanya pun saling berbincang sebelum lanjut pergi.

"Tirta apakah kamu sudah siap, karena memang tidak ada cara lain lagi," ucap Pak Andi.

"Jika memang hanya itu caranya, aku siap ayah! Aku tidak mau kalah sama ayah, aku juga ingin Nana cepat pulang!

"Percayalah kepadaku, aku pasti akan berhasil sama seperti ayah tadi," mengacungkan jempolnya dan berkata, "semua ini demi Nana!" ucap Tirta sambil senyum.

Mendengar ucapan putranya yang begitu berani, membuat Pak Andi tidak ragu lagi dengan putranya. Segera setelah itu keduanya sama-sama hendak keluar untuk kembali ke rumah Pak Rahman dengan mengendarai motor. Namun tiba-tiba langkah mereka dihentikan oleh suara Ibu Maryam yaitu istrinya Pak Andi sekaligus ibundanya Tirta. Rupanya ibunya sudah sehat kembali.

"Tunggu dulu! Bagaimanapun juga aku adalah ibunya Nana. Aku yang mengandung dan mengasuhnya!-

"Jadi aku yang paling merasa kehilangan, aku wajib ikut!" ucap Ibu Maryam.

"Tapi, Mah! Kamu kan masih belum," ucapan Pak Andi terhentikan karena istrinya menunjukan ekspresi ngambek.

"Kalian tidak boleh melarangku!" perintah Ibu Maryam.

Pak Andi tahu betul kalau istrinya itu sangatlah keras kepala. Dia tidak akan pernah bisa berhenti kalau sudah memiliki keinginan. Meskipun sedang sakit sekalipun, ia akan tetap bersikukuh untuk ikut.

"Ahh tentu saja tidak bunda. Baiklah, ayo kita berangkat bersama sekarang" ucap Pak Andi, lalu Ibu Maryam pun melempar senyuman pertanda senang. Akhirnya mereka bertiga pun pergi bersama, untuk kembali ke kediaman Pak Rahman.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!