Ayah, Mamah dan Tirta sudah sampai di rumah Pak Rahman. Terlihat kalau rumah Pak Rahman sangat gelap seperti sedang mati lampu. Mereka bertiga memutuskan untuk mengetuk pintu rumah Pak Rahman. Namun tidak ada sama sekali suara orang yang menyahut panggilan dari Ayah.
"Kemanakah Ibu Maya? Kenapa rumahnya gelap sekali?" tanya Ayah kebingungan.
"Mungkin Bu Maya dan Linda sudah tertidup, Yah! Coba kita ketuk pintunya!" ujar Mamah.
Namun mereka tidak juga mendapatkan jawaban. Suasana di rumah Pak Rahman sangat sunyi dan sepi. Ayah merasakan adanya kejanggalan dirumah Pak Rahman.
"Maya, sepertinya aku merasakan ada sesuatu yang aneh dengan rumah ini, sepertinya kita harus masuk ke dalam dan mengecek kondisi Ibu Maya dan Linda!" ucap Ayah.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita masuk ke dalam!" ucap Mamah.
Mereka bertigapun memaksa masuk ke dalam rumah. Terlihat kondisi rumah Pak Rahman sangat sepi dam sunyi. Berulang kali Ayah memanggil nama Bu Maya, namun tidak ada juga jawaban. Mereka merasa sangat bingung dengan apa yang terjadi di rumah itu. Mamah mencoba melangkah menuju kamar bersama Tirta, sementara Ayah menuju ruang belakang untuk mengecek dapur dan kamar mandi.
Saat sampai di kamar milik Ibu Maya, Mamah akhirnya bisa menemukan Ibu Maya. Ia melihat Bu Maya sedang duduk bersenderkan ranjang kasurnya dengan keadaan yang kusut dan berantakan. Ia terus-terusan menyebut nama anaknya yaitu Linda, sesekali ia menangis lalu kembali tertawa dan menyebut nama anaknya kembali.
"Bu Maya, kenapa ibu jadi berantakan seperti ini, ayo bu kita keluar dari rumah!" lalu membopong Bu Maya untuk bangun, "Ngomong-ngomong Linda kemana, Bu? Apakah ia tidur dikamarnya?" tanya Mamah kepada Bu Maya, namun Bu Maya tidak mendengar dan tetap memanggil-manggil nama anaknya.
Mamah dan Tirta pun membawa Bu Maya melangkah keluar. Tiba-tiba tidak sengaja Mamah seperti menginjak sesuatu, sesuatu benda yang tampak seperti tangan manusia, Mamah menganggapnya mungkin itu boneka. Lalu mamah berniat ingin memindahkan boneka tersebut, namun ia mencium bau amis darah yang begitu pekat. Akhirnya ia memutuskan untuk menerangi boneka itu dengan lampu senter dari ponselnya.
Mamah sangat terkejut hingga terpental ke belakang karenanya. Mamah tidak percaya kalau yang ia injak tadi bukanlah boneka, akan tetapi itu adalah jasad Linda anaknya Bu Maya dan Pak Rahman. Mamah pun berteriak kencang agar suaranya bisa terdengar oleh Ayah dan warga sekitar. Ayah yang terkejut mendengar suara jeritan dari mamah pun langsung segera bergegas menghampiri mamah di kamar Bu Maya.
"Ada apa mah kenapa berteriak? Nah ini Bu Maya ada, terus Mamah kenapa berteriak?" tanya Ayah.
Mamah tidak mengeluarkan kata-kata apaun. Mamah hanya menunjuk ke arah depan dekat antara ranjang kasur dan lemari pakaian milik Bu Maya. Ayah pun mengarahkan lampu senter dari ponselnya ke arah yang ditunjuk oleh Mamah.
"Astaghfirulloh! Kita harus segera panggil pihak kepolisian!" pekik Ayah.
Merekapun membawa Bu Maya keluar dari rumahnya dan lalu menghubungi aparat kepolisian dan memberitahukan bahwa adanya pembunuhan sadis yang menimpa anak Bu Maya yang masih dibawah umur.
Selang 30 menit kemudia aparat kepolisian pun telah sampai di depan rumah Bu Maya. Suara sirine dari mobil polisi yang begitu keras terdengar ke seluruh penjuru komplek, membuag warga berkerumun ingin tahu kejadian apa yang menimpa keluarga Pak Rahman dan istrinya Bu Maya. Jasad Linda dimasukkan kedalam kantong mayat untuk dilakukan proses autopsi, sementara Bu Maya untuk sementara dilarikan ke rumah sakit jiwa dikarenakan kondisi psikisnya yang mengalami gangguan.
Bu Maya tidak henti-hentinya memanggil nama putrinya dan meminta maaf, sesekali ia juga berkata, "Suamiku kejam, suamiku iblis!"
Namun, Ayah, Mamah dan Tirta tidak mengerti kenapa Bu Maya terus-menerus mengucapkan kata-kata tersebut, karena mereka semua belum tahu kalau Pak Rahman sebenarnya masih hidup. Pak Rahman lah dalang dari semua kejadian ini.
Setelah pihak kepolisian selesai menangani mayat Linda dan membawa Bu Maya ke Rumah Sakit Jiwa, Ayah, Mamah dan Tirta pun melanjutkan perjalanan pulang kerumah untuk istirahat dan kembali melanjutkan misinya besok malam.
"Ayah apakah kamu tidak penasaran dengan apa yang diucapkan oleh Bu Maya? Menurutmu, kenapa Bu Maya terus mengatakan kalau suaminya itu kejam, bukankah Pak Rahman itu sangat baik kepada anak dan istrinya, bahkan kepada kita juga?" tanya Mamah yang merasa bingung dengan ucapan Bu Maya.
"Entahlah, Mamah! Tapi Bu Maya sedang dalam kondisi psikis yang buruk, mungkin apa yang ia ucapkan itu tidak benar dan hanya sebatas ucapan dari orang-orang yang mengalami gangguan jiwa yang tidak bisa dipercaya ucapannya!" jawab Ayah.
"Tetapi, Mas! Biasanya kalau orang yang terkena gangguan jiwa selalu mengucapkan kata-kata secara berulang-ulang, bisa jadi apa yang ia ucapkan itulah yang membuat mereka terkena gangguan jiwa!" ucap Mamah.
"Entahlah, Mah! Aku sedang merasa lelah sekali dan ingin cepat istirahat tidur. Besok malam kita harus kembali menjalankan misi lagi. Kita harus tetap fokus kepada Nana!" ucap Ayah.
"Baiklah, Mas!" jawab Mamah.
Merekapun telah sampai dirumah dan lalu beristirahat untuk memulihkan energi. Esok malam, mereka harus kembali menjalankan misi penyelamatan Nana yang masih tersesat di dimensi alam gaib.
#### #### #### #### #### #### ####
Di tempat lain, terlihat Pak Rahman dengan jubah hitam sedang berada di suatu hutan yang aneh dan sangat remang-remang. Rupanya Pak Rahman sedang berada di dimensi gaib.
Rupanya Pak Rahman bisa leluasa masuk ke dimensi alam gaib dengan mudah. Ia bisa melakukan hal tersebut dikarenakan telah bersekutu dengan Iblis, akan tetapi belum diketahui dengan Iblis apa ia bersekutu. Tujuan Pak Rahman ke dimensi alam gaib ini adalah untuk mencari Nana, putri dari Pak Andi dan Bu Marya, yaitu ayah dan bundanya Tirta dan Nana.
"Aku harus temukan gadis kecil itu dan akan ku jadikan ia persembahan kepada raja Iblis agar aku mendapatkan kekuatan yang lebih besar dari dukun manapun yang ada di dunia. Hahahaha!" ucap Pak Rahman sambil tertawa jahat.
Rupanya Pak Rahman berniat ingin menjadikan Nana sebagai tumbal untuk mendapatkan kekuatan yang luar biasa dari raja iblis yang ia bersekutu dengannya. Sungguh tidak disangka rupanya skenario yang di rancang oleh Pak Rahman berjalan sesuai dengan yang ia rencanakan.
Pak Rahman kembali melanjutkan langkahnya dalam mencari Nana. Sebenarnya Pak Rahman sudah tahu kalau kini Nana sedang berada di rumah pohon tempat hantu Kolong Wewe bersemayam. Ia akan menuju kesana untuk mengambil Nana dari genggaman hantu Kolong Wewe.
Ia tidak segan-segan akan menghancurkan rumah hantu Kolong Wewe jika hantu Kolong Wewe tidak mau menyerahkan Nana kepada dirinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments