Tirta dan Mamah akhirnya berhasil menemukan mustika ular yang merupakan telur ratu ular siluman. Segera ia mengambil mustika ular itu dengan tangannya. Namun saat tangannya menyentuh telur itu, tangan mamah seperti seolah menyentuh besi yang habis dibakar, rasanya sangat panas hingga sebagian jari-jari mamah sedikit melepuh.
"Ini gawat Tirta! Mamah tidak bisa menyentuh mustika itu, tangan mamah seperti terbakar!" ucap Mamah.
"Lalu apa yang akan kita lakukan mah? Pak Rahman juga tidak memberitahu kita kalau mustika ini ternyata memiliki energi panas yang sangat dahsyat!" balas Tirta.
Mamah hampir kehabisan akal untuk bisa mengambil mustika tersebut. Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari ayah yang memanggil mereka.
"Mamah, Tirta! Dimana kalian!" teriak ayah memanggil.
Mamah yang mendengar teriakan ayah segera membalas panggilannya.
"Kami disini ayah! Di dalam sarang ratu siluman ular!" teriak mamah.
Ayah yang mendengar suara teriakan Mamah langsung segera masuk ke dalam sarang ratu siluman ular.
"Syukurlah kalian aman dan selamat! Bagaimana selanjutnya, apa kalian sudah mendapatkan mustika ular itu?" tanya Ayah.
"Kami sudah menemukan letak mustika ular itu ayah, tapi kami kesulitan untuk membawanya. Mustika itu mengeluarkan energi yang sangat panas!" terang Tirta.
"Iya ayah, lihatlah jari tanganku melepuh karena menyentuh mustika itu!" ucap mamah sembari menunjukkan luka bakar di jari tangan kanannya.
"Lalu kita harus bagaimana? Pak Rahman sedang menghadapi ratu ular dan aku yakin hidup Pak Rahman tidak akan lama lagi!-
"Kalau kita berlama-lama disini, kita juga pasti akan mati!" ucap Ayah kebingungan.
Sama seperti ayah, Mamah dan Tirta juga merasa kebingungan dan tidak ada ide untuk bisa membawa mustika ular itu keluar dari sarang sang ratu siluman ular
#### #### #### #### #### #### ####
Sementara dirumah Pak Rahman, Ibu Maya istrinya Pak Rahman dan putrinya yang bernama Linda dikejutkan oleh bingkai foto milik Pak Rahman yang menempel di dinding yang jatuh secara tiba-tiba.
"Ibu, bingkai foto milik ayah jatuh!" pekik Linda.
Ibu Maya lalu berjalan mengambil bingkai foto milik suami tercintanya. Dilihatnya kaca bingkai foto yang hancur berantakan karena terjatuh. Hati Ibu Maya merasakan adanya sesuatu yang menimpa suaminya, dan sepertinya ini adalah firasat buruk.
"Ya Tuhan, semoga suamiku baik-baik saja disana!" ucap Ibu Maya di dalam batin.
Lalu Ibu Maya kembali memasang bingkai foto itu di dinding, sementara Linda membereskan pecahan kaca yang berserakan di lantai.
"Kita harus menghubungi Pak Andi dan keluarga! Ibu mau tahu apakah ayahmu baik-baik saja disana!" ucap Ibu Maya.
"Linda, tolong ambilkan ponsel ibu ya di atsa meja kamar ibu! Biar ibu yang melanjutkan membereskan serpihan kacanya!" perintah ibu kepada Linda.
Linda pun mengangguk dan segera beegegas menuju kamar Ibu Maya untuk mengambil ponsel milik Ibunya.
Saat Ibu Maya tengah membereskan sisa serpihan kaca di lantai. Tiba-tiba ia seperti mendengar suara lirih dari arah luar jendela ruang tamu. Setelah selesai membereskan serpihan kaca, Ibu Maya memutuskan untuk melihat jendela ruang tamu untuk mengetahui dari mana asal suara lirih tersebut.
Ibu Maya berjalan perlahan mendekati jendela ruang tamu dimana sumber suara itu terdengar. Ia nampak melihat sosok hitam yang mengetuk-ketuk jendela ruang tamu yang sudah tertutup. Tidak jelas wajahnya karena mendadak lampu di ruang tamu rusak dan tidak bisa menyala. Ibu Maya mencoba menegaskannya kembali.
Tiba-tiba muncul cahaya kilat dari langit yang begitu terang hingga kini terlihat jelas wajah sosok hitam yang mengetuk jendela tanpa henti. Betapa terkejutnya Ibu Maya saat ia melihat kalau sosok tersebut adalah suaminya yang dalam kondisi mengenaskan.
Wajahnya penuh dengan luka gigitan makhluk buas, wajahnya penuh dengan darah yang keluar dari luka gigitan itu. Sebagian wajahnya seperti membengkak dan terlihat seperti melepuh. Mulutnya hanya bisa mangap tanpa mengeluarkan suara. Lalu tiba-tiba, salah satu bola matanya lepas dari kelopak matanya dan jatuh ke bawah. Sontak Ibu Maya langsung berteriak dan menjauh dari jendela ruang tamu.
"Aaaaaaaarrrrrggghhh!", Ibu Maya berteriak dan memanggil anaknya terus menerus, "Linda kamu dimana, Linda kenapa kamu lama sekali! Linda cepat kesini!" Ibu Maya memanggil Linda sambil berjalan menuju kamarnya.
Saat Ibu Maya sudah sampai di kamarnya, ia tidak mendapatkan Linda ada di dalam kamarnya. Kamarnya gelap dan tidak ada tanda-tanda kalau dari Linda. Ibu Maya mencoba menyalakan lampu kamar, namun rupanya lampu kamarnya juga ikut rusak.
"Ya ampun, kenapa lampu kamarku juga bisa ikut rusak, padahal baru diganti kemarin!" ucap Ibu Maya.
"Linda, Linda! Kamu dimana sayang?" panggil Ibu Maya, namun tidak ada jawaban dari Linda.
Ibu Maya semakin kebingungan dan merasa ada hal aneh. Lalu tidak sengaja ia melihat ada kain yang keluar dari lemari pakaiannya, ia mengira jangan-jangan Linda ada di dalam lemari. Karena Ibu Maya teringat kejadian di jendela ruang tamu, ia pun memutuskan untuk mengambil sebuah kayu besar yang ada di bawah ranjang kasurnya, jika ternyata itu adalah hantu maka ia akan langsung memukulinya.
"Linda, apa kamu ada di dalam lemari!" panggil Ibu Maya sambil mengendap-endap mendekati lemari.
Ibu Maya kini tepat di depan pintu lemari, dibukanya pintu itu secara pelan-pelan. Dan benar saja, ternyata di dalam lemari itu muncul sosok hantu seram yang mirip suster ngesot yang tiba-tiba ingin menerkam Ibu Maya. Karena terkejut dan ingin melindungi diri, sontak Ibu Maya pun memukul hantu itu secara brutal sampai hantu itu tergeletak mati.
Bu Maya yang melihat hantu itu sudah tidak berdaya mencoba mendekat untuk memastikan kalau hantu itu benar-benar tidak bergerak.
Saat Bu Maya sudah dekat dan ingin menyentuh hantu itu, tiba-tiba sosok hantu itu terbangun kembali dan hendak menerkam Ibu Maya lagi. Bu Maya segera menghantam kepala sosok tersebut hingga terlihat darah mengucur dari kepala sosok tersebut. Kini hantu itu benar-benar telah mati.
"Apakah hantu ini sudah benar-benar mati? Tapi bukankah hantu itu tidak akan bisa mati!" gumam Bu Maya.
"Aku akan memastikannya apakah ini hantu atau orang gila yang menyelundup masuk kerumahku!" guman Bu Maya sambil menelan salivanya.
Kembali didekatinya sosok tersebut dan Bu Maya mencoba menyentuhnya. Kini sosok hantu itu sudah tidak merespon. Bu Maya mencoba menyibakkan rambut sosok tersebut yang menutupi wajahnya. Betapa terkejutnya ia setelah melihat kalau sosok yang telah ia bunuh adalah Linda, putri kesayangannya sendiri.
Melihat kini putrinya sudah tidak bernyawa akibat ulah tangannya sendiri, Bu Maya pun menjadi frustasi level dewa. Matanya tak henti-hentinya melotot menatapi jasad putrinya, tangan dan tubuhnya bergetar, jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Pikirannya hancur tidak karuan, kini ia menjadi sosok wanita gila yang hancur berantakan.
Tiba-tiba terdengar suara tawa dari arah jendela kamarnya. Suara tawa itu berasal dari sosok hitam juga, namun kali ini berdiri tegak dan tampak seperti orang yang ia kenal.
"Maafkan aku Maya, tapi aku akan melakukan apapun demi menjadi dukun terhebat di dunia. Hahahahahaahaa!" ucap sosok hitam tersebut dengan tawa yang menggelegar.
"Siapa kamu!" ucap Bu Maya lirih.
Sosok hitam tersebut tidak menjawab pertanyaan Bu Maya. Namun saat kilat kembali bersinar, sinar kilat membuat Bu Maya kembali dapat melihat wajah sosok hitam tersebut. Ternyata sosok hitam tersebut adalah Pak Rahman, sosok suami yang selama ini selalu ia kagumi. Melihat kenyataan yang begitu pahit, Bu Maya semakin frustasi dan terus menangis. Sementara sosok hitam itu perlahan menghilang bagaikan debu ditiup angin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments