Akhirnya Tirta, Ayah dan Mamah telah sampai dirumah Pak Rahman. Pak Rahman dan keluarganya merasa takjub melihat ibu Maryam mamahnya Tirta ikut hadir.
"Wah mamahnya Tirta ikut juga rupanya, bagaimana keadaannya bu, apa sudah baikan? Bukankah seharusnya ibu masih istirahat dirumah?" tanya Pak Rahman
"Aku ingin tahu perkembangannya pak. Lagi pula aku juga tidak betah kalau harus selalu sendirian dirumah!" ucap bu Maryam
"Benar juga, tentu akan jenuh kalau sendirian dirumah. Lagipula sepertinya anda bisa membantu mereka berdua untuk menyelesaikan misi kedua ini!-
"Kekuatan cinta kalian akan bertambah kuat," lalu menatap Tirta, "kamu sudah siap kan Tirta?" ucap Pak Rahman.
"Bawalah ini," menyerahkan sebuah boneka susan berukuran sedang kepada Tirta, "Pertama-tama kamu harus membawa boneka ini ke kebun bambu dekat danau. Disanalah tempat paling sunyi, kolong wewe menyukai tempat yang sunyi dan gelap!-
"Sesampainya disana, kau harus mengobrol dengan boneka ini, anggap lah boneka ini hidup!-
"Jika berhasil, kau akan mendengar suara yang mirip dengan ibumu. Maka jawablah suara itu, lalu kau taruh boneka ini dan kau teteskan sedikit darahmu ke boneka, lalu bersembunyilah" tutur pak Rahman panjang.
Sementara Tirta dan yang lainnya terkejut mendengar ucapan Pak Rahman yang mengharuskan Tirta untuk meneteskan darahnya.
"Tenang, tenang, ini hanya setetes darah, tidak terlalu sakit. Kamu ingin adik kamu pulang kan?" ucap pak Rahman yang dijawab oleh Tirta dengan anggukan.
"Setelah kau melihat kolong wewe sedang asyik menciumi bau darahmu yang ada di boneka, segeralah kau cabut sehelai rambut kolong wewe dari belakang dengan alat pencabut paku ini!" ucap Pak Rahman sambil menyerahkan penjepit paku kepada Tirta.
Karena merasa khawatir lalu Pak Andi pun angkat suara.
"Tapi pak, lalu bagaimana kalau kolong wewe itu marah dan mengamuk? Bukankah akan membahayakan Tirta nantinya?" tanya Pak Andi yang lalu menghela nafasnya dalam-dalam agar tetap tenang.
Pak Rahman pun menghela nafasnya, "Ini poin pentingnya pak!" kata Pak Rahman seraya mengambil posisi duduk.
"Saat kolong wewe itu mengamuk, maka secepatnya Tirta berlari keluar hutan bambu dan menemui ayah dan mamahnya. Kolong wewe itu tidak akan berani jika ada orang tua yang menyayangi anaknya ada di dekat anak tersebut!" kata pak Rahman.
Karena sudah tidak sabar lalu Tirta pun mengajak kedua orang tua nya untuk secepatnya pergi ke hutan bambu dekat danau setu cikaret bersama.
"Baiklah kalau begitu. Ayah aku siap melakukannya sekarang, ayo kita berangkat!" ucap Tirta.
Pak Rahman kembali tersenyum, "Saya sangat senang melihat keberanian anak ini," seraya memberikan 2 benda mirip kompas kepada ayah dan Tirta, "Bawalah alat ini!" ucap Pak Rahman.
"Kompas ini bukanlah kompas sembarangan. Kompas ini akan menjadi pemberi peringatan bagi kedua pemegangnya,-
"Jika jarum kompas ini bergerak dan berputar tidak teratur, maka segeralah cari pemegang kompas lainnya. Karena itu pertanda bahaya!" tutur Pak Rahman.
"Ahh sepertinya ini sangat berbahaya. Apakah tidak ada cara lain?" tanya Mamah seraya menoleh ke Ayah.
"Tenanglah mah, kita harus percaya kepada Tirta! Ayah yakin dia pasti berhasil," kata Ayah.
Dengan ekspresi keberatan, mamah Tirta pun mencoba untuk mempercayainya meskipun rasa khawatir tetap menggeragoti pikirannya.
"Kalian harus selalu ingat, kepercayaan dan kekuatan cinta kalianlah yang akan membawa kalian kepada keberhasilan!"
"Ingatlah selalu bahwa tipu daya Jin dan Iblis itu sangat berbahaya dan nyata!" ucap Pak Rahman.
Ayah, Mamah dan Tirta mengangguk dan segera bergegas menuju lokasi yang ditunjukan oleh Pak Rahman, yaitu kebun bambu di dekat danau setu Cikaret.
#### #### #### #### #### #### ####
Tepat pukul 23.35, Tirta, Ayah dan Mamah telah sampai di kebun dekat danau setu Cikaret. Mereka bertiga sudah siap. Terlihat ayah mengeluarkan sebuah kertas yang dilipat yang bertuliskan sebuah mantera. Mantera tersebutlah yang harus di rapal oleh Ayah dan Juga Tirta.
"Ini nak, Nanti saat kau sudah di temgah-tengah kebun bambu, segera kau bacakan mantera ini ini ke boneka ini," sambil menyerahkan kertas dan boneka susan, "setelah itu kau teteskan darahmu dan segera sembunyi!" perintah Ayah.
"Baik Ayah, aku akan berusaha semaksimal mungkin yah, aku pasti bisa!" jawab Tirta.
Sementara Mamah yang masih tak berhenti mengkhawatirkan putranya terus memperingatkan Tirta, "Pokoknya kalau nanti kamu merasa kesulitan atau bahaya, kamu harus cepat-cepat melarikan diri ya, Nak, jangan terlalu memaksakan diri!-
"Mamah nggak mau dan nggak ikhlas kalau harus kehilangan kamu juga!" ucap Bunda dengan wajah berkaca-kaca.
"Tenang mah, aku pasti akan kembali, kita akan bersama-sama menolong nana. Iya kan ayah?" ucap Tirta.
Ayah pun melempar senyum kepada Tirta. Lalu Tirta pun segera pergi ke tengah-tengah kebun bambu yang luas. Dalam waktu 30 menit, Tirta sudah berada di tengah kebun bambu yang luas.
Sementara mamah yang bersama Ayah mengawasi berlangsungnya ritual, masih merasakan kekhawatiran yang luar biasa dalam hatinya. Ayah yang merasakan itu, lalu memeluk mamah.
"Sebaiknya kita percayakan kepada putra kita mah," ucap Ayah.
"Tapi entah kenapa aku masih merasa begitu khawatir ayah!" jawab mamah.
"Ingat kata pak Rahman," seraya mengelus kepala mamah, "Dengan Kekuatan cinta dan keyakinan yang kuatlah kita bisa menjemput Nana, maka kita harus saling yakin dan percaya kalau kita pasti bisa!" ucap Ayah sambil senyum dan mencium kening mamah.
Sementara, Tirta yang sudah berada ditengah-tengah kebun bambu dekat danau setu cikaret. Sedang bersiap-siap untuk melakukan ritual pemanggilan hantu kolong wewe.
Dibukanya lipatan kertas yang bertuliskan mantra dengan tangan kanan, lalu di pegangnya boneka susan dengan tangan kirinya.
"Sampurasuun, sampurasuun. Aya budak teu aya indung. Indung jurig indung tuyul. Kadiyeu kadiyeu. Iye aya....( maaf author tidak bisa meneruskan demi keamanan pembaca)!" Ucap Tirta dalam mantra.
Usai membaca mantra tersebut, lalu Tirta menggoreskan silet ke jari telunjuknya, "Auwwww,", lalu meneteskan darahnya ke boneka susan yang sudah ia bacakan mantra.
Setelah selesai melakukan ritual tersebut, lalu Tirta menunggu sampai ada reaksi dari mantranya.
Benar saja, selang 5 menit kemudian tiba-tiba tanah bergetar dan terlihat pohon bambu bergerak kencang dikarenakan angin yang mendadak bertiup kencang. Tirta pun segera mencari tempat bersembunyi yang pas agar bisa sambil mengawasi boneka.
Tirta melihat ada sesosok manusia yang menghampiri boneka itu. Sosok itu bukanlah sosok kolong wewe melainkan sosok manusia yang mirip dengan ibunya.
"Mamah, kok mamah ada disini. Mau ngapain sih mamah?" gumam Tirta dalam hati.
Sosok yang mirip ibunya Tirta itu terlihat sedang mencari sesuatu. Tirta pun mencoba melangkah untuk menghampiri sosok ibunya itu.
"Nak kamu dimana nak? Loh kok cuma boneka? Kamu dimana sayang, ini mamah sayang!" ucap sosok yang mirip ibunya Tirta.
Lalu sosok tersebut mengambil boneka dan menciumi boneka tersebut seraya berkata, "Oh rupanya ini kamu ya nak," ucap sosok itu.
Melihat itupun Tirta yang tadinya berniat ingin menghampiri sosok mirip ibunya lalu menghentikan langkahnya.
Namun terlambat, suara langkah Tirta sudah terdengar oleh sosok yang mirip ibunya itu. Lalu sosok yang mirip ibunya itu pun menoleh ke arah Tirta.
"Hmmm, anakku. Kamu sedang apa disini?" ucap sosok tersebut.
Dengan ekspresi kebingingan lalu Tirta berkata, "Mamah ngapain? Mamah lupa ya kalau kita disini punya tujuan, kan tadi sudah janjian, kenapa Mamah malah kesini!" ucap Tirta.
Sementara itu ditempat dimana Ayah dan Mamah menunggu Tirta. Ayah dibuat panik dikarenakan kompas yang melingkar di tangan kirinya kini jarumnya bergerak ke kanan dan ke kiri dengan tidak teratur.
Ayah terkejut melihag kompas di tangan kirinya, "Ini gawat mah! Ada sesuatu yang terjadi pada Tirta. Kita harus cepat menolongnya!" ucap Ayah panik.
"Ada apa dengan Tirta yah?" tanya Mamah.
Tanpa sempat menjawab pertanyaan Mamah, Ayah langsung berlari menuju ke tengah-tengah kebun bambu yang luas. Sementara mamah juga mengikutinya dari belakang.
Sementara ditempat Tirta berada. Tirta dibuat kebingungan lantaran sosok yang mirip dengan ibunya itu menatap Tirta dengan tatapan yang tajam seperti seekor binatang buas yang melihat mangsanya.
"Mamah kenapa kok ngeliatin aku seperti itu?", tiba-tiba terbesit pikiran negatif pada Tirta dan membuat dia hendak berlari, "Atau jangan-jangan-!?" ucap Tirta seraya hendak berlari meninggalkan sosok tersebut. Namun entah kenapa kaki dan seluruh tubuhnya menjadi kaku dan tidak bisa digerakkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments