Tirta semakin yakin kalau itu bukanlah ibunya. Ia mencoba menguatkan diri untuk bisa berlari, namun rupanya itu tidak bisa. Tubuh Tirta sudah terikat oleh rambut kolong wewe yang bisa memanjang. Tekstur rambutnya seperti sapu ujuk tapi sedikit lebih keras dan kasar serta bau kotoran manusia.
"Hahaha, sini lah nak, mendekatlah! Aku adalah ibumu!" ucap hantu kolong wewe.
Hantu itu kini sudah berubah ke wujud aslinya. Ia sangat serem dengan wajah berwarna hitam gelap, dengan mata berwarna merah dan kuku tangan yang panjangnya sekitar 70 senti. Ia mulai mendekati Tirta.
Tirta semakin ketakutan dan hanya bisa berteriak memanggil Ayah dan mamahnya. Tirta pun menangis.
"Tidak, Ayah tolooong aku!" teriak Tirta.
"Kenapa kamu takut nak? Apa kamu sudah tidak mau bertemu dengan mamah?" ucap kolong wewe yang kembali menyamar menjadi mamah.
"Sial, kenapa aku bisa terkecoh. Aku lupa dengan pesan Pak Rahman kalau jin itu penuh dengan tipu daya, sekarang aku juga pasti akan bernasib sama dengan Nana!" gumam Tirta di dalam hati.
"Hahahaha! Menangislah nak, karena nanti tangisanmu akan hilang setelah sudah menjadi koleksiku!" ucap kolong wewe yang berniat menjadikn Tirta sebagai koleksi mainannya sebelum dimakan.
Beruntung Ayah dan mamah bisa sampai ke tempat Tirta tepat waktu.
"Hentikan wahai makhluk laknatulloh! Jangan pernah berani kau sentuh putraku!" ucap Ayah.
Hantu Kolong Wewe pun terdiam dan heran dengan kedatangan Pak Andi ayahnya Tirta dan Bu Maryam mamahnya Tirta.
"Siapa kalian? Berani-beraninya kalian mengganggu waktuku bersenang-senang! Grrrrr!" ucap Hantu kolong wewe.
"Kami adalah orang tua dari anak yang ada dihadapanmu!-
"Sebaiknya segera kau serahkan putra kami! atau kau akan ku hancurkan!" perintah Ayah kepada kolong wewe.
Sementara Mamah hanya terdiam karena ini pertama kalinya ia melihat hantu secara langsung.
"Beraninya kalian memerintahku! Salah kalian sendiri kenapa meninggalkan anak kalian sendirian di hutan?!-
"Setiap anak yang sudah tidak disayang oleh orang tuanya, maka aku akan menjadi ibu baru bagi mereka sebelum mereka aku makan, Hahahaha!" ucap hantu kolong wewe yang tiba-tiba langsung membawa Tirta kabur dengan terbang.
Tirta yang ketakutan terus memanggil ayah dan mamahnya, "Ayah, Mamah, tolong aku!" ucap Tirta berteriak.
"Bertahanlah nak!" ucap ayah yang lalu berlari mengejar kolong wewe. Ayah pun menarik rambut kolong wewe yang berhasil ia kejar. Ia mengira dengan cara ini maka hantu kolong wewe tidak akan bisa pergi jauh.
"Hiks, sialan, Rambutnya sangat bau dan menjijikkan. Penuh cairan lengket, hampir saja aku mau muntah!" gumam ayah dalam hati.
Sementara hantu kolong wewe yang berhasil ditahan lalu terjatuh dari atas.
"Dasar makhluk yang terbuat dari tanah! Berani-beraninya kau menyentuh rambutku!" ucap hantu kolong wewe.
Hantu kolong wewe pun mengamuk, lalu ia mengarahkan serangan ke arah ayah.
"Matilah kau dan jadilah hiasan di istanaku!" teriak kolong wewe.
Kolong wewe mengarahkan serangan itu kepada ayah. Namun secara tiba-tiba, serangan kolong wewe itu terhenti. Serangan itu terhenti dikarenakan Ibu Maryam mamahnya Tirta tiba-tiba ada di hadapan ayah untuk menghalau serangan dari hantu kolong wewe.
"Ehh, kenapa serangannya terhenti?", melihat istrinya yang ada dihadapannya, "Mamah, sejak kapan mamah ada dihadapan ayah?" tanya Pak Andi ayahnya Tirta.
"Bukakah kolong wewe itu dulunya seorang ibu juga kan, itu berarti yang harus melawannya pasti hanya aku, karena aku adalah seorang ibu!" ucap mamah.
Hantu kolong wewe pun heran kenapa Bu Maryam rela mengorbankan diri demi Suami dan anaknya.
"Kenapa kau menghadang seranganku, apakah kau tidak takut mati?" tanya kolong wewe.
Dengan lantangnya mamah menjawab, "Bagaimanapun aku adalah seorang ibu yang sangat menyayangi anakku dan juga suamiku. Siapapun yang ingin melukai keduanya akan aku hancurkan!" ucap mamah.
"Hmmm, baiklah! Kita lihat seberapa sayangnya kamu dengan anakmu?" ucap hantu Kolong wewe.
"Melebihi dari rasa sayangku kepada diriku sendiri!" jawab Mamah.
"Kau sudah membiarkan putrimu hilang, dan kini kamu biarkan putramu hilang juga, apa itu yang namanya sayang?" tanya hantu kolong wewe.
Mamah pun menangis dan mengeluarkan air matanya, "Terserah kau ingin berkata apa, tapi yang jelas akan aku lakukan apapun demi anak-anakku bisa kembali pulang!" ucap Mamah.
"Kalau begitu aku ingin bertukar! Kamu korbankan dirimu, maka kulepaskan putramu!" ucap hantu kolong wewe.
Sementara ayah yang tak terima istrinya di kecohkan oleh ucapan hantu kolong wewe, "Hei kau hanya makhluk kotor! Kami tidak akan mau menuruti ahhh, sialan!" ucapan ayah terhenti karena kini sekujur tubuhnya telah terikat oleh rambut kolong wewe, bahkan nyaris terbungkus.
"Diamlah! ini adalah urusan wanita, laki-laki jangan ikut campur!" ucap hantu kolong wewe yang kesal karena ayah terlalu banyak bicara.
Sejenak mamah terdiam tanpa kata. Ia menarik nafas panjang lalu menatap putra dan suaminya yang sedang dalam genggaman hantu kolong wewe. Tidak pilihan lain selain mengikuti permintaan hantu kolong wewe. Akhirnya mamahpun mengeluarkan keputusan.
"Baiklah! silahkan kau ambil jiwa dan ragaku! Kau boleh jadikan aku pengganti anakku, tapi lepaskan anakku segera setelah aku bertukar!" ucap mamah.
"Dan aku mohon lepaskan juga semua anak-anak yang pernah kau tangkap, pasti orang tuanya sedih karena kehilangan mereka!" kata mamah.
"Aku hanya bisa melepaskan anakmu saja, karena kau adalah ibu kandungnya. Anak yang lain tidak bisa kulepas karena kamu, terkecuali ibu kandung mereka yang mau menukar dirinya dengan anaknya!" tutur hantu kolong wewe.
Mamahpun kembali menarik nafas panjang, "Baiklah kalau begitu tidak apa-apa! Cepat lepaskan anakku dan ambillah ak,-" tertarik oleh rambut kolong wewe, "Ahhhh!" mamah berteriak.
Belum selesai berkata, hantu kolong wewe langsung menarik Ibu Maryam untuk menukarnya dengan Tirta. Kini mamah yang menjadi sandera kolong wewe.
Melihat mamahnya yang kini berada dalam genggaman hantu kolong wewe membuat Tirta sangat sedih. Ia tidak mau kehilangan mamahnya.
"Mamah jangan tinggalin aku mah, hiks, hiks!" Tirta menangis.
Begitupun dengan Ayah, rambut yang membungkus tububnya kini perlahan lepas darinya. Ayah pun terjatuh lemas, lalu ia menatap ke atas dimana istrinya sedang dalam genggaman kolong wewe.
"Maryam, kenapa semuanya jadi seperti ini? Tidak seharusnya kau korbankan diri!" gumam ayah dalam hati.
"Hei kolong wewe, sebaiknya kau lepas istriku. Kau boleh jadikan aku sebagai penggantinya!" ucap ayah. Sayangnya hantu kolong wewe hanya menginginkan jiwa ibu dan bukan ayah.
"Hahahaha! Maryam, sekarang buktikanlah kebesaran cintamu kepada anakmu. Bunuhlah dirimu sendiri, setelah itu jiwamu akan ku bawa ke istanaku, hahahaha!" perintah hantu kolong wewe.
Lalu hantu kolong wewe pun memberikan sebuah pisau yang tajam kepada Mamah maryam. Sementara Ayah dan Tirta hanya bisa menangis melihat Mamah Maryam menjadi bahan permainan hantu kolong wewe.
"Ayo buktikanlah, atau aku akan menukar dirimu dengan anakmu kembali!" ucap hantu kolong wewe.
Mendengar ucapan itu, mamah Maryam pun mengambil pisau itu lalu menatap ke arah suami dan anaknya.
"Kalian jangan sia-siakan pengorbanan mamah ini ya! Kalian harus bisa selamatkan Nana!" ucap Mamah.
Lalu Mamah Maryam menutup kedua matanya dan menarik nafas panjang seraya berkata, "Aku percaya kepada kalian!", lalu hendak menusukkan pisau tepat ke arah jantungnya.
Namun anehnya, tiba-tiba benda tajam itu berubah menjadi selembar daun bambu muda. Sontak Mamah pun terkejut.
"Ke, kenapa jadi berubah?" tanya Mamah.
"Kau adalah ibu yang baik dan sangat menyayangi keluargamu," menghampiri mamah, "sama sepertimu aku juga dulu begitu!" tutur hantu kolong wewe.
Lalu tiba-tiba mamah seperti masuk ke dalam dimensi ruang dan waktu. Lalu ia melihat masa lalu dan asal-usul hantu kolong wewe. Ternyata ia adalah jin korin yang berasal dari seorang ibu yang sangat sayang kepada suami dan anak-anaknya pada zaman penjajahan. Lalu ia mengorbankan dirinya demi untuk menyelamatkan suami dan anaknya. Namun rupanya para penjajah itu tidak menepati janji. Mereka tetap menyiksa suami dan anaknya, bahkan sampai mati. Lalu jin korin ini merasa harus membalaskan dendam. Lalu ia membunuh seluruh penjajah dan juga anak-anaknya.
Sampai sekarang ia selalu menculik anak-anak yang sudah tidak dipedulikan oleh orang tuanya.
Lalu tiba-tiba Mamah kembali ke dunia asalnya, mamah sudah berada di antara suami dan anaknya sekarang.
"Aku tidak bisa mengalahkan cinta kalian yang begitu kuat! Ini ambillah rambutku, kalian butuh itu untuk menjemput putri kalian bukan?" tanya hantu kolong wewe seraya memberikan sehelai rambutnya.
Setelah memberikan rambutnya ke mamah maryam, lalu kolong wewe pun memeluk mamah sebagai pertanda rasa peduli kepada mereka. Ia pun berubah wujud menjadi perempuan yang tadi ada dalam bayangan Mamah saat masuk ke dimensi lain.
"Kau harus cepat menolong putrimu! Aku yakin kamu pasti bisa!" ucap hantu kolong wewe.
Lalu hantu kolong wewe pun pergi dan menghilang dalam waktu sekejap.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments