Tirta masih tetap menangis tersedu lantaran ia teringat dengan kata-katanya kepada Nana saat diatas perahu rakit. Saat itu Tirta mengatakan kepada Nana kalau ia membenci Nana yang sudah membuat harinya menjadi kurang beruntung. Bahkan kala itu Tirta berkata kalau ia tidak ingin lagi bermain dengan adiknya.
"Sudah nak, berhentilah menangis. Semua pasti akan baik-baik saja," ucap ayah mencoba menenangkan Tirta.
"Tapi aku kangen sama adik yah, aku mau terus bermain sama bersama-sama adik! aku sayang adik" ucap Tirta yang masih tersedu-sedu.
"Sebaiknya kamu tahan dulu air matamu nak, kamu luapkan nanti semua kerinduan kamu saat kita sudah berhasil menemukan Nana dan membawanya pulang dari jerat Hantu Lembu itu!" ucap Ayah.
Lalu, Ayah Tirta melirik ke arah Ayah dan Ibundanya Linda, "Katakanlah kepadaku hal apa yang harus pertama kali kami lakukan," lalu berdiri dengan penuh keberanian, "Aku yakin aku pasti bisa menyelamatkan putriku!"
Pak Herman pun bertanya kepada Ayah Tirta, "Memangnya kapan Pak Andi mau memulainya, sebenarnya 7 hari itu bisa menjadi waktu yang teramat cepat dan juga bisa menjadi waktu yang cukup lama," lalu berjalan mendekati Pak Andi, "semua tergantung seberapa efisiennya usaha kalian," ucap Pak Herman sambil menyentuh bahu Ayah Tirta.
"Aku akan memulainya sekarang juga, aku tidak mau terlambat," mengepalkan tangannya, "7 hari adalah waktu yang teramat sedikut bagiku!" ucap Ayah Tirta.
"Baiklah kalau begitu, pertama-tama kalian harus mengambil bunga anggrek hitam yang tumbuh di pinggiran sungai tepat di antara pertemuan 2 aliran sungai!" tutur Pak Rahman ayahnya Linda.
"Setahuku tidak ada anggrek hitam yang tumbuh di sungai sini, anggrek hitam hanya ada di kalimantan bukan?" tanya Ayah Tirta merasa aneh dan tidak percaya dengan ucapan Pak Rahman.
"Hmmm, sabar dulu Pak Andi. Mohon dengarkan penjelasan saya," lalu duduk di sofa dan menghela nafas yang dalam, "untuk medapatkan anggrek hitam inipun kalian harus melakukan hal yang sulit!" ucap Pak Rahman. Sementara Tirta dan Ayah beserta yang lainnya fokus mendengarkan dan menunggu apa yang akan Pak Rahman terangkan nanti.
"Untuk bisa mengambil anggrek itu anda harus berpuasa mutih terlebih dahulu terhitung mulai dari 30 jam sebelum pencarian!-
"Yang artinya anda harus berpuasa dengan tidak mengkonsumsi segala sesuatu yang manis dan segala sesuatu yang berasal dari makhluk hidup. Anda hanya diperbolehkan makan Nasi putih dan minum air putih!-
"Hal ini wajib anda lakukan untuk mengaktifkan kekuatan kanuragan didalam diri anda agar bisa mencabut anggrek tersebut," celoteh Pak Rahman panjang.
Ayah dan Tirta, keduanya sama-sama fokus mendengarkan penjelasan dari Pak Rahman. Lalu kembali Pak Rahman berkata, "Kalian juga diharuskan membawa seekor ayam cemani yang berwarna full hitam untuk syarat pemanggilan Hantu Krenyem yang menunggu di Sungai!"
"Hantu krenyem?" Ayah Tirta merasa bingung dengan nama hantu itu, "Hantu macam apa lagi itu?" tanya Ayah penasaran.
"Hantu Krenyem termasuk dalam jenis Jurig Cai atau dalam bahasa Indonesia berarti Jin Air" ucap Pak Rahman lalu kembali menyebutkan, "Hantu krenyem itu memiliki sosok seperti ikan gabus hitam namun memiliki tubuh bagian atas menyerupai manusia, ia sangat menyukai bau darah ayam cemani!"-
"Hantu Krenyem selalu meminta tumbal di setiap pertemuan. Berikanlah kepadanya ayam cemani tersebut lalu setelah itu mintalah ia untuk menunjukkan keberadaan anggrek tersebut!" tutur Pak Rahman panjang.
Tirta yang masih anak kecil merasa takut dan membayangkan betapa mengerikannya sosok Hantu Krenyem ini. Bagaimana kalau nanti Hantu Krenyem menculik dirinya, sementara Tirta masih kecil dan tidak mungkin bisa melawan bangsa gaib sendirian.
Melihat anaknya yang ketakutan sang ayah pun tersenyum dan mencoba untuk kembali menenangkan hati dan perasaan Tirta.
"Tenanglah nak, urusan ini biar hanya Ayah saja sendiri yang melakukannya! Kamu hanya cukup mendoakan ayah yang banyak!" ucap Ayah sambil mengusap kepala Tirta dan Tirta pun memeluk sang ayah dengan erat.
Setelah selesai menenangkan hati Tirta, Ayah pun meminta agar Pak Rahman melanjutkan penuturan yang mungkin masih belum semuanya di ceritakan. Karena memang Pak Andi alias ayahnya Tirta ini adalah pribadi yang serba logis dan tidak begitu mempercayai Tahayul. Maka dari itu ia merasa kalau ia harus banyak mengetahui hal-hal gaib lainnya yang harus ia ketahui yang barangkali belum sempat dijelaskan oleh Pak Rahman.
"Saya rasa segitu dulu yang harus anda lakukan pak," lalu berjalan ke arah Pak Andi dan memegang bahunya dari depan, "Bersabar dan banyaklah berdoa ya pak, saya yakin anda pasti bisa melalui semuanya!" ucap Pak Rahman menyemangati Pak Andi.
Setelah penjelasan dari Pak Rahman, Ayah dan Tirta memutuskan untuk pulang. Kebetulan Ibundanya Tirta yang bernama Maryam ada dirumah dalam keadaan masih terkula lemas karena syok setelah mendengar kabar anak perempuannya hilang tenggelam di danau Setu Cikaret.
Sementara Ayahnya Tirta memutuskan untuk memulai puasa putihnya saat ini juga sampai besok maghrib. Ia memang seorang ayah yang sangat-sangat mencintai anak-anaknya. Apapun akan ia lakukan demi keselamatan anak-anaknya.
Keesokan harinya di waktu sore hari menjelang adzan maghrib. Ayah Tirta sudah berada di pertemuan 2 aluran sungai lengkap dengan pisau dan ayam cemani yang akan dijadikan persembahan untuk memanggil Hantu Krenyem. Jam sudah menunjukan pukul 18.10 WIB, dan tak lama kemudian Adzan Maghrib pun berkumandang. Ayah Tirta sudah bersiap-siap untuk menyembelih leher ayam cemani tersebut setelah adzan maghrib selesai dikumandangkan. Dan akhirnya Adzan maghrib pun sudah selesai dikumandangkan.
Ayah Tirta pun mengeluarkan pisau dari sarung pisau yang menempel di ikat pinggangnya, lalu mulai mengambil posisi untuk menyembelih seraya membaca kalimat mantera, "Jurig wetan, jurig ngalor, jurig timur, jurig kulon, jurig ti sagala penjuru dunia. Wabil khusus Nyi Krenyem, ( maaf penulis tidak bisa menulis lengkap manteranya karena ditakutkan akan terjadi sesuatu kepada pembaca)!"
Sambil terus membaca mantera 7 kali berturut-turut dan sambil menahan nafas. Disembelihnya ayam cemani tersebut, lalu darahnya mengalir melalui jari-jari ayahnya Tirta dan akhirnya menetes ke tanah. Lalu ayah Tirta pun berteriak,
"Datanglah! Datanglah! Datanglah!".
Tiba-tiba fenomena alam yang luar biasa pun terjadi setelah itu. Angin bertiup sangat kencang dan secara tiba-tiba turun huja gerimis. Air sungaipun seolah bergejolak dan ayahnya Tirta pun mulai melihat banyaknya sosok makhluk astral penunggu sungai yang ingin menghampiri dan mengambil ayam cemani yang masih dalam genggaman Pak Andi yang masih bau amis darah ayam.
Mereka semua mengaum lebih keras daripada seekor singa. Nafasnya sangat dingin, dan wajah beserta bentuk mereka sangat aneh. Namun hal itu tidak menggetarkan semangat Pak Andi untuk menyelamatkan putrinya.
"Berikan makanan itu kepadakau!" pinta salah satu makhluk astral yang sedikit lebib dekat dengan Pak Andi alias ayahnya Tirta.
"Aku hanya akan mempersembahkan makanan ini bagi siapapun yang bisa membawakanku anggrek hitam yang ada di sungai ini!" ucap Ayah.
Makhluk itu pun menjawab, "Dasar manusia bodoh, mana ada anggrek semacam itu di sungai ini. hahaha!
"Sudahlah, kau hanya dibodohi oleh dukun itu, manusia memanglah hanya sampah. sungguh tak pantas kalian mendapatkan predikat sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Hahahaha!" ucap makhluk gaib itu seraya tertawa dengan suara yang menggelegar.
Untung saja sebelumnya Pak Rahman sudah memperingatkan kepada Pak Andi kalau nanti akan ada banyak bangsa jin yang menghampirinya untuk meminta persembahan, akan tetapi itu bukanlah Hantu Krenyem. Mereka hanyalah hantu kelas coro yang rakus dan lapar. Karena itu lah Pak Andi tidak mudah tertipu oleh mereka.
"Tidak akan aku berikan, makanan ini hanya untuk yang bisa membawakanku anggrek hitam!" tegas Pak Andi.
Selang waktu beberaoa detik tiba-tiba tanah pun bergetar dan air sungai kembali bergejolak dan berombak bagaikan ombak di lautan. Seketika lalu muncul pusaran air yang begitu besar dari dalam air sungai.
"Apakah itu hantu Lembu atau hantu Krenyem?" batin Pak Andi di dalam hati.
Ternyata itu adalah Hantu Krenyem. Ia melahap habis semua hantu kelas coro yang ada disana tanpa sisa. Lalu ia pun menanyakan apa yang sedang Pak Andi lakukan di sungai sambil membawa ayam cemani yang sudah disembelih.
"Aku sedang mencari anggrek hitam, dan akan kuberikan persembahan kepada siapapun yang bisa membawakannya untukku!" ucap Pak Andi dengan lantang.
"Hahahaha, dari awal penciptaan sampai memiliki anak cucu yang banyak, kalian semua selalu sama! Dipenuhi oleh rasa angkuh dan keinginan berkuasa!
"Memangnya dengan membawa persembahan seperti itu akan membuatku tunduk dan mengikuti permintaanmu hai cucu Adam? Sebaiknya kau pulang dan jangan bermimpi. Hahaha!" celoteh Hantu Krenyem panjang.
Mendengar Hantu Krenyem berkata seperti itu, Pak Andi sempat terkecoh oleh perkataan hantu itu. Namun ia kembali sadar kalau ini hanyalah tipu daya dari jin Hantu Krenyem ini.
"Kenala kau diam saja hai makhluk hina dan sombong?" tanya hantu Krenyem.
"Baiklah kalau begitu, jika memang aku tidak mendapatkan anggrek itu disini, maka aku akan membawa persembahan ini ke tempat yang lain. Mungkin penunggu di tempat lain akan mau membawakanku anggrek hitam itu tanpa banyak berkompromi," ucap Pak Andi mencoba negosiasi dengan Hantu Krenyem.
Lalu Pak Andi memutarkan badannya dan melangkah pergi. Namun baru saja 5 langkah, hantu krenyem pun kembali memanggilnya.
"Tunggu, sepertinya aku memang masih lapar. Aku rasa tak apa jika aku menerima persembahanmu" ucap Nyi Krenyem menerima permintaan Pak Andi.
"Haha, kena kau dasar makhluk laknat yang tidak berakal, makanya jadi mudah dibodohi oleh manusia!" guman pak Andi dalam hatinya.
"Kalau begitu cepat bawakan aku anggrek hitam itu sekarang, maka akan kuberikan ayam cemani ini setelah kau membawakanku anggrek hitam yang kumaksud!" perintah Pak Andi.
"Tunggu dulu, tidak semuda itu Ferguso!" ucap hantu krenyem dan menggekengkan kepalanya.
"Apa lagi yang kamu mau cukk?" tanya Pak Andi.
"Setidaknya berikanlah aku sepotong dulu untuk mencicipi bagian kepala dari ayam cemani itu, anggaplah sebagai Uang muka atas jasaku. Lagi pula untuk mencabutnya aku perlu banyak energ!
"Dan ayam cemani itu bisa memberikanku energi yang cukup banyak," ucap hantu krenyem sambil mendekat ke arah ayam cemani yang masih di genggam oleh Pak Andi.
Kini pak Andi jadi tahu kalau yang menyebabkan hantu kreyem lebih kuat daripada yang muncul di awal adalah mungkin karena dulu banyak orang yang memberikan persembahan untuk hantu krenyem. Lalu Pak Andi pun memotong leher ayam dan melemparkannya tepat ke mulut hantu krenyem yang sudah terbuka lebar dan terlihat giginya yang tajam seperti gigi ikan hiu. Segera tak lama kemudian hantu krenyem pergi untuk mengambil anggrek hitam dan membawakannya kepada pak Andi.
Lalu dalam waktu hanya 10 menit hantu itu kembali datang dan membawakan anggrek hitam kepada Pak Andi. Awalnya Pak Andi mempertanyakan akan kebenaran dan keaslian anggrek tersebut. Lalu hantu krenyem mengatakan bahwa ia termasuk dalam kategori bangsa jin kalangan atas yang pantang untuk berdusta kalau sudah berjanji. Karena jika sudah berjanji namun berdusta, maka kekuatan mereka akan berkurang setiap kali ingkar janji. Tak hanya itu, hantu krenyem pun menjamin kalau Pak Andi bisa keluar dan tidak akan ada bangsa jin yang mengikuti dan mengganggunya sampai rumah.
Setelah itu Pak Andi melempar kembali seluruh ayam cemani yang sudah disembelih itu kepada Hantu Krenyem. Dan lalu Pak Andi pun pergi meninggalkan sungai dan kembali kerumah Pak Rahman untuk melaporkan keberhasilannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments