Chapter 10

Ayah yang merasa sangat tegang tidak bisa berbuat banyak. Dalam pikirannya kini terbesit apakah Pak Rahman memang ingin mengakhiri hidupnya sendiri karena stres akibat mengingat masa lalunya yang sangat kelam.

Sementara itu Pak Rahman lalu mendekatkan pisau itu ke mulutnya sendiri. Sontak seisi rumah berteriak karena takut Pak Rahman berbuat yang tidak-tidak.

Kini Pak Rahman menjilati bagian pisau yang tajam, lalu ia secara mendadak menggoreskan pisau tajam itu ke telapak tangannya sendiri.

"Shreeeetttttt!" suara pisau yang mengiris tangan Pak Rahman seperti seolah terdengar begitu jelas oleh seisi rumah.

"Pak Rahman apa yang anda lakukan, anda jangan gegabah. Haram hukumnya membunuh diri sendiri!" ucap Ayah mengingatkan Pak Rahman akan besarnya dosa jika melakukan bunuh diri.

Namun Pak Rahman justru tertawa jahat, "Hahahaahha.. Pak Andi, saya tidak sedang ingin bunuh diri! Saya hanya ingin memastikan kalau pisau ini masih sangat tajam, karena saya akan menggunakan pisau ini untuk memusnahkan hantu Lembu!" ucap Pak Rahman.

"Maksud Pak Rahman?" tanya ayah.

"Ya, ijinkanlah saya untuk ikut membantu kalian melawan hantu Lembu. Karena meskipun putri kalian bisa diselamatkan, akan tetapi jika hantu Lembu masih ada, maka dipastikan akan ada lagi anak kecil selanjutnya yang akan diculik oleh hantu Lembu kapanpun ia mau!"-

"Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk menghentikannya adalah dengan menghancurkan hantu Lembu itu!" ucap Pak Rahman penuh dendam.

Pak Andi yang tadinya merasa ketakutan, kini mulai merasa tenang saat ia tahu kalau Pak Rahman tidak bermaksud ingin bunuh diri. Justru Pak Rahman ingin ikut membantu Pak Andi untuk menolong Nana sekaligus mengalahkan hantu Lembu. Tapi apakah manusia bisa memusnahkan makhluk gaib? Pertanyaan itulah yang kini mengganjal dalam benak ayahnya Tirta.

"Besok malam, kalian kembalilah kesini! Kita akan sama-sama mengambil mustika ular itu!" perintah Pak Rahman.

Pak Andi hanya mengangguk dan mematuhi ucapan Pak Rahman. Lagipula dia, istri dan anaknya telah lelah dan butuh istirahat untuk mengembalikan staminanya untuk kembali berjuang besok malam.

######

Hari telah berganti. Di siang hari bolong, Ayah, Mamah dan Tirta, ketiganya sedang sama-sama memikirkan perkataan pak Rahman semalam. Mereka sebenarnya sangat takut dan sangat tidak siap jika mereka harus kehilangan salah satu diantara mereka. Terbesit di pikiran Ayah apakah ia harus mengikhlaskan Nana yang telah menghilang, atau kembali melanjutkan menyelamatkan Nana namun mengorbankan orang yang ia sayang. Berulangkali ia memikirkan hal tersebut membuat ayah menjadi stres. Namun ia selalu yakin pasti ada cara agar bisa menyelamatkan Nana tanpa harus mengorbankan yang lain.

"Sekarang semua terserah pada kalian, jika kalian ingin melanjutkan maka ayo kita lanjutkan, tapi Pak Rahman bilang akan ada konsekuensi yang harus kita terima!" ucap Ayah.

Tirta yang tidak mau kehilangan orang-orang yang ia sayangi, tidak mampu berkata apa-apa. Ia hanya bisa terdiam dan mengikuti keputusan dari kedua orang tuanya.

"Aku mau lanjut yah! Apapun konsekuensinya, aku akan tetap melanjutkan walaupun harus mempertaruhkan nyawaku!" ucap Mamah.

Mamah memanglah satu-satunya makhluk Tuhan yang paling berhati mulia. Demi menyelamatkan anaknya, ia bahkan rela jika harus mengorbankan nyawanya sendiri.

"Kalau begitu, nanti sehabis maghrib kita kembali kerumah Pak Rahman! Sementara sekarang ayah mau mencari petunjuk dengan berdoa kepada Tuhan di Mesjid!" ucap Ayah yang lalu pergi ke kamar hendak berganti pakaian dengan baju koko.

Tak lama kemudian adzan dzuhur dikumandangkan. Ayah melaksanakan sholat dzuhu berjamaah di mesjid. Seusai melaksanakan sholat berjamaah ia tidak langsung pulang kerumah. Ia bersimpuh dihadapan mimbar dan berdoa dengan khusyuk kepada Tuhan, meminta agar ia diberikan petunjuk. Ia tetap yakin kalau yang bisa menghidupkan dan mematikan setiap makhluk hanyalah Tuhan. Sekuat apapun jin dan hantu, tetap tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekuatan yang maha kuasa.

Ayah terus berdoa dan meminta kepada Tuhan hingga air matanya menetes ke sajadah masjid. Ia berharap agar Tuhan mengabulkan keinginannya untuk bisa berkumpul kembali bersama keluarga tercintanya.

"Ya Alloh aku yakin engkau akan mengabulkan semua permintaanku ini. Namun aku ikhlas bila memang takdir yang engkau tulis untukku tidaklah seperti yang aku inginkan. Karena engkau pasti lebih tahu apa yang terbaik untuk hambamu," ucap ayah didalam doanya.

Seusai berdoa, ayah pun melangkah meninggalkan masjid. Kini dadanya sudah tak bergetar lagi. Langkahnya sudah tidak gemetar lagi. Jiwanya sudah kembali tenang dan mantap. Ia memutuskan akan terus melanjutkan perjuangan melawan kegelapan untuk menjemput anaknya kembali ke pelukannya.

#################

"Kriiiiiiiiiiiiiiing!" suara ponsel ayah berbunyi.

Rupanya itu adalah telpon dari Pak Rahman. Segera ia menerima panggilan itu, namun rupanya yang menelpon bukanlah Pak Rahman, tetapi Ibu Maya istrinya Pak Rahman.

"Halo Assalamualaikum Pak Andi! Maaf pak, apakah suami saya ada datang kerumah bapak? Soalnya tadi pas saya pulang belanja, saya tidak melihat suami saya dirumah. Anak saya si Linda juga katanya tidak tahu bapaknya kemana, saya pikir pasti sedang silaturrahim kerumah Pak Andi!" ucap Bu Maya.

"Oh maaf Bu Maya, saya juga belum tahu itu. Soalnya saya ini masih di masjid. Nanti kalau saya lihat dirumah saya ada Pak Rahman, akan saya kasih kabar ke Ibu!" ucap Ayah.

Lalu telpon pun diakhiri dengan Bu Maya mengucapkan terima kasih dan kata maaf karena telah merepotkan Pak Andi.

Lalu ayah telah sampai dirumah, namun ia tidak melihat ada Pak Rahman dirumahnya. Ayah pun bertanya kepada Mamah dan Tirta. Mereka juga bilang kalau tidak ada siapapun hari ini yang bertamu kerumah. Lalu ayahpun kembali menelpon Bu Maya.

"Assalamualaikum Bu Maya. Maaf bu, saya cuma mau menyampaikan kalau Pak Rahman tidak bertamu kerumah saya. Mungkin Pak Rahman sedang ada urusan dengan orang lain bu!" ucap Ayah.

Memang Pak Rahman sudah terkenal sebagai paranormal yang lumayan sakti. Sudah banyak orang yang datang dan meminta bantuan kepadanya. Jadi mungkin saja Pak Rahman sedang menemui pasien di luar.

"Oh yasudah kalau begitu. Sekali lagi saya minta maaf ya jadi merepotkan. Terima kasih banyak ya Pak Andi sudah mau memberi kabar. Oh iya nanti habis maghrib Pak Andi dan keluarga mau kesini lagi kan? Nanti kalau suami saya belum pulang, tidak apa-apa kalian menunggu saja dirumah kami sampai suami saya pulang!" ucap Bu Maya.

"Oh iya bu baik kalau begitu. Maaf ya bu kalau kami jadi banyak merepotkan bu Maya dan Pak Rahman!" balas Pak Andi, Lalu percakapanpun selesai.

Tak terasa waktu sudah jam 6 sore, adzan maghrib sudah berkumandang. Seperti biasa, ayah melaksanakan sholat berjamaah di masjid, lalu berdoa dan kembali pulang untuk bersiap-siap kembali menjalankan misi penyelamatan Nana.

Mamah dan Tirta sudah rapih dan sudah siap lahir dan batin. Mereka bertiga kini sudah sama-sama memantapkan tekadnya untuk melanjutkan misi ini. Merekapun melanjutkan perjalanan menuju rumah Pak Rahman.

Sesampainya dirumah Pak Rahman, mereka diharuskan menunggu sejenak karena Pak Rahman belum pulang. Sebenarnya Pak Rahman itu tidak ada yang tahu kapan perginya, dan sampai sekarangpun tidak ada kabar darinya. Lagipula ponselnya pun tertinggal dirumah. Tidak biasanya ia seperti ini.

"Tidak biasa-biasanya suami saya seperti ini pak. Biasanya ia selalu pamit kalau mau pergi. Kalaupun dadakan, ia pasti membawa ponselnya agar bisa memberikan kabar kepada kami!" ucap Bu Maya.

"Tidak apa-apa bu, kami akan terus menunggu Pak Rahman sampai ia pulang. Bagaimanapun kami butuh intruksi darinya!" ucap Ayah.

Lalu selang waktu 30 menit mendadak cuaca menjadi gerimis. Ditengah-tengah gerimis yang membuat udara menjadi dingin, terlihat Pak Rahman sedang berjalan pulang. Karena gerimis ia mempercepat langkahnya agar tidak basah kuyup.

"Astaghfirulloh, maafkan saya Pak Andi. Saya sedang ada pasien diluar kota, jadi saya baru bisa pulang sekarang. Saya juga lupa membawa ponsel saya!" ucap Pak Rahman.

"Tidak apa-apa Pak Rahman. Saya juga sering seperti itu jika terburu-buru," ucap ayah lalu bersalaman dengan Pak Rahman.

Saat ayah bersalaman dengan Pak Rahman, terlihat tangan Pak Rahman penuh dengan goresan seperti tercakar dan bahkan ada luka yang mirip dengan luka gigitan. Di dekat sikutnya terlihat seperti ada luka bakar. Melihat itu, muncul rasa penasaran di kepala ayah. Apa yang mengakibatkan tangan Pak Rahman menjadi penuh dengan luka cakar, gigitan dan juga luka bakar?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!