Adzan Maghrib baru saja berkumandang, musholla satu satunya di desa itu sudah mulai dipenuhi para jamaah. Meski kecil tapi musholla selalu penuh sesak dengan warga yang tak pernah absen berjamaah.
Asih dan Ardi menyusuri jalanan desa meski dengan penerangan minim. Warung mbok Kar menjadi tujuan mereka. Tak berapa lama mereka pun sampai, mbok Kar sedang menonton televisi butut miliknya.
"Monggo mas, mbak!" Sapa mbok Kar ramah.
Asih tersenyum ramah dan duduk di bangku kayu panjang yang ada di depan warung. "Kopi susu dua ya mbok!"
"Oh nggih siap!" Mbok Kar dengan segera menyiapkan pesanan Asih.
Sumini, mendekati mbok Kar yang sedang menuang air panas ke dalam gelas. "Siapa itu mbok, kayaknya dari kota ya?" Tanyanya setengah berbisik dan membantu mbok Kar mengaduk minuman.
"Kayaknya sih begitu, Sum. Mbok juga baru lihat. Yang perempuan cantik banget ya, putih mulus ayune koyo Widodari!"
(cantiknya seperti bidadari!)
"Iya mbok, yang laki juga ganteng. Bersih, rambute nggak nguatin mbok!" Sumini terkikik menimpali ucapan mbok Kar.
"Hush, kowe ki lho! Lha kok sing didelok rambute!" Mbok sedikit menepuk bahu Sumini. ( Hush, kamu ini lho! lha kok yang dilihat rambutnya!)
"Lha wong rambute kekinian mbok! Liat aja rambutnya njegrik (berdiri) koyo talang, mbok!" Sumini kembali terkikik.
"Eh iyo juga sih," keduanya kembali tertawa kecil. "Wes sana bawa ke depan! Aku tak nggoreng pisang sama tahu isi dulu!" Perintah mbok Kar pada Sumini.
Asih dan Ardi mengawasi sekeliling warung dengan penerangan seadanya. Hutan yang berada tak jauh dari warung mbok Kar tampak menyeramkan dimalam hari. Tapi tidak bagi Asih.
Hutan itu bagaikan surga baginya. Hutan tempat ia melakukan aksi balas dendam pada orang-orang yang telah menyakitinya. Hutan gelap segelap hati Asih, yang tanpa ampun mengeksekusi mati para korbannya.
"Monggo mbak, mas … kopinya diminum selagi hangat!" Sumini meletakkan gelas dengan kepulan asap tipis di meja.
"Makasih ya mbak," sahut Asih dengan senyum manis. Senyum yang dibuat manis untuk menutupi keburukannya.
"Mbak sama mas ini dari kota ya? Kok saya baru lihat?" Sumini bertanya sambil meletakkan sepiring gorengan dan jajanan manis kepada Asih dan Ardi.
"Iya mbak, kami baru datang kemarin." Jawab Ardi menyeruput kopinya pelan.
"Oh pantesan, lha trus kok cuma berdua? Biasanya kalau naik gunung kan rombongan?"
"Ooh, nggak mbak kami ini keponakannya Bu Lasmi. Kesini mau liburan aja, katanya desa sama hutan disini masih asri!" Ardi menjawab dengan cepat, sementara Asih hanya diam sambil meminum kopinya.
"Oalah, ponakan Bu Lasmi to! Maaf saya baru tahu. Tapi … kalian apa nggak takut jalan malam-malam kesini?" Sumini sedikit berbisik pada keduanya.
Ardi dan Asih saling berpandangan, "Takut kenapa mbak?" Tanya Asih keheranan.
Sumini celingukan melihat keadaan lalu berbisik. "Di desa ini sedang ada teror hantu mas! Ditambah lagi anu … ehm, ada mayat yang ditemukan selama beberapa hari belakangan ini. Serem mas, mbak!"
Asih menatap Ardi, lalu kembali bertanya pada Sumini. "Hantu? Mayat?"
"Huuush, Sum!" Mbok Kar memanggil Sumini dengan lambaian tangan. "Ojo ngawur! Kamu itu malah nakut nakutin tamu desa kita to Sum! Nanti kalo pak kades denger gimana coba! Bisa nggak dapet BLT nanti kita!"
"Eeh, iya ya mbok! Aku lupa mbok, yo wis aku tak ke dapur sek mbok liat air masih ada apa nggak!" Sumini bergegas masuk ke dalam warung.
Warga desa yang baru saja selesai sholat berjamaah di mushola, mulai berdatangan ke warung mbok Kar. Sudah menjadi kebiasaan warga untuk berkumpul di warung sekedar minum kopi ataupun berbagi cerita kegiatan siang tadi.
"Assalamualaikum!" Wak Haji yang berambut putih dan mengenakan peci datang pertama dan langsung duduk di dekat Ardi.
"Wa'alaikumussalam, Wak! Mau minum apa nih!" Mbok Kar menyahut.
"Biasa mbok kopi item manis!"
Mbok Kar mengangguk, dan segera membuatkan pesanan Wak Haji yang kini sibuk mengunyah balokan (singkong goreng).
"Neng, orang baru yak?!" Tanya Wak haji begitu melihat wajah ayu Asih. Sifat Wak haji yang tidak bisa menahan diri saat melihat wanita cantik kumat begitu melihat kemolekan Asih.
Asih hanya mengangguk dan tersenyum. Tak lama kemudian Bagyo, Rohman, dan pak Hansip yang belum berganti pakaian dinas bergabung di warung mbok Kar.
"Assalamualaikum!" Mereka kompak memberi salam.
"Wah Sum bakalan rame warung kita malam ini!" Mbok Kar nampak sumringah melihat banyaknya warga yang mulai datang.
"Iya mbok, rejeki! Udah dua malam kita tutup gasik gegara teror demit Alhamdulillah malam ini rame!"
"Mbok, biasa ya!" Seru Bagyo dari luar.
Obrolan warga pun terdengar saling bersahutan. Wardi dan Imam yang datang menyusul menambah keramaian malam itu. Mereka bercerita tentang penemuan mayat yang kembali lagi terjadi. Siapa lagi kalau bukan mayat Rudi.
Asih dan Ardi mendengarkan cerita para warga sambil sesekali ikut tersenyum saat warga mengajaknya bergurau. Mereka pasang mata dan telinga, berjaga jika ada warga yang mencurigai kejahatan terselubung yang mereka lakukan.
"War, kabarnya si Eman juga mati misterius ya?" Bagyo bertanya sembari menghisap rokoknya.
"Katanya sih begitu, aku yakin itu ulah si demit yang meneror desa kita!" Wardi menjawab sambil menyeruput kopinya.
"Hiii, lama-lama desa kita kok serem gini sih! Aku heran kok bisa ada pembunuhan tapi kita nggak tahu apa-apa!" Wardi kembali bicara.
"Kamu yakin itu pembunuhan War?" Kali ini Wak haji angkat bicara.
"Saya sih yakin Wak, mana ada coba mayat begitu korban bunuh diri apalagi korban tabrak lari?!"
"Bocah gendeng! Tabrak lari dari mana War!" Wak haji melemparkan kulit pisang pada Wardi karena kesal.
Wardi terkekeh, "Aku malah curiga ini semacam … tumbal!" Wak haji melanjutkan kalimatnya.
"Hah, tumbal!" Warga kompak menyahut bersama.
Asih menahan tawanya, ia geli dengan asumsi Wak haji yang terlalu mengada ada.
"Wak haji kalo ngomong suka aneh niih! Tumbal apaan coba Wak? Warga kita nggak bakalan aneh-aneh!" Imam akhirnya bersuara juga.
"Eh bisa jadi kan itu warga desa sebelah, buangnya di wilayah kita, Mam!" Wak haji kembali berasumsi disambut anggukan dan gumaman yang lain.
"Iya juga sih, bisa jadi itu!" Rohman setuju dengan asumsi Wak haji.
"Mbok Kar, kopi pahit karo rokok kretek sebungkus!" Tiba-tiba saja terdengar suara parau dari wanita tua di belakang Wak haji.
Warga terkejut dengan kedatangan mbok Ratem ke warung mbok Kar. Mereka segera memberi tempat pada wanita tua yang dianggap memiliki linuwih (kelebihan) oleh warga.
"Eh, simbok! Tumben mampir juga disini?"
Wak haji menggaruk kepalanya, sedikit risih dengan aroma tubuh mbok Ratem yang menusuk hidungnya. Aroma sirih kinang, minyak angin dan apek bercampur jadi satu.
Aura tak bersahabat menyapa Asih. Ia tahu mbok Ratem bukan orang biasa. Sorot matanya tajam menatap ke arahnya. Ada amarah yang terlihat disana. Asih tersenyum samar.
Kau menantangku rupanya! Asih berkata dalam hati.
Mbok Ratem tidak banyak bicara ia hanya menatap Asih dan Ardi bergantian. Waktu seolah membeku di sekitar mereka. Mbok Ratem tersenyum sinis, "Ngopo Kowe mrene cah ayu? Rupamu ayu nanging kelakuanmu elek!"
(Kenapa kamu datang kemari cah ayu? wajahmu cantik tapi kelakuanmu buruk!)
"Jangan ikut campur urusanku, kalau kau mau selamat!" Asih mengancam.
Aura keduanya berbenturan. Saling menekan untuk menciutkan nyali salah satu dari mereka. Mbok Ratem memilih untuk untuk mengalah.
Durung wayahe Kowe karo aku adhep adhepan cah ayu, Nek wis titi wancine kowe ora bakal iso mlayu!
(Belum waktunya kau dan aku berhadapan cah ayu, jika sudah waktunya kau tidak akan bisa lari!)
Waktu kembali berputar, suara obrolan warga kembali terdengar. Asih yang merasa terganggu akhirnya berpamitan. Mbok Ratem tak bergeming ia menyesap kopinya lalu menghisap dalam dalam rokok ditangannya.
"Gadis itu membawa petaka di desa ini!" Gumamnya lirih yang hanya terdengar oleh Wak haji.
Wak haji mengernyit lalu menatap punggung Asih dan Ardi yang menghilang dalam kegelapan. Suara burung hantu bersahutan dari gelapnya hutan. Lolongan anjing hutan kembali terdengar seiring waktu yang semakin larut.
Warga desa bergidik ngeri mendengar lolongan panjang itu dan memilih kembali ke rumah masing-masing. Menarik selimut dan bersembunyi dalam rumah yang hangat, teraman dan ternyaman.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
kenapa lolongan anjing diidentikkan dengan kemunculan mahkluk astral ?
faktanya mata anjing bisa melihat pergerakan infra merah. dan mahkluk astral atau lebih kita kenal sebagai bangsa jin, terbuat dari api yang unsur utamanya adalah infra merah. jadi sebenarnya .. anjing itu bukan melihat demit dalam wujud menyeramkan, tapi melihat pergerakan infra merah yang menurut naluri anjing, itu adalah ancaman.
2024-06-18
1
mendadak pada jadi detektif.
2024-06-18
0
Namika
lnjut
2022-09-25
3