Kelebatan bayangan hitam tampak berpindah-pindah tempat. Tidak hanya satu tapi beberapa. Suara lolongan anjing hutan semakin membuat malam mencekam di desa. Pak Hansip ditemani perangkat desa lainnya bersiap untuk keliling kampung.
Mereka ingin meredam isu yang beredar sejak penemuan mayat di tepi sungai.
"Pak Kades, ngerasa serem nggak sih!" Pak Hansip celingukan ke depan dan belakang mencari sesuatu yang tak jelas.
"Aah, itu kan hanya perasaanmu aja mas Hansip! Biasanya juga begini kan, sepi nggak ada siapapun selain kita yang keliling!" Pak kades menenangkan salah satu perangkat desanya itu.
"Iya sih, tapi kok saya dari tadi merinding terus to! Berat bener ini pundak rasanya!" Kali ini pak sekdes yang berkumis tipis juga mulai mengeluh.
Pak kades melirik tajam ke arah sekertaris desanya, ia sangat berharap asistennya itu diam supaya tidak membuat yang lain semakin ketakutan.
Mereka kembali berjalan berkeliling desa, sesekali kentongan dibunyikan untuk mengingatkan warga.
"Bapak … ibu, udah malem jangan lupa tutupin semua jendela! Konciin itu pintu jangan sampe lupa!" Teriakan khas sengau pak Hansip membelah kesunyian malam.
Bunyi kentongan dibunyikan lagi dengan jeda beberapa menit. "Bapak … ibu, ade-ade semuaaaa … udah malem waktunya tidur, nggak baek begadang! Tidur … tidur!" Pak Hansip kembali lagi berteriak.
"Eh mas Hansip, gimana warga mau tidur kalo kamu teriak-teriak aja terus gitu! Mending suara bagus, suara sember bener kek kaleng kerupuk!" Protes pak sekdes dengan mulut manyun.
"Terus mau diem-diem aja gitu, nanti yang ngingetin warga siapa? Terus kalo ada maling yang teriakin siapa dong!" Pak Hansip membela diri.
"Iya … iya dah, situ yang menang!" Pak sekdes mengalah malas berdebat karena lirikan tajam pak kades.
Terdengar suara lolongan anjing lagi kali ini begitu panjang dan meremangkan bulu roma.
"Duuuh pak kades! Merinding pisan ini mah, kumaha ieu? Kita balik we atuh ka imah!" rengek pak sekdes yang seketika merapatkan tubuhnya ke yang lain.
"Halah ngono wae kok yo wedi lho! Pak sekdes cemen!" ejek Bagyo salah satu warga yang ikut berkeliling.
"Emang situ nggak takut opo?! Nggaya pake ngomongin orang lain!" Pak Hansip bertanya pada Bagyo yang dijawab dengan cengiran, "Yo wedi mas Hansip, tapi masih dalam batas wajar dan normal! Nggak kayak pak sekdes yang langsung umpetan di ketiak pak kades!"
Mereka pun terkekeh kompak melihat ke arah pak sekdes yang pucat pasi dan memeluk erat tangan pak kades.
"Awas istri pak kades nanti cemburu lho liat sekdesnya mesra bener pegangan!" ledek Rohman, warga yang tinggal di ujung jalan desa. Tubuhnya yang tambun terlihat berguncang saat ikut tertawa.
Kelebatan bayangan hitam terlihat di depan mata rombongan pak Kades, begitu cepat dan masuk ke rumpun pohon dadap yang dijadikan pagar rumah salah satu warga.
SRAAAK!!
Benturan suara bayangan dan pepohonan itu menimbulkan suara yang mengejutkan rombongan pak kades dan yang lainnya.
"Astaghfirullah … apa itu pak kades?!" Pak Hansip mengarahkan senternya ke arah bayangan asal suara.
Tidak ada apapun disana. Yang lain ikut latah menerangi tempat yang ditandai pak Hansip, sementara Bagyo dan Rohman celingukan memantau situasi di kanan kiri mereka.
"Sepi, nggak ada siapa-siapa kok! Tapi tadi itu apa ya?!" Bagyo mulai cemas dan panik.
"Kamu lihat to tadi Man?" Bagyo lanjut bertanya pada Rohman.
"Iya, aku juga liat! Kucing kali!" Rohman menjawab dengan senter yang terus menerus diarahkan pada pagar tanaman hidup di depannya.
"Cck, udah nggak usah tebak tebakan! Mungkin kucing atau cuma angin lewat aja!" Pak kades menengahi.
"Pak Kades yang bener atuh, masa angin? Pan kita mah liat sendiri itu bayangan nabrak tanaman! Masa iya sih angin?!" Pak sekdes lagi-lagi bertingkah dengan wajah ketakutannya.
"Kamu ini, bisa nggak sih tenang! Kasihan warga yang lain nanti ketakutan semua!" Pak Kades dibuat semakin kesal dengan tingkah sekdesnya.
"Mas Hansip coba dilihat itu! Cek apa yang ada disana?" Perintah pak kades yang langsung dilaksanakan.
Pak Hansip dengan ragu-ragu mendekati pagar tanaman itu, perlahan selangkah demi selangkah ia mendekat. Tangannya gemetar saat menyibak dedaunan dadap.
"Gustiii, semoga cuma kucing!" gumamnya lirih.
Senter di tangannya menyinari lokasi, ketakutan melanda saat harus melihat apa yang bersembunyi di balik pohon.
"Alhamdulillah, nggak ada apa-apa! Mungkin cuma kucing atau wirog (tikus besar),"
"Pak kades, aman!" serunya dari tempat ia berdiri.
Pak Hansip pun berbalik tapi kemudian suara geraman kecil terdengar jelas di telinganya. Mata pak Hansip membulat sempurna, tubuhnya gemetar. Dengan ragu ia memutar kembali tubuhnya lalu menyinari sumber suara.
Mata merah nyalang menatap tajam ke arahnya, lidah pak Hansip seketika kelu tak bisa bicara apa lagi berteriak. Sosok kecil bermata merah dengan gigi tajam menyeringai di balik semak.
"Ha-ha-hantu …," satu kata dengan gagap diloloskan.
"Mas Hansip, kadieu atuh! Ngapain disitu terus sih!" Sekdes yang khawatir memanggilnya.
Leher pak Hansip terasa mati rasa ia ingin menoleh tapi tak bisa, terhipnotis oleh sosok kecil dengan tubuh pucat kebiruan yang ada di hadapannya. Yang bisa digerakkan hanya tangan kanannya, melambai lambai meminta pertolongan.
"Eh lhadalah, mas Hansip pie to Kuwi lha kok malah ngawe awe lho? Marai bingung!" Bagyo mengernyit kebingungan.
"Kayaknya mas Hansip ngeliat sesuatu, kita kesana!" Dengan berani pak kades berjalan mendekati hansip.
"Mas Hansip, kenapa?"
"Ha-ha-hantu, p-pak kades … ha-hantu!" tunjuknya ke arah semak-semak.
Pak kades langsung menyorot semak yang dimaksud, ia memiringkan kepalanya karena tak ada apapun disana. "Kamu ngelindur ya?"
"Nggak ada apa-apa! Tuh liat!" Senter milik pak kades digerakkan ke kanan dan kiri semak tak ada apapun disana.
"Coba yang lain, lihat ada hantu nggak?!" Pak kades bertanya pada sekumpulan warga yang ikut bersamanya.
"Wooohlah ngimpi kowe sip, hansip! Hantu seko ngendi jal, wong ora ono lho ya!" Rohman gemas melihat hansip yang masih tergagap tak bergerak dengan wajah pucat pasi.
SRAAAK!!
Suara gesekan itu terdengar lagi kali ini tak jauh dari mereka.
WUUSHH!!
Angin bertiup menerbangkan selembar kain putih lusuh di hadapan mereka. Semuanya tercekat, menatap tak percaya sosok yang muncul di hadapan mereka.
Kain putih lusuh yang diterbangkan angin itu ternyata memiliki kaki pucat dan rambut kusut panjang. Ditangannya ada sosok kecil yang juga menyeringai kejam ke arah pak kades dan lainnya.
Sosok itu melayang hanya dalam jarak dua meter.
"Ka-kan, be-beneran ha-hantunya nongol!" Pak Hansip menunjuk ke arah sosok yang melayang dengan wajah hanya terlihat setengah.
"Han-hantune ndelik Maaan!" Bagyo tergagap dan gemetar.
Pak kades yang sedari tadi berdiri paling depan, dan selalu menenangkan warga nyatanya sudah menghilang lari meninggalkan warganya.
Bagyo, Rohman, pak Hansip dan tiga warga lain lari terbirit-birit pergi menjauh dari sosok mengerikan yang kini mengeluarkan tawa cekikikan. Mereka berlari sekencang-kencangnya tak peduli dengan sandal ataupun senter yang terjatuh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
piye jal ?
2024-06-18
0
sekdesnya orang sunda ? 😅
2024-06-18
0
ini setting desanya mana ? ada yang ngomong pakai bahasa jawa, sekdesnya pakai bahasa sunda.
2024-06-18
1