Ritual

Asih tersenyum lebar melihat video yang ditunjukkan Ardi. Video mesum yang dilakukan oleh dua orang wanita yang sangat ia benci. Clara dan Lisa. Dalam keadaan mabuk mereka digilir beberapa lelaki bayaran Asih.

Keduanya terlihat menikmati hal itu bahkan mengikuti apapun gaya yang diperintahkan para lelaki bertubuh kekar bayaran Asih. Termasuk melakukannya dengan kekerasan.

Asih tertawa puas, apalagi video itu telah dilihat oleh banyak orang di media sosial bahkan beberapa kali di repost ulang oleh akun situs dewasa. "Nikmati ketenaran kalian!" Ujarnya di sela tawa panjangnya.

"Kau menyukainya?" Ardi bertanya sambil mengecup lembut bahu Asih yang hanya tertutup selimut tipis.

"Ya, aku sangat menyukainya. Kau melakukannya dengan baik!"

"Informasi yang aku dapat Clara dan Lisa sampai saat ini belum mengetahui video itu," 

"Apa? Kenapa?"

"Mereka masih dalam perawatan di sebuah rumah sakit. Clara bahkan belum sadarkan diri. Dosis ganja yg ia pakai agak sedikit berlebihan ditambah lagi obat yang kita berikan padanya berefek fatal untuk jantungnya."

"Sementara Lisa kabarnya dia shock berat mendapati dirinya dan Clara dalam keadaan bugil di kamar hotel itu. Ingatannya kacau, kadang ingat kejadian itu kadang lupa."

Asih mendengarkan dengan serius, matanya berbinar lalu kembali tertawa, "Benarkah?!"

Asih tertawa terpingkal-pingkal hingga mengeluarkan air mata. Rencananya berhasil, meski hasilnya sedikit diluar ekspektasi tapi setidaknya dendamnya terbalaskan.

Ardi menatap Asih yang masih tertawa, ada rasa bahagia dalam hatinya. Ia berhasil membuat Asih bahagia. Namun sisi lain dirinya merasakan kengerian luar biasa pada Asih. 

Jika saja Asih tidak membantu biaya pengobatan adiknya, dan jika saja Ardi tidak mencintai Asih, mana mungkin dia bertahan menjadi asisten Asih selama dua tahun. Ardi bahkan rela melakukan pekerjaan kotor demi Asih.

"Terimakasih sayang, kau memang luar biasa!" Asih menarik dagu Ardi memberinya kecupan lembut yang berubah menjadi p*gutan liar.

Ardi menarik selimut yang menutupi tubuh Asih dan kembali merengkuhnya dalam permainan panas yang membakar hasratnya.

********

Malamnya, Bu Lasmi telah menyiapkan ruangan yang hanya dibuka pada malam-malam tertentu saja. Jumat Legi salah satunya. Asih sudah bersiap dalam ruangan. Begitu juga dengan sesaji yang dibutuhkan.

Bunga tujuh rupa, jajan pasar, Ingkung ayam cemani dan yang paling penting darah ayam jantan dengan tanda atau ciri khusus.

"Waktunya tiba Asih," Bu Lasmi menyerahkan sebuah kain putih lusuh pada Asih.

Asih menerimanya dan meletakkannya di tengah bunga tujuh rupa yang wanginya begitu menyengat. Ia membuka kain itu, nampak onggokan daging yang menyerupai janin dalam kondisi hampir mengering berwarna kehitaman.

Itulah janin yang merupakan darah daging Asih sendiri, hasil dari kebejatan ketiga pemuda tanggung yang kini entah masih hidup atau tidak di gudang tua. Asih membacakan mantra yang dibimbing Bu Lasmi.

Keringat membasahi kening Asih. Ia mengambil darah ayam yang sudah disiapkan lalu memercikkannya pada janin kering di depannya. Bau anyir dan busuk bercampur menjadi satu.

Janin itu seolah hidup meski tak bergerak, menghisap darah yang perlahan diguyurkan ke atasnya. Bu Lasmi menyodorkan sebilah pisau tajam pada Asih. 

Ia menggores sedikit tangannya dan meneteskan beberapa tetes darah diatas Prapen dengan kepulan asap tipis. Tetesan darah Asih membuat asap bertambah banyak. Bu Lasmi mengambil prapen dan meniupkan asapnya pada onggokan daging kering itu. 

"Berapa tumbal yang tersisa, Bu?" Tanya Asih pada Bu Lasmi yang masih menutup mata.

"Jika semuanya lancar hanya dua lagi nduk," jawabnya dengan mata terpejam.

Suara ketukan di pintu membuka mata Bu Lasmi. Mbok Jum masuk dengan membawa bungkusan kain hitam. "Paketnya datang, ndoro!" Ujarnya seraya meletakkan bungkusan itu di meja sesaji.

Mbok Jum melirik Asih sejenak yang menatapnya tajam. Ia pun pamit keluar ruangan. 

"Oalah nduk, uripmu kok dadi koyo ngene!" Sesal mbok Jum saat berada di luar ruangan, bulir air mata menetes perlahan. "Ngapurane yo Met, Narti, aku ora iso jagani anakmu!"

(Oalah nak, hidupmu kok jadi seperti ini!)

(Maaf ya Met, Narti aku nggak bisa jagain anakmu!)

Mbok Jum melangkah gontai menuju ke dapur. Isaknya begitu pilu tapi ia tidak mampu berbuat banyak untuk menyelamatkan keponakannya Asih. 

Bu Lasmi membuka bungkusan hitam itu. Asih memperhatikan baik-baik. Bungkusan kain hitam dengan bau anyir yang menjijikkan tapi bagi keduanya hal itu sudah biasa.

Janin bayi hasil aborsi berusia tujuh bulan yang berlumuran darah. Bu Lasmi dan Asih saling menatap dan tersenyum.

"Sempurna, artinya hanya tinggal satu lagi maka semuanya sempurna!" Ujar Asih dengan mata berbinar.

Bu Lasmi membacakan mantra dengan mata terpejam, selang beberapa menit kemudian suhu kamar khusus itu berubah. Sedikit panas dan bau busuk yang menyengat. Aroma bunga sesaji yang ada di depan mereka seolah tak bisa menandingi aroma busuk itu.

Meski suhu menghangat tapi badan Asih terasa menggigil. Muncullah jin wanita dengan wajah pucat dari belakang Asih. "Apakah anakku sudah siap?" Tanyanya dengan suara serak dan parau.

Asih menjawab dengan senyuman iblis. "Ya, dia anakmu!"

Jin wanita itu terkikik lalu mendekati janin hasil aborsi yang hampir sempurna wujudnya itu. Tangan dengan kuku panjang kehitaman dan kulit mengelupas mengusap lembut janin di atas kain hitam. Tak lama janin itu bergerak dan membuka matanya. Mata yang hitam sempurna.

 "Kau milikku cah ayu!" Jin wanita itu kembali tertawa, meraih janin yang kini tak ubahnya seperti anak kecil berjalan tertatih meraih tangan jin wanita itu.

"Perjanjian kita akan segera berakhir, setelah tumbal ketujuh. Kekayaan dan kecantikan tak terkira akan semakin paripurna kau dapatkan!" 

Jin wanita itu membingkai wajah Asih dengan jari telunjuknya. Ia tersenyum dengan seringai licik. Lalu menghilang perlahan meninggalkan Asih yang tersenyum penuh kemenangan. 

Menang? Tentu saja tidak, sejak kapan perjanjian dengan jin membawa keberuntungan bagi manusia?

Asih terlena dengan kekayaan yang wajah ayu yang ia dapatkan dari menumbalkan janinnya sendiri. Ia sama sekali tidak menyadari jika langkahnya bersekutu dengan jin membawanya pada jurang api abadi.

Sementara itu di dapur Ardi mendekati Mbok Jum yang masih terisak dan mengusap pipinya dengan punggung tangan.

"Mbok,"

Mbok Jum yang tidak menyadari kehadiran Ardi terkejut. "I-iya, den!"

Ardi memperhatikan mbok Jum sejenak, "Ada apa mbok? Kok nangis?"

"Ah nggak den, i-ini mata mbok cuma … cuma pedih kena bawang!" Jawabnya menghindar.

"Ooh, bisa buatin saya kopi nggak mbok! Mata saya sepet bener," pinta Ardi seraya menaiki tangga ke lantai atas.

"I-iya den, tunggu sebentar. Nanti saya antar!" Mbok Jum berlalu meninggalkan Ardi.

Ardi yang masih penasaran dengan mbok Jum, ia berhenti sejenak, menggelengkan kepala lalu kembali berjalan menaiki anak tangga.

Sesampainya di lantai atas, Ardi berjalan perlahan mendekati jendela besar. Ada rasa was-was yang menyelimuti hati Ardi. Mbok Ratem yang kemarin malam ada diluar sana cukup membuat Ardi ciut nyali.

TENG! TENG!

Suara jam yang berbunyi menunjukkan jam sebelas malam membuat jantungnya melonjak dari tempatnya. Ia terkejut bukan kepalang, dentang jam besar di pojok ruangan itu terasa semakin menambah suasana horor untuknya.

Tangan Ardi gemetar dan menyibak tirai yang menutupi jendela dengan perlahan, wajahnya sudah seputih kertas, tengkuknya merinding tak karuan. Kepalanya melongok ke arah dimana mbok Ratem berdiri kemarin. Ia menarik nafas lega. Tak ada siapa pun disana.

Ardi menutup kembali tirai, lalu berbalik. Alangkah terkejutnya ia saat wajah yang ia cari dan takuti muncul tepat dibelakangnya.

"Lungo kowe soko panggonanku!"

Terpopuler

Comments

Namika

Namika

milu reuwas😨😨

2022-09-30

3

⍣⃝ꉣꉣAndini Andana

⍣⃝ꉣꉣAndini Andana

satu lagi tumbal memuluskan langkah Asih menuju neraka 🚶🚶🚶

2022-09-25

7

⍣⃝ꉣꉣAndini Andana

⍣⃝ꉣꉣAndini Andana

ciluuuukk..baaaa.. 👵🙈

2022-09-25

8

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!