Matahari belum muncul di ufuk timur tapi semburat jingga sudah terlihat menghiasi langit. Pagi itu cuaca masih dingin dan berkabut. Sebuah desa terpencil di kaki gunung mulai menggeliat.
Warga desa yang kebanyakan adalah petani sayur mayur mulai keluar dari rumah menuju ladang masing-masing. Mbok Kar, membuka lapak dagangannya di warung kecil yang terletak di tepi hutan.
Sudah hampir sepuluh tahun ia berjualan aneka gorengan, kopi dan mie instan bagi para pecinta alam maupun warga sekitar. Dibantu Sumini cucu tertuanya yang baru berusia 21 tahun, mbok Kar menata dagangan di warung kecil berdinding anyaman bambu.
"Nduk, kamu sudah pergi ke pasar belum buat beli tempe, tahu sama sayuran?" Mbok Kar mengingatkan cucunya sambil menata jajanan tradisional titipan beberapa warga desa.
"Sampun Mbah, semua sudah siap di dalam!" Sumini menjawab setengah berteriak karena berada di dapur kecil.
Sumini tengah menjaga api agar tetap menyala stabil. Air yang direbusnya hampir matang, jadi Sumini memilih tetap di dapur sambil menyiapkan wajan penggorengan. Suhu udara yang cukup dingin membuatnya malas beranjak dari Pawon (dapur sederhana yang memakai bahan bakar kayu), ia betah berlama-lama di depan perapian demi menghangatkan tubuh.
"Mbok, kopi satu yang manis!"
Wardi, salah satu warga desa yang hendak ke ladang menyempatkan diri mampir ke warung mbok Kar.
"Saya juga mbok tapi kopinya paitan aja ya, soalnya saya udah manis!" Rekannya sesama pekerja ladang bernama Imam ikut nimbrung sembari menunggu matahari terbit lebih tinggi.
"Iya sek tunggu bentar, pagi banget kalian kesini! Banyune wae durung siap le!" Mbok Kar menjawab dan menurunkan bangku panjang dibantu Wardi dan Imam.
"Mumpung masih pagi mbok, semangat masih menggebu buat kerja! Tapi angetin perut dulu!" sahut Wardi cengengesan.
"Halah alesan Kowe War, aku yo ngerti kalian meh ndelok putuku sing ayu to?!" Mbok Kar meledek Wardi dan juga Imam.
"Weh, modus kita ketauan War!" Imam tertawa mendengar pertanyaan yang sekaligus pernyataan mbok Kar.
"Piye mbok, entuk tak pek bojo tah si Sumini?" tanya Imam cengengesan.
Mbok Kar hanya tertawa dan menggelengkan kepala. Ia sudah mafhum dengan kelakuan dua pemuda jahil yang menjadi langganan tetapnya. Mbok Kar meninggalkan keduanya menuju Pawon dan bermaksud membuatkan kopi pesanan Wardi dan Imam.
"Mam, kamu denger nggak suara lolongan anjing hutan beberapa hari terakhir ini?" Wardi bertanya dengan mulut penuh makanan.
Imam mencomot salah satu jajanan berbalut parutan kelapa yang gurih manis, lalu menjawab pertanyaan Wardi.
"Iya, aku dengar. Ngeri yo hampir tiap malam lolongan itu kedengeran, aku sampe merinding lho War! Nggak berani keluar rumah!"
"Halah, wong lanang kok wedi!" Wardi mengejek Imam, ia melanjutkan perkataannya. "Kamu merasa aneh nggak sih, suara lolongan itu terjadi sejak … sek ketoke ki kalo aku nggak salah ingat sejak rumah megah diujung sana mulai berpenghuni!"
"Ah mosok sih? Kamu jangan sebar berita bohong bahaya War! Nanti warga desa malah berasumsi yang aneh-aneh sama warga baru itu!"
"Iya juga sih, tapi aku yakin Mam aku bener lho!"
"Lha kalo nggak bener yo mesti salah to?" Imam masih asik mengupas kulit pisang di tangannya, ia melirik ke arah Wardi sejenak sebelum menjejalkan pisang ke dalam mulutnya.
"Mam, sebenarnya aku …," kata-kata Wardi terpotong ketika sayup-sayup terdengar teriakan lantang salah satu warga diiringi bunyi kentongan.
"Mayat, mayat! Ada mayat di sungai!" Suara teriakan itu memecah keheningan desa, mengalihkan konsentrasi para pekerja ladang.
"Mayat … mayat, tolong! Ada mayat di sungai!"
Teriakan itu kembali terdengar, rupanya hansip desa yang berteriak berkeliling mencari bantuan. Saat hansip desa sampai di depan warung mbok Kar, Wardi pun bertanya.
"Pak Hansip! Bener ada mayat?!"
"Iya, War hayuk bantu saya cari bantuan warga!" sahut pak Hansip dengan nafas terburu-buru, keringat membanjiri tubuhnya, ia takut dan juga lelah karena berlarian kesana kemari manggil warga desa.
Wardi dan Imam segera berdiri, menyambar kentongan yang tergantung di warung mbok Kar lalu mengikuti langkah pak Hansip.
"Mbok, saya bantu pak Hansip dulu nanti kita balik lagi kesini!" Imam tak lupa berteriak pada mbok Kar yang sudah menyiapkan dua gelas kopi pesanan mereka.
"Oalah, iya hati-hati!" Mbok Kar menjawab dengan wajah bingung dan juga penasaran.
"Mbok, aku nggak salah denger kan tadi? Mayat mbok, waduh kok serem banget!" Sumini menyusul mbok Kar di depan warung.
"Ho oh nduk, aku yo wedi! Yuk Lah kita tunggu saja kabar selanjutnya! Wes kerjo neh nduk!" Mbok Kar mengajak cucunya untuk kembali ke Pawon menyiapkan gorengan hangat untuk para pelanggannya.
******
Pak Kades menutup hidungnya rapat dengan sapu tangan, dua tubuh tak bernyawa yang kini sudah tidak utuh lagi tergeletak di depannya.
Satu ada di tepian sungai dengan tubuh sebagian terendam air dan satu lagi berceceran tubuhnya di atas batu besar.
"Astaghfirullah Al adziim, siapa yang tega membunuh mereka?" gumam pak kades yang miris dengan kondisi mayat.
"Pak kades yakin mereka dibunuh? Bukan korban binatang buas di hutan?" Pak Haji Abdul bertanya sesaat setelah mendengar gumaman pak Kades.
"Kalo dimangsa, harusnya mereka ditemukan di hutan sana kan? Dan ada kemungkinan letak mereka berjauhan, karena salah satu jelas dan pasti lari saat melihat kawannya diserang!" Pak Kades mencoba berasumsi meski ia sendiri kurang yakin dengan pendapatnya.
"Kita tunggu pihak yang berwenang saja, mereka yang tahu apakah ini pembunuhan atau dimangsa binatang buas."
Kerumunan warga desa yang penasaran ingin melihat mayat membuat lokasi penemuan ramai. Sungai yang biasanya sepi kini dipenuhi warga.
Tak lama menunggu pihak kepolisian pun datang. Police line dibentangkan untuk mengamankan TKP. Pak Kades dan jajarannya serta pak Hansip juga dimintai keterangan.
Para warga berbisik dan bergumam, memperhatikan petugas kepolisian mengidentifikasi mayat dari kejauhan. Mereka tidak menyadari ada seseorang yang sedari tadi tampak panik dan gelisah. Ia menggigiti kuku, dan gemetar berjalan kesana kemari.
Lelaki muda dengan pakaian lusuh dan wajah cemong itu perlahan mendekat. Nafasnya memburu dan sesekali menatap nanar ke arah mayat yang dikerubuti lalat.
"Nggak … nggak mungkin," ia tergagap dan terus menggelengkan kepalanya.
"Bu-bukan, bu-kan aku … hantu, setan! Setaaan!" Ia kembali berteriak sambil menunjuk ke arah mayat.
Lelaki itu kesana kemari berlari mengitari TKP membuat para petugas kepolisian kalang kabut karena khawatir merusak TKP.
"Tangkap dia cepat!" perintah salah satu petugas dengan pakaian bebas.
Pak kades yang melihat lelaki muda itu langsung turun tangan meringkus pemuda setengah gila yang bernama Eman.
"Man, Eman … sini! Jangan lari, sini ikut saya!"
Eman berlari menghindar dengan mata yang tak lepas menatap mayat. Ia terus menggelengkan kepala seraya berteriak, "Setan, setan! Ada setan!"
Dengan susah payah, akhirnya Eman tertangkap dibantu beberapa warga. Pak Kades berusaha menenangkan Eman yang terus berteriak.
"Setan, itu setan!"
"Tenang Man, tenang! Ayo ikut saya pulang!" ujar Pak Kades memapah Eman yang terpaksa diikat dengan cable ties putih layaknya tahanan.
Eman berhenti dan kembali menatap mayat itu sambil menunjuk ke arah mayat itu berada.
"Ba-bajang … ba-yi bajang! Me-mereka korban bayi bajang! Bayi bajang!" teriaknya dengan kepala yang terus melihat ke atas, ke arah tebing tinggi diseberang sana.
"Bawa dia ke balai desa!" perintah pak kades pada bawahannya.
Eman terus meronta dan berusaha melihat ke arah sungai meski sudah di halangi petugas. Suaranya terdengar lantang dan masih menyerukan kata yang sama, bayi bajang.
Tanpa diketahui orang lain, seseorang mengendap endap dan bersembunyi di balik semak. Memperhatikan situasi di sungai dan juga Eman yang terus melihat ke arahnya.
"Kurang ajar!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
Namika
klepon🤔
2022-09-13
2
Namika
kayak dirumah mamah saya. kalo masak nasi masih pake hawu (tungku)
2022-09-13
2
Ali B.U
kayak teroli
2022-09-03
6