[kriiiing..] suara telefon berdering. satu panggilan masuk dari sebuah nama 'Rania' .
Amyra melihat Denny masih lelap dengan tidurnya. Panggilan itu terus menerus masuk. Amyra ragu untuk mengangkatnya.
karena terlalu berisik, Amyra akhirnya mengangkatnya. "Hallo.." ucap Amyra dengan debaran yang tak dapat diartikan. bagaimanapun rasa cemburu akan ada pada wanita manapun. jika seorang wanita menelfon suaminya.
"hallo..ada mas Dennynya..?" ucap Seorang wanita diseberang telefon dengan ketus.
"ini dengan siapa ya..?" ucap Amyra berpura-pura tidak tahu nama wanita itu.
"emangnya kamu gak baca apa..? disitukan ada nama saya tertera." ucap Wanita itu kesal.
"maaf, anda memiliki keperluan apa menelfon suami saya..?" ucap Anyra mulai kesal.
"bukan urusanmu.! buruan berikan handphone ini pada Mas Denny." ucapnya dengan nada perintah.
Amyra menarik nafasnya dengan berat, lalu menghelanya. " itu menjadi urusanku. karena yang kamu telefon adalah suamiku..?" jawab Amyra kesal.
"kauu..!" ucap Rania semakin berang.
sebelum Rania melontarkan kata-kata yang menyakitkan hatinya, Amyra segera mereject panggilan itu. lalu menonaktifkan HP Denny.
Amyra merasakan luka dihatinya yang kian dalam. "siapa wanita itu..? mengapa begitu lancangnya berbicara padaku.?" Amyra berguman dengan hati yang lara.
Amyra mencoba menepis semua dugaannya. Ia beranjak kedapur dan memasak sarapan. Ia mencoba melupakan peristiwa tadi.
Amyra membuat sarapan seadanya. Ia akan segera berangkat bekerja. setelah sarapan dan membawa bekal. Amyra kembali kekamar untuk menyiapkan pakaian kerja Denny. Ia merasa jika sebagai istri, Ia harus berbakti kepada suaminya.
saat memasuki kamar, Ia melihat Denny tengah menelefon seseorang. melihat kehaduran Amyra, Ia menyudahinya.
Amyra berpura-pura cuek saja. meskipun dihatinya ada luka yang sangat dalam.
Amyra menyiapkan pakaian untuk Denby. setelah itu Ia pergi berpamitan untuk bekerja.
namun Ia teringat untuk meminta jatah mingguannya. "mas..uang belanja sudah habis. ucap Amyra dengan sopan"
Denny memandang Amyra. lalu mengeluarkan dompetnya. Ia memberikan uang dua ratus ribu rupiah kepada Amyra.
Amyra menerimanya. sembari melengus. "gak ada lebihnya mas..? saya mau beli perlengkapan untuk calon bayi kita. " ucap Amyra dengan lembut.
Denny menatapnya. "jangan terlalu banyak tanya, diberi itu ya diterima." ucapnya kesal. lalu memberikan selembar uang seratus ribu rupiah. Amyra menerimanya sembari tersenyum datar.
"terima kasih mas." ucap Amyra dengan senyum yang dipaksakan. Ia tidak ingin berdebat pagi ini.
Amyra bergegas pergi berangkat kerja.
meskipun arah tempat Amyra dan Denny satu arah, namun belum pernah Denny mengajak Anyra berangkat bersama. Amyra selalu menggunakan angkot jika berangkat bekerja.
"mungkin aku harus menggunakan uang simpananku untuk membeli perlengkapan bayiku.
----------------
setelah Amyra pergi bekerja, Denny pergi dengan tergesah-gesah.
Denny mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia menuju apartemen Rania yang dihadiakannya tempo hari.
sesampainya disana, Ia menemui Rania yang sudah menunggunya dengan wajah masam.
"lama banget sih sayang.." ucap Rania merajuk.
Denny menghampirinya. "ya sudah..ayo kita berangkat sekarang." ucap Denny merayu Rania yang sedang merajuk.
Rania mengikuti langkah Denny dengan manyun. lalu memasuki mobil dengan wajah yang masih cemburut.
Denny memnadanginya. "maafin aku ya..? tadi aku ketiduran" ucap Denny dengan wajah memelas.
"istri kamu itu resek banget sih. ngapain juga dia angkat telefonku. dah gitu pakai dinonaktifkannya lagi hp kamu." ucap Rania ketus.
Denny mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. "lagian kamu ngapain coba nelfon aku sepagi ini..?" ucap Denny dengan sedikit ketus.
Rania semakin kesal mendengar ucapan Denny. " koq kamu salahin aku sih..?" ayau jangan-jangan kamu sudah jatuh cinta ya dengannya..?" ucap Rania kesal.
Denny menggelengkan kepalanya. "kamu terlalu berlebihan. sebaiknya jika bukan aku yang menghubungimu, kamu jangan pernah menghubungiku, karena ini demi kebaikan kita juga" ucap Denny menjelaskan.
"abisnya kamu ngeselin. kan kamu sudah tau kalau ini hari jadwal aku cek silikon melonku.." ucapnya kesal.
"iya. maafin aku ya.." ucap Denny lembut.
Mobil Denny berhenti disebuah gedung praktek dokter spesialis kecantikan langganan Rania. Ia menepikan mobilnya, lalu turun dan menuju keruangan tersebut sembari menggandeng tangan Rania.
setelah memasuki ruangan pasien. Rania duduk menghadap seorang dokter wanita yang kulit wajah dan tubuhnya mulus dan tampak licin seperti porselin.
silahkan mbak Rania. kita lakukan pemeriksaan lanjutan" ucap dokter tersebut.
Rania mengangguk. lalu beranjak keranjang pasien. dokter itu memeriksa dengan seksama.
"sudah mbak." ucap dokter itu, sembari kembali kemeja kerjanya.
Rania mengikutinya dan duduk dikursi pasien.
Ia tak sabar umtuk mendengar hasilnya.
"melon mbak Rania mengalami infeksi terkena benturan, sepertinya perlu dialkukan tindakan medis." ucap Dokter itu.
Rania dan Denny saling pandang.
beberapa hari ini Rania mengeluhkan sakit dibagian melonnya, rasa panas dan nyeri. itu akibat suntik silikonnya.
"lakukan yang terbaik, dok."ucap Denny.
"masalah biayanya nanti saya rincikan." ucap Dokter tersebut.
"jangan fikirkan masalah dananya, yang penting pengobatan Rania berjalan lancar." jawab Denny dengan tegas.
bagi Denny, memiliki kekasih yang cantik dan tubuh sempurnah adalah impiannya.
karena Ia akan sangat bangga jika orang-orang akan memuji kekasihnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 286 Episodes
Comments
suharwati jeni
cewe cantik langganan laundry, jangan² reno yg menyamar
2024-06-26
0
suharwati jeni
gils bener.
rania hamil anak feri dong
2024-06-26
0
ghina amd
suami durhaka....siapa menanam dia yg menuai, tinggal tunggu karma lo aja dennoy
2024-06-25
0