Amyra telah sampai dirumahnya saat hari mulai gelap. Ia menghidupkan saklar lampu. dan lampu menyala. Ia duduk dikursi tamu, Ia bersandar pada sandarannya. matanya menatap jauh ke alam difikirannya.
"aku hamil..." ucapnya lirih sembari mengelus perutnya. apakah mas Denny senang mendengarnya..? atau sebaliknya."
"sebaiknya aku tidak usah berkhayal yang muluk-muluk terlebih dahulu." ucapnya dengan hati bimbang.
Ia melihat mobil yang biasa setiap pagi menjemput suaminya masuk kedalam perkarangan rumah. lalu memarkirkannya diteras.
Amyra memperhatikannya. tampak Denny turun dari mobil. "mengapa mas Denny membawa mobik..? apa pemberian papa mertua atau pemberian kantor?" Ia berfikir mencari jawaban.
Denny masuk, lalu melihat marah pada Amyra.
"kenapa kamu pulang sendiri dari rumah sakit? lain kali itu kalau menyeberang jangan pakai pingsan ditengah jalan..kalau sampai aku tadi menabrakmu, aku juga yang susah." ucap Denny ketus.
"jadi mas yang bawa aku kerumah sakit..? ucap Amyra lirih.
"iya, karena kamu pingsan tepat didepan mobilku ku. warga mengira akubyangdaripada aku diamuk massa ya terpaksa aku bawa kamu kerumah sakit." ucap Denny yang begitu menyayat hatinya.
Amyra tak menyangka, jika suaminya membawanya kerumah sakit hanya karena takut diamuk massa, bukan karena cinta yang takut kehilangan dirinya.
sepertinya Amyra tak ingin berkhyal terlalu jauh.
Amyra berjalan kedapur. uang dari hasil bekerja dilaundry sudah berkurang 25 ribu untuk ongkos taxi.
sisa 75 ribu itu tadi Ia belikan sebagian untuk membeli telur. sisa Ia simpan.
Amyra membuat omelet (telur dadar). meskipun kepalanya sedikit pusing, Ia memaksakan diri untuk memasak. Ia menghidangkannya dimeja makan.
meskipun Denny bersikap acuh tak acuh padanya, namun pada dasar mereka memiliki hubungan yang ikat dengan tali pernikahan.
Denny baru selesai mandi, Ia yelah berpakaian rapi. seperti bersiap-siap untuk pergi. "mas mau pergi..? gak makan dulu mas..?" ucap Amyra lembut.
"aku ada urusan pekerjaan, selama tiga hari. aku tidak sempat makan." ucapnya tanpa melihat Amyra, lalu pergi begitu saja.
"itu mobil siapa mas..?" ucap Amyra sedikit mengeraskan suaranya, karena Denny sudah berada diambang pintu.
"bukan urusanmu" ucapnya ketus.
Amyra menarik nafasnya. sakit hati ya, tentu saja sakit. namun lagi-lagi Ia harus mengalah. mungkin jika calon bayi ini lahir kedunia Ia akan berubah.
lagi dan lagi Amyra mencoba berharap. Ia kembali menyuapkan makanannya. namun seperti tak berselera.
Amyra menyudahinya, menyimpan kembali sisa telur dadar yang dibuatnya. Ia ingin membersihkan diri. setelah itu Ia berniat tidur karena esok harus kembali bekerja.
***
Denny sampai diapartemen yang diberikannya untuk Rania. Ia mengetuk pintu apartemen. setelah Rania membukanya. Ia nyelonong masuk.
Ia datang berniat untuk membujuk Rania yang masih ngambek. "ayolah sayang...jangan marah lagi..? aku harus bagaimana untuk membuatmu percaya..?" Denny mencoba merayu Rania yang masih kesal padanya.
"tapi mengapa kau melanggar sumpahmu..?! kau berjanji tidak akan tergoda padanya, tapi buktinya Ia mengandung anakmu..!
"tetapi itu semua demi kebaikan kita bersama. jika asetku di tarik, maka kamu juga akan kehilangan semua yang kamu nikmati saat ini. kamu mau..?"
Rania terdiam, Ia memikirkan sebuah rencana.
"ayolah Rania sayang, jangan marah lagi..apa yang harus aku lakukan agar membuatmu kembali tersenyum.?"
Rania menunggu kata-kata ini keluar dari mulut Denny. "baiklah, belikan aku sebuah rumah mewah berserta isinya. aku akan memaafkannmu. namun atas namaku. jika kau mau, aku akan memaafkanmu." ucap Rania dengan penuh kelicikan.
"oh...sayaang..aku akan membelikan apa saja untukmu." ucap Denny sembari memeluk tubuh Rania. lalu Rania menyambutnya. Ia akan memuaskan Denny demi untuk mendapatkan rumah mewah impiannya.
seterusnya, Ia akan meminta monil baru yang juga atas namanya. Ia akan memoroti Denny, sampai Ia memiliki semua yang diinginkannya.
****
Amyra ingin berangkat ke laundry pagi ini. namun Ia mengalmi mual yang teramat sangat. Ia memuntahkan semua yang dimakannya pagi ini, Ia mengalami morningsickness, yaitu gejala mual pada ibu hamil saat usia kandungan trisemester.
Amyra mengambil permen jahe untuk mengurangi rasa mualnya. Ia tetap memaksakan bekerja. berangkat menggunakan angkot.
sesampainya didepan laundry, Ia melihat Reno sang bos seperti bersiap-siap hendak pergi.
Siapa sangka, pagi ini Ia mendapatkan kejutan yang istimewa, dari seorang pria, yang pastinya bukan suaminya.
Reno mempercayakan usaha laundry padanya. Ia menyerahkan buku tabungan beserta kartu ATM lengkap dengan kode pinnya.
Ia hanya ditugaskan untuk menjalankan usahanya, dan mengurangi pekerjaan beratnya. Ia membantu dibagian packing yang tidak menguras banyak tenaga.
Amyra ingin menanyakan kemana Reno pergi dan mengapa Ia begitu percaya padanya. namun Reno seperti terburu-buru dan pergi dengan menggunakan motor maticnya.
Amyra memasuki toko. Ia membersihkan toko sembari menunggu karyawan lainnya datang. Ia juga mempacking pakaian yg sudah disetrika, menuliskan nama pelanggan lengkap dengan jumlah harga pada setiap packing, agar memudahkan ketika pelanggan mengambil barangnya.
Ana sudah datang, diikuti dengan enam orang lainnya. mereka merasa ada sesuatu yang kurang. "bos Reno kemana mbak..? tumben gak nongol dikasir." ucap Ana dan ikuti oleh tatapan yang lainnya.
"katanya ada urusan pekerjaan. tapi belum tau kapan akan pulangnya. untuk sementara laundry ini dipercayakan oleh si bos kepada saya." ucap Amyra lembut.
"ooo..gitu..ya sudah...kita lanjutin kerja dulu ya mbak. banyak setrikaan. ucap Ana, diikuti yang lainnya.
Amyra telah menyelesaikan packingnya. Ia menuju kekasir, ingin memasukkan buku tekening dan kartu debit tersebut kedalam laci. saat itu Ia melihat sebuah paket skincare yang terbungkus dengan dompet besar. ada secarik kertas bertuliskan.."pakailah skincare ini Amyra, karena cantik itu perlu. ada banyak mata diluar sana.' by Reno.
Amyra bergetar membaca isi tulisan itu. "apa maksud dari isi tulisan ini..? tapi mungkin suatu saat akan aku coba. bos Reno baik banget. sampai skincare saja diperhatikannya." ucapnya tersenyum.
setelah itu, Ia menemui Ana. "dik Ana, nanti yang packing biar mbak saja saya. untuk setrikaan biar dibantu oleh Eni, biar cepat selesai. soalnya laundry yang milik rumah sakit akan dijemput besok." ucapnya menjelaskan dengan nada selembut mungkin. Ia tak ingin mereka tersinggung dengan ucapannya.
Ana dab Eni yang ditunjuk untuk bagian setrika mengangguk mengerti.
Amyra kembali ke kasir, karena ada seseorang yang memanggil untuk mengambil laundry-annya.
Amyra membuat pembukuan untuk semua uang masuk dan keluar. Ia tidak ingin melakukan kesalahan pada amanah yang telah diberikan kepadanya. dan pembukuan itu bertujuan agar semuanya terinci dengan baik. agar bisa dipertanggujawabkannya kepada si bos saat pulang nanti.
Amyra bukanlah type orang yang mengambil kesempatan dalam kesempitan, meskipun gajinya dipercayakan agar mengambil sesukanya, namun Amyra tetap menjaga kejujuran, Ia tetap mengambil sesuai haknya saja. Ia mengingat semua pesan orangtuanya. baik buruknya perbuatan kita, semua ada balasannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 286 Episodes
Comments
ghina amd
tuh kan....rania cuma mau morotin aja, udah dpt semua keinginannya pasti lgsg kabur...bodoh bener deny
2024-06-25
0
Bzaa
semangat amyra
2024-04-20
0
linamaulina18
dasar goblok si Deny mau aja d porotin sdngkan istri sndr d kasih uang pas2an
2023-05-31
0