Arya terus bergerak dengan kecepatan tinggi untuk menghindari serangan Mentari, walau gerakan Mentari sedikit dibawah Sabrang namun dia unggul dalam serangan serangan jarak dekat.
"Mereka benar benar pendekar terkuat". Arya menggeleng pelan.
"Apa hanya ini yang bisa kau pelajari dari kitab lusuhmu itu?" ejek Mentari.
Mentari mendekat dengan cepat dan berusaha mencengkram lengan Arya namun Arya sedikit menarik tubuhnya dan mengeluarkan pedang energi ditangannya.
Mentari melepaskan aura untuk menekan gerakan Arya yang semakin cepat. Ketika gerakan Arya mulai melambat, Mentari melepaskan beberapa tinju kilat hitamnya yang tepat mengenai Arya.
Arya terdorong beberapa langkah, dia memegang tubuhnya yang terasa nyeri.
"Jurus ini? bukankah milik Sabrang?". Arya mengernyitkan dahinya heran.
"Dia adalah selir kesayangannya, apapun akan diberikan oleh sibodoh itu". Jawab Naga api.
Mentari tiba tiba menjaga jarak disaat Arya sudah sangat terdesak, dia membuang ranting yang dari tadi digunakannya sebagai pedang.
Arya tampak bingung dengan sikap Mentari namun tidak terlalu mempermasalahkannya. Dia lebih memilih mengatur nafas dan memulihkan staminanya yang mulai terkuras.
Mentari tersenyum bangga melihat perkembangan Arya dalam beberapa hari terakhir. Sebagai seorang pemula yang bahkan belum pernah belajar ilmu kanuragan perkembangan Arya sangat mengagumkan.
"Sepertinya kau akan melampaui Yang mulia" gumam Mentari sambil menarik pedangnya.
Arkdewi yang dari tadi duduk melihat pertarungan Arya tak kalah terkejut, dia bahkan hampir tak percaya jika Arya baru belajar ilmu kanuragan beberapa hari lalu.
"Sepertinya sekarang saatnya aku serius menghadapimu, gunakan jurus pedang dari kitab yang kau bawa. Perhatikan kuda kudamu dan lepaskan semua energi ditubuh mu, sudah saatnya kau menyatu dengan Naga api". Mentari mulai merapal jurusnya.
Arkadewi yang dari tadi hanya duduk tiba tiba berdiri, dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Jurus embun perusak hati?". Arkadewi mengernyitkan dahinya saat mengenali kuda kuda yang ditunjukan Mentari.
Arya terlihat mengumpat saat melihat aura Meluap dari tubuh Mentari, dia sudah sangat terdesak dalam pertarungan tadi dan kini wanita cantik dihadapannya itu akan menghadapi nya dengan serius.
Arya mulai mengingat jurus yang dibacanya, dalam beberapa hari ini dia diam diam membaca kitab Api abadi miliknya.
"Apa kau bisa membantuku Naga api?" tanya Arya dalam pikirannya.
"Dari awal aku selalu membantumu bodoh namun kau selalu menolaknya".
Arya tersenyum kecil sambil menggeleng pelan. "Aku sempat berfikir jika tidak mempelajari ilmu kanuragan maka aku bisa melupakan masa laluku namun Raja bodoh itu malah menarikku masuk seenaknya. Jika dia adalah tuanmu yang terkuat maka buat aku sekuat dia". Arya mulai merapal jurus Api abadi.
"Kau?". Naga api terkejut sekaligus kagum pada pemuda itu. "Sepertinya kau sudah banyak berubah nak sejak bertemu dengan Sabrang" gumam Naga api.
"Setelah aku mengalahkan bibi, aku akan menjadi lebih kuat dan menguasai dunia persilatan. Setelah semua tujuanku tercapai aku akan menikahi bibi dan membuat si bodoh itu menjadi hantu penasaran" tawa mesum Arya terdengar keras membuat Arkadewi menggerutu.
"Si bodoh itu pasti sedang memikirkan hal kotor". Arkadewi menggeleng pelan.
"Tujuan hidupnya benar benar aneh, sepertinya aku salah memilihnya sebagai tuan" umpat Naga api kesal.
Mentari mulai bergerak menyerang, dalam beberapa serangan dia sudah mulai bisa menyudutkan Arya yang belum siap menerima serangan cepat itu.
Beberapa goresan pedang mulai terbentuk ditubuh Arya, Mentari menyerang Arya dengan niat membunuh.
"Tunggu bi" teriak Arya tiba tiba sambil mengangkat tangannya yang membuat Mentari mengentikan serangannya heran.
"Bibi seharunya memberiku kesempatan menyerang, dan apa perlu sampai melukaiku" protes Arya polos.
Raut wajah Arkadewi semakin buruk setelah melihat tingkah bodoh Arya, ingin rasanya dia memukul wajah bodoh pemuda itu sampai babak belur. Bagaimana bisa meminta lawan untuk memberi kesempatannya menyerang dalam pertarungan.
"Isi kepanya sepertinya terganggu". Arkadewi menutup wajahnya menahan amarah.
Mentari menggeleng kesal, dia merasa Arya tidak benar benar serius mengeluarkan kemampuannya.
"Aku akan membunuhmu jika sampai mengecewakan Yang mulia". Mentari kembali menyerang namun kini dia benar benar tidak ingin menahan kekuatannya untuk memberi pelajaran pada Arya.
Mendapat serangan yang semakin membabi buta membuat Arya makin terdesak, dia tidak mengerti mengapa Mentari terlihat begitu marah padanya.
Serangan cepat Mentari memang membuat Arya terpojok namun tanpa sadar juga menarik kemampuan terbaik pemuda itu.
Arya memutar pedangnya sedikit sambil melepaskan aura untuk memperlambat gerakan Mentari.
Suhu udara yang tiba tiba naik dengan cepat membuat Mentari waspada, dia sangat mengenali aura yang keluar dari tubuh Arya.
Saat Mentari masih larut dalam pikirannya, Arya muncul didekatnya dan langsung menyerang.
Bongkahan es mulai terbentuk disekitar Mentari untuk menangkis serangan serangan cepat Arya.
"Kecepatannya hampir melampauiku" gumam Mentari dalam hati.
"Si bodoh itu?" Arkadewi terus memperhatikan pertarungan dua pendekar beda generasi itu, walaupun Mentari masih terlihat lebih unggul namun Arya perlahan mulai bisa mengimbanginya.
Tak mudah bagi para pendekar menghindari jurus embun perusak hati namun Arya mulai bisa menghindar dan sesekali menyerang balik.
"Apa bibi mau menikah denganku jika aku bisa mengalahkan bibi?" tanya Arya pelan.
Mentari membentuk bongkahan es kecil berbentuk pisau kecil dan mulai menyerang balik.
"Aku adalah leluhurmu bodoh!". Mentari melompat sambil melempar pisau es yang ada di lengan kirinya.
"Aku tak percaya dengan bualan si bodoh itu". Arya bergerak maju sambil menghancurkan pisau es yang melesat kearahnya dengan pedang energi.
"Jaga ucapanmu pada Yang mulia atau aku akan merobek mulutmu".
Mentari menyerang dengan jurus embun perusak hati tingkat 4.
Saat pedangnya hampir mengenai Arya, Mentari menyadari dia terlalu berlebihan. Dia berusaha menarik kembali serangannya namun terlambat.
Ketika Mentari merasa Arya akan terluka parah akibat serangannya tiba tiba Arya merubah genggaman pedangnya dan merapal jurus.
Arya menghilang dari pandangan dan berpindah tempat dengan sangat cepat.
"Gawat, jurus ini?" Mentari membentuk perisai es sebelum sebuah pedang menghantam tubuhnya. Retakan es semakin membesar sebelum Mentari kembali membentuk bongkahan es untuk melapisinya kembali.
Tubuhnya terdorong beberapa langkah sebelum kedua kakinya diselimuti es untuk mencengkram tanah.
Mentari tak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya setelah mengenali jurus yang digunakan Arya.
"Bagaimana dia bisa menggunakan jurus pedang pemusnah raga?".
Arya berlari mendekat dengan wajah khawatir.
"Bibi baik baik saja? maaf bi aku terlalu bersemangat" ucap Arya menyesal.
Mentari tersenyum lembut sambil menganggukkan kepalanya.
"Aku baik baik saja, bagaimana kau kau bisa menguasai jurus pedang pemusnah raga?".
Arya mengeluarkan kitabnya dan menunjukkan pada Mentari.
"Aku membacanya di kitab ini".
Mentari mengambil kitab itu dan membacanya.
"Ini semua jurus gabungan milik Yang mulia, bagaimana kau mendapatkan kitab ini?" tanya Mentari heran.
"Seorang kakek tua memberikannya padaku".
"Kakek tua? apa kau tau ciri cirinya? apakah Yang mulia?" Mentari mengernyitkan dahinya.
Arya menggeleng pelan "Bukan dia, kakek ini lebih tua darinya. Dia berpakaian lusuh dan membawa dua pedang di pinggangnya".
Saat Mentari berfikir dan mencoba mengingat ciri yang disebutkan Arya, tiba tiba puluhan pendekar muncul.
"Tak kusangka ada wanita secantik ini di hutan terpencil". Barja, ketua dari perguruan Kalajengking hitam menyeringai sambil menatap Mentari.
"Berani sekali kalian menginjakkan kaki di wilayahku". Mentari menatap tajam Barja. Saat dia hendak menyerang tiba tiba Arya menahannya.
"Istirahatlah bi". Arya melangkah maju kedepan.
Arkadewi cukup terkejut melihat sikap Arya yang biasanya langsung melarikan diri. Diam diam dia mulai mengagumi sikap pemuda yang belum lama dikenalnya itu.
"Apa yang kalian inginkan dari calon istriku ha?" bentak Arya pada Barja.
"Calon istri?" urat nadi di wajah Arkadewi mulai terlihat, dia langsung memukul wajah pemuda itu.
"Bibi, dia menyakitiku lagi" ucap Arya manja.
"Kau tidak bisa sekali saja serius hah?" bentak Arkadewi kesal.
"Aku sudah seri....". Arya tak melanjutkan ucapannya saat seorang pendekar Kalajengking hitam tiba tiba menyerang.
Arya menggerakkan tangannya dan menciptakan energi pedang di udara dan mengarahkannya pada pendekar itu. Pendekar itu roboh seketika tanpa tau apa yang menyerangnya.
Semua tersentak kaget melihat gerakan Arya termasuk Mentari.
"Dia sudah mulai berkembang Yang mulia" ucap Mentari sambil tersenyum.
"Bukannya dia adalah pendekar yang diserang bibi di penginapan tempo hari?" Arkadewi mengernyitkan dahinya menatap pendekar yang sudah terbujur kaku di tanah.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sebenernya agak males jelasin tentang pertanyaan agak aneh Api di Bumi Majapahit tapi kali ini ada yang bertanya tentang Pedang Megantara yang katanya muncul dijaman Sabrang kok di ABM baru dibuat sama Mpu Supo, apa authornya mabok?
Astaga BAMBANG, sudah saya jelaskan kalo ABM itu buku kedua dari Trilogi Naga Api. untuk dapat memahami ABM ya kudu baca PNA... Istilah klo baca ABM tapi gak baca PNA berasa kayak liat cewek dipantai tapi mejem matanya... Rugi wkwkwkwkwk
Apa pernah Sabrang melihat Mengantara?
di Chapter 231 Pedang Naga api dijelaskan klo Pedang Megantara digunakan ksatria misterius untuk mengalahkan 10 pendekar terkuat kumari kandam namun walaupun dia menang, pedang Megantara ikut hancur saat itu.
Dan diramalkan jika ruh terkuat Eyang Wesi megantara akan bangkit kembali suatu saat ketika peradaban Maja muncul.
Mpu supo dapet wangsit untuk membuat pedang sebagai wadah Eyang wesi yang baru. Sebenernya Mpu supo mau beli aja pedangnya dari pada susah susah buat tapi kebetulan Pasar barang bekas lagi tutup karena corona jadi dia terpaksa buat dah...
PNA dan ABM saya buat sedikit bersamaan karena berharap kalian bisa melihat dari dua sisi tentang cerita Naga api.
Ok Mbang?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
putra
25 like
2022-11-04
2
azka arizki
gua sih gk prmaslahkan alur critanya..tapi yang bikin gue mpet tuh..s arya nya bego buanget...ko bisa ya...hahaha ya walaupun sekedar cerita tapi bisa bkin orang bikin jengkel dan bikin empet tuh s arya gara gara kebodohan nya itu apa kepolosan nya itu poko nya itu deh....tapi gua ancungkan jmpol buat yang nulis certa nya...top dah
2022-09-30
1
Mbah Kenyung
jawaban author mantulll
2022-04-30
0