"Waktuku tak banyak, aku terlalu menghabiskan banyak energi kehidupan saat menggunakan mata bulanku". Sabrang menggaruk kepalanya sedangkan Mentari hanya tersenyum sinis. Dia sudah sangat mengerti jika Rajanya itu sering lupa diri saat bertarung.
Sabrang terlihat menoleh kearah Mentari sebelum bicara untuk meminta persetujuan. Saat Mentari mengangguk pelan, Sabrang memulai perkataannya.
"Aku tau kau sangat membenciku karena kedua orang tuamu tewas saat mencari Telaga khayangan api. Mereka mencari tempat itu karena mengikuti petunjuk serat Malwageni yang ditulis paman Wardhana namun kau harus mengerti jika sudah menjadi takdir trah kita untuk menghentikan mahluk terkuat masa lalu".
"Trah kita? kau mengenal orang tuaku?". Tanya Arya pelan.
"Bukan hanya mengenal, Ayahmu adalah keturunan ke 16 ku bersama selirku".
Arya tersentak kaget mendengar ucapan Sabrang. "Keturunanmu dan bibi Mentari? kau pikir aku percaya? bagaimana mungkin kalian bisa hidup selama ribuan tahun?".
"Air kehidupan, kami meminumnya saat bertarung dengan Iblis petarung. Kalung yang kau pakai itu adalah hadiahku untuk dia, bagaimana dia bisa mendapatkan kalung itu jika bukan aku yang memberikannya".
Arya masih belum percaya dengan ucapan Sabrang namun dia tak terlalu mempermasalahkannya karena memang sejak awal dia merasa ada yang aneh pada diri Mentari.
"Jika benar apa yang kau katakan, bagaimana kau menjelaskan tentang ingatanku yang hilang sebelum aku berumur sepuluh tahun. Aku bahkan tidak ingat siapa orang tuaku namun anehnya aku mengingatmu dan sangat membencimu".
"Semua berawal dari sejarah panjang trah Dwipa, aku tidak dapat menjelaskannya saat ini karena waktuku tidak banyak namun aku yang meminta Naga api untuk menghilangkan ingatanmu agar kau menjauh sementara dari dunia persilatan sampai kau siap agar kejadian kedua orang tuamu tak terulang lagi. Aku menanamkan rasa benci diingatan mu agar kau berusaha menjadi kuat perlahan untuk menanggung tanggung jawab trah Dwipa".
"Menanggung tanggung jawab trah Dwipa?".
"Kau akan mengerti suatu saat nak, kini aku ingin kau menerima takdirmu dan bersiap melanjutkan perjuanganku".
"Kau seenaknya saja memintaku melanjutkan perjuanganku, aku sudah katakan pada bibi bahwa aku tidak tertarik sama sekali dengan dunia persilatan".
"Jaga bicaramu Arya!". Mentari kembali membentak Arya Wijaya.
Arya hanya bisa bersingut kesal, dia merasa Mentari lama lama seperti seorang ibu yang memarahi anaknya.
"Aku ingin menunjukan sesuatu padamu". Sabrang tiba tiba memegang kepala Arya dan merapal sebuah ajian.
Raut wajah Arya berubah seketika, keringat dingin menetes di sekujur tubuhnya setelah melihat gambaran dalam pikirannya.
"Kekuatan besar diiringi dengan tanggung jawab yang besar. Kau memiliki sesuatu yang tidak kumiliki, kuharap kau dewasa dan tidak bertingkah seperti anak kecil. Ikuti semua perintah nenek....". Sabrang menghentikan ucapannya sejenak sambil menghitung sesuatu ditangannya sebelum melanjutkan ucapannya. "Dia terlalu tua jika dipanggil nenek". Ucap Sabrang menggoda Mentari.
Beberapa saat kemudian sebuah pukulan penuh tenaga dalam menghantam tubuh Sabrang.
"Maaf jika aku tak secantik Ratumu!" ucap Mentari sambil melangkah pergi namun Sabrang dengan cepat memegang tangannya.
"Kau yang paling mengerti isi hatiku, siapa wanita yang paling kucintai".
Raut wajah Mentari kembali berseri dan memerah saat mendengar ucapan Sabrang.
Sabrang menarik nafasnya sebelum melanjutkan ucapannya "Ikuti semua perintah nenekmu ini dan kau akan mendapatkan jawaban atas semua pertanyaan yang ada di kepalamu. Ingatlah dengan apa yang kutunjukan tadi dan teruslah menjadi kuat sampai kau melampauiku. Kuharap kau tidak mengecewakanku dan menyambut Megantara untuk menyelamatkan dunia ini dari kehancuran".
"Megantara?". Arya mengernyitkan dahinya.
"Tak lama lagi kau akan mengerti". Ucap Sabrang sambil tersenyum lembut.
"Apa aku bisa lebih kuat darimu? dengan kekuatanmu yang sudah berkurang jauh saja aku tak mampu mengalahkanmu." Arya mulai luluh.
"Bakatmu jauh diatasku hanya saja aku menahannya untuk beberapa alasan. Kini saatnya aku melepaskan semua potensimu dan teruslah bertambah kuat". Sabrang meletakan telapak tangannya didada Arya.
Tubuh Arya memerah karena merasakan aura meluap dari dalam tubuhnya.
"Aku sudah melepaskan segel yang dipasang Naga api, kini kau akan tumbuh menjadi pendekar terkuat yang akan melampaui ku".
Sabrang menoleh kearah Wanita cantik yang selalu setia padanya dari awal dia menjadi pendekar.
"Aku akan kembali jika saatnya tiba, untuk sementara tolong jaga dia untukku". Sabrang melangkah mendekati Mentari dan memeluknya.
"Perasaanku padamu tak pernah berubah walau sudah ribuan tahun kita berpisah. Aku mencintaimu". Tubuh Sabrang perlahan menghilang sambil tersenyum lembut.
Mentari terlihat tersenyum bahagia setelah mendengar orang yang dicintainya berjanji akan kembali.
Arya tiba tiba memeluk Mentari dan mengelus kepalanya. "Bibi tenang saja, aku akan selalu bersamamu".
"Lepaskan tangan kotormu dan ingatlah aku adalah leluhurmu bodoh". Mentari memutar tubuhnya dan melepaskan sebuah pukulan ke tubuh Arya.
"Apa bibi sudah gila? aku hanya berusaha menghiburmu". Protes Arya pada Mentari.
Arya terbangun dari mimpinya dengan perut yang masih terasa sakit.
"Apakah semua itu nyata?". Gumam Arya dalam hati. Arkadewi yang melihat tingkah bodoh Arya hanya bisa menggerutu kesal.
Namun dalam hati, Arkadewi sedikit heran dengan perubahan aura ditubuh Arya yang jauh lebih bersinar dan samar samar dia mulai bisa merasakan tenaga dalam ditubuh Arya.
"Sepertinya dia sudah berubah jauh lebih bauk". gumam Arkadewi sedikit kagum.
Arya tiba tiba berdiri dengan wajah bodohnya, dia terlihat bergumam pelan sebelum tertawa keras dengan wajah mesum.
"Jika aku lebih kuat darinya maka bibi Mentari akan jatuh kepelukanku". Arya tertawa terbahak bahak.
Arya tidak terlalu yakin jika wanita secantik Mentari adalah leluhurnya. Dia merasa Sabrang berbohong padanya agar Arya tidak mendekati Mentari.
Wajah Arkadewi kembali masam saat melihat wajah mesum Arya.
"Sibodoh itu tak akan pernah bisa berubah" umpatnya dalam hati.
"Apa si bodoh ini bisa lebih kuat dari Sabrang?". Naga api menggeleng pelan.
Tak lama Mentari muncul dengan wajah berseri, dia terlihat begitu bahagia setelah bertemu Sabrang.
Arya berlari mendekat setelah melihat Mentari yang terlihat sangat cantik dengan gaun yang sudah lama tidak digunakannya.
Tingkah manja Arya pada Mentari membuat Arkadewi muak, dia bergerak maju dan memukul Arya sebelum pemuda itu mendekati Mentari.
"Apa kau tidak bisa menyembunyikan wajah mesum itu hah?". Bentak Arkadewi.
"Apa kau mempunyai dendam padaku? kau selalu memukul wajahku" suara Arya meninggi.
"Wajah mesum itu memang harus dipukul" balas Arkadewi.
"Hei nona, dia sepertinya mulai menyukaiku. Kau harus berusaha lebih keras". Goda Mentari sebelum mengajak Arya kembali berlatih.
"Bibi wanita ini menyiksaku" rengek Arya.
"Aku ikut". Ucap Arkadewi tiba tiba saat Mentari dan Arya melangkah keluar.
"Kau ingin ikut berlatih?". Mentari bertanya pelan.
Arakdewi menggeleng pelan "Tidak, aku hanya ingin menjaga bibi dari pemuda mesum ini" ucapnya ketus.
Mentari tertawa mendengar alasan Arkadewi namun akhirnya Mentari mengizinkannya karena suasana hatinya sedang baik.
\=\=\=\=\=\=
Chapter bonus buat kalian.. Berikan vote bonus jika kalian menyukai AMB....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
Keho
tengilnya Arya mengingatkan Wiro 212
2024-04-06
1
putra
huhh
2022-11-04
1
👑⚔Sabrang Damar⚔👑
Sabrang nya lg nyetir dulu di jalan tol cikampek km 45 .
2022-02-09
1