Setelah mengatakan apa yang di inginkan, Darren keluar begitu saja dari acara makan malamnya. Tanpa memperdulikan protes dari papa dan juga kakeknya yang memintanya untuk duduk kembali.
"Gila lu, ya! Habis mengatakan kalimat itu, malah pergi begitu saja. Di dalam suasananya jadi tegang tau gak!" Ucap Lucas yang menyusul Darren.
"Terus, aku harus perduli gitu?" Cuek Darren kembali berjalan menjauhi acara.
"Setidaknya kan bisa bicara yang baik-baik, kenapa malah pergi begitu saja? Apa kamu tidak lihat wajah kakek dan papamu?" Kata Lucas yang seolah kehabisan kata untuk membujuk Darren.
"Itu sudah bahasa yang paling sopan yang aku bisa, lagian kan lu yang menyuruhku menolak secara langsung, karena itu aku datang sekarang!" Ujarnya tetap tak merasa bersalah, dan memilih pergi meninggalkan Lucas yang masih mencoba untuk menjegahnya pergi.
Melihat Darren yang pergi, Lucas hanya bisa pasrah dengan sikapnya, lalu akhirnya juga mengikutinya pergi dari belakang.
"Darren, apa yang sebenarnya kamu lakukan?" Panggil seseorang dari belakang.
Merasa namanya dipanggil, Darren menghentikan langkahnya, dan menoleh ke arah sumber suara. Lucas yang berjalan dibelakang Darren pun ikut menghentikan langkahnya, dan saat ia menoleh kebelakang terlihat papa Darren yang berjalan ke arah mereka.
Darren terlihat tenang saat papanya berjalan ke arahnya, berbanding terbalik dengan Lucas yang sedikit tegang mengingat akan hubungan keduanya yang tak begitu baik.
"Papa bertanya, apa yang sebenarnya kamu lakukan tadi di dalam?" Ucap Edward yang kini berdiri dekat dengan Darren.
"Papa tanya apa yang aku lakukan? Kan, papa juga tau tadi, kenapa malah bertanya lagi?" Jawab Darren cuek.
Edward terlihat menahan amarahnya mendengar jawaban Darren. "Darren, kamu tau kan apa yang kamu lakukan itu bisa mencoreng nama baik perusahaan. Kamu sudah menolak beberapa kali ajakan makan malam, dan sekarang kamu malah mengacaukanya begitu saja." Tekan Edward menatap tajam putranya itu.
Darren tersenyum tak percaya mendengar ucapan papanya. "Dari dulu papa gak berubah, yang papa khawatirkan hanya soal image perusahaan." Ucapnya kemudian menatap berani mata papanya.
"Memangnya apa yang sudah aku lakukan, hingga mencoreng nama perusahaan? Aku hanya bilang tidak ingin menikah dengan Laura! Apa itu salah?" Lanjutnya.
"Setidaknya kamu bisa bilang dengan lebih sopan, kan? Bukanya pergi begitu saja seperti tidak beretika begitu."
Lucas yang berada di tengah-tengah ketegangan obrolan antara anak dan papanya itu, ternyata begitu menyiksa dirinya. Ia bahkan mencoba menekan ekspresinya yang terlihat ikut tegang.
"Aku sudah bicara sopan, memangnya mau sopan gimana lagi! Lagian dari awal aku memang tidak berniat untuk datang kesini. Soal pertunangan atau pernikahan itu juga, aku kan tidak pernah dilibatkan, kenapa sekarang papa jadi marah? Harusnya aku yang marah, bukan papa atau kakek!."
"Kamu.., pulanglah malam ini ke rumah." Edward terlihat kewalahan mendengar ucapan anaknya.
"Tidak mau, aku tidak akan pernah mau pulang." Tegas Darren pada ucapnya, lalu berbalik membelakangi papanya.
Darren pun pergi meninggalkan papanya yang masih ingin berbicara denganya. Ia seperti faham betul, jika pulang ke rumah akan menambah beban pikiranya kembali, mengingat ucapan ini tidak akan berakhir disini saja.
"Dimana anakmu? Apa dia sudah pulang?" Kakek Ferdi muncul ketika langkah Darren sudah terlihat menjauh.
"Iya, kenapa kakek ikut keluar? Memangnya keluarga Laura sudah pulang?" Edward cukup terkejut melihat kehadiran papanya.
"Memangnya ada alasan lagi mereka tetap tinggal, setelah kejadian tadi!" Jawab kakek Ferdi dengan ekspresi menahan kesal.
"Yasudah, kalau begitu kita juga ikut pulang saja." Ucap Edward mengusulkan.
"Apa yang kamu katakan pada anakmu?" Namun, kakek Ferdi sepertinya lebih tertarik dengan isi pembicaraan anak dan cucunya.
"Tidak banyak, aku hanya menegur sikapnya yang arogan tadi." Edward mengurungkan niatnya yang hendak pergi.
"Lalu apa jawaban darinya?"
Edward hanya diam mendapat pertanyaan itu, karena tak banyak yang bisa ia ceritakan. Namun, sepertinya kakek Ferdi sudah faham betul dengan karakter Darren.
"Sudahlah, turuti saja apa yang dia mau." Ucapnya kemudian.
"Maksud papa apa?" Edward terlihat bingung dengan maksud papanya.
"Ya soal pernikahan itu? Apa lagi memangnya!" Jawab kakek Ferdi.
"Tapi, kan.. Papa sendiri yang mengusulkan pernikahan ini sebelumnya?"
"Itu memang benar, tapi kalu dia menolak terus, aku harus apa? Aku juga jadi malu pada keluarga Laura." Ujar kakek Ferdi yang seolah menyerah pada pemberontakan cucunya.
"Kalau begitu kita harus bilang kepada orang tua Laura, mereka kan terlanjur senang dengan pembicaraan ini, terutama pada Lauranya sendiri." Sambung Edward.
"Benar, nanti kita atur jadwalnya lagi saja untuk membicarakan soal masalah ini. Jangan kasih tau anakmu dulu, apalagi istrimu itu." Lirik kakek sedikit tajam pada Edward. "Sekarang kita pulang saja dulu." Kakek Ferdi pun melangkahkan kakinya pelan keluar dari tempat pertemuan, yang di ikuti oleh Edward.
Namun tanpa mereka berdua sadari, obrolan keduanya terdengar oleh Natalie, istri dari Edward, sekaligus ibu tiri dari Darren.
"Apa! Jadi pernikahanya tidak jadi dilaksanakan?" Ucapnya kaget mendengar obrolan suami dan mertuanya. "Ini gawat, aku harus mencegahnya." Sambungnya, dan ikut pergi dari tempat acara dengan muka tak tenang.
"Dasar, keluarga aneh. Mereka main pergi-pergi aja, dan sekarang aku malah ditinggalin, coba!" Keluh Gloria, yang juga adik tiri dari Darren ketika melihat semua anggota keluarganya yang justru pergi meninggalkanya seorang diri.
"Ini semua gara-gara kak Darren, kenapa sih dia selalu saja menyusahkan begini! Tau gitu, aku gak ikut ke acara ini!" Gerutunya sambil cemberut keluar dari tempat acara.
...
Hubungan yang kaku antar keluarga Darren bukan lagi pemandangan yang aneh. Sikap cuek dan dingin Darren, juga salah satunya karena keluarganya sendiri.
Semenjak papanya menikah kembali setelah mamanya meninggal, hubungan Darren dan papanya tak lagi bisa seperti dulu. Begitupun dengan hubunganya dengan sang kakek yang terlihat sedikit berjarak, apalagi setelah kecelakaanya dulu, meski bukan kakeknya yang melakukanya, tetap saja membuat Darren sedikit menjaga jarak dengan sang kakek.
"Wah, rasanya aku merasa lega setelah keluar dari obrolan kalian tadi." Ucap Lucas yang sekarang bisa bernafas lega setelah menjauh dari obrolan yang menegangkan tadi.
"Kita mampir ke bar ya!" Kata Darren yang mengabaikan ucapan Lucas.
"Hah! Ngapain? Lu mau minum, emangnya?"
"Iya, aku lagi suntuk soalnya."
"Gak bisa, besok masih ada rapat. Jadi, lu gak boleh minum alkohol." Tegas Lucas.
"Bawa aku pulang saja kalau gitu."
"Nah, itu baru boleh."
Lucas dan Darren pun pergi dari tempat acara yang mereka datangi. Namun, tiba-tiba langkah Darren terhenti ketika tanpa sengaja menatap wajah seseorang yang lewat di depanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments