20. Hubungan Yang Kaku

Setelah mengatakan apa yang di inginkan, Darren keluar begitu saja dari acara makan malamnya. Tanpa memperdulikan protes dari papa dan juga kakeknya yang memintanya untuk duduk kembali.

"Gila lu, ya! Habis mengatakan kalimat itu, malah pergi begitu saja. Di dalam suasananya jadi tegang tau gak!" Ucap Lucas yang menyusul Darren.

"Terus, aku harus perduli gitu?" Cuek Darren kembali berjalan menjauhi acara.

"Setidaknya kan bisa bicara yang baik-baik, kenapa malah pergi begitu saja? Apa kamu tidak lihat wajah kakek dan papamu?" Kata Lucas yang seolah kehabisan kata untuk membujuk Darren.

"Itu sudah bahasa yang paling sopan yang aku bisa, lagian kan lu yang menyuruhku menolak secara langsung, karena itu aku datang sekarang!" Ujarnya tetap tak merasa bersalah, dan memilih pergi meninggalkan Lucas yang masih mencoba untuk menjegahnya pergi.

Melihat Darren yang pergi, Lucas hanya bisa pasrah dengan sikapnya, lalu akhirnya juga mengikutinya pergi dari belakang.

"Darren, apa yang sebenarnya kamu lakukan?" Panggil seseorang dari belakang.

Merasa namanya dipanggil, Darren menghentikan langkahnya, dan menoleh ke arah sumber suara. Lucas yang berjalan dibelakang Darren pun ikut menghentikan langkahnya, dan saat ia menoleh kebelakang terlihat papa Darren yang berjalan ke arah mereka.

Darren terlihat tenang saat papanya berjalan ke arahnya, berbanding terbalik dengan Lucas yang sedikit tegang mengingat akan hubungan keduanya yang tak begitu baik.

"Papa bertanya, apa yang sebenarnya kamu lakukan tadi di dalam?" Ucap Edward yang kini berdiri dekat dengan Darren.

"Papa tanya apa yang aku lakukan? Kan, papa juga tau tadi, kenapa malah bertanya lagi?" Jawab Darren cuek.

Edward terlihat menahan amarahnya mendengar jawaban Darren. "Darren, kamu tau kan apa yang kamu lakukan itu bisa mencoreng nama baik perusahaan. Kamu sudah menolak beberapa kali ajakan makan malam, dan sekarang kamu malah mengacaukanya begitu saja." Tekan Edward menatap tajam putranya itu.

Darren tersenyum tak percaya mendengar ucapan papanya. "Dari dulu papa gak berubah, yang papa khawatirkan hanya soal image perusahaan." Ucapnya kemudian menatap berani mata papanya.

"Memangnya apa yang sudah aku lakukan, hingga mencoreng nama perusahaan? Aku hanya bilang tidak ingin menikah dengan Laura! Apa itu salah?" Lanjutnya.

"Setidaknya kamu bisa bilang dengan lebih sopan, kan? Bukanya pergi begitu saja seperti tidak beretika begitu."

Lucas yang berada di tengah-tengah ketegangan obrolan antara anak dan papanya itu, ternyata begitu menyiksa dirinya. Ia bahkan mencoba menekan ekspresinya yang terlihat ikut tegang.

"Aku sudah bicara sopan, memangnya mau sopan gimana lagi! Lagian dari awal aku memang tidak berniat untuk datang kesini. Soal pertunangan atau pernikahan itu juga, aku kan tidak pernah dilibatkan, kenapa sekarang papa jadi marah? Harusnya aku yang marah, bukan papa atau kakek!."

"Kamu.., pulanglah malam ini ke rumah." Edward terlihat kewalahan mendengar ucapan anaknya.

"Tidak mau, aku tidak akan pernah mau pulang." Tegas Darren pada ucapnya, lalu berbalik membelakangi papanya.

Darren pun pergi meninggalkan papanya yang masih ingin berbicara denganya. Ia seperti faham betul, jika pulang ke rumah akan menambah beban pikiranya kembali, mengingat ucapan ini tidak akan berakhir disini saja.

"Dimana anakmu? Apa dia sudah pulang?" Kakek Ferdi muncul ketika langkah Darren sudah terlihat menjauh.

"Iya, kenapa kakek ikut keluar? Memangnya keluarga Laura sudah pulang?" Edward cukup terkejut melihat kehadiran papanya.

"Memangnya ada alasan lagi mereka tetap tinggal, setelah kejadian tadi!" Jawab kakek Ferdi dengan ekspresi menahan kesal.

"Yasudah, kalau begitu kita juga ikut pulang saja." Ucap Edward mengusulkan.

"Apa yang kamu katakan pada anakmu?" Namun, kakek Ferdi sepertinya lebih tertarik dengan isi pembicaraan anak dan cucunya.

"Tidak banyak, aku hanya menegur sikapnya yang arogan tadi." Edward mengurungkan niatnya yang hendak pergi.

"Lalu apa jawaban darinya?"

Edward hanya diam mendapat pertanyaan itu, karena tak banyak yang bisa ia ceritakan. Namun, sepertinya kakek Ferdi sudah faham betul dengan karakter Darren.

"Sudahlah, turuti saja apa yang dia mau." Ucapnya kemudian.

"Maksud papa apa?" Edward terlihat bingung dengan maksud papanya.

"Ya soal pernikahan itu? Apa lagi memangnya!" Jawab kakek Ferdi.

"Tapi, kan.. Papa sendiri yang mengusulkan pernikahan ini sebelumnya?"

"Itu memang benar, tapi kalu dia menolak terus, aku harus apa? Aku juga jadi malu pada keluarga Laura." Ujar kakek Ferdi yang seolah menyerah pada pemberontakan cucunya.

"Kalau begitu kita harus bilang kepada orang tua Laura, mereka kan terlanjur senang dengan pembicaraan ini, terutama pada Lauranya sendiri." Sambung Edward.

"Benar, nanti kita atur jadwalnya lagi saja untuk membicarakan soal masalah ini. Jangan kasih tau anakmu dulu, apalagi istrimu itu." Lirik kakek sedikit tajam pada Edward. "Sekarang kita pulang saja dulu." Kakek Ferdi pun melangkahkan kakinya pelan keluar dari tempat pertemuan, yang di ikuti oleh Edward.

Namun tanpa mereka berdua sadari, obrolan keduanya terdengar oleh Natalie, istri dari Edward, sekaligus ibu tiri dari Darren.

"Apa! Jadi pernikahanya tidak jadi dilaksanakan?" Ucapnya kaget mendengar obrolan suami dan mertuanya. "Ini gawat, aku harus mencegahnya." Sambungnya, dan ikut pergi dari tempat acara dengan muka tak tenang.

"Dasar, keluarga aneh. Mereka main pergi-pergi aja, dan sekarang aku malah ditinggalin, coba!" Keluh Gloria, yang juga adik tiri dari Darren ketika melihat semua anggota keluarganya yang justru pergi meninggalkanya seorang diri.

"Ini semua gara-gara kak Darren, kenapa sih dia selalu saja menyusahkan begini! Tau gitu, aku gak ikut ke acara ini!" Gerutunya sambil cemberut keluar dari tempat acara.

...

Hubungan yang kaku antar keluarga Darren bukan lagi pemandangan yang aneh. Sikap cuek dan dingin Darren, juga salah satunya karena keluarganya sendiri.

Semenjak papanya menikah kembali setelah mamanya meninggal, hubungan Darren dan papanya tak lagi bisa seperti dulu. Begitupun dengan hubunganya dengan sang kakek yang terlihat sedikit berjarak, apalagi setelah kecelakaanya dulu, meski bukan kakeknya yang melakukanya, tetap saja membuat Darren sedikit menjaga jarak dengan sang kakek.

"Wah, rasanya aku merasa lega setelah keluar dari obrolan kalian tadi." Ucap Lucas yang sekarang bisa bernafas lega setelah menjauh dari obrolan yang menegangkan tadi.

"Kita mampir ke bar ya!" Kata Darren yang mengabaikan ucapan Lucas.

"Hah! Ngapain? Lu mau minum, emangnya?"

"Iya, aku lagi suntuk soalnya."

"Gak bisa, besok masih ada rapat. Jadi, lu gak boleh minum alkohol." Tegas Lucas.

"Bawa aku pulang saja kalau gitu."

"Nah, itu baru boleh."

Lucas dan Darren pun pergi dari tempat acara yang mereka datangi. Namun, tiba-tiba langkah Darren terhenti ketika tanpa sengaja menatap wajah seseorang yang lewat di depanya.

Episodes
1 1. Melbourne
2 2. Airin's Garden
3 3. Permataku
4 4. Pulang Kerumah Bibi
5 5. Status Baru
6 6. Hikmah Memilikinya
7 7. Kehangatan Mengelilingiku
8 8. Bertemu Teman Lama
9 9. Rasa Yang Tertinggal
10 10. Mengantar Pesanan Bunga
11 11. Bertemu Denganya
12 12. Dia Ada Di Depanku, Namun Tak Bisa Ku Dekati
13 13. Kenyataan Yang Menghuncam
14 14. Pikiran Yang Mengganggu
15 15. Ingatan Yang Tiba-tiba Muncul
16 16. Kecelakaan Berakibat Fatal
17 17. Memori Yang Hilang
18 18. Hal Yang Dilupakan
19 19. Suara Hati
20 20. Hubungan Yang Kaku
21 21. Ada Yang Janggal
22 22. Big News
23 23. Gawat!
24 24. Hati Yang Terluka
25 25. Bayangan Akan Dirinya
26 26. Masih Merindukannya?
27 27. Mencari Jawaban
28 28. Ingin Mencari Titik Terangnya
29 29. Mencari Arka Yang Hilang
30 30. Pertemuan Yang Tak Diharapkan
31 31. Begitu Dekat, Namun Terasa Jauh
32 32. Harus Bagaimana?
33 33. Perasaan Yang Aneh Ketika Melihatnya
34 34. Serpihan Ingatan
35 35. Perempuan Yang Sama?
36 36. Ketika Hati Telah Terikat Oleh Perasaan
37 37. Awal Dari Puzzle
38 38. Potongan Puzzle
39 39. Susunan Pazzle
40 40. Titik Terangnya
41 41. Mengatakan Kebenaran
42 42. Perjalanan Airin Membesarkan Anaknya
43 43. Mencari Harapan
44 44. Jatuh Sakit
45 45. Sebuah Firasat
46 46. Momen Kedekatan
47 47. Kenangan Masa Lalu
48 48. Pulang Dari Rumah Sakit
49 49. Airin dan Keputusannya
50 50. Darren Yang Merasa Aneh
51 51. Identitas Diri
52 52. Akhirnya Pulang
53 53. Tak Lagi Berharap
54 54. Ada Yang Salah
55 55. Keputusan Yang Sulit
56 56. Teka Teki
57 57. Sebuah Gambaran
58 58. Siluet Bayangan
59 59. Harapan Tiba?
60 60. Langkah Darren
61 61. Pergolakan Hati
62 62. Isi Hati Seorang Arkana
63 63. Kepingan Cerita
64 64. Berita Yang Mengejutkan
65 65. Pertemuan Yang Tak Terduga
66 66. Arka Sudah Tau?
67 67. Darren Akhirnya Ingat?
68 68. Kenangan dan Harapan
69 69. Rasa Mengharukan
70 70. Tampil Bersama
71 71. Kumpul Bertiga?
72 72. Perasaan Yang Tertahan
73 73. Babak Baru
74 74. Berbagi Cerita
75 75. Breaking News
76 76. Ikatan Batin
77 77. Langkah Yang Tak Mudah
78 78. Sidang Keluarga
79 79. Langkah Selanjutnya
80 80. Langkah Awal
81 81. Airin dan Bunga
82 82. Kesalahpahaman
83 83. Kecemasan
84 84. Meminta Maaf
85 85. Perkenalan Diri Dari Darren
86 86. Meredakan Amarah Airin
87 87. Penjelasan Darren
88 88. Mencari Airin
89 89. Mencari Airin 2
90 90. Menemukanmu
91 91. Bertemu
92 92. Emosional
93 93. Hukuman
94 94. Menebus Kesalahan
95 95. Airin Sadar
Episodes

Updated 95 Episodes

1
1. Melbourne
2
2. Airin's Garden
3
3. Permataku
4
4. Pulang Kerumah Bibi
5
5. Status Baru
6
6. Hikmah Memilikinya
7
7. Kehangatan Mengelilingiku
8
8. Bertemu Teman Lama
9
9. Rasa Yang Tertinggal
10
10. Mengantar Pesanan Bunga
11
11. Bertemu Denganya
12
12. Dia Ada Di Depanku, Namun Tak Bisa Ku Dekati
13
13. Kenyataan Yang Menghuncam
14
14. Pikiran Yang Mengganggu
15
15. Ingatan Yang Tiba-tiba Muncul
16
16. Kecelakaan Berakibat Fatal
17
17. Memori Yang Hilang
18
18. Hal Yang Dilupakan
19
19. Suara Hati
20
20. Hubungan Yang Kaku
21
21. Ada Yang Janggal
22
22. Big News
23
23. Gawat!
24
24. Hati Yang Terluka
25
25. Bayangan Akan Dirinya
26
26. Masih Merindukannya?
27
27. Mencari Jawaban
28
28. Ingin Mencari Titik Terangnya
29
29. Mencari Arka Yang Hilang
30
30. Pertemuan Yang Tak Diharapkan
31
31. Begitu Dekat, Namun Terasa Jauh
32
32. Harus Bagaimana?
33
33. Perasaan Yang Aneh Ketika Melihatnya
34
34. Serpihan Ingatan
35
35. Perempuan Yang Sama?
36
36. Ketika Hati Telah Terikat Oleh Perasaan
37
37. Awal Dari Puzzle
38
38. Potongan Puzzle
39
39. Susunan Pazzle
40
40. Titik Terangnya
41
41. Mengatakan Kebenaran
42
42. Perjalanan Airin Membesarkan Anaknya
43
43. Mencari Harapan
44
44. Jatuh Sakit
45
45. Sebuah Firasat
46
46. Momen Kedekatan
47
47. Kenangan Masa Lalu
48
48. Pulang Dari Rumah Sakit
49
49. Airin dan Keputusannya
50
50. Darren Yang Merasa Aneh
51
51. Identitas Diri
52
52. Akhirnya Pulang
53
53. Tak Lagi Berharap
54
54. Ada Yang Salah
55
55. Keputusan Yang Sulit
56
56. Teka Teki
57
57. Sebuah Gambaran
58
58. Siluet Bayangan
59
59. Harapan Tiba?
60
60. Langkah Darren
61
61. Pergolakan Hati
62
62. Isi Hati Seorang Arkana
63
63. Kepingan Cerita
64
64. Berita Yang Mengejutkan
65
65. Pertemuan Yang Tak Terduga
66
66. Arka Sudah Tau?
67
67. Darren Akhirnya Ingat?
68
68. Kenangan dan Harapan
69
69. Rasa Mengharukan
70
70. Tampil Bersama
71
71. Kumpul Bertiga?
72
72. Perasaan Yang Tertahan
73
73. Babak Baru
74
74. Berbagi Cerita
75
75. Breaking News
76
76. Ikatan Batin
77
77. Langkah Yang Tak Mudah
78
78. Sidang Keluarga
79
79. Langkah Selanjutnya
80
80. Langkah Awal
81
81. Airin dan Bunga
82
82. Kesalahpahaman
83
83. Kecemasan
84
84. Meminta Maaf
85
85. Perkenalan Diri Dari Darren
86
86. Meredakan Amarah Airin
87
87. Penjelasan Darren
88
88. Mencari Airin
89
89. Mencari Airin 2
90
90. Menemukanmu
91
91. Bertemu
92
92. Emosional
93
93. Hukuman
94
94. Menebus Kesalahan
95
95. Airin Sadar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!