"Minum dulu ya." Rahma menenangkan Airin yang masih kalut dalam kesedihannya.
Dengan memandang anak yang dibawa oleh Airin, sepertinya Rahma sudah bisa menebaknya. Namun, dia tak bertanya, karena menunggu sampai Airin tenang terlebih dahulu. Apalagi sempat rewel anak yang dibawanya tadi, hingga harus menenangkan juga anaknya yang terus menangis tanpa henti, namun setelah beberapa waktu akhirnya bisa tertidur juga dengan tenang anaknya setelah diberi susu dan ditenangkan dalam gendongan oleh Airin.
"Apa kamu sudah tenang sekarang?" Tanya Rahma yang kini duduk disamping Airin.
Airin hanya mengangguk mendengar pertanyaan itu dari bibinya, karena lidahnya yang seolah keluh untuk sekedar menjawabnya.
"Bibi tidak akan marah, karena itu kamu bisa bicara dengan bibi sekarang. Tapi, kalau kamu masih tidak mau mengatakanya, yasudah nanti saja kita bicarakan lagi sampai kamu siap." Kata bi Rahma mencoba memahami posisi Airin.
Airin hanya menunduk, tampak ragu untuk mengatakan pada bibinya. Rahma yang menyadari kondisi keponakanya yang masih belum stabil, kembali menenangkanya dan membiarkanya untuk sendiri terlebih dahulu.
"Bu, kak Airin kenapa?" Tanya Dava pada ibunya yang keluar dari kamar Airin berada saat ini.
"Hush, kamu jangan tanya-tanya dulu, biarin kak Airin sendiri dulu." Jawab bi Rahma memperingatkan anaknya.
"Terus anak itu siapa?" Tanya Dava lagi dengan penuh penasaran, menghiraukan imbauan ibunya.
"Di bilang diam, dasar ini anak" Rahma menggiring anaknya untuk segera menjauh dan sedikit menutup mulutnya agar tak banyak bertanya lagi.
"Sudah kamu diam aja, sana masuk ke kamar kamu." Pinta sang ayah yang ikut nimbrung.
"Dasar pelit, orang tanya kok gak boleh." Gerutu Dava dengan muka kesal, lalu masuk ke dalam kamarnya.
Rahma dan suaminya hanya bisa menggelengkan kepala pada sang anak semata wayangnya itu. Anak yang selalu bikin rusuh dan penuh ingin tahu pada hal-hal yang harusnya tidak perlu ia tahu itu terkadang sangat menyulitkan bagi mereka sebagai orang tua.
"Sekarang yang aku khawatirkan itu si Dava, takut dia bicara yang tidak-tidak nanti." Ucap bi Rahma menghawatirkan anaknya yang suka ceplas-ceplos saat bicara itu.
"Nanti aku akan memberi tahu dia, biar dia lebih diam dan gak banyak bicara nanti." Kata Bilal, suami bi Rahma, yang juga paman dari Airin.
"Iya, kalau gak diperingati lagi, nanti anaknya akan jadi tanya-tanya terus." Kata bi Rahma mengacu pada anaknya yang sedikit kepoan. "Tapi pak, apa bapak tidak masalah dengan kehadiran Airin disini?" Tanyanya pada sang suami.
"Ya gapapa, dia kan keponakanku juga. Airin juga sudah aku anggap seperti anakku sendiri." Jawab Bilal tak masalah dengan kehadiran Airin dirumahnya.
"Tapi kan, saat ini.." Kata Rahma dengan agak tak enak pada suaminya, tentang kondisi keponakannya saat ini.
"Sudah kamu tidak usah merasa khawatir soal itu, mau bagaimanapun kan dia tetap bagian dari keluarga kita. Apalagi dia keponakanmu sendiri, jadi ya sewajarnya kalau kita menerimanya, kan?" Balas Bilal, yang sedikitnya faham maksud dari istrinya.
Sejujurnya Rahma tak masalah dengan Airin yang datang kerumahnya, karena mengingat Airin yang merupakan keponakan kandungnya, namun tetap ada rasa tak nyaman pada suaminya yang tak ada hubungan darah dengan Airin.
"Sebenarnya aku tak tega sama dia, mengingat sudah tidak ada lagi orang tua disampingnya, tapi meski begitu dia bisa mendapatkan beasiswa ke luar negeri karena usahanya sendiri, jadi aku sedikit bangga padanya. Tadinya bingung apakah harus menampungnya, tapi kalau tidak, dia akan tinggal dimana?" Kata Rahma menangis haru dengan kondisi dan perjuangan Airin.
"Terimakasih ya pak sudah mau menerima Airin disini." Ucap Rahma pada kebaikan suaminya yang mau menerima sang keponakan.
"Dia kan juga keponakanku, jadi wajar saja kalau aku juga menerimanya. Apa kamu pikir aku paman yang akan dengan tega membiarkan keponakannya hidup terlantar begitu? apalagi ada anak disampingnya sekarang."
Rahma tahu bahwa suaminya tak akan begitu, tapi karena Airin yang merupakan keponakannya, tetap ada rasa tak nyaman pada suaminya itu. "Bapak kan bukan paman kandungnya, jadi wajar kalau aku berfikir begitu, meski aku juga tidak berpikir bapak akan begitu sih.." Ungkap Rahma pada sang suami.
...
Di tengah obrolan bibi dan pamanya, Airin di dalam kamar tampak merenung menatap wajah sang anak yang lagi tertidur pulas. Lagi-lagi air matanya menetes keluar ketika menatap wajah sang anak.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Ucapnya menangis menatap anaknya.
Airin memutuskan pulang kerumah bibinya setelah sempat bingung harus membawa anaknya kemana, dalam kebingungannya dia akhirnya memutuskan pulang kerumah bibinya setelah dengan susah payah memikirkannya.
"Aku malu pada paman, apa tidak apa kalau aku tinggal disini?" Ucapnya menghawatirkan sikap pamannya padanya nanti. "Sepertinya aku harus berbicara sama mereka." Lanjutnya yang sudah mulai tenang dan hendak mencari keberadaan paman dan bibinya untuk berbicara pada mereka soal kondisinya saat ini.
Ia meninggalkan sejenak anak yang sedang tertidur pulas itu, dan berjalan keluar kamar untuk menemui paman dan bibinya, yang ternyata sedang mengobrol berdua di ruang tamu.
"Bik.." Panggil Airin kemudian ketika melihat bibinya.
"Oh Airin, ada apa? apa kamu butuh sesuatu sama bibi?" Tanya bi Rahma melihat Airin yang keluar dari kamarnya.
"Enggak bik, ada hal yang mau aku bicarakan sama bibi, sama paman juga. Aku boleh kan duduk disini?" Kata Airin.
Rahma dan Bilal saling pandang, "Iya duduk saja, apa kamu yakin sama paman juga? apa tidak sebaiknya kamu obrolin dulu sama bibimu?" Tanya Bilal yang merasa sadar akan posisinya.
"Enggak paman, aku juga ingin bicara sama paman." Jawab Airin.
"Baiklah."
Airin pun mulai mengatakan kondisinya, dari awal hingga alasanya membawa seorang anak pulang kerumah sekarang. Meski dengan tangisan, Airin mencoba untuk mengatakanya tanpa ada celah pada bibi dan pamannya.
"Maafkan saya bi, Airin jadi mengecewakan bibi seperti ini." Ucapnya selesai menceritakan kondisinya pada bibinya dengan air mata yang masih membasahi pipinya.
Rahma tampak terdiam, hatinya tampak sedih mendengarnya, karena tak kuasa melihat nasib keponakan yang selalu ia banggakan itu.
"Bibi tidak bilang kalau tidak kecewa pada kamu, hanya saja bibi merasa sedih mendengarnya, karena kamu harus mengalami hal seperti ini" Ucap Rahma kemudian mencoba untuk tetap tenang menghadapi situasi ini. "Baiklah terimakasih sudah menceritakan sama bibi dan juga pamanmu." Ucapnya lagi.
"Bibi gak marah sama Airin?" Tanya Airin heran.
Rahma menghela nafas sejenak, "Yang penting sekarang itu, kamu dan anak kamu bisa hidup dengan baik, aku lihat dia sedikit kurusan, pasti kamu banyak mengalami kesulitan disana." Sambungnya lagi.
"Apa Airin dan anak Airin boleh tinggal disini?" Tanya Airin.
"Aku sudah bicara sama pamanmu, kamu dan anakmu boleh tinggal disini." Jawab Rahma.
"Iya tinggal saja disini, kasihan anakmu nanti." Timpal paman Airin.
"Terimakasih paman, dan maaf jadi merepotkan kalian." Kata Airin tak henti menangis bahagia.
"Sudah jangan nangis lagi, kita ini kan keluarga, jadi sewajarnya paman dan bibimu menerimamu. Tapi, ngomong-ngomong, apa kamu sudah memberi nama pada anakmu?" Tanya Bilal.
"Sudah, aku memberinya nama Arkana."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
𝐈𝐬𝐭𝐲
sebenarnya ini ceritanya menarik tapi takutnya reader's pada bingung termasuk saya🤭🙏
2022-11-11
0
𝐈𝐬𝐭𝐲
maaf nih thor ini ceritanya bikin bingung, kadang flashback kadang masa sekarang, kalo misal mau flashback 2 aja dlu trs kalo flashback sudah selesai baru cerita masa sekarang, jadi bacanya gak bingung, maaf ya thor cuma kasih pendapat aja🙏
2022-11-11
0