4. Pulang Kerumah Bibi

"Minum dulu ya." Rahma menenangkan Airin yang masih kalut dalam kesedihannya.

Dengan memandang anak yang dibawa oleh Airin, sepertinya Rahma sudah bisa menebaknya. Namun, dia tak bertanya, karena menunggu sampai Airin tenang terlebih dahulu. Apalagi sempat rewel anak yang dibawanya tadi, hingga harus menenangkan juga anaknya yang terus menangis tanpa henti, namun setelah beberapa waktu akhirnya bisa tertidur juga dengan tenang anaknya setelah diberi susu dan ditenangkan dalam gendongan oleh Airin.

"Apa kamu sudah tenang sekarang?" Tanya Rahma yang kini duduk disamping Airin.

Airin hanya mengangguk mendengar pertanyaan itu dari bibinya, karena lidahnya yang seolah keluh untuk sekedar menjawabnya.

"Bibi tidak akan marah, karena itu kamu bisa bicara dengan bibi sekarang. Tapi, kalau kamu masih tidak mau mengatakanya, yasudah nanti saja kita bicarakan lagi sampai kamu siap." Kata bi Rahma mencoba memahami posisi Airin.

Airin hanya menunduk, tampak ragu untuk mengatakan pada bibinya. Rahma yang menyadari kondisi keponakanya yang masih belum stabil, kembali menenangkanya dan membiarkanya untuk sendiri terlebih dahulu.

"Bu, kak Airin kenapa?" Tanya Dava pada ibunya yang keluar dari kamar Airin berada saat ini.

"Hush, kamu jangan tanya-tanya dulu, biarin kak Airin sendiri dulu." Jawab bi Rahma memperingatkan anaknya.

"Terus anak itu siapa?" Tanya Dava lagi dengan penuh penasaran, menghiraukan imbauan ibunya.

"Di bilang diam, dasar ini anak" Rahma menggiring anaknya untuk segera menjauh dan sedikit menutup mulutnya agar tak banyak bertanya lagi.

"Sudah kamu diam aja, sana masuk ke kamar kamu." Pinta sang ayah yang ikut nimbrung.

"Dasar pelit, orang tanya kok gak boleh." Gerutu Dava dengan muka kesal, lalu masuk ke dalam kamarnya.

Rahma dan suaminya hanya bisa menggelengkan kepala pada sang anak semata wayangnya itu. Anak yang selalu bikin rusuh dan penuh ingin tahu pada hal-hal yang harusnya tidak perlu ia tahu itu terkadang sangat menyulitkan bagi mereka sebagai orang tua.

"Sekarang yang aku khawatirkan itu si Dava, takut dia bicara yang tidak-tidak nanti." Ucap bi Rahma menghawatirkan anaknya yang suka ceplas-ceplos saat bicara itu.

"Nanti aku akan memberi tahu dia, biar dia lebih diam dan gak banyak bicara nanti." Kata Bilal, suami bi Rahma, yang juga paman dari Airin.

"Iya, kalau gak diperingati lagi, nanti anaknya akan jadi tanya-tanya terus." Kata bi Rahma mengacu pada anaknya yang sedikit kepoan. "Tapi pak, apa bapak tidak masalah dengan kehadiran Airin disini?" Tanyanya pada sang suami.

"Ya gapapa, dia kan keponakanku juga. Airin juga sudah aku anggap seperti anakku sendiri." Jawab Bilal tak masalah dengan kehadiran Airin dirumahnya.

"Tapi kan, saat ini.." Kata Rahma dengan agak tak enak pada suaminya, tentang kondisi keponakannya saat ini.

"Sudah kamu tidak usah merasa khawatir soal itu, mau bagaimanapun kan dia tetap bagian dari keluarga kita. Apalagi dia keponakanmu sendiri, jadi ya sewajarnya kalau kita menerimanya, kan?" Balas Bilal, yang sedikitnya faham maksud dari istrinya.

Sejujurnya Rahma tak masalah dengan Airin yang datang kerumahnya, karena mengingat Airin yang merupakan keponakan kandungnya, namun tetap ada rasa tak nyaman pada suaminya yang tak ada hubungan darah dengan Airin.

"Sebenarnya aku tak tega sama dia, mengingat sudah tidak ada lagi orang tua disampingnya, tapi meski begitu dia bisa mendapatkan beasiswa ke luar negeri karena usahanya sendiri, jadi aku sedikit bangga padanya. Tadinya bingung apakah harus menampungnya, tapi kalau tidak, dia akan tinggal dimana?" Kata Rahma menangis haru dengan kondisi dan perjuangan Airin.

"Terimakasih ya pak sudah mau menerima Airin disini." Ucap Rahma pada kebaikan suaminya yang mau menerima sang keponakan.

"Dia kan juga keponakanku, jadi wajar saja kalau aku juga menerimanya. Apa kamu pikir aku paman yang akan dengan tega membiarkan keponakannya hidup terlantar begitu? apalagi ada anak disampingnya sekarang."

Rahma tahu bahwa suaminya tak akan begitu, tapi karena Airin yang merupakan keponakannya, tetap ada rasa tak nyaman pada suaminya itu. "Bapak kan bukan paman kandungnya, jadi wajar kalau aku berfikir begitu, meski aku juga tidak berpikir bapak akan begitu sih.." Ungkap Rahma pada sang suami.

...

Di tengah obrolan bibi dan pamanya, Airin di dalam kamar tampak merenung menatap wajah sang anak yang lagi tertidur pulas. Lagi-lagi air matanya menetes keluar ketika menatap wajah sang anak.

"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Ucapnya menangis menatap anaknya.

Airin memutuskan pulang kerumah bibinya setelah sempat bingung harus membawa anaknya kemana, dalam kebingungannya dia akhirnya memutuskan pulang kerumah bibinya setelah dengan susah payah memikirkannya.

"Aku malu pada paman, apa tidak apa kalau aku tinggal disini?" Ucapnya menghawatirkan sikap pamannya padanya nanti. "Sepertinya aku harus berbicara sama mereka." Lanjutnya yang sudah mulai tenang dan hendak mencari keberadaan paman dan bibinya untuk berbicara pada mereka soal kondisinya saat ini.

Ia meninggalkan sejenak anak yang sedang tertidur pulas itu, dan berjalan keluar kamar untuk menemui paman dan bibinya, yang ternyata sedang mengobrol berdua di ruang tamu.

"Bik.." Panggil Airin kemudian ketika melihat bibinya.

"Oh Airin, ada apa? apa kamu butuh sesuatu sama bibi?" Tanya bi Rahma melihat Airin yang keluar dari kamarnya.

"Enggak bik, ada hal yang mau aku bicarakan sama bibi, sama paman juga. Aku boleh kan duduk disini?" Kata Airin.

Rahma dan Bilal saling pandang, "Iya duduk saja, apa kamu yakin sama paman juga? apa tidak sebaiknya kamu obrolin dulu sama bibimu?" Tanya Bilal yang merasa sadar akan posisinya.

"Enggak paman, aku juga ingin bicara sama paman." Jawab Airin.

"Baiklah."

Airin pun mulai mengatakan kondisinya, dari awal hingga alasanya membawa seorang anak pulang kerumah sekarang. Meski dengan tangisan, Airin mencoba untuk mengatakanya tanpa ada celah pada bibi dan pamannya.

"Maafkan saya bi, Airin jadi mengecewakan bibi seperti ini." Ucapnya selesai menceritakan kondisinya pada bibinya dengan air mata yang masih membasahi pipinya.

Rahma tampak terdiam, hatinya tampak sedih mendengarnya, karena tak kuasa melihat nasib keponakan yang selalu ia banggakan itu.

"Bibi tidak bilang kalau tidak kecewa pada kamu, hanya saja bibi merasa sedih mendengarnya, karena kamu harus mengalami hal seperti ini" Ucap Rahma kemudian mencoba untuk tetap tenang menghadapi situasi ini. "Baiklah terimakasih sudah menceritakan sama bibi dan juga pamanmu." Ucapnya lagi.

"Bibi gak marah sama Airin?" Tanya Airin heran.

Rahma menghela nafas sejenak, "Yang penting sekarang itu, kamu dan anak kamu bisa hidup dengan baik, aku lihat dia sedikit kurusan, pasti kamu banyak mengalami kesulitan disana." Sambungnya lagi.

"Apa Airin dan anak Airin boleh tinggal disini?" Tanya Airin.

"Aku sudah bicara sama pamanmu, kamu dan anakmu boleh tinggal disini." Jawab Rahma.

"Iya tinggal saja disini, kasihan anakmu nanti." Timpal paman Airin.

"Terimakasih paman, dan maaf jadi merepotkan kalian." Kata Airin tak henti menangis bahagia.

"Sudah jangan nangis lagi, kita ini kan keluarga, jadi sewajarnya paman dan bibimu menerimamu. Tapi, ngomong-ngomong, apa kamu sudah memberi nama pada anakmu?" Tanya Bilal.

"Sudah, aku memberinya nama Arkana."

Terpopuler

Comments

𝐈𝐬𝐭𝐲

𝐈𝐬𝐭𝐲

sebenarnya ini ceritanya menarik tapi takutnya reader's pada bingung termasuk saya🤭🙏

2022-11-11

0

𝐈𝐬𝐭𝐲

𝐈𝐬𝐭𝐲

maaf nih thor ini ceritanya bikin bingung, kadang flashback kadang masa sekarang, kalo misal mau flashback 2 aja dlu trs kalo flashback sudah selesai baru cerita masa sekarang, jadi bacanya gak bingung, maaf ya thor cuma kasih pendapat aja🙏

2022-11-11

0

lihat semua
Episodes
1 1. Melbourne
2 2. Airin's Garden
3 3. Permataku
4 4. Pulang Kerumah Bibi
5 5. Status Baru
6 6. Hikmah Memilikinya
7 7. Kehangatan Mengelilingiku
8 8. Bertemu Teman Lama
9 9. Rasa Yang Tertinggal
10 10. Mengantar Pesanan Bunga
11 11. Bertemu Denganya
12 12. Dia Ada Di Depanku, Namun Tak Bisa Ku Dekati
13 13. Kenyataan Yang Menghuncam
14 14. Pikiran Yang Mengganggu
15 15. Ingatan Yang Tiba-tiba Muncul
16 16. Kecelakaan Berakibat Fatal
17 17. Memori Yang Hilang
18 18. Hal Yang Dilupakan
19 19. Suara Hati
20 20. Hubungan Yang Kaku
21 21. Ada Yang Janggal
22 22. Big News
23 23. Gawat!
24 24. Hati Yang Terluka
25 25. Bayangan Akan Dirinya
26 26. Masih Merindukannya?
27 27. Mencari Jawaban
28 28. Ingin Mencari Titik Terangnya
29 29. Mencari Arka Yang Hilang
30 30. Pertemuan Yang Tak Diharapkan
31 31. Begitu Dekat, Namun Terasa Jauh
32 32. Harus Bagaimana?
33 33. Perasaan Yang Aneh Ketika Melihatnya
34 34. Serpihan Ingatan
35 35. Perempuan Yang Sama?
36 36. Ketika Hati Telah Terikat Oleh Perasaan
37 37. Awal Dari Puzzle
38 38. Potongan Puzzle
39 39. Susunan Pazzle
40 40. Titik Terangnya
41 41. Mengatakan Kebenaran
42 42. Perjalanan Airin Membesarkan Anaknya
43 43. Mencari Harapan
44 44. Jatuh Sakit
45 45. Sebuah Firasat
46 46. Momen Kedekatan
47 47. Kenangan Masa Lalu
48 48. Pulang Dari Rumah Sakit
49 49. Airin dan Keputusannya
50 50. Darren Yang Merasa Aneh
51 51. Identitas Diri
52 52. Akhirnya Pulang
53 53. Tak Lagi Berharap
54 54. Ada Yang Salah
55 55. Keputusan Yang Sulit
56 56. Teka Teki
57 57. Sebuah Gambaran
58 58. Siluet Bayangan
59 59. Harapan Tiba?
60 60. Langkah Darren
61 61. Pergolakan Hati
62 62. Isi Hati Seorang Arkana
63 63. Kepingan Cerita
64 64. Berita Yang Mengejutkan
65 65. Pertemuan Yang Tak Terduga
66 66. Arka Sudah Tau?
67 67. Darren Akhirnya Ingat?
68 68. Kenangan dan Harapan
69 69. Rasa Mengharukan
70 70. Tampil Bersama
71 71. Kumpul Bertiga?
72 72. Perasaan Yang Tertahan
73 73. Babak Baru
74 74. Berbagi Cerita
75 75. Breaking News
76 76. Ikatan Batin
77 77. Langkah Yang Tak Mudah
78 78. Sidang Keluarga
79 79. Langkah Selanjutnya
80 80. Langkah Awal
81 81. Airin dan Bunga
82 82. Kesalahpahaman
83 83. Kecemasan
84 84. Meminta Maaf
85 85. Perkenalan Diri Dari Darren
86 86. Meredakan Amarah Airin
87 87. Penjelasan Darren
88 88. Mencari Airin
89 89. Mencari Airin 2
90 90. Menemukanmu
91 91. Bertemu
92 92. Emosional
93 93. Hukuman
94 94. Menebus Kesalahan
95 95. Airin Sadar
Episodes

Updated 95 Episodes

1
1. Melbourne
2
2. Airin's Garden
3
3. Permataku
4
4. Pulang Kerumah Bibi
5
5. Status Baru
6
6. Hikmah Memilikinya
7
7. Kehangatan Mengelilingiku
8
8. Bertemu Teman Lama
9
9. Rasa Yang Tertinggal
10
10. Mengantar Pesanan Bunga
11
11. Bertemu Denganya
12
12. Dia Ada Di Depanku, Namun Tak Bisa Ku Dekati
13
13. Kenyataan Yang Menghuncam
14
14. Pikiran Yang Mengganggu
15
15. Ingatan Yang Tiba-tiba Muncul
16
16. Kecelakaan Berakibat Fatal
17
17. Memori Yang Hilang
18
18. Hal Yang Dilupakan
19
19. Suara Hati
20
20. Hubungan Yang Kaku
21
21. Ada Yang Janggal
22
22. Big News
23
23. Gawat!
24
24. Hati Yang Terluka
25
25. Bayangan Akan Dirinya
26
26. Masih Merindukannya?
27
27. Mencari Jawaban
28
28. Ingin Mencari Titik Terangnya
29
29. Mencari Arka Yang Hilang
30
30. Pertemuan Yang Tak Diharapkan
31
31. Begitu Dekat, Namun Terasa Jauh
32
32. Harus Bagaimana?
33
33. Perasaan Yang Aneh Ketika Melihatnya
34
34. Serpihan Ingatan
35
35. Perempuan Yang Sama?
36
36. Ketika Hati Telah Terikat Oleh Perasaan
37
37. Awal Dari Puzzle
38
38. Potongan Puzzle
39
39. Susunan Pazzle
40
40. Titik Terangnya
41
41. Mengatakan Kebenaran
42
42. Perjalanan Airin Membesarkan Anaknya
43
43. Mencari Harapan
44
44. Jatuh Sakit
45
45. Sebuah Firasat
46
46. Momen Kedekatan
47
47. Kenangan Masa Lalu
48
48. Pulang Dari Rumah Sakit
49
49. Airin dan Keputusannya
50
50. Darren Yang Merasa Aneh
51
51. Identitas Diri
52
52. Akhirnya Pulang
53
53. Tak Lagi Berharap
54
54. Ada Yang Salah
55
55. Keputusan Yang Sulit
56
56. Teka Teki
57
57. Sebuah Gambaran
58
58. Siluet Bayangan
59
59. Harapan Tiba?
60
60. Langkah Darren
61
61. Pergolakan Hati
62
62. Isi Hati Seorang Arkana
63
63. Kepingan Cerita
64
64. Berita Yang Mengejutkan
65
65. Pertemuan Yang Tak Terduga
66
66. Arka Sudah Tau?
67
67. Darren Akhirnya Ingat?
68
68. Kenangan dan Harapan
69
69. Rasa Mengharukan
70
70. Tampil Bersama
71
71. Kumpul Bertiga?
72
72. Perasaan Yang Tertahan
73
73. Babak Baru
74
74. Berbagi Cerita
75
75. Breaking News
76
76. Ikatan Batin
77
77. Langkah Yang Tak Mudah
78
78. Sidang Keluarga
79
79. Langkah Selanjutnya
80
80. Langkah Awal
81
81. Airin dan Bunga
82
82. Kesalahpahaman
83
83. Kecemasan
84
84. Meminta Maaf
85
85. Perkenalan Diri Dari Darren
86
86. Meredakan Amarah Airin
87
87. Penjelasan Darren
88
88. Mencari Airin
89
89. Mencari Airin 2
90
90. Menemukanmu
91
91. Bertemu
92
92. Emosional
93
93. Hukuman
94
94. Menebus Kesalahan
95
95. Airin Sadar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!