6. Hikmah Memilikinya

Buah yang lahir dari rahimku adalah malaikat yang penuh dengan harapan baru bagiku. Menatap lembut sang anak yang masih balita itu dengan penuh cinta dan kasih sayang. Airin mencoba menjalani kehidupan keduanya setelah memiliki seorang anak diusia mudanya.

Tak mudah pastinya, mengingat ini adalah hal yang diluar bayanganya. Sempat merasakan stress berat, bahkan depresi karena harus mengurus anak yang baru lahir seorang diri di negeri orang, membuat beban tersendiri bagi dirinya, hingga hampir menyerah untuk melanjutkan kehidupan.

"Namanya Arkana, bagus banget." Celetuk Rahma yang ikut melihat anak dari keponakanya yang tengah tertidur pulas setelah perjalanan jauh dari Australia.

"Iya, meski sebelumnya sempat bingung mau memberi nama apa padanya." Jawab Airin yang sudah benar-benar tenang sekarang, setelah menangis tanpa henti sepulangnya kerumah bibinya.

"Bagus kok, arti dari namanya juga bagus banget. Usianya berapa sekarang?" Tanya Rahma mengusap lembut anak keponakanya.

"Dua tahun." Jawab Airin.

"Kamu pasti kesusahan ya mengurusnya seorang diri disana, apalagi kamu harus kuliah juga. Tapi, apa tidak apa-apa soal kuliahmu disana? soalnya kan kamu anak beasiswa?" Tanya bibi lagi.

Airin terdiam, ia agak ragu untuk menjawabnya, dan entah mengapa ekspresinya berubah menjadi sedih mendengar pertanyaan itu dari bibinya. "Aku sempat mau menyerah karena merasa malu dengan kondisiku, aku mengurung diri dan tak banyak melakukan aktivitas, namun aku memilih untuk tetap melanjutkan kuliahku meski aku harus kehilangan beasiswaku, karena harus mengambil cuti disaat mau lulus, dan aku juga yang tak bisa menceritakan alasan cutiku." Jelas Airin kemudian.

"Pasti berat ya harus cuti disaat mau lulus, merawat anak kecil tanpa bantuan siapapun, bahkan sampai harus kehilangan beasiswa. Tapi, kenapa kamu tidak mencoba untuk mengabari bibi? Dengan begitu kan bibi bisa membantumu." Ujar bibi merasa kasihan pada nasib keponakanya itu.

"Aku cuti selama 2 tahun untuk membesarkan Arka, sambil kerja paruh waktu untuk biaya hidup disana, meski awalnya aku ingin berhenti kuliah saja karena tak sanggup, apalagi setelah mendengar beasiswaku di cabut, jadi tambah tidak semangat meski agak menyayangkannya. Namun, karena teman asramaku yang terus mendorongku untuk melanjutkan kuliah, akhirnya aku pun melanjutkannya, mereka juga yang membantuku selama mengalami kesulitan membesarkan Arka." Jelas Airin mengingat momen perjuanganya di Autralia.

"Astaga baiknya, beruntung banget kamu bisa bertemu teman yang baik seperti itu, bibi jadi ingin mengucapkan terimakasih sama mereka." Timpal bibi yang merasa terharu mendengar kebaikan teman Airin.

"Iya, aku beruntung mengenal mereka. Aku jadi merasa tidak sendiri selama disana, karena bantuan dari mereka, meski tak banyak yang mereka bantu karena sama-sama masih mahasiswa, namun aku cukup merasa terbantu, karena kadang mereka yang membantuku untuk menemani Arka saat aku kuliah." Jelas Airin.

Rahma terlihat termenung mendengar cerita dari keponakanya, merasa prihatin namun juga bahagia karena dia yang tak menyerah.

"Aku minta maaf ya bi, soal Airin yang tidak bisa memberitahu bibi sebelumnya, itu karena Airin merasa malu pada bibi dengan kondisiku saat itu, bahkan jika nanti bibi tahu bahwa aku tidak kuliah lagi, pasti bibi akan sedih dan kecewa sama Airin." Ucapnya meminta maaf pada bibinya.

"Meski begitu, bagaimana bisa kamu tidak memberitahu bibi sama sekali, untuk apa kamu berjuang sendirian disana padahal bibimu masih ada." Balas Rahma yang merasa sedih karena tak banyak membantu keponakanya.

"Maafkan aku bi, saat itu aku benar-benar kacau. Aku bingung dan merasa frustrasi sekali saat menghadapinya, apalagi kalau mengingat.." Airin terdiam sejenak, seolah tak sanggup melanjutkan kalimatnya, "Ayah dari Arka yang tak juga bisa dihubungi." Lanjutnya kemudian dengan ekspresi sedih.

Rahma menghela nafas panjang, ekspresinya tampak kesal jika mengingat ayah dari Arka yang justru menghilang tanpa kabar dan meninggalkan Airin seorang diri. Namun, meski begitu Rahma tak bisa meluapkannya begitu saja kekesalanya, karena mau bagaimanapun Airin juga ada salahnya, karena telah melakukan hal bodoh itu, apalagi dengan orang yang baru ia kenal tak lebih dari 1 tahun.

"Katamu beasiswamu di cabut, lalu bagaimana kamu membiayai kuliah dan kehidupanmu disana? Apalagi membesarkan Arka juga?" Tanya Rahma kemudian, mencoba mengalihkan rasa kesalnya pada situasi saat ini.

"Itu.." Airin tampak ragu untuk berkata jujur pada bibinya, hingga dengan penuh keraguan menjeda kalimat yang mau ia katakan sebelumnya, "Saya.. menjual barang pemberian dari dirinya yang aku tinggal dalam apartemen miliknya." Jawab Airin.

Rahma tampak kaget mendengarnya, "Apa? Apa tidak masalah dengan itu? Kalau kamu dituduh mencuri bagaimana? Lalu bagaimana caranya kamu bisa masuk ke apartemen nya?" Tanya Rahma dengan berbondong pertanyaan yang penuh rasa khawatir.

"Saya frustrasi karena tak kunjung mendengar kabar darinya, bahkan telfonya juga tak aktif, karena itu aku kembali ke apartemen miliknya, dengan harapan aku bisa menemuinya, namun nihil. Apartemen nya kosong, meski berulang kali aku memencet tombol apartemen, tak ada sahutan dari penghuni di dalamnya. Aku merasa frustrasi, hingga iseng memencet tombol sandinya." Jelas Airin.

"Dan kamu berhasil memencet tombol sandinya? Bagaimana bisa?"

"Aku juga tidak tau, karena dia tak pernah memberitahuku sebelumnya, namun entah mengapa aku teringat akan perkataanya yang pernah bilang kalau tak bisa mengingat kata sandi yang terlalu rumit, karena itu aku mencoba memasukan tanggal jadian kita, dan tidak menyangkanya itu bisa berhasil, meski itu percobaan yang kesian kalinya." Jawab Airin yang juga merasa tak percaya akan keajaiban itu.

......................

"Woi Arka, jangan jauh-jauh mainya, nanti om susah nyarinya." Teriak Dava melihat Arka yang terlalu bersemangat hingga berlari mengelilingi taman tanpa henti.

"Ayo om, coba kejar Arka." Teriak Arka, pada Dava yang tengah duduk memperhatikanya dirinya bermain.

"Kalau om tangkap, Arka harus cium om Dava lho." Dava pun berlari mengejar Arka, hingga membuat Arka seketika berlari menjauh dari Dava yang mulai menghampirinya.

Keduanya berlari dengan ceria sambil main kejar-kejaran. Terlihat jelas muka Arka yang bahagia bermain dengan Dava ditaman dekat rumahnya, begitupun dengan Dava yang terlihat begitu sabar dan penuh perhatian dalam meladeni Arka.

"Udah ah, om capek nih." Ucap Dava merasa tak sanggup lagi mengikuti irama kecepatan dan keluesan dari Arka yang super aktif. Ia terduduk lemas setelah berputar lebih dari tiga kali untuk mengejar Arka yang terus berlari dan menghindar darinya.

"Ah om payah," Ledek Arka yang berjalan menghampiri Dava yang kelelahan dengan sedikit ngos-ngosan.

"Ketangkap." Ucap Dava memeluk Arka yang berjalan menghapiri dirinya.

"Ah.. gak mau, om Dava curang." Berontak Arka yang ingin melepaskan dirinya dari dekapan Dava.

"Gak bisa, Arka udah ketangkep sama om Dava, jadi sekarang waktunya pulang."

"Gak mau, Arka masih mau main." Rengek Arka yang tak ingin pulang.

"Gak bisa dong, kan sudah petang, nanti dimarahi sama mama kamu lho." Ucap Dava, membuat Arka akhirnya menurut untuk pulang.

Mereka pun pulang, dan Dava memilih menggendong Arka yang hendak kabur darinya, karena masih mau main dan tak mau pulang

"Kalian habis dari main ya?" Sapa seseorang sekembalinya mereka dari taman.

Terpopuler

Comments

Inayah Riyadi

Inayah Riyadi

ceritanya bikin bingung kalo mau crita dari awal aja sampe habis jadi mbacanya ga bingung

2024-12-06

0

lihat semua
Episodes
1 1. Melbourne
2 2. Airin's Garden
3 3. Permataku
4 4. Pulang Kerumah Bibi
5 5. Status Baru
6 6. Hikmah Memilikinya
7 7. Kehangatan Mengelilingiku
8 8. Bertemu Teman Lama
9 9. Rasa Yang Tertinggal
10 10. Mengantar Pesanan Bunga
11 11. Bertemu Denganya
12 12. Dia Ada Di Depanku, Namun Tak Bisa Ku Dekati
13 13. Kenyataan Yang Menghuncam
14 14. Pikiran Yang Mengganggu
15 15. Ingatan Yang Tiba-tiba Muncul
16 16. Kecelakaan Berakibat Fatal
17 17. Memori Yang Hilang
18 18. Hal Yang Dilupakan
19 19. Suara Hati
20 20. Hubungan Yang Kaku
21 21. Ada Yang Janggal
22 22. Big News
23 23. Gawat!
24 24. Hati Yang Terluka
25 25. Bayangan Akan Dirinya
26 26. Masih Merindukannya?
27 27. Mencari Jawaban
28 28. Ingin Mencari Titik Terangnya
29 29. Mencari Arka Yang Hilang
30 30. Pertemuan Yang Tak Diharapkan
31 31. Begitu Dekat, Namun Terasa Jauh
32 32. Harus Bagaimana?
33 33. Perasaan Yang Aneh Ketika Melihatnya
34 34. Serpihan Ingatan
35 35. Perempuan Yang Sama?
36 36. Ketika Hati Telah Terikat Oleh Perasaan
37 37. Awal Dari Puzzle
38 38. Potongan Puzzle
39 39. Susunan Pazzle
40 40. Titik Terangnya
41 41. Mengatakan Kebenaran
42 42. Perjalanan Airin Membesarkan Anaknya
43 43. Mencari Harapan
44 44. Jatuh Sakit
45 45. Sebuah Firasat
46 46. Momen Kedekatan
47 47. Kenangan Masa Lalu
48 48. Pulang Dari Rumah Sakit
49 49. Airin dan Keputusannya
50 50. Darren Yang Merasa Aneh
51 51. Identitas Diri
52 52. Akhirnya Pulang
53 53. Tak Lagi Berharap
54 54. Ada Yang Salah
55 55. Keputusan Yang Sulit
56 56. Teka Teki
57 57. Sebuah Gambaran
58 58. Siluet Bayangan
59 59. Harapan Tiba?
60 60. Langkah Darren
61 61. Pergolakan Hati
62 62. Isi Hati Seorang Arkana
63 63. Kepingan Cerita
64 64. Berita Yang Mengejutkan
65 65. Pertemuan Yang Tak Terduga
66 66. Arka Sudah Tau?
67 67. Darren Akhirnya Ingat?
68 68. Kenangan dan Harapan
69 69. Rasa Mengharukan
70 70. Tampil Bersama
71 71. Kumpul Bertiga?
72 72. Perasaan Yang Tertahan
73 73. Babak Baru
74 74. Berbagi Cerita
75 75. Breaking News
76 76. Ikatan Batin
77 77. Langkah Yang Tak Mudah
78 78. Sidang Keluarga
79 79. Langkah Selanjutnya
80 80. Langkah Awal
81 81. Airin dan Bunga
82 82. Kesalahpahaman
83 83. Kecemasan
84 84. Meminta Maaf
85 85. Perkenalan Diri Dari Darren
86 86. Meredakan Amarah Airin
87 87. Penjelasan Darren
88 88. Mencari Airin
89 89. Mencari Airin 2
90 90. Menemukanmu
91 91. Bertemu
92 92. Emosional
93 93. Hukuman
94 94. Menebus Kesalahan
95 95. Airin Sadar
Episodes

Updated 95 Episodes

1
1. Melbourne
2
2. Airin's Garden
3
3. Permataku
4
4. Pulang Kerumah Bibi
5
5. Status Baru
6
6. Hikmah Memilikinya
7
7. Kehangatan Mengelilingiku
8
8. Bertemu Teman Lama
9
9. Rasa Yang Tertinggal
10
10. Mengantar Pesanan Bunga
11
11. Bertemu Denganya
12
12. Dia Ada Di Depanku, Namun Tak Bisa Ku Dekati
13
13. Kenyataan Yang Menghuncam
14
14. Pikiran Yang Mengganggu
15
15. Ingatan Yang Tiba-tiba Muncul
16
16. Kecelakaan Berakibat Fatal
17
17. Memori Yang Hilang
18
18. Hal Yang Dilupakan
19
19. Suara Hati
20
20. Hubungan Yang Kaku
21
21. Ada Yang Janggal
22
22. Big News
23
23. Gawat!
24
24. Hati Yang Terluka
25
25. Bayangan Akan Dirinya
26
26. Masih Merindukannya?
27
27. Mencari Jawaban
28
28. Ingin Mencari Titik Terangnya
29
29. Mencari Arka Yang Hilang
30
30. Pertemuan Yang Tak Diharapkan
31
31. Begitu Dekat, Namun Terasa Jauh
32
32. Harus Bagaimana?
33
33. Perasaan Yang Aneh Ketika Melihatnya
34
34. Serpihan Ingatan
35
35. Perempuan Yang Sama?
36
36. Ketika Hati Telah Terikat Oleh Perasaan
37
37. Awal Dari Puzzle
38
38. Potongan Puzzle
39
39. Susunan Pazzle
40
40. Titik Terangnya
41
41. Mengatakan Kebenaran
42
42. Perjalanan Airin Membesarkan Anaknya
43
43. Mencari Harapan
44
44. Jatuh Sakit
45
45. Sebuah Firasat
46
46. Momen Kedekatan
47
47. Kenangan Masa Lalu
48
48. Pulang Dari Rumah Sakit
49
49. Airin dan Keputusannya
50
50. Darren Yang Merasa Aneh
51
51. Identitas Diri
52
52. Akhirnya Pulang
53
53. Tak Lagi Berharap
54
54. Ada Yang Salah
55
55. Keputusan Yang Sulit
56
56. Teka Teki
57
57. Sebuah Gambaran
58
58. Siluet Bayangan
59
59. Harapan Tiba?
60
60. Langkah Darren
61
61. Pergolakan Hati
62
62. Isi Hati Seorang Arkana
63
63. Kepingan Cerita
64
64. Berita Yang Mengejutkan
65
65. Pertemuan Yang Tak Terduga
66
66. Arka Sudah Tau?
67
67. Darren Akhirnya Ingat?
68
68. Kenangan dan Harapan
69
69. Rasa Mengharukan
70
70. Tampil Bersama
71
71. Kumpul Bertiga?
72
72. Perasaan Yang Tertahan
73
73. Babak Baru
74
74. Berbagi Cerita
75
75. Breaking News
76
76. Ikatan Batin
77
77. Langkah Yang Tak Mudah
78
78. Sidang Keluarga
79
79. Langkah Selanjutnya
80
80. Langkah Awal
81
81. Airin dan Bunga
82
82. Kesalahpahaman
83
83. Kecemasan
84
84. Meminta Maaf
85
85. Perkenalan Diri Dari Darren
86
86. Meredakan Amarah Airin
87
87. Penjelasan Darren
88
88. Mencari Airin
89
89. Mencari Airin 2
90
90. Menemukanmu
91
91. Bertemu
92
92. Emosional
93
93. Hukuman
94
94. Menebus Kesalahan
95
95. Airin Sadar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!