Buah yang lahir dari rahimku adalah malaikat yang penuh dengan harapan baru bagiku. Menatap lembut sang anak yang masih balita itu dengan penuh cinta dan kasih sayang. Airin mencoba menjalani kehidupan keduanya setelah memiliki seorang anak diusia mudanya.
Tak mudah pastinya, mengingat ini adalah hal yang diluar bayanganya. Sempat merasakan stress berat, bahkan depresi karena harus mengurus anak yang baru lahir seorang diri di negeri orang, membuat beban tersendiri bagi dirinya, hingga hampir menyerah untuk melanjutkan kehidupan.
"Namanya Arkana, bagus banget." Celetuk Rahma yang ikut melihat anak dari keponakanya yang tengah tertidur pulas setelah perjalanan jauh dari Australia.
"Iya, meski sebelumnya sempat bingung mau memberi nama apa padanya." Jawab Airin yang sudah benar-benar tenang sekarang, setelah menangis tanpa henti sepulangnya kerumah bibinya.
"Bagus kok, arti dari namanya juga bagus banget. Usianya berapa sekarang?" Tanya Rahma mengusap lembut anak keponakanya.
"Dua tahun." Jawab Airin.
"Kamu pasti kesusahan ya mengurusnya seorang diri disana, apalagi kamu harus kuliah juga. Tapi, apa tidak apa-apa soal kuliahmu disana? soalnya kan kamu anak beasiswa?" Tanya bibi lagi.
Airin terdiam, ia agak ragu untuk menjawabnya, dan entah mengapa ekspresinya berubah menjadi sedih mendengar pertanyaan itu dari bibinya. "Aku sempat mau menyerah karena merasa malu dengan kondisiku, aku mengurung diri dan tak banyak melakukan aktivitas, namun aku memilih untuk tetap melanjutkan kuliahku meski aku harus kehilangan beasiswaku, karena harus mengambil cuti disaat mau lulus, dan aku juga yang tak bisa menceritakan alasan cutiku." Jelas Airin kemudian.
"Pasti berat ya harus cuti disaat mau lulus, merawat anak kecil tanpa bantuan siapapun, bahkan sampai harus kehilangan beasiswa. Tapi, kenapa kamu tidak mencoba untuk mengabari bibi? Dengan begitu kan bibi bisa membantumu." Ujar bibi merasa kasihan pada nasib keponakanya itu.
"Aku cuti selama 2 tahun untuk membesarkan Arka, sambil kerja paruh waktu untuk biaya hidup disana, meski awalnya aku ingin berhenti kuliah saja karena tak sanggup, apalagi setelah mendengar beasiswaku di cabut, jadi tambah tidak semangat meski agak menyayangkannya. Namun, karena teman asramaku yang terus mendorongku untuk melanjutkan kuliah, akhirnya aku pun melanjutkannya, mereka juga yang membantuku selama mengalami kesulitan membesarkan Arka." Jelas Airin mengingat momen perjuanganya di Autralia.
"Astaga baiknya, beruntung banget kamu bisa bertemu teman yang baik seperti itu, bibi jadi ingin mengucapkan terimakasih sama mereka." Timpal bibi yang merasa terharu mendengar kebaikan teman Airin.
"Iya, aku beruntung mengenal mereka. Aku jadi merasa tidak sendiri selama disana, karena bantuan dari mereka, meski tak banyak yang mereka bantu karena sama-sama masih mahasiswa, namun aku cukup merasa terbantu, karena kadang mereka yang membantuku untuk menemani Arka saat aku kuliah." Jelas Airin.
Rahma terlihat termenung mendengar cerita dari keponakanya, merasa prihatin namun juga bahagia karena dia yang tak menyerah.
"Aku minta maaf ya bi, soal Airin yang tidak bisa memberitahu bibi sebelumnya, itu karena Airin merasa malu pada bibi dengan kondisiku saat itu, bahkan jika nanti bibi tahu bahwa aku tidak kuliah lagi, pasti bibi akan sedih dan kecewa sama Airin." Ucapnya meminta maaf pada bibinya.
"Meski begitu, bagaimana bisa kamu tidak memberitahu bibi sama sekali, untuk apa kamu berjuang sendirian disana padahal bibimu masih ada." Balas Rahma yang merasa sedih karena tak banyak membantu keponakanya.
"Maafkan aku bi, saat itu aku benar-benar kacau. Aku bingung dan merasa frustrasi sekali saat menghadapinya, apalagi kalau mengingat.." Airin terdiam sejenak, seolah tak sanggup melanjutkan kalimatnya, "Ayah dari Arka yang tak juga bisa dihubungi." Lanjutnya kemudian dengan ekspresi sedih.
Rahma menghela nafas panjang, ekspresinya tampak kesal jika mengingat ayah dari Arka yang justru menghilang tanpa kabar dan meninggalkan Airin seorang diri. Namun, meski begitu Rahma tak bisa meluapkannya begitu saja kekesalanya, karena mau bagaimanapun Airin juga ada salahnya, karena telah melakukan hal bodoh itu, apalagi dengan orang yang baru ia kenal tak lebih dari 1 tahun.
"Katamu beasiswamu di cabut, lalu bagaimana kamu membiayai kuliah dan kehidupanmu disana? Apalagi membesarkan Arka juga?" Tanya Rahma kemudian, mencoba mengalihkan rasa kesalnya pada situasi saat ini.
"Itu.." Airin tampak ragu untuk berkata jujur pada bibinya, hingga dengan penuh keraguan menjeda kalimat yang mau ia katakan sebelumnya, "Saya.. menjual barang pemberian dari dirinya yang aku tinggal dalam apartemen miliknya." Jawab Airin.
Rahma tampak kaget mendengarnya, "Apa? Apa tidak masalah dengan itu? Kalau kamu dituduh mencuri bagaimana? Lalu bagaimana caranya kamu bisa masuk ke apartemen nya?" Tanya Rahma dengan berbondong pertanyaan yang penuh rasa khawatir.
"Saya frustrasi karena tak kunjung mendengar kabar darinya, bahkan telfonya juga tak aktif, karena itu aku kembali ke apartemen miliknya, dengan harapan aku bisa menemuinya, namun nihil. Apartemen nya kosong, meski berulang kali aku memencet tombol apartemen, tak ada sahutan dari penghuni di dalamnya. Aku merasa frustrasi, hingga iseng memencet tombol sandinya." Jelas Airin.
"Dan kamu berhasil memencet tombol sandinya? Bagaimana bisa?"
"Aku juga tidak tau, karena dia tak pernah memberitahuku sebelumnya, namun entah mengapa aku teringat akan perkataanya yang pernah bilang kalau tak bisa mengingat kata sandi yang terlalu rumit, karena itu aku mencoba memasukan tanggal jadian kita, dan tidak menyangkanya itu bisa berhasil, meski itu percobaan yang kesian kalinya." Jawab Airin yang juga merasa tak percaya akan keajaiban itu.
......................
"Woi Arka, jangan jauh-jauh mainya, nanti om susah nyarinya." Teriak Dava melihat Arka yang terlalu bersemangat hingga berlari mengelilingi taman tanpa henti.
"Ayo om, coba kejar Arka." Teriak Arka, pada Dava yang tengah duduk memperhatikanya dirinya bermain.
"Kalau om tangkap, Arka harus cium om Dava lho." Dava pun berlari mengejar Arka, hingga membuat Arka seketika berlari menjauh dari Dava yang mulai menghampirinya.
Keduanya berlari dengan ceria sambil main kejar-kejaran. Terlihat jelas muka Arka yang bahagia bermain dengan Dava ditaman dekat rumahnya, begitupun dengan Dava yang terlihat begitu sabar dan penuh perhatian dalam meladeni Arka.
"Udah ah, om capek nih." Ucap Dava merasa tak sanggup lagi mengikuti irama kecepatan dan keluesan dari Arka yang super aktif. Ia terduduk lemas setelah berputar lebih dari tiga kali untuk mengejar Arka yang terus berlari dan menghindar darinya.
"Ah om payah," Ledek Arka yang berjalan menghampiri Dava yang kelelahan dengan sedikit ngos-ngosan.
"Ketangkap." Ucap Dava memeluk Arka yang berjalan menghapiri dirinya.
"Ah.. gak mau, om Dava curang." Berontak Arka yang ingin melepaskan dirinya dari dekapan Dava.
"Gak bisa, Arka udah ketangkep sama om Dava, jadi sekarang waktunya pulang."
"Gak mau, Arka masih mau main." Rengek Arka yang tak ingin pulang.
"Gak bisa dong, kan sudah petang, nanti dimarahi sama mama kamu lho." Ucap Dava, membuat Arka akhirnya menurut untuk pulang.
Mereka pun pulang, dan Dava memilih menggendong Arka yang hendak kabur darinya, karena masih mau main dan tak mau pulang
"Kalian habis dari main ya?" Sapa seseorang sekembalinya mereka dari taman.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Inayah Riyadi
ceritanya bikin bingung kalo mau crita dari awal aja sampe habis jadi mbacanya ga bingung
2024-12-06
0