"Bagaimana kalau kita saling bergantung?''
"Aku mencintaimu, A..''
Dan, prang.., Darren menjatuhkan minuman yang tengah ia pegang, ketika kepalanya tiba-tiba saja berdenyut dengan potongan kecil mucul dalam ingatanya. Ia bahkan tak memperdulikan pecahan gelas dan noda minuman yang tumpah dan mengenai sela celanannya.
''Darren, bangun, ayo kita pergi saja dari sini.'' Ucap Lucas menggoyangkan tubuh Darren yang masih diam terpaku dengan ekspresinya yang tengah menahan sakit di kepalanya.
Lucas menggiring Darren keluar dari acara, dan membawanya pulang segera, mengingat dirinya saat ini tengah jadi pusat perhatian. Lucas terlihat khawatir melihat kondisi Darren yang tampak kacau, bahkan Darren tetap diam di dalam mobil ketika dalam perjalanan pulang.
"Lo gapapa? Apa kepalmu sakit lagi?" Tanya Lucas pada Darren yang masih diam memegang kepalanya.
"Kita pulang saja ke apartmenku, aku gak mau pulang ke rumah." Kata Darren yang akhirnya berbicara, meski masih memegang kepalanya yang sedari tadi berdenyut.
Sial, kenapa ingatan itu muncul lagi? Dan lagi, kenapa harus disaat seperti ini?
Batin Darren yang merasa kesal pada ingatan itu yang selalu muncul dalam pikiranya, yang pasti akan menimbulkan rasa sakit pada kepalannya.
"Apa ingatan itu muncul lagi?" Tanya Lucas mengacu pada rasa sakit Darren.
"Em.." Jawab Darren dengan singkat, dan masih memegang kepalanya yang masih terus saja berdenyut.
"Padahal sudah hampir dua tahun tidak muncul, kenapa sekarang tiba-tiba muncul lagi?" Heran Lucas pada hal itu.
"Benar? Kenapa sekarang jadi muncul lagi?"
Darre tampaknya juga merasa heran dengan itu, karena dalam dua tahun ini dia bisa hidup dengan tenang tanpa rasa sakit itu lagi, dan entah mengapa hal ini bisa muncul kembali dalam dirinya.
"Apa ini karena efek dari kecelakaan itu, ya?"
Meski mencoba mengingat, ia masih tak bisa memahami ingatan-ingatan kecil yang selalu mengusik kepalanya itu, hingga membuatnya mengerang kesakitan setiap kali hal itu muncul dalam kepalanya. Bahkan ketika ia yang baru tersadar dari koma panjangnya setelah kecelakaan, Darren masih belum menemukan kembali jawabanya.
"Apa nanti mau dipanggilkan dokter Heru?" Tanya Lucas mengacu pada dokter pribadi Darren.
"Nggak usah, hari ini aku mau istirahat saja." Jawab Darren yang terlihat tak bersemangat.
...
Di tempat yang berbeda, Airin terlihat menata hatinya ketika hendak kembali kerumah untuk menemui bibi dan anaknya, ia bahkan merapikan penampilanya yang sempat berantakan karena terus menangis. Meski sisa-sisa air matanya masih terlihat, karena matanya benar-benar tidak bisa bohong jika habis menangis.
"Duh, mereka nanti bakal curiga tidak, ya?" Gumamnya menatap matanya yang merah karena tangisanya, lalu mencoba merapikan penampilanya lagi dan kembali masuk kedalam rumah setelah turun dari mobil.
"Mama..." Panggil Arka begitu melihat keberadaan Airin, lalu berlari menghampirinya.
Dan Airin langsung menyambut Arka dengan merentangkan kedua tanganya. "Arka pasti menunggu mama, ya?" Ucapnya sembari memeluknya.
"Iya, kenapa mama lama banget." Jawab Arka
Sambil memeluk Airin dengan muka cemberutnya.
"Duh, dari tadi dia merengek minta ketemu sama kamu." Ucap bi Rahma yang mengikuti Arka dari belakang, dan ikut menyambut kedatangan Airin.
"Wah benarkah?, maafin mama, ya? Kalau begitu ayo masuk." Cium Airin pada pipi putranya itu, lalu menggendongnya masuk kedalam rumah.
"Kenapa kamu baru pulang? Memangnya macet banget, ya? atau justru ada masalah sama kirimanya?" Tanya bi Rahma yang ikut masuk kedalam rumah.
"Enggak kok, bi. Tadi memang agak macet juga, tapi alasan Airin pulang terlambat karena ikut melihat pesta pernikahanya Silvia, jadi tadi Airin tertahan disana." Jelas Airin pada bi Rahma, meski raut wajahnya mengatakan tak enak karena sedikit berbohong padanya.
"Oh gitu, yasudah kalau memang begitu. Tadi bibi sempat khawatir karena kamu belum juga pulang sedari tadi." Bi Rahma tak lagi mempermasalahkan hal yang menjadi ke khawatiranya sedari tadi, mengingat Airin yang sudah pulang dengan selamat, dan ia membiarkan Airin dan Arka yang hendak menuju kamar.
Padahal Airin sudah mengantisipasi jika ditanya akan matanya yang sempat sembab karena menangis, namun anehnya tak ditanya oleh sang bibi.
"Sepertinya bibi tidak memperhatikanya?" Batinya yang melihat bibinya tak menanyai soal penampilanya.
Airin hanya bisa menghela nafas lega akan itu, karena ia juga sempat merasa bingung jika ditanya nanti.
"Mama, tadi om Dava ke sekolahan Arka, lho.." Celetuk Arka ketika Airin menurunkanya di atas kasur begitu sampai dikamar.
"Om Dava? Kenapa om Dava ke sekolahannya Arka? Bukanya om Dava masih ada sekolah, ya?" Tanya Airin kemudian, menatap wajah anaknya lekat.
"Gak tau, dia hanya memberikan ini sama Arka, lalu pergi lagi." Jawab Arka sambil menunjukkan sebuah mainan yang tengah dia pegang.
Airin tersenyum menatap mainan yang tengah dipegang oleh anaknya, dan menggelengkan kepala pada tingkah adik sepupunya itu.
"Pasti tadi dia coba bolos, kan? Dasar Dava, kalau bibi tau gimana, coba?" Airin kehilangan kata pada tingkah adik sepupunya itu.
"Oh, iya, Arka sudah makan siang belum tadi?" Tanya Airin yang kini beralih menatap anaknya.
"Udah kok, tadi Arka disuapin sama ibu Rahma." Jawab Arka menatap Airin dengan senyum merekahnya.
Begitu menatap wajah sang anak, entah mengapa Airin menjadi teringat kembali akan pertemuanya dengan Darren tadi. Ia menatap lekat wajah sang anak yang terlihat begitu mirip dengan Darren, bahkan sudah seperti cetakan karena kemiripanya.
"Mereka benar-benar mirip. Apa yang harus aku lakukan jika dia tau nanti? Terlebih dengan Arka, apa yang akan aku lakukan jika suatu hari nanti dia bisa bertemu dengan ayahnya?"
Agaknya, Airin takut jika Arka tau soal ayahnya, namun akan menjadi sedih ketika ayahnya sendiri bahkan tak mengingat akan dirinya.
Mungkin tak hanya bagi Arka, sampai sekarang pun Airin masih mencoba mencari jawabanya ketika melihat orang yang dulu pernah mengisi hatinya menjadi tak mengenalinya.
"Dia yang tak mengenaliku saja sudah masalah, jadi tidak mungkin aku membicarakan hal ini pada bibi dan paman, apalagi pada Arka yang tak tahu apa-apa."
Airin terduduk lemas begitu memikirkan hal itu, hatinya begitu sakit hingga rasanya ingin meluapkan emosinya, namun tertahan dengan adanya Arka di depanya.
"Mama ganti baju dulu, ya? Habis itu kita keluar sama-sama." Ucapnya pada sang anak yang tengah asik bermain.
"Ok." Jawab Arka menyetujui perkataan mamanya.
...
Dalam kamarnya setelah kembalinya dari acara pernikahan, Darren kembali memikirkan pertemuannya dengan Airin, begitu juga dengan rasa sakit yang ia alami karena ingatan itu muncul kembali setelah sekian lama.
"Meski aku berusaha melupakanya, tapi itu benar-benar tidak berhasil." Gumamnya soal wajah Airin yang terus saja berputar dalam kepalanya.
"Sebenarnya siapa dia?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments