15. Ingatan Yang Tiba-tiba Muncul

"Bagaimana kalau kita saling bergantung?''

"Aku mencintaimu, A..''

Dan, prang.., Darren menjatuhkan minuman yang tengah ia pegang, ketika kepalanya tiba-tiba saja berdenyut dengan potongan kecil mucul dalam ingatanya. Ia bahkan tak memperdulikan pecahan gelas dan noda minuman yang tumpah dan mengenai sela celanannya.

''Darren, bangun, ayo kita pergi saja dari sini.'' Ucap Lucas menggoyangkan tubuh Darren yang masih diam terpaku dengan ekspresinya yang tengah menahan sakit di kepalanya.

Lucas menggiring Darren keluar dari acara, dan membawanya pulang segera, mengingat dirinya saat ini tengah jadi pusat perhatian. Lucas terlihat khawatir melihat kondisi Darren yang tampak kacau, bahkan Darren tetap diam di dalam mobil ketika dalam perjalanan pulang.

"Lo gapapa? Apa kepalmu sakit lagi?" Tanya Lucas pada Darren yang masih diam memegang kepalanya.

"Kita pulang saja ke apartmenku, aku gak mau pulang ke rumah." Kata Darren yang akhirnya berbicara, meski masih memegang kepalanya yang sedari tadi berdenyut.

Sial, kenapa ingatan itu muncul lagi? Dan lagi, kenapa harus disaat seperti ini?

Batin Darren yang merasa kesal pada ingatan itu yang selalu muncul dalam pikiranya, yang pasti akan menimbulkan rasa sakit pada kepalannya.

"Apa ingatan itu muncul lagi?" Tanya Lucas mengacu pada rasa sakit Darren.

"Em.." Jawab Darren dengan singkat, dan masih memegang kepalanya yang masih terus saja berdenyut.

"Padahal sudah hampir dua tahun tidak muncul, kenapa sekarang tiba-tiba muncul lagi?" Heran Lucas pada hal itu.

"Benar? Kenapa sekarang jadi muncul lagi?"

Darre tampaknya juga merasa heran dengan itu, karena dalam dua tahun ini dia bisa hidup dengan tenang tanpa rasa sakit itu lagi, dan entah mengapa hal ini bisa muncul kembali dalam dirinya.

"Apa ini karena efek dari kecelakaan itu, ya?"

Meski mencoba mengingat, ia masih tak bisa memahami ingatan-ingatan kecil yang selalu mengusik kepalanya itu, hingga membuatnya mengerang kesakitan setiap kali hal itu muncul dalam kepalanya. Bahkan ketika ia yang baru tersadar dari koma panjangnya setelah kecelakaan, Darren masih belum menemukan kembali jawabanya.

"Apa nanti mau dipanggilkan dokter Heru?" Tanya Lucas mengacu pada dokter pribadi Darren.

"Nggak usah, hari ini aku mau istirahat saja." Jawab Darren yang terlihat tak bersemangat.

...

Di tempat yang berbeda, Airin terlihat menata hatinya ketika hendak kembali kerumah untuk menemui bibi dan anaknya, ia bahkan merapikan penampilanya yang sempat berantakan karena terus menangis. Meski sisa-sisa air matanya masih terlihat, karena matanya benar-benar tidak bisa bohong jika habis menangis.

"Duh, mereka nanti bakal curiga tidak, ya?" Gumamnya menatap matanya yang merah karena tangisanya, lalu mencoba merapikan penampilanya lagi dan kembali masuk kedalam rumah setelah turun dari mobil.

"Mama..." Panggil Arka begitu melihat keberadaan Airin, lalu berlari menghampirinya.

Dan Airin langsung menyambut Arka dengan merentangkan kedua tanganya. "Arka pasti menunggu mama, ya?" Ucapnya sembari memeluknya.

"Iya, kenapa mama lama banget." Jawab Arka

Sambil memeluk Airin dengan muka cemberutnya.

"Duh, dari tadi dia merengek minta ketemu sama kamu." Ucap bi Rahma yang mengikuti Arka dari belakang, dan ikut menyambut kedatangan Airin.

"Wah benarkah?, maafin mama, ya? Kalau begitu ayo masuk." Cium Airin pada pipi putranya itu, lalu menggendongnya masuk kedalam rumah.

"Kenapa kamu baru pulang? Memangnya macet banget, ya? atau justru ada masalah sama kirimanya?" Tanya bi Rahma yang ikut masuk kedalam rumah.

"Enggak kok, bi. Tadi memang agak macet juga, tapi alasan Airin pulang terlambat karena ikut melihat pesta pernikahanya Silvia, jadi tadi Airin tertahan disana." Jelas Airin pada bi Rahma, meski raut wajahnya mengatakan tak enak karena sedikit berbohong padanya.

"Oh gitu, yasudah kalau memang begitu. Tadi bibi sempat khawatir karena kamu belum juga pulang sedari tadi." Bi Rahma tak lagi mempermasalahkan hal yang menjadi ke khawatiranya sedari tadi, mengingat Airin yang sudah pulang dengan selamat, dan ia membiarkan Airin dan Arka yang hendak menuju kamar.

Padahal Airin sudah mengantisipasi jika ditanya akan matanya yang sempat sembab karena menangis, namun anehnya tak ditanya oleh sang bibi.

"Sepertinya bibi tidak memperhatikanya?" Batinya yang melihat bibinya tak menanyai soal penampilanya.

Airin hanya bisa menghela nafas lega akan itu, karena ia juga sempat merasa bingung jika ditanya nanti.

"Mama, tadi om Dava ke sekolahan Arka, lho.." Celetuk Arka ketika Airin menurunkanya di atas kasur begitu sampai dikamar.

"Om Dava? Kenapa om Dava ke sekolahannya Arka? Bukanya om Dava masih ada sekolah, ya?" Tanya Airin kemudian, menatap wajah anaknya lekat.

"Gak tau, dia hanya memberikan ini sama Arka, lalu pergi lagi." Jawab Arka sambil menunjukkan sebuah mainan yang tengah dia pegang.

Airin tersenyum menatap mainan yang tengah dipegang oleh anaknya, dan menggelengkan kepala pada tingkah adik sepupunya itu.

"Pasti tadi dia coba bolos, kan? Dasar Dava, kalau bibi tau gimana, coba?" Airin kehilangan kata pada tingkah adik sepupunya itu.

"Oh, iya, Arka sudah makan siang belum tadi?" Tanya Airin yang kini beralih menatap anaknya.

"Udah kok, tadi Arka disuapin sama ibu Rahma." Jawab Arka menatap Airin dengan senyum merekahnya.

Begitu menatap wajah sang anak, entah mengapa Airin menjadi teringat kembali akan pertemuanya dengan Darren tadi. Ia menatap lekat wajah sang anak yang terlihat begitu mirip dengan Darren, bahkan sudah seperti cetakan karena kemiripanya.

"Mereka benar-benar mirip. Apa yang harus aku lakukan jika dia tau nanti? Terlebih dengan Arka, apa yang akan aku lakukan jika suatu hari nanti dia bisa bertemu dengan ayahnya?"

Agaknya, Airin takut jika Arka tau soal ayahnya, namun akan menjadi sedih ketika ayahnya sendiri bahkan tak mengingat akan dirinya.

Mungkin tak hanya bagi Arka, sampai sekarang pun Airin masih mencoba mencari jawabanya ketika melihat orang yang dulu pernah mengisi hatinya menjadi tak mengenalinya.

"Dia yang tak mengenaliku saja sudah masalah, jadi tidak mungkin aku membicarakan hal ini pada bibi dan paman, apalagi pada Arka yang tak tahu apa-apa."

Airin terduduk lemas begitu memikirkan hal itu, hatinya begitu sakit hingga rasanya ingin meluapkan emosinya, namun tertahan dengan adanya Arka di depanya.

"Mama ganti baju dulu, ya? Habis itu kita keluar sama-sama." Ucapnya pada sang anak yang tengah asik bermain.

"Ok." Jawab Arka menyetujui perkataan mamanya.

...

Dalam kamarnya setelah kembalinya dari acara pernikahan, Darren kembali memikirkan pertemuannya dengan Airin, begitu juga dengan rasa sakit yang ia alami karena ingatan itu muncul kembali setelah sekian lama.

"Meski aku berusaha melupakanya, tapi itu benar-benar tidak berhasil." Gumamnya soal wajah Airin yang terus saja berputar dalam kepalanya.

"Sebenarnya siapa dia?"

Episodes
1 1. Melbourne
2 2. Airin's Garden
3 3. Permataku
4 4. Pulang Kerumah Bibi
5 5. Status Baru
6 6. Hikmah Memilikinya
7 7. Kehangatan Mengelilingiku
8 8. Bertemu Teman Lama
9 9. Rasa Yang Tertinggal
10 10. Mengantar Pesanan Bunga
11 11. Bertemu Denganya
12 12. Dia Ada Di Depanku, Namun Tak Bisa Ku Dekati
13 13. Kenyataan Yang Menghuncam
14 14. Pikiran Yang Mengganggu
15 15. Ingatan Yang Tiba-tiba Muncul
16 16. Kecelakaan Berakibat Fatal
17 17. Memori Yang Hilang
18 18. Hal Yang Dilupakan
19 19. Suara Hati
20 20. Hubungan Yang Kaku
21 21. Ada Yang Janggal
22 22. Big News
23 23. Gawat!
24 24. Hati Yang Terluka
25 25. Bayangan Akan Dirinya
26 26. Masih Merindukannya?
27 27. Mencari Jawaban
28 28. Ingin Mencari Titik Terangnya
29 29. Mencari Arka Yang Hilang
30 30. Pertemuan Yang Tak Diharapkan
31 31. Begitu Dekat, Namun Terasa Jauh
32 32. Harus Bagaimana?
33 33. Perasaan Yang Aneh Ketika Melihatnya
34 34. Serpihan Ingatan
35 35. Perempuan Yang Sama?
36 36. Ketika Hati Telah Terikat Oleh Perasaan
37 37. Awal Dari Puzzle
38 38. Potongan Puzzle
39 39. Susunan Pazzle
40 40. Titik Terangnya
41 41. Mengatakan Kebenaran
42 42. Perjalanan Airin Membesarkan Anaknya
43 43. Mencari Harapan
44 44. Jatuh Sakit
45 45. Sebuah Firasat
46 46. Momen Kedekatan
47 47. Kenangan Masa Lalu
48 48. Pulang Dari Rumah Sakit
49 49. Airin dan Keputusannya
50 50. Darren Yang Merasa Aneh
51 51. Identitas Diri
52 52. Akhirnya Pulang
53 53. Tak Lagi Berharap
54 54. Ada Yang Salah
55 55. Keputusan Yang Sulit
56 56. Teka Teki
57 57. Sebuah Gambaran
58 58. Siluet Bayangan
59 59. Harapan Tiba?
60 60. Langkah Darren
61 61. Pergolakan Hati
62 62. Isi Hati Seorang Arkana
63 63. Kepingan Cerita
64 64. Berita Yang Mengejutkan
65 65. Pertemuan Yang Tak Terduga
66 66. Arka Sudah Tau?
67 67. Darren Akhirnya Ingat?
68 68. Kenangan dan Harapan
69 69. Rasa Mengharukan
70 70. Tampil Bersama
71 71. Kumpul Bertiga?
72 72. Perasaan Yang Tertahan
73 73. Babak Baru
74 74. Berbagi Cerita
75 75. Breaking News
76 76. Ikatan Batin
77 77. Langkah Yang Tak Mudah
78 78. Sidang Keluarga
79 79. Langkah Selanjutnya
80 80. Langkah Awal
81 81. Airin dan Bunga
82 82. Kesalahpahaman
83 83. Kecemasan
84 84. Meminta Maaf
85 85. Perkenalan Diri Dari Darren
86 86. Meredakan Amarah Airin
87 87. Penjelasan Darren
88 88. Mencari Airin
89 89. Mencari Airin 2
90 90. Menemukanmu
91 91. Bertemu
92 92. Emosional
93 93. Hukuman
94 94. Menebus Kesalahan
95 95. Airin Sadar
Episodes

Updated 95 Episodes

1
1. Melbourne
2
2. Airin's Garden
3
3. Permataku
4
4. Pulang Kerumah Bibi
5
5. Status Baru
6
6. Hikmah Memilikinya
7
7. Kehangatan Mengelilingiku
8
8. Bertemu Teman Lama
9
9. Rasa Yang Tertinggal
10
10. Mengantar Pesanan Bunga
11
11. Bertemu Denganya
12
12. Dia Ada Di Depanku, Namun Tak Bisa Ku Dekati
13
13. Kenyataan Yang Menghuncam
14
14. Pikiran Yang Mengganggu
15
15. Ingatan Yang Tiba-tiba Muncul
16
16. Kecelakaan Berakibat Fatal
17
17. Memori Yang Hilang
18
18. Hal Yang Dilupakan
19
19. Suara Hati
20
20. Hubungan Yang Kaku
21
21. Ada Yang Janggal
22
22. Big News
23
23. Gawat!
24
24. Hati Yang Terluka
25
25. Bayangan Akan Dirinya
26
26. Masih Merindukannya?
27
27. Mencari Jawaban
28
28. Ingin Mencari Titik Terangnya
29
29. Mencari Arka Yang Hilang
30
30. Pertemuan Yang Tak Diharapkan
31
31. Begitu Dekat, Namun Terasa Jauh
32
32. Harus Bagaimana?
33
33. Perasaan Yang Aneh Ketika Melihatnya
34
34. Serpihan Ingatan
35
35. Perempuan Yang Sama?
36
36. Ketika Hati Telah Terikat Oleh Perasaan
37
37. Awal Dari Puzzle
38
38. Potongan Puzzle
39
39. Susunan Pazzle
40
40. Titik Terangnya
41
41. Mengatakan Kebenaran
42
42. Perjalanan Airin Membesarkan Anaknya
43
43. Mencari Harapan
44
44. Jatuh Sakit
45
45. Sebuah Firasat
46
46. Momen Kedekatan
47
47. Kenangan Masa Lalu
48
48. Pulang Dari Rumah Sakit
49
49. Airin dan Keputusannya
50
50. Darren Yang Merasa Aneh
51
51. Identitas Diri
52
52. Akhirnya Pulang
53
53. Tak Lagi Berharap
54
54. Ada Yang Salah
55
55. Keputusan Yang Sulit
56
56. Teka Teki
57
57. Sebuah Gambaran
58
58. Siluet Bayangan
59
59. Harapan Tiba?
60
60. Langkah Darren
61
61. Pergolakan Hati
62
62. Isi Hati Seorang Arkana
63
63. Kepingan Cerita
64
64. Berita Yang Mengejutkan
65
65. Pertemuan Yang Tak Terduga
66
66. Arka Sudah Tau?
67
67. Darren Akhirnya Ingat?
68
68. Kenangan dan Harapan
69
69. Rasa Mengharukan
70
70. Tampil Bersama
71
71. Kumpul Bertiga?
72
72. Perasaan Yang Tertahan
73
73. Babak Baru
74
74. Berbagi Cerita
75
75. Breaking News
76
76. Ikatan Batin
77
77. Langkah Yang Tak Mudah
78
78. Sidang Keluarga
79
79. Langkah Selanjutnya
80
80. Langkah Awal
81
81. Airin dan Bunga
82
82. Kesalahpahaman
83
83. Kecemasan
84
84. Meminta Maaf
85
85. Perkenalan Diri Dari Darren
86
86. Meredakan Amarah Airin
87
87. Penjelasan Darren
88
88. Mencari Airin
89
89. Mencari Airin 2
90
90. Menemukanmu
91
91. Bertemu
92
92. Emosional
93
93. Hukuman
94
94. Menebus Kesalahan
95
95. Airin Sadar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!