"Benar juga, ya? kenapa aku bisa begitu terganggu dengan itu? Seperti bukan aku.?"
Agaknya Darren memikirkan ucapan Lucas, karena sikapnya sekarang seperti bukan dirinya yang biasanya. Namun, meski ia tersadar akan itu, tetap saja masih membuatnya mengganjal pada ekspresi yang dibuat oleh perempuan yang baru dia temui itu.
"Aku tidak mengenalnya, tapi dia benar-benar menggangguku?" Batinya masih dengan rasa penasaran dan terganggu akan itu.
Darren kembali teringat akan ekspresi yang dibuat oleh perempuan yang bahkan tak ia kenal itu. Entah mengapa tubuhnya bereaksi ketika melihat ekspresi marahnya saat itu, hingga tanpa sadar mengejarnya keluar. Dan saat mencoba menghampirinya, ia cukup terkejut ketika melihat perempuan itu tengah menangis, bahkan memberikan tatapan sedih padanya.
Karena ekspresi sedih yang dibuat oleh perempuan itu pula, membuat langkahnya sempat terhenti dan merasakan bingung untuk pertama kalinya. Karena disaat bersamaan hatinya merasa berdenyut ketika melihatnya meneteskan air mata.
"Ada apa denganku ini?" Bian memegang dadanya yang seakan sakit.
"Ayo masuk, yang lain pasti mencari keberadaanmu." Ajak Lucas pada Darren yang masih enggan untuk beranjak pergi dan masih terhanyut pada lamunanya. "Apa kamu masih memikirkan soal perempuan itu?" Ucap Lucas, kembali mengajak bicara pada Darren yang masih saja diam.
"Cas, aku benar-benar masih terganggu dengan tatapan perempuan itu?" Ujar Darren menatap wajah Lucas.
Lucas menatap wajah sahabatnya itu penuh dengan rasa bingung, ia mengerutkan alisnya seolah masih heran dengan sikap Darren yang sebegitu penasaranya dengan perempuan yang baru pertama kali ia temui.
"Baru kali ini aku melihat seorang Darren terganggu dengan tatapan orang? Biasanya dia selalu cuek dan tak perduli?" Ucap Lucas kemudian.
"Entahlah, kita masuk sajalah. Aku juga gak yakin kita bisa bertemu lagi." Darren pun akhirnya menyerah dengan sendirinya, dan memilih masuk kembali ke dalam acara.
"Nah ini baru Darren yang aku kenal." Ucap Lucas mengikuti Darren masuk ke dalam, dengan mengomentari sikapnya yang akhirnya balik seperti biasanya, bersikap cuek dan tak perduli.
Darren tak memperdulikan ledekan yang dilakukan oleh Lucas, ia tetap lurus masuk kembali ke dalam acara.
...----------------...
Flashback, 7 tahun yang lau.
"Jadi nama panggilan kamu Adit?, aku kira kamu bakal dipanggil Darren? Soalnya kalau melihat wajah kamu, terlihat begitu cocok dengan nama panggilan itu." Tukas Airin saat laki-laki yang baru dikenalnya memperkenalkan nama lengkapnya.
Darren hanya bisa tersenyum kikuk begitu Airin mengatakan kalimat itu. "Iya, panggil aku Adit saja, soalnya aku lebih suka dengan nama panggilan itu." Jawabnya kemudian dengan mencoba tenang.
"Ok, kalau begitu panggil aku Airin juga." Balas Airin yang tak lagi memperdebatkan hal itu.
Keduanya pun saling berjabat tangan, dan saling melempar senyuman, yang menandakan awal baik bagi pertemuan dan kedekatan keduanya.
Adit, begitulah yang Airin panggil dulu. Tanpa ia kira bahwa orang yang ia kenal dulu punya nama panggilan lainnya. Namun, meski masih dalam satu nama yang sama, juga tubuh yang sama, tapi mengapa sikap dan ekspresi mereka terlihat begitu berbeda, seolah nama Adit dan Darren adalah dua karakter yang berbeda, meski tubuh dan wajah mereka sama.
...
Masih dalam rasa tak percayanya, Airin kembali teringat akan perkenalan dia dengan Adit yang juga bernama Darren dulu. Kenanganya dulu kembali muncul satu persatu dalam ingatnya, hingga membuatnya kembali meneteskan air mata.
"Dia tak mengingatku?" Tangis Airin kembali pecah begitu mengingat ucapan Darren tadi, hingga ia yang tak sanggup lagi untuk melajukan mobilnya, dan akhirnya menepihkan mobilnya sejenak setelah agak jauh dari lokasinya tadi.
"Dia bilang padaku kalau nama panggilanya Adit, tapi banyak yang memanggilanya Darren tadi?" Gumamnya mencoba mengingat kembali apa yang di dengarnya di pesta tadi.
"Apa dia sengaja menyembunyikan identitas dan nama pangggilanya padaku?" Airin lagi-lagi hanya bisa terpaku dengan apa yang baru ia ketahui.
"Lalu apa maksudnya dengan dia yang bertanya siapa aku?" Tuturnya dengan perasaan menerawang, seolah masih berusaha mencerna apa yang tengah di alaminya, hingga membuat dirinya memberikan tatapan kosong yang tak bertenaga.
Drrt.. drrt.. Dering ponsel dari tas miliknya berbunyi dengan keras, hingga mengalihkan perhatianya pada suara itu. Matanya langsung tersadar saat melihat nama sang penelfon, hingga membuatnya kembali mengatur ekspresi dan suasana hatinya yang sedari tadi masih sedih.
"Halo, bik." Ucapnya begitu menjawab telfon dari bibinya.
"Kamu dimana, kok belum pulang? Arka mencari kamu dari tadi lho." Kata bi Rahma.
"Iya, ini Airin sedang dalam perjalanan pulang, kok. Maaf ya bi, Airin agak telat pulangnya, soalnya tadi sempat ditahan sama Silvia, jadi Airin pulangnya agak sedikit terlambat, ditambah sekarang juga lagi macet banget." Jawab Airin yang sedikit berbohong.
"Oh gitu, yasudah kalau begitu. Bibi jadi lega dengarnya, soalnya bibi sempat khawatir kalau kamu kenapa-napa, karena sedari tadi belum pulang juga." Nada kelegaan terdengar jelas dari bi Rahma ketika mendengar penjelasan dari Airin.
"Iya bi, Airin gak kenapa-napa kok. Yaudah kalau begitu, telfonya Airin tutup ya, soalnya sekarang Airin masih dijalan." Tutur Airin yang ingin mengakhiri telfonya segera.
"Yasudah, hati-hati ya kamu di jalan." Ujar bi Rahma.
"Iya, Airin mengerti." Jawab Airin, yang akhirnya mengakhiri telfonya.
Tuut... suara telfon pun tertutup, dan mengakiri percakapan mereka. Airin terpaku begitu panggilan telfon dari bi Rahma berakhir. Ia mencoba mengatur kembali raut wajahnya yang sendu karena menahan kesedihanya, tak lupa juga membersihkan air mata yang masih melembabkan kedua pipinya, hingga membuat kedua matanya yang terlihat sembab karena terus menangis sedari tadi.
"Apa yang akan aku katakan pada bibi dan paman, juga pada Arka nanti? Kalau aku tadi bertemu denganya?" Airin menghela nafas panjang, mencoba mengakhiri kegundahanya, dan kembali menyalakan mobilnya untuk pulang.
...
Dalam tempat yang berbeda, terlihat Darren dan Lucas telah masuk kembali ke dalam acara pesta. Meski terlihat enggan dan ekspresinya yang masih tak bisa menikmati acara, Darren terlihat terhanyut pada lamunannya sendiri.
Prang..., tiba-tiba saja gelas yang ia pegang terjatuh dari tanganya, hingga menciptakan kegaduhan, dan membuat semua mata menatap padanya.
Lucas yang tak jauh dari posisinya berdiri, cukup terkejut dengan kegaduhan yang dilakukan oleh Darren. Ekspresinya sempat merasa malu, karena takut Darren membuat ulah lagi, namun begitu ia menghampiri Darren berubah menjadi kepanikan, melihat wajah Darren yang tampak pucat.
"Ren bangun, lo gapapa, kan?" Tanya Lucas sedikit menggoyangkan tubuh Darren yang masih diam terpaku setelah membuat gelasnya pecah.
"Tolong bantu bersihkan gelasnya ya?" Ucapnya pada seorang pelayan. "Maaf, sepertinya hari ini Darren sedang tidak enak badan, jadi kami pamit dulu." Sambungnya, lalu membawa Darren pergi dari acara.
Terjadi kegaduhan ketika Darren dan Lucas pergi dari acara, semua terlihat membicarakan kepergian mereka dan kegaduhan yang terjadi karena Darren memecahkan gelas yang dia pegang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments