"Kak Rendi, kakak datang lagi hari ini?" Airin cukup terkejut melihat Rendi yang datang ke rumahnya 3 hari berturut.
"Iya, soalnya kebetulan arahku sama, jadi aku mampir deh, sekalian mau menemui Arka."
"Memangnya dokter bisa sesenggang ini ya?" Heran Airin melihat Rendi yang terus-terusan datang berkunjung kerumahnya untuk menemuai Arka.
"Bisa kok, anggap saja aku dokter yang fleksibel." Kelakar Rendi.
"Apa'an tuh, mana ada dokter yang fleksibel, yang ada malah suber sibuk." Airin tertawa mendengar lelucon dari Rendi.
Mungkin ini rasa yang masih tertinggal saat SMA, dan ketika bertemu kembali dengan kondisi yang sudah sama-sama berubah, ternyata rasa itu masih ada. Meskipun sudah tahu kalau hal itu tak akan mudah untuk di gapai ataupun dimiliki.
Tidak tahu siapa yang suka terlebih dahulu, namun ternyata keduanya pernah ada rasa ketertarikan satu sama lain saat SMA, meski tak saling mengetahui satu sama lain karena keduanya yang pemalu, hingga akhirnya waktu yang membuat mereka terpisah, namun waktu juga yang mempertemukan mereka kembali saat ini.
Sudah lebih dari 10 tahun keduanya tak saling bertemu, bahkan juga sudah tak saling berkomunikasi atapun mengontak satu sama lain karena kesibukan masing-masing, namun anehnya obrolan mereka masih tetap nyambung kembali meski sempat terpisah jarak waktu yang lama.
Rendi Purnama, kakak kelas Airin waktu disekolah adalah sosok yang penuh kewibawaan, mereka berdua sama-sama tergabung dalam anggota osis yang sama, karena itu mereka jadi saling kenal meski beda kelas dan angkatan. Rendi sebagai Ketua osisnya, dan Airin sebagai sekretarisnya.
Meski tak bisa bersama dalam waktu yang lama untuk terlibat dalam keanggotaan osis, karena Rendi yang saat itu sudah mendekati kelas akhir sekolahnya, namun dalam waktu yang mereka habiskan bersama cukup mendalam bahkan begitu berkesan bagi keduanya.
...
"Om dokter sudah mau pulang?" Tanya Arka yang sudah menyelesaikan mandinya, sekaligus berganti pakaian.
"Iya, soalnya om dokter masih ada kerjaan, jadi harus segera pergi." Balas Rendi sambil mengelus lembut pipi gembul Arka.
"Yah.. Padahal masih mau main, terus hadiah buat Arka mana? Aku sudah mandi lho, dan sudah ganti baju juga." Seru Arka menagih janjinya pada Rendi.
"Arka gak boleh gitu dong, kan tadi Arka sudah dikasih om Rendi mainan, masa minta lagi sih.." Tegur Airin pada Arka yang menodongkan hadiah pada Rendi, dan tentu saja Arka langsung memberikan respon cemberut setelah dimarahin oleh mamanya.
"Kak, maaf ya, nanti biar aku yang menjelaskan sama Arka, kakak gak usah menuruti permintaan dari Arka." Ucap Airin beralih pada Rendi.
"Iya aku tau, tapi karena aku sudah terjlanjur membuat janji sama Arka, jadi tetap harus aku tepati, kamu tenang saja, aku gak keberatan kok soal itu." Balas Rendi menenangkan Airin.
"Tapi, kan kak.." Airin masih tetap merasa tak enak sama Rendi.
"Gapapa Airin, aku justru malah senang lho bisa memberikan hadiah buat Arka." Senyum Rendi kembali menenangkan Airin, yang akhirnya membuat Airin menyerah soal itu.
"Yeay, jadi Arka nanti akan dapat hadiah, nih?." Seru Arka kembali bersemangat yang ssbelumnya sempat cemberut.
"Iya, karena om sudah janji sama Arka, om akan kasih hadiahnya sama Arka, tapi tidak sekarang, nanti akan om kasih kalau om kesini lagi, gimana?"
"Ok, tapi janji ya!"
"Om janji, tapi apa ada hadiah yang ingin Arka minta dari om?"
"Em... apa ya?
Disaat Arka dan Rendi saling mengobrol dengan akrab, bahkan berdiskusi dengan serius, dari arah sebrang, terlihat Airin yang mengamati obrolan keduanya dengan pasrah.
"Hubungan mereka udah seperti ayah dan anak ya?" Bisik bi Rahma menghampiri Airin yang tengah mengamati kedekatan anaknya dengan Rendi.
"Bibi, ngagetin aja sih." Balas Airin dengan sedikit terkejut.
"Gimana, yang bibi maksud tadi benar, kan?" Ucap bi Rahma lagi.
"Airin gak ngerti maksud bibi." Balas Airin cuek.
"Hem.. Lihat lagi deh, kayanya Rendi suka sama kamu, deh." Bisik bi Rahma sedikit menggoda Airin.
"Bibi.." Airin mau protes sama bibinya, namun matanya teralihkan ketika melihat Rendi menghampiri dirinya setelah selesai berbicara dengan Arka tadi. "Eh kak Rendi sudah mau balik," Ucapnya spontan pada Rendi yang menghampirinya.
"Iya, oh ada bi Rahma juga. Kalau begitu saya mau pamit sekalian sama bi Rahma. Terimakasih sudah menjamu Rendi dengan baik hari ini, meski tadi mampirnya mendadak."
"Tidak apa nak Rendi, bibi tidak keberatan sama sekali, justru bibi akan dengan senang hati menjamu nak Rendi, jadi datang saja lagi kapan pun nak Rendi mau, rumah ini selalu terbuka untuk nak Rendi.." Ucap bi Rahma yang tak merasa keberatan, dan malah senang.
"Terimakasih bi, Rendi jadi merasa terharu karena selalu disambut dengan baik disini." Balasnya pada bi Rahma yang merasa berterimakasih atas sambutan baiknya. "Kalau begitu Rendi pamit dulu ya, bi." Ujarnya pamit pergi pada bi Rahma
"Iya, hati-hati ya." Balas bi Rahma.
Rendi pun melangkah keluar bersama dengan Airin yang ikut mengantarnya keluar.
"Kak, terimakasih ya tadi sudah membelikan mainan untuk Arka, sama makanan juga tadi yang kakak bawa. Lain kali kalau datang, gak usah repot-repot bawa begitu, Airin jadi merasa gak enak, karena setiap kali kakak datang, pasti bawa sesuatu." Ucap Airin setelah mengantar Rendi di depan gerbang.
"Kalau aku gak bawa apa-apa, justru aku merasa gak enak, kan aku tamu masa cuma lenggang gitu aja."
"Gapapa tau, aku dan lainya juga gak pernah minta sama kakak untuk bawa sesuatu."
"Iya sih, tapi akunya yang gak mau. Sudahlah, toh hanya makanan ringan. Aku pergi dulu ya, titip salam buat dava sama om Bilal." Kata Rendi berpamitan pada Airin, dan juga menitipkan salam pada Dava dan om Bilal yang tak kelihatan sedari tadi.
"Em, nanti aku sampaikan ke mereka, kakak hati-hati ya dijalan." Balas Airin.
"Ok, bye.."
Rendi pun meninggalkan kediaman Airin denganya mobilnya, meninggalkan Airin yang menunggunya di depan gerbang. Setelah mobil Rendi menjauh dari pandanganya, Airin pun kembali masuk ke dalam rumahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments