13. Kenyataan Yang Menghuncam

Aku menunggunya dengan harapan agar suatu hari nanti kita bisa bertemu kembali. Meski aku sedikit marah padanya, namun aku tidak bisa membencinya, karena dia yang pernah mengisi hatiku. Dalam satu tahun setelah aku mengenalnya dengan baik, aku merasa nyaman jika bersamanya, dan bahkan tanpa sadar selalu bergantung padanya. Karena itu, perasaan curigaku padanya sama sekali tak pernah ada, mengingat dia yang selalu bersikap lembut padaku.

Namun, setelah lama tak bertemu denganya, kedekatanku dengannya dulu seolah sirna. Seolah ada gap yang cukup kentara di antara kita, yang bahkan sangat sulit untuk kuhadapi. Hingga soal kenyataan yang baru aku dengar tadi, begitu menyakitkan hatiku yang selama ini terus berharap bisa bertemu kembali denganya.

"Aku.. " Dengan menahan tangisan yang tak lagi bisa ia bendung, Airin tak lagi bisa menyembunyikan rasa sedihnya setelah keluar dari ruang acaranya. Ia menepuk-nepuk pelan dadanya yang terasa sangat sakit karena terus menahan tangisnya.

Ia berjongkok menutup mata yang mulai di banjiri oleh air matanya, "Kenapa..? Kenapa..?" Dengan terduduk lemas, Airin menangis sesegukan setelah mendengar fakta yang begitu menghuncam dirinya itu. Namun, karena masih di depan gedung, ia tak bisa mengeluarkan suara tangisanya, dan hanya bisa menangis dalam diam.

Karena lalu lalang orang yang masuk ke dalam gedung tempatnya yang saat ini tengah terduduk lemas bersama dengan tangisannya, membuat Airin tersadar dan akhirnya mencoba untuk bangkit menjauhi kerumunan yang melihatnya terduduk dengan menunduk.

Dengan tubuh yang sedikit goyah karena rasa shocknya, ia berjalan ke arah mobilnya berada dengan langkah yang sedikit tak bertenaga, sambil sesekali mengusap air mata yang telah membasahi kedua pipinya.

"Tunggu.." Ucap seseorang menghentikan langkah Airin yang hendak membuka pintu mobilnya.

Dari arah belakang Airin, ia terlihat sedikit mengatur nafasnya yang ngos-ngosan ketika hendak mengejar Airin tadi.

Ucapannya yang sedikit berteriak, membuat Airin menghentikan tanganya yang hendak memegang pintu mobilnya, dan langsung menengok ke arah orang yang memanggilnya.

...----------------...

Flashbak 2 menit sebelumnya.

"Apa menurutmu dia mengenalku? Kenapa sekarang dia seolah sedang menatapku marah, ya?"

"Hah! Masa sih?" Lucas ikut menatap ke arah pandang Bian, namun tak mendapati orang yang dimaksud.

"Aku mau kesana dulu." Darren spontan mencoba mencari keberadaan Airin di tengah kumpulan orang-orang itu.

Dan tentu saja kepergian Darren yang mendadak membuat Lucas kaget "Darren, lo mau kemana?" Ucap Lucas pada Darren yang pergi dari sisinya, namun tentu saja tak mendapat respon dari Darren yang terus saja menjauh dari hadapanya.

Dan flashback itupun berakhir, terjadilah sekarang antara Darren dan Airin yang saling bertatap muka, setelah dengan sekuat tenaga Darren mengejar Airin yang keluar.

Kedua mata mereka saling bertemu, namun terjadi dua perasaan yang berbeda dari keduanya saat bertatap muka. Jika Darren mencoba mengatur ekspresi dan nafasnya yang sempat ngos-ngosan karena berlari. Dan, Airin yang terlihat tak bisa menyembunyikan rasa keterkejutnya ketika melihat orang yang begitu ia kenal, sekarang sedang berdiri di depanya, bahkan hanya beberapa langkah lebih dekat denganya. Matanya bahkan kembali menggenang pada sela-sela matanya ketika melihat orang itu yang sekarang berdiri dekat denganya.

"Tunggu, izinkan aku bertanya satu hal." Ucap Darren mencoba memperpendek jaraknya dengan Airin.

"Apa kamu mengenalku sebelumnya?" Ucapnya kemudian, yang tentu saja membuat hati Airin terguncang. Ia bahkan menatap tak percaya pada orang di depanya, dan tanpa sadar meneteskan air mata di depan Darren.

Ekspresi sedihnya saat menatap wajahnya, bahkan air mata yang tiba-tiba keluar dari matanya, ketika ia yang hendak melangkah ke arahnya, membuatnya terhenti dan memandang bingung pada wanita di depannya.

"*Tadi dia menatapku marah, dan sekarang dia menangis ketika melihatku? Bahkan tadi sempat memberikan ekspresi terkejut ketika melihatku?" Batin Darren dengan bingung menatap perempuan di depannya.

"Sial, dia membuatku bingung." Darren hendak mengkonfrontasinya langsung, dengan mempercepat lajunya menghampiri Airin*.

"Darren, dimana lo." Teriak seseorang, hingga kembali menghentikan langkahnya yang hendak menghampiri lebih dekat ke arah Airin. Hanya lima langkah lagi, bagi dirinya untuk saling bertemu, namun karena teriakan yang sedari tadi memanggilnya membuat Darren begitu kesal hingga tak lagi memperdulikan panggilan itu.

"Jangan pergi, aku masih ingin berbicara dengan kamu." Cegat Darren memegang tangan Airin yang hendak masuk kedalam mobilnya.

"Woi, Darren." Panggil Lucas dari jauh pada Darren yang saat ini tengah memegang tangan Airin. "Woo.. dia sama siapa, tuh?" Seru Lucas kaget melihat posisi Darren yang begitu dekat dengan seorang perempuan.

Begitu pandangan Darren yang teralihkan, Airin mencoba melepaskan pegangan tangan Darren, dan hendak masuk kembali pada mobilnya.

Brakk, suara tutupan pintu mobil dari Darren ketika Airin hendak masuk kembali ke dalam mobilnya.

"Aku belum selesai bicara, karena itu kamu tidak boleh pergi sebelum aku selesai bertanya." Tukasnya penuh penekanan menatap Airin dengan tajam. "Kamu..."

"Woi, Darren, mana bisa lo meninggalkan acara pesta gitu aja." Ucap Lucas menghampiri Darren dengan nafas tersengal, hingga memotong perkataan Darren.

"Aku akan masuk kesana lagi, karena itu kamu pergi sana, nanti gue bakal menyusul. Sekarang aku masih ada urusan." Ujar Bian menatap Lucas tak suka karena di ganggu ketika ingin berbicara dengan Airin.

"Urusan?" Lucas tentu bingung, namun jadi teradar ketika melihat Airin di depanya. "Ah.. tapi.." Tiba-tiba saja ia terhenti ketika melihat beberapa orang datang ketempat arah parkir mobil dan sedang menuju ke arah mereka saat ini.

"Aku tau lo lagi ada urusan, tapi kita menjauh dulu." Lucas mencoba menjauhkan tubuh Darren dari Airin, meski ia harus mendapat penolakan dari Darren yang terus meneriaki kata kasar padanya karena terus menarik tubuhnya saat masih berbicara dengan Airin.

Airin memilih pergi dari hadapan mereka berdua yang masih terus berselisih. Dan entah mengapa karena melihat hal itu, membuat perasaanya yang tadi sedikit tak stabil menjadi lebih baik, bahkan ia yang sekarang bisa mengendarai mobilnya meski sebelumnya sempat tak ada tenaga.

"Tunggu jangan pergi, turun, aku bilang turun." Darren mencoba menghadang mobil Airin yang hendak pergi, namun tentu saja tak di hiraukan oleh Airin.

"Sial, dia pergi." Umpat Darren kesal.

"Ini semua gara-gara lo tau." Teriaknya marah pada Lucas.

"Kenapa jadi gue? Justru lo harus berterimakasih sama gue, kalau gak gitu, bisa ada gosip baru nanti." Ungkap Lucas.

"Bodo amat sama gosip, gara-gara lo narik-narik gue tadi, aku jadi kehilangan kesempatan untuk bertanya padanya." Marah Darren yang terlihat frustrasi sendiri.

"Memangnya lo mau tanya apa sama dia?" Tanya Lucas ketika melihat Darren begitu marah padanya, padahal dia baru menyelamatkanya dari gosip buruk.

"Kamu tau perempuan itu?" Tunjuk Darren pada mobil yang kini sudah menjauh, dengan menatap Lucas. Namun, Lucas menggelengkan kepalanya karena tak tahu.

"Dia perempuan yang kamu bilang tadi, perempuan yang menangis dalam lift saat kita turun tadi. Apa sekarang kamu ingat?"

"Ok, aku ingat. Terus apa hubunganya dengan kemarahamu sekarang?" Bingung Lucas menatap Darren yang terlihat begitu emosional.

"Justru karena itu, aku marah. Dia menangis saat aku turun dari lift, terus saat dalam acara mata kita tak sengaja bertemu, dan dia malah memberikan tatapan marah padaku. Bahkan saat aku mencoba menghampirinya tadi, dia malah meneteskan air matanya, dengan memasang ekspresi sedih ketika melihatku. Apa menurutmu aku gak merasa terganggu dengan itu?" Jelas Darren dengan penuh ekspresif.

"Ya terus kenapa? Bukanya selama ini lo gak pernah terganggu dengan apapun? Kenapa sekarang jadi terganggu?" Ucap Lucas menatap Darren heran.

"Ya... itu.. karena...." Darren tak bisa melanjutkan perkataanya, seakan tersadar dengan apa yang dia lakukan dan menjadi bingung dengan dirinya sendiri.

"Ah sial." Umpatnya kemudian.

Episodes
1 1. Melbourne
2 2. Airin's Garden
3 3. Permataku
4 4. Pulang Kerumah Bibi
5 5. Status Baru
6 6. Hikmah Memilikinya
7 7. Kehangatan Mengelilingiku
8 8. Bertemu Teman Lama
9 9. Rasa Yang Tertinggal
10 10. Mengantar Pesanan Bunga
11 11. Bertemu Denganya
12 12. Dia Ada Di Depanku, Namun Tak Bisa Ku Dekati
13 13. Kenyataan Yang Menghuncam
14 14. Pikiran Yang Mengganggu
15 15. Ingatan Yang Tiba-tiba Muncul
16 16. Kecelakaan Berakibat Fatal
17 17. Memori Yang Hilang
18 18. Hal Yang Dilupakan
19 19. Suara Hati
20 20. Hubungan Yang Kaku
21 21. Ada Yang Janggal
22 22. Big News
23 23. Gawat!
24 24. Hati Yang Terluka
25 25. Bayangan Akan Dirinya
26 26. Masih Merindukannya?
27 27. Mencari Jawaban
28 28. Ingin Mencari Titik Terangnya
29 29. Mencari Arka Yang Hilang
30 30. Pertemuan Yang Tak Diharapkan
31 31. Begitu Dekat, Namun Terasa Jauh
32 32. Harus Bagaimana?
33 33. Perasaan Yang Aneh Ketika Melihatnya
34 34. Serpihan Ingatan
35 35. Perempuan Yang Sama?
36 36. Ketika Hati Telah Terikat Oleh Perasaan
37 37. Awal Dari Puzzle
38 38. Potongan Puzzle
39 39. Susunan Pazzle
40 40. Titik Terangnya
41 41. Mengatakan Kebenaran
42 42. Perjalanan Airin Membesarkan Anaknya
43 43. Mencari Harapan
44 44. Jatuh Sakit
45 45. Sebuah Firasat
46 46. Momen Kedekatan
47 47. Kenangan Masa Lalu
48 48. Pulang Dari Rumah Sakit
49 49. Airin dan Keputusannya
50 50. Darren Yang Merasa Aneh
51 51. Identitas Diri
52 52. Akhirnya Pulang
53 53. Tak Lagi Berharap
54 54. Ada Yang Salah
55 55. Keputusan Yang Sulit
56 56. Teka Teki
57 57. Sebuah Gambaran
58 58. Siluet Bayangan
59 59. Harapan Tiba?
60 60. Langkah Darren
61 61. Pergolakan Hati
62 62. Isi Hati Seorang Arkana
63 63. Kepingan Cerita
64 64. Berita Yang Mengejutkan
65 65. Pertemuan Yang Tak Terduga
66 66. Arka Sudah Tau?
67 67. Darren Akhirnya Ingat?
68 68. Kenangan dan Harapan
69 69. Rasa Mengharukan
70 70. Tampil Bersama
71 71. Kumpul Bertiga?
72 72. Perasaan Yang Tertahan
73 73. Babak Baru
74 74. Berbagi Cerita
75 75. Breaking News
76 76. Ikatan Batin
77 77. Langkah Yang Tak Mudah
78 78. Sidang Keluarga
79 79. Langkah Selanjutnya
80 80. Langkah Awal
81 81. Airin dan Bunga
82 82. Kesalahpahaman
83 83. Kecemasan
84 84. Meminta Maaf
85 85. Perkenalan Diri Dari Darren
86 86. Meredakan Amarah Airin
87 87. Penjelasan Darren
88 88. Mencari Airin
89 89. Mencari Airin 2
90 90. Menemukanmu
91 91. Bertemu
92 92. Emosional
93 93. Hukuman
94 94. Menebus Kesalahan
95 95. Airin Sadar
Episodes

Updated 95 Episodes

1
1. Melbourne
2
2. Airin's Garden
3
3. Permataku
4
4. Pulang Kerumah Bibi
5
5. Status Baru
6
6. Hikmah Memilikinya
7
7. Kehangatan Mengelilingiku
8
8. Bertemu Teman Lama
9
9. Rasa Yang Tertinggal
10
10. Mengantar Pesanan Bunga
11
11. Bertemu Denganya
12
12. Dia Ada Di Depanku, Namun Tak Bisa Ku Dekati
13
13. Kenyataan Yang Menghuncam
14
14. Pikiran Yang Mengganggu
15
15. Ingatan Yang Tiba-tiba Muncul
16
16. Kecelakaan Berakibat Fatal
17
17. Memori Yang Hilang
18
18. Hal Yang Dilupakan
19
19. Suara Hati
20
20. Hubungan Yang Kaku
21
21. Ada Yang Janggal
22
22. Big News
23
23. Gawat!
24
24. Hati Yang Terluka
25
25. Bayangan Akan Dirinya
26
26. Masih Merindukannya?
27
27. Mencari Jawaban
28
28. Ingin Mencari Titik Terangnya
29
29. Mencari Arka Yang Hilang
30
30. Pertemuan Yang Tak Diharapkan
31
31. Begitu Dekat, Namun Terasa Jauh
32
32. Harus Bagaimana?
33
33. Perasaan Yang Aneh Ketika Melihatnya
34
34. Serpihan Ingatan
35
35. Perempuan Yang Sama?
36
36. Ketika Hati Telah Terikat Oleh Perasaan
37
37. Awal Dari Puzzle
38
38. Potongan Puzzle
39
39. Susunan Pazzle
40
40. Titik Terangnya
41
41. Mengatakan Kebenaran
42
42. Perjalanan Airin Membesarkan Anaknya
43
43. Mencari Harapan
44
44. Jatuh Sakit
45
45. Sebuah Firasat
46
46. Momen Kedekatan
47
47. Kenangan Masa Lalu
48
48. Pulang Dari Rumah Sakit
49
49. Airin dan Keputusannya
50
50. Darren Yang Merasa Aneh
51
51. Identitas Diri
52
52. Akhirnya Pulang
53
53. Tak Lagi Berharap
54
54. Ada Yang Salah
55
55. Keputusan Yang Sulit
56
56. Teka Teki
57
57. Sebuah Gambaran
58
58. Siluet Bayangan
59
59. Harapan Tiba?
60
60. Langkah Darren
61
61. Pergolakan Hati
62
62. Isi Hati Seorang Arkana
63
63. Kepingan Cerita
64
64. Berita Yang Mengejutkan
65
65. Pertemuan Yang Tak Terduga
66
66. Arka Sudah Tau?
67
67. Darren Akhirnya Ingat?
68
68. Kenangan dan Harapan
69
69. Rasa Mengharukan
70
70. Tampil Bersama
71
71. Kumpul Bertiga?
72
72. Perasaan Yang Tertahan
73
73. Babak Baru
74
74. Berbagi Cerita
75
75. Breaking News
76
76. Ikatan Batin
77
77. Langkah Yang Tak Mudah
78
78. Sidang Keluarga
79
79. Langkah Selanjutnya
80
80. Langkah Awal
81
81. Airin dan Bunga
82
82. Kesalahpahaman
83
83. Kecemasan
84
84. Meminta Maaf
85
85. Perkenalan Diri Dari Darren
86
86. Meredakan Amarah Airin
87
87. Penjelasan Darren
88
88. Mencari Airin
89
89. Mencari Airin 2
90
90. Menemukanmu
91
91. Bertemu
92
92. Emosional
93
93. Hukuman
94
94. Menebus Kesalahan
95
95. Airin Sadar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!