Aku menunggunya dengan harapan agar suatu hari nanti kita bisa bertemu kembali. Meski aku sedikit marah padanya, namun aku tidak bisa membencinya, karena dia yang pernah mengisi hatiku. Dalam satu tahun setelah aku mengenalnya dengan baik, aku merasa nyaman jika bersamanya, dan bahkan tanpa sadar selalu bergantung padanya. Karena itu, perasaan curigaku padanya sama sekali tak pernah ada, mengingat dia yang selalu bersikap lembut padaku.
Namun, setelah lama tak bertemu denganya, kedekatanku dengannya dulu seolah sirna. Seolah ada gap yang cukup kentara di antara kita, yang bahkan sangat sulit untuk kuhadapi. Hingga soal kenyataan yang baru aku dengar tadi, begitu menyakitkan hatiku yang selama ini terus berharap bisa bertemu kembali denganya.
"Aku.. " Dengan menahan tangisan yang tak lagi bisa ia bendung, Airin tak lagi bisa menyembunyikan rasa sedihnya setelah keluar dari ruang acaranya. Ia menepuk-nepuk pelan dadanya yang terasa sangat sakit karena terus menahan tangisnya.
Ia berjongkok menutup mata yang mulai di banjiri oleh air matanya, "Kenapa..? Kenapa..?" Dengan terduduk lemas, Airin menangis sesegukan setelah mendengar fakta yang begitu menghuncam dirinya itu. Namun, karena masih di depan gedung, ia tak bisa mengeluarkan suara tangisanya, dan hanya bisa menangis dalam diam.
Karena lalu lalang orang yang masuk ke dalam gedung tempatnya yang saat ini tengah terduduk lemas bersama dengan tangisannya, membuat Airin tersadar dan akhirnya mencoba untuk bangkit menjauhi kerumunan yang melihatnya terduduk dengan menunduk.
Dengan tubuh yang sedikit goyah karena rasa shocknya, ia berjalan ke arah mobilnya berada dengan langkah yang sedikit tak bertenaga, sambil sesekali mengusap air mata yang telah membasahi kedua pipinya.
"Tunggu.." Ucap seseorang menghentikan langkah Airin yang hendak membuka pintu mobilnya.
Dari arah belakang Airin, ia terlihat sedikit mengatur nafasnya yang ngos-ngosan ketika hendak mengejar Airin tadi.
Ucapannya yang sedikit berteriak, membuat Airin menghentikan tanganya yang hendak memegang pintu mobilnya, dan langsung menengok ke arah orang yang memanggilnya.
...----------------...
Flashbak 2 menit sebelumnya.
"Apa menurutmu dia mengenalku? Kenapa sekarang dia seolah sedang menatapku marah, ya?"
"Hah! Masa sih?" Lucas ikut menatap ke arah pandang Bian, namun tak mendapati orang yang dimaksud.
"Aku mau kesana dulu." Darren spontan mencoba mencari keberadaan Airin di tengah kumpulan orang-orang itu.
Dan tentu saja kepergian Darren yang mendadak membuat Lucas kaget "Darren, lo mau kemana?" Ucap Lucas pada Darren yang pergi dari sisinya, namun tentu saja tak mendapat respon dari Darren yang terus saja menjauh dari hadapanya.
Dan flashback itupun berakhir, terjadilah sekarang antara Darren dan Airin yang saling bertatap muka, setelah dengan sekuat tenaga Darren mengejar Airin yang keluar.
Kedua mata mereka saling bertemu, namun terjadi dua perasaan yang berbeda dari keduanya saat bertatap muka. Jika Darren mencoba mengatur ekspresi dan nafasnya yang sempat ngos-ngosan karena berlari. Dan, Airin yang terlihat tak bisa menyembunyikan rasa keterkejutnya ketika melihat orang yang begitu ia kenal, sekarang sedang berdiri di depanya, bahkan hanya beberapa langkah lebih dekat denganya. Matanya bahkan kembali menggenang pada sela-sela matanya ketika melihat orang itu yang sekarang berdiri dekat denganya.
"Tunggu, izinkan aku bertanya satu hal." Ucap Darren mencoba memperpendek jaraknya dengan Airin.
"Apa kamu mengenalku sebelumnya?" Ucapnya kemudian, yang tentu saja membuat hati Airin terguncang. Ia bahkan menatap tak percaya pada orang di depanya, dan tanpa sadar meneteskan air mata di depan Darren.
Ekspresi sedihnya saat menatap wajahnya, bahkan air mata yang tiba-tiba keluar dari matanya, ketika ia yang hendak melangkah ke arahnya, membuatnya terhenti dan memandang bingung pada wanita di depannya.
"*Tadi dia menatapku marah, dan sekarang dia menangis ketika melihatku? Bahkan tadi sempat memberikan ekspresi terkejut ketika melihatku?" Batin Darren dengan bingung menatap perempuan di depannya.
"Sial, dia membuatku bingung." Darren hendak mengkonfrontasinya langsung, dengan mempercepat lajunya menghampiri Airin*.
"Darren, dimana lo." Teriak seseorang, hingga kembali menghentikan langkahnya yang hendak menghampiri lebih dekat ke arah Airin. Hanya lima langkah lagi, bagi dirinya untuk saling bertemu, namun karena teriakan yang sedari tadi memanggilnya membuat Darren begitu kesal hingga tak lagi memperdulikan panggilan itu.
"Jangan pergi, aku masih ingin berbicara dengan kamu." Cegat Darren memegang tangan Airin yang hendak masuk kedalam mobilnya.
"Woi, Darren." Panggil Lucas dari jauh pada Darren yang saat ini tengah memegang tangan Airin. "Woo.. dia sama siapa, tuh?" Seru Lucas kaget melihat posisi Darren yang begitu dekat dengan seorang perempuan.
Begitu pandangan Darren yang teralihkan, Airin mencoba melepaskan pegangan tangan Darren, dan hendak masuk kembali pada mobilnya.
Brakk, suara tutupan pintu mobil dari Darren ketika Airin hendak masuk kembali ke dalam mobilnya.
"Aku belum selesai bicara, karena itu kamu tidak boleh pergi sebelum aku selesai bertanya." Tukasnya penuh penekanan menatap Airin dengan tajam. "Kamu..."
"Woi, Darren, mana bisa lo meninggalkan acara pesta gitu aja." Ucap Lucas menghampiri Darren dengan nafas tersengal, hingga memotong perkataan Darren.
"Aku akan masuk kesana lagi, karena itu kamu pergi sana, nanti gue bakal menyusul. Sekarang aku masih ada urusan." Ujar Bian menatap Lucas tak suka karena di ganggu ketika ingin berbicara dengan Airin.
"Urusan?" Lucas tentu bingung, namun jadi teradar ketika melihat Airin di depanya. "Ah.. tapi.." Tiba-tiba saja ia terhenti ketika melihat beberapa orang datang ketempat arah parkir mobil dan sedang menuju ke arah mereka saat ini.
"Aku tau lo lagi ada urusan, tapi kita menjauh dulu." Lucas mencoba menjauhkan tubuh Darren dari Airin, meski ia harus mendapat penolakan dari Darren yang terus meneriaki kata kasar padanya karena terus menarik tubuhnya saat masih berbicara dengan Airin.
Airin memilih pergi dari hadapan mereka berdua yang masih terus berselisih. Dan entah mengapa karena melihat hal itu, membuat perasaanya yang tadi sedikit tak stabil menjadi lebih baik, bahkan ia yang sekarang bisa mengendarai mobilnya meski sebelumnya sempat tak ada tenaga.
"Tunggu jangan pergi, turun, aku bilang turun." Darren mencoba menghadang mobil Airin yang hendak pergi, namun tentu saja tak di hiraukan oleh Airin.
"Sial, dia pergi." Umpat Darren kesal.
"Ini semua gara-gara lo tau." Teriaknya marah pada Lucas.
"Kenapa jadi gue? Justru lo harus berterimakasih sama gue, kalau gak gitu, bisa ada gosip baru nanti." Ungkap Lucas.
"Bodo amat sama gosip, gara-gara lo narik-narik gue tadi, aku jadi kehilangan kesempatan untuk bertanya padanya." Marah Darren yang terlihat frustrasi sendiri.
"Memangnya lo mau tanya apa sama dia?" Tanya Lucas ketika melihat Darren begitu marah padanya, padahal dia baru menyelamatkanya dari gosip buruk.
"Kamu tau perempuan itu?" Tunjuk Darren pada mobil yang kini sudah menjauh, dengan menatap Lucas. Namun, Lucas menggelengkan kepalanya karena tak tahu.
"Dia perempuan yang kamu bilang tadi, perempuan yang menangis dalam lift saat kita turun tadi. Apa sekarang kamu ingat?"
"Ok, aku ingat. Terus apa hubunganya dengan kemarahamu sekarang?" Bingung Lucas menatap Darren yang terlihat begitu emosional.
"Justru karena itu, aku marah. Dia menangis saat aku turun dari lift, terus saat dalam acara mata kita tak sengaja bertemu, dan dia malah memberikan tatapan marah padaku. Bahkan saat aku mencoba menghampirinya tadi, dia malah meneteskan air matanya, dengan memasang ekspresi sedih ketika melihatku. Apa menurutmu aku gak merasa terganggu dengan itu?" Jelas Darren dengan penuh ekspresif.
"Ya terus kenapa? Bukanya selama ini lo gak pernah terganggu dengan apapun? Kenapa sekarang jadi terganggu?" Ucap Lucas menatap Darren heran.
"Ya... itu.. karena...." Darren tak bisa melanjutkan perkataanya, seakan tersadar dengan apa yang dia lakukan dan menjadi bingung dengan dirinya sendiri.
"Ah sial." Umpatnya kemudian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments