"Kalian habis pulang dari main, ya?" Sapa seseorang pada Arka dan Dava yang baru pulang dari taman.
"Oh, kak Rendi. Tumben datang jam segini?" Panggil Dava pada orang yang menyapanya.
"Woo om dokter Rendi." Arka berontak ingin diturunkan oleh Dava, lalu berlari begitu saja menghampiri Rendi setelah Dava menurunkan dari gendongannya.
Rendi menghampiri Arka dengan senang, lalu memeluknya kemudian.
"Ayo masuk om." Ajak Arka memberikan isyarat minta digendong oleh Rendi. Dan Rendi pun menerima permintaanya, dan menggendongnya dengan senang hati.
"Aku datang kesini karena kebetulan saja arahku tadi dekat dengan arah rumah kamu, jadi aku memutuskan untuk mampir sebentar." Ucapnya menjawab pertanyaan Dava tadi, sambil menggendong Arka.
"Hem.. Bilang saja mau ketemu kak Airin." Batin Dava yang mengetahui kedekatan keduanya.
"Arka habis main apa tadi?" Tanya Rendi yang sekarang mengalihkan pertanyaan pada Arka yang sedang lagi ia gendong, sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
"Arka habis main kejar-kejaran, perosotan, terus ayunan dan masih banyak lagi." Jawab Arka yang mencoba menjelaskan pada Rendi.
Melihat dirinya di asingkan setelah Rendi datang, membuat Dava sedikit cemberut melihat kedekatan Arka dengan Rendi.
"Woi Arka, om Dava kok ditinggal sendirian, sih." Keluh Dava sembari cemberut melihat Arka yang langsung memalingkan diri ke Rendi yang baru datang.
"Wek.., ini karena om Dava curang tadi." Ucapnya sambil meledek mengeluarkan lidahnya. Rendi yang menggendong Arka tampak tertawa kecil melihat tingkahnya yang tengah meledek Dava.
"Wah dasar ini anak, bener-bener nempel banget kaya perangko ke kak Rendi." Gerutu Dava melihat Arka yang begitu menempel pada Rendi.
Namun meski agak cemburu pada Rendi, karena langsung mendapatkan perhatian dari Arka begitu datang, Dava tetap mengekor dibelakang mereka untuk ikut masuk ke dalam rumah. Hari yang terlihat sudah mulai petang itu, membuat ketiganya masuk kedalam rumah dengan segera.
"Hey, turun nempel mulu." Goda Dava pada Arka yang tak mau turun dari gendongan Rendi sejak dari luar hingga masuk ke dalam rumah, namun tentu saja permintaanya tak digubris oleh Arka yang malah asik bermain dengan Rendi.
"Dava, Arka mana? Kok kamu sendirian?" Tanya Rahma pada anaknya yang tengah berdiri selepas dari arah dapur.
"Tuh.. anaknya lagi main dan nempel sama kak Rendi." Ucap Dava mengarahkan pandangan pada Arka dan Rendi yang tengah duduk di kursi dengan berbagai mainan.
"Oh, selamat malam tante. Maaf saya langsung duduk." Sapa Rendi yang akhirnya melihat keberadaan bi Rahma.
"Selamat malam juga nak Rendi, kok tumben kesini? Apa nak Rendi tidak sibuk?" Tanya bi Rahma yang juga membalas sapaan Rendi.
"Ah itu, Soalnya tadi arah perjalanan saya dekat dengan rumah tante, jadi memutuskan untuk mampir sebentar deh. Dan mungkin, ini juga karena saya sedikit kangen dengan Arka, makanya saya memutuskan untuk mampir kesini." Jawab Rendi. "Oh iya, tadi saya juga membawakan sedikit makanan untuk bibi dan Dava." Ucapnya sembari membawa bingkisan makanan yang ia bawa tadi.
"Eh, gak usah bawa beginian juga gapapa lho, kok repot begini nak Rendi." Terima bi Rahma dengan perasaan tak nyaman.
"Gapapa kok tante, Rendi gak merasa repot. Karena tadi sekalian beli mainan buat Arka." Balas Rendi.
"Kalau ibuk gak mau, biar Dava saja yang menerima. Makasih lho kak, sering-sering kesini deh, jangan lupa bawa makanan juga." Timpal Dava yang meraih bingkisan dari Rendi yang lagi dipegang oleh ibunya.
"Dasar ini anak, sana masuk ke dalam, mandi gih. Sebelum itu panggil kakakmu Airin kesini, bilang ada nak Rendi disini." Geram Rahma pada kelakuan anaknya yang tak ada malu-malunya.
"Ye.. sabar dong, gak sabaran banget sih jadi orang." Ucap Dava meledek ibunya, lalu masuk ke dalam rumah.
Rahma hanya bisa menghela nafas panjang melihat tingkah anaknya.
"Yaudah duduk nak, kita ngobrol sambil nunggu Airin." Pinta bi Rahma pada Rendi yang masih berdiri.
"Itu.. sebenarnya saya tidak bisa lama-lama, soalnya saya masih ada urusan, tadi saya cuma ingin mampir saja." Ucap Rendi.
"Oh, gak mau nunggu Airin dulu? Dia pasti segera datang tuh."
"Lho, Airin masih ditoko?"
"Iya, pesanan hari ini cukup banyak, karena itu dia sedikit melembur, bahkan sampai sekarang juga kayanya masih belum selesai." Jelas bi Rahma.
Rendi mengangguk mengerti, namun raut wajahnya sedikit menyayangkan.
"Om.. om.. Ini bagaimana cara mainya?" Celetuk Arka meminta Rendi menjelaskan cara main dari mainan yang ia berikan.
"Oh begini, Arka pasang dulu tembaknya, lalu tekan dan nanti bisa nyala deh tembaknya." Jelas Rendi dengan sabar pada Arka.
"Sudah seperti ayah dan anak saja." - Batin bi Rahma melihat kedekatan Rendi dan Arka.
Ekpsresinya tampak senang melihat kedekatan keduanya. Ia pun memutuskan masuk ke dalam dapur kembali untuk mengambil minuman untuk Rendi.
Disamping itu, selang benerapa menit, Airin datang setelah berkutat menyelesaikan pesanan bunga dari beberapa pelangganya.
"Arka mana ya?" Ucapnya sembari mencari keberadaan anaknya.
"Disini, arka disini bersama om dokter Rendi." Sahut Arka yang mendengar mamanya tengah memanggil namanya.
"Oh, kak Rendi. Kok kakak ada disini?" Ucap Airin sedikit kaget melihat keberadaan Rendi dirumahnya, apalagi tengah bermain dengan anaknya.
"Iya, tadi aku lagi ada urusan sedikit, karena pulangnya searah, jadi aku mampir sebentar kerumah kamu, sambil ketemu Arka." Jawab Rendi dengan pertanyaan yang sama ketika melihat keberadaanya. "Kamu habis dari toko?" Tanya Rendi kemudian.
"Iya nih, aku sampai lupa soal Arka karena saking sibuknya tadi." Balas Airin. "Arka ayo mandi dulu, bau tau. Kan tadi mama sudah bilang tidak boleh pulang sampai petang." Ucap Airin yang tengah menghampiri anaknya yang sibuk bermain.
"Arka gak mau mandi." Balas Arka tegas yang terlanjur asik bermain.
"Kok gak mandi sih? Nanti bau, banyak kuman. Terus mainan ini darimana?" Ucapnya pada mainan yang tengah dimainkan oleh sang anak.
"Dari om dokter." Jawab Arka masih sibuk bermain.
"Arka sudah mengucapkan terimakasih belum sama om dokter?"
Arka menggelengkan kepalanya, namun tetap fokus pada mainannya.
"Ayo bilang terimakasih sama om dokter."
Meski dengan sedikit manyun, Arka menuruti keinginan Airin. "Terimakasih om dokter, Arka suka dengan mainannya." Kata Arka pada Rendi.
"Oh ya? Kalau begitu Arka harus mengabulkan permintaan om dokter kalau suka sama mainannya." Balas Rendi.
"Permintaan?" Tanya Arka dengan wajah polosnya.
"Permintaannya adalah Arka harus mandi."
"Ya..., apa mainanya akan di ambil lagi kalau Arka tidak mau mandi?" Wajahnya tampak cemberut ketika mengatakanya.
"Em.. gimana ya? Justru kalau Arka mandi, Arka akan dapat hadiah lagi dari om dokter."
"Beneran? Ok, Arka mau mandi sekarang." Teriak Arka dengan ceria.
Airin hanya tersenyum melihat obrolan Arka dengan Rendi, begitupun dengan bi Rahma yang tak sengaja melihatnya setelah dari arah dapur untuk mengambil minuman untuk Rendi.
"Kalau kakak bilang begitu, nanti Arka akan menagih hadiahnya sama kakak." Kata Airin sedikit menegur Rendi.
"Gapapa, aku tinggal kasih aja lagi hadiahnya." Ucap Rendi tak masalah.
"Kak Rendi selalu saja memanjakan Arka, nanti kalau Arka keterusan gimana?." Kinan merasa Khawatir dengan perhatian berlebihan dari Rendi.
"Gapapa, lagian tidak setiap hari juga." Balas Rendi tak merasa keberatan.
"Seperti Istri yang lagi memarahi suaminya yang tengah memanjakan anaknya." - Batin bi Rahma melihat obrolan Airin dan Rendi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
A̳̿y̳̿y̳̿a̳̿ C̳̿a̳̿h̳̿y̳̿a̳̿
mampir kak 💙👍
2022-11-05
1