18. Hal Yang Dilupakan

"Apa yang aku lupakan? Mengapa sekarang aku ingin tahu?"

Darren terlihat putus asa ketika mencoba mengingat kembali kenanganya ketika di australia.

"Sial" Umpatnya ketika menyerah dengan hal yang ia lakukan.

Sepulangnya dari rumah sakit, tampaknya Darren tak bisa melupakan setiap perkataan yang dijelaskan oleh dokter Heru padanya.

"Jangan memaksakan kalau memang sakit." Ujar Lucas yang mencoba menenangkan Darren, dan ikut menemani Darren dalam apartmentnya.

"Cas, menurutmu haruskah aku melakukan terapi itu?"

"Terserah sih, kalau menurutmu itu bagus, ya lakukan saja. Tapi, kalau berat mending tidak usah, toh selama ini tubuhmu baik-baik saja." Jawab Lucas tak memaksa Darren untuk melakukan terapi.

"Selama ini, aku tidak pernah melakukan terapi pemulihan ingatanku. Kakek dan papa juga seolah melarangku untuk melakukanya. Dan saat itu, aku juga tak melakukanya karena merasa itu bukan hal yang penting."

"Mereka melarangmu melakukanya, karena mereka khawatir padamu, karena selama kamu terbangun dari koma, kamu selalu mengeluh kesakitan pada kepalamu, hingga selalu terbangun dari tidur karena selalu teringat kembali akan kecelakaan itu."

"Benar, itu karena aku masih memikirkan kecelakaan itu, hingga membuatku susah untuk tidur. Tapi, sebenarnya hingga sekarang aku juga masih merasakan kesulitan untuk tidur, dan seringkali meminum obat agar bisa tidur."

"Setidaknya tidak separah saat kamu terbangun dari koma dulu, kan?"

"Iya sih, tapi.. yang buatku bingung adalah, adanya suara perempuan yang selalu muncul di kepalaku, hingga kadang membuatku terbangun di tengah-tengah tidurku. Aku merasa ini ada kaitanya dengan ingatanku dulu deh?"

"Suara perempuan?" Tekan Lucas mencoba memastikan apa yang ia dengar.

"Iya, aneh kan? Padahal dulu yang membuatku susah tidur adalah kenangan saat kecelakaan. Tapi, entah mengapa beberapa bulan terakhir ini, aku seringkali memimpikan seorang perempuan. Suaranya benar-benar mengganggu tidurku!" Kata Darren menceritakan kondisi dirinya yang ia alami beberapa bulan ini.

"Sejak kapan lu mengalami hal itu? Kenapa baru bilang sekarang?" Lucas terlihat terkejut mendengar penjelasan dari Darren.

"Mungkin sejak dua bulan yang lalu." Jawab Darren.

"Hah! Itu kan, waktu lu pulang dari australia? Pantas setelah hari itu kondisimu jadi semakin tidak baik. Seperti mengonsumsi obat tidur lebih sering dari biasanya, bahkan terkadang lebih dari dosis yang disarankan oleh dokter."

"Iya, kamu benar. Setelah datang kesana, aku jadi sering mengonsumsi obat tidurku karena mimpi dan suara itu!"

Lucas menghela nafas panjangnya sejenak. "Padahal kan aku sudah pernah bilang, kalau biar aku saja yang datang, kenapa malah memaksa datang kesana? Lihat sekarang, hati dan perasanmu masih belum sepenuhnya menerima." Ucapnya kemudian.

"Menurutmu, apa suara perempuan yang aku dengar dalam mimpiku itu, ada kaitanya pada ingatanku dulu, ya?" Tanya Darren meminta pencerahan pada Lucas.

"Entahlah, mungkin saja. Tapi, apa kamu tidak ada gambaran sekalipun tentang perempuan yang muncul dalam mimpimu itu?" Tanya balik Lucas.

"Tidak ada sama sekali. Karena itu, hal ini benar-benar membuatku bingung. Dan, hingga sekarang aku masih berusaha mencari tahu jawabanya, kenapa dia bisa muncul di mimpiku dan siapa dia sebenarnya?." Jawab Darren menjabarkan mimpinya pada Lucas.

"Apa yang kamu ingat tentang perempuan yang ada dalam mimpimu itu?"

"Aku tidak begitu mengingatnya, wajahnya saja hanya samar-samar aku lihat dalam mimpi. Namun, kalimat yang selalu aku dengar adalah, jangan melupakanku." Jawab Darren.

"Jangan melupakanku?" Lucas mengulang kembali kalimat yang dikatakan oleh Bian dengan ekspresi menerawang.

"Aneh, kan? Aku juga aneh setiap kali mendengarnya."

"Apa ini jangan-jangan kutukan yang diberikan oleh Laura? Dia kan terobsesi padamu, tapi lu yang selalu cuekin dia?" Tebak Lucas.

"Bukan, yang jelas itu bukan suara dia. Kalau dengar suara dia, yang ada aku malah ilfeel sendiri." Tukas Darren dengan tegas. "Suara yang aku dengar itu begitu lembut, dan setiap kali aku mendengarnya, hatiku selalu merasa sakit." Jelasnya lagi.

"Sakit, ya?" hem.." Lucas tampak aneh begitu mendengarnya. "Apa dulu waktu tinggal di melbourne, lu pernah punya pacar atau orang yang spesial gitu?" Ucapnya kemudian.

"Hah!" Agaknya Darren merasa kaget begitu mendengar perkataan yang dilontarkan oleh Lucas.

"Pacar? Orang yang spesial?"

Begitu mencoba mengingatnya, kepalanya kembali berdengung, yang lagi-lagi membuatnya kesakitan.

"Kita sudahi saja pembicaraan hari ini, lebih baik sekarang lu istirahat saja, dan minum obat yang diresepkan oleh dokter Heru tadi." Ucap Lucas meminta pada Darren yang mulai kesakitan lagi, dan mengakhiri sesi obrolan mereka.

...

Hal yang sangat ingin Darren tahu, juga dirasakan oleh Airin sekarang. Jika Darren sangat ingin tahu soal identitas perempuan yang muncul dalam minpinya, berbanding terbalik dengan Airin yang tengah mencari jawaban dari hal yang baru ia alami saat ini. Pada kondisi orang yang pernah mengisi hatinya, juga perihal alasannya pergi meninggalkanya hingga bisa melupakan dirinya sekarang.

"Aku tidak tahu, harus senang ataukah marah sekarang?" Ucapnya yang tak lagi bisa mengontrol ekspresi sedihnya ketika mencoba mengingat akan itu.

"Aku bahkan tidak bisa menatap wajah anakku, karena merasa bersalah padanya." Ujarnya lagi merasa menyesal karena tak bisa mempertemukan anaknya pada ayah kandungnya.

"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Ucapnya frustrasi.

"Rin, ayo makan malam." Panggil bi Rahma pada Airin yang sedari tadi terus merenung di dalam kamarnya.

"Iya, bi. Airin akan segera keluar." Jawab Airin yang bergegas keluar begitu mendapat panggilan dari bi Rahma.

"Kamu kenapa? Apa kamu lagi ada masalah?" Tanya bi Rahma, begitu Airin duduk dalam.meja makan.

"Enggak kok, bi. Airin baik-baik saja." Jawab Airin sedikit berbohong.

"Beneran? Kamu terus murung begini setelah pulang dari mengantar pesanan kemarin, lho!" Kata bi Rahma mencoba memastikan kembali.

Airin hanya bisa tersenyum mendengar ke khawatiran bibinya. Namun, tentu saja dia tak bisa menceritakan apa yang sedang terjadi padanya.

"Iya, bi. Airin gak ada apa-apa, kok. Ini mungkin karena Airin kecapean saja, mengingat pesanan beberapa hari ini cukup banyak." Jelas Airin mencoba menenangkan bibinya yang khawatir padanya.

"Yasudah kalau kamu bilang begitu, bibi akan percaya." Bi Rahma tak lagi mendebat dan mencoba memahami Airin.

Ekspresi Airin terlihat tak enak, mengingat ia sudah berbohong pada bibinya. Namun, ia tak punya pilihan selain menyembunyikan hal itu, mengingat itu bukanlah berita yang bagus untuk diceritakan pada keluarganya.

"Ma, aku mau telur." Ucapan Arka membuat Airin mengesampingkan pikiran kalutnya.

"Ok, mama ambilin telurnya. Makan yang banyak, ya!" Kata Airin mengusap lembut puncak kepala anaknya begitu emabrjh telur pada piring anaknya.

"Apa yang harus mama lakukan padamu, nak? Jika papamu tak mengingat mama, lalu bagaimana nasibmu nanti?"

Episodes
1 1. Melbourne
2 2. Airin's Garden
3 3. Permataku
4 4. Pulang Kerumah Bibi
5 5. Status Baru
6 6. Hikmah Memilikinya
7 7. Kehangatan Mengelilingiku
8 8. Bertemu Teman Lama
9 9. Rasa Yang Tertinggal
10 10. Mengantar Pesanan Bunga
11 11. Bertemu Denganya
12 12. Dia Ada Di Depanku, Namun Tak Bisa Ku Dekati
13 13. Kenyataan Yang Menghuncam
14 14. Pikiran Yang Mengganggu
15 15. Ingatan Yang Tiba-tiba Muncul
16 16. Kecelakaan Berakibat Fatal
17 17. Memori Yang Hilang
18 18. Hal Yang Dilupakan
19 19. Suara Hati
20 20. Hubungan Yang Kaku
21 21. Ada Yang Janggal
22 22. Big News
23 23. Gawat!
24 24. Hati Yang Terluka
25 25. Bayangan Akan Dirinya
26 26. Masih Merindukannya?
27 27. Mencari Jawaban
28 28. Ingin Mencari Titik Terangnya
29 29. Mencari Arka Yang Hilang
30 30. Pertemuan Yang Tak Diharapkan
31 31. Begitu Dekat, Namun Terasa Jauh
32 32. Harus Bagaimana?
33 33. Perasaan Yang Aneh Ketika Melihatnya
34 34. Serpihan Ingatan
35 35. Perempuan Yang Sama?
36 36. Ketika Hati Telah Terikat Oleh Perasaan
37 37. Awal Dari Puzzle
38 38. Potongan Puzzle
39 39. Susunan Pazzle
40 40. Titik Terangnya
41 41. Mengatakan Kebenaran
42 42. Perjalanan Airin Membesarkan Anaknya
43 43. Mencari Harapan
44 44. Jatuh Sakit
45 45. Sebuah Firasat
46 46. Momen Kedekatan
47 47. Kenangan Masa Lalu
48 48. Pulang Dari Rumah Sakit
49 49. Airin dan Keputusannya
50 50. Darren Yang Merasa Aneh
51 51. Identitas Diri
52 52. Akhirnya Pulang
53 53. Tak Lagi Berharap
54 54. Ada Yang Salah
55 55. Keputusan Yang Sulit
56 56. Teka Teki
57 57. Sebuah Gambaran
58 58. Siluet Bayangan
59 59. Harapan Tiba?
60 60. Langkah Darren
61 61. Pergolakan Hati
62 62. Isi Hati Seorang Arkana
63 63. Kepingan Cerita
64 64. Berita Yang Mengejutkan
65 65. Pertemuan Yang Tak Terduga
66 66. Arka Sudah Tau?
67 67. Darren Akhirnya Ingat?
68 68. Kenangan dan Harapan
69 69. Rasa Mengharukan
70 70. Tampil Bersama
71 71. Kumpul Bertiga?
72 72. Perasaan Yang Tertahan
73 73. Babak Baru
74 74. Berbagi Cerita
75 75. Breaking News
76 76. Ikatan Batin
77 77. Langkah Yang Tak Mudah
78 78. Sidang Keluarga
79 79. Langkah Selanjutnya
80 80. Langkah Awal
81 81. Airin dan Bunga
82 82. Kesalahpahaman
83 83. Kecemasan
84 84. Meminta Maaf
85 85. Perkenalan Diri Dari Darren
86 86. Meredakan Amarah Airin
87 87. Penjelasan Darren
88 88. Mencari Airin
89 89. Mencari Airin 2
90 90. Menemukanmu
91 91. Bertemu
92 92. Emosional
93 93. Hukuman
94 94. Menebus Kesalahan
95 95. Airin Sadar
Episodes

Updated 95 Episodes

1
1. Melbourne
2
2. Airin's Garden
3
3. Permataku
4
4. Pulang Kerumah Bibi
5
5. Status Baru
6
6. Hikmah Memilikinya
7
7. Kehangatan Mengelilingiku
8
8. Bertemu Teman Lama
9
9. Rasa Yang Tertinggal
10
10. Mengantar Pesanan Bunga
11
11. Bertemu Denganya
12
12. Dia Ada Di Depanku, Namun Tak Bisa Ku Dekati
13
13. Kenyataan Yang Menghuncam
14
14. Pikiran Yang Mengganggu
15
15. Ingatan Yang Tiba-tiba Muncul
16
16. Kecelakaan Berakibat Fatal
17
17. Memori Yang Hilang
18
18. Hal Yang Dilupakan
19
19. Suara Hati
20
20. Hubungan Yang Kaku
21
21. Ada Yang Janggal
22
22. Big News
23
23. Gawat!
24
24. Hati Yang Terluka
25
25. Bayangan Akan Dirinya
26
26. Masih Merindukannya?
27
27. Mencari Jawaban
28
28. Ingin Mencari Titik Terangnya
29
29. Mencari Arka Yang Hilang
30
30. Pertemuan Yang Tak Diharapkan
31
31. Begitu Dekat, Namun Terasa Jauh
32
32. Harus Bagaimana?
33
33. Perasaan Yang Aneh Ketika Melihatnya
34
34. Serpihan Ingatan
35
35. Perempuan Yang Sama?
36
36. Ketika Hati Telah Terikat Oleh Perasaan
37
37. Awal Dari Puzzle
38
38. Potongan Puzzle
39
39. Susunan Pazzle
40
40. Titik Terangnya
41
41. Mengatakan Kebenaran
42
42. Perjalanan Airin Membesarkan Anaknya
43
43. Mencari Harapan
44
44. Jatuh Sakit
45
45. Sebuah Firasat
46
46. Momen Kedekatan
47
47. Kenangan Masa Lalu
48
48. Pulang Dari Rumah Sakit
49
49. Airin dan Keputusannya
50
50. Darren Yang Merasa Aneh
51
51. Identitas Diri
52
52. Akhirnya Pulang
53
53. Tak Lagi Berharap
54
54. Ada Yang Salah
55
55. Keputusan Yang Sulit
56
56. Teka Teki
57
57. Sebuah Gambaran
58
58. Siluet Bayangan
59
59. Harapan Tiba?
60
60. Langkah Darren
61
61. Pergolakan Hati
62
62. Isi Hati Seorang Arkana
63
63. Kepingan Cerita
64
64. Berita Yang Mengejutkan
65
65. Pertemuan Yang Tak Terduga
66
66. Arka Sudah Tau?
67
67. Darren Akhirnya Ingat?
68
68. Kenangan dan Harapan
69
69. Rasa Mengharukan
70
70. Tampil Bersama
71
71. Kumpul Bertiga?
72
72. Perasaan Yang Tertahan
73
73. Babak Baru
74
74. Berbagi Cerita
75
75. Breaking News
76
76. Ikatan Batin
77
77. Langkah Yang Tak Mudah
78
78. Sidang Keluarga
79
79. Langkah Selanjutnya
80
80. Langkah Awal
81
81. Airin dan Bunga
82
82. Kesalahpahaman
83
83. Kecemasan
84
84. Meminta Maaf
85
85. Perkenalan Diri Dari Darren
86
86. Meredakan Amarah Airin
87
87. Penjelasan Darren
88
88. Mencari Airin
89
89. Mencari Airin 2
90
90. Menemukanmu
91
91. Bertemu
92
92. Emosional
93
93. Hukuman
94
94. Menebus Kesalahan
95
95. Airin Sadar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!