"Apa yang aku lupakan? Mengapa sekarang aku ingin tahu?"
Darren terlihat putus asa ketika mencoba mengingat kembali kenanganya ketika di australia.
"Sial" Umpatnya ketika menyerah dengan hal yang ia lakukan.
Sepulangnya dari rumah sakit, tampaknya Darren tak bisa melupakan setiap perkataan yang dijelaskan oleh dokter Heru padanya.
"Jangan memaksakan kalau memang sakit." Ujar Lucas yang mencoba menenangkan Darren, dan ikut menemani Darren dalam apartmentnya.
"Cas, menurutmu haruskah aku melakukan terapi itu?"
"Terserah sih, kalau menurutmu itu bagus, ya lakukan saja. Tapi, kalau berat mending tidak usah, toh selama ini tubuhmu baik-baik saja." Jawab Lucas tak memaksa Darren untuk melakukan terapi.
"Selama ini, aku tidak pernah melakukan terapi pemulihan ingatanku. Kakek dan papa juga seolah melarangku untuk melakukanya. Dan saat itu, aku juga tak melakukanya karena merasa itu bukan hal yang penting."
"Mereka melarangmu melakukanya, karena mereka khawatir padamu, karena selama kamu terbangun dari koma, kamu selalu mengeluh kesakitan pada kepalamu, hingga selalu terbangun dari tidur karena selalu teringat kembali akan kecelakaan itu."
"Benar, itu karena aku masih memikirkan kecelakaan itu, hingga membuatku susah untuk tidur. Tapi, sebenarnya hingga sekarang aku juga masih merasakan kesulitan untuk tidur, dan seringkali meminum obat agar bisa tidur."
"Setidaknya tidak separah saat kamu terbangun dari koma dulu, kan?"
"Iya sih, tapi.. yang buatku bingung adalah, adanya suara perempuan yang selalu muncul di kepalaku, hingga kadang membuatku terbangun di tengah-tengah tidurku. Aku merasa ini ada kaitanya dengan ingatanku dulu deh?"
"Suara perempuan?" Tekan Lucas mencoba memastikan apa yang ia dengar.
"Iya, aneh kan? Padahal dulu yang membuatku susah tidur adalah kenangan saat kecelakaan. Tapi, entah mengapa beberapa bulan terakhir ini, aku seringkali memimpikan seorang perempuan. Suaranya benar-benar mengganggu tidurku!" Kata Darren menceritakan kondisi dirinya yang ia alami beberapa bulan ini.
"Sejak kapan lu mengalami hal itu? Kenapa baru bilang sekarang?" Lucas terlihat terkejut mendengar penjelasan dari Darren.
"Mungkin sejak dua bulan yang lalu." Jawab Darren.
"Hah! Itu kan, waktu lu pulang dari australia? Pantas setelah hari itu kondisimu jadi semakin tidak baik. Seperti mengonsumsi obat tidur lebih sering dari biasanya, bahkan terkadang lebih dari dosis yang disarankan oleh dokter."
"Iya, kamu benar. Setelah datang kesana, aku jadi sering mengonsumsi obat tidurku karena mimpi dan suara itu!"
Lucas menghela nafas panjangnya sejenak. "Padahal kan aku sudah pernah bilang, kalau biar aku saja yang datang, kenapa malah memaksa datang kesana? Lihat sekarang, hati dan perasanmu masih belum sepenuhnya menerima." Ucapnya kemudian.
"Menurutmu, apa suara perempuan yang aku dengar dalam mimpiku itu, ada kaitanya pada ingatanku dulu, ya?" Tanya Darren meminta pencerahan pada Lucas.
"Entahlah, mungkin saja. Tapi, apa kamu tidak ada gambaran sekalipun tentang perempuan yang muncul dalam mimpimu itu?" Tanya balik Lucas.
"Tidak ada sama sekali. Karena itu, hal ini benar-benar membuatku bingung. Dan, hingga sekarang aku masih berusaha mencari tahu jawabanya, kenapa dia bisa muncul di mimpiku dan siapa dia sebenarnya?." Jawab Darren menjabarkan mimpinya pada Lucas.
"Apa yang kamu ingat tentang perempuan yang ada dalam mimpimu itu?"
"Aku tidak begitu mengingatnya, wajahnya saja hanya samar-samar aku lihat dalam mimpi. Namun, kalimat yang selalu aku dengar adalah, jangan melupakanku." Jawab Darren.
"Jangan melupakanku?" Lucas mengulang kembali kalimat yang dikatakan oleh Bian dengan ekspresi menerawang.
"Aneh, kan? Aku juga aneh setiap kali mendengarnya."
"Apa ini jangan-jangan kutukan yang diberikan oleh Laura? Dia kan terobsesi padamu, tapi lu yang selalu cuekin dia?" Tebak Lucas.
"Bukan, yang jelas itu bukan suara dia. Kalau dengar suara dia, yang ada aku malah ilfeel sendiri." Tukas Darren dengan tegas. "Suara yang aku dengar itu begitu lembut, dan setiap kali aku mendengarnya, hatiku selalu merasa sakit." Jelasnya lagi.
"Sakit, ya?" hem.." Lucas tampak aneh begitu mendengarnya. "Apa dulu waktu tinggal di melbourne, lu pernah punya pacar atau orang yang spesial gitu?" Ucapnya kemudian.
"Hah!" Agaknya Darren merasa kaget begitu mendengar perkataan yang dilontarkan oleh Lucas.
"Pacar? Orang yang spesial?"
Begitu mencoba mengingatnya, kepalanya kembali berdengung, yang lagi-lagi membuatnya kesakitan.
"Kita sudahi saja pembicaraan hari ini, lebih baik sekarang lu istirahat saja, dan minum obat yang diresepkan oleh dokter Heru tadi." Ucap Lucas meminta pada Darren yang mulai kesakitan lagi, dan mengakhiri sesi obrolan mereka.
...
Hal yang sangat ingin Darren tahu, juga dirasakan oleh Airin sekarang. Jika Darren sangat ingin tahu soal identitas perempuan yang muncul dalam minpinya, berbanding terbalik dengan Airin yang tengah mencari jawaban dari hal yang baru ia alami saat ini. Pada kondisi orang yang pernah mengisi hatinya, juga perihal alasannya pergi meninggalkanya hingga bisa melupakan dirinya sekarang.
"Aku tidak tahu, harus senang ataukah marah sekarang?" Ucapnya yang tak lagi bisa mengontrol ekspresi sedihnya ketika mencoba mengingat akan itu.
"Aku bahkan tidak bisa menatap wajah anakku, karena merasa bersalah padanya." Ujarnya lagi merasa menyesal karena tak bisa mempertemukan anaknya pada ayah kandungnya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Ucapnya frustrasi.
"Rin, ayo makan malam." Panggil bi Rahma pada Airin yang sedari tadi terus merenung di dalam kamarnya.
"Iya, bi. Airin akan segera keluar." Jawab Airin yang bergegas keluar begitu mendapat panggilan dari bi Rahma.
"Kamu kenapa? Apa kamu lagi ada masalah?" Tanya bi Rahma, begitu Airin duduk dalam.meja makan.
"Enggak kok, bi. Airin baik-baik saja." Jawab Airin sedikit berbohong.
"Beneran? Kamu terus murung begini setelah pulang dari mengantar pesanan kemarin, lho!" Kata bi Rahma mencoba memastikan kembali.
Airin hanya bisa tersenyum mendengar ke khawatiran bibinya. Namun, tentu saja dia tak bisa menceritakan apa yang sedang terjadi padanya.
"Iya, bi. Airin gak ada apa-apa, kok. Ini mungkin karena Airin kecapean saja, mengingat pesanan beberapa hari ini cukup banyak." Jelas Airin mencoba menenangkan bibinya yang khawatir padanya.
"Yasudah kalau kamu bilang begitu, bibi akan percaya." Bi Rahma tak lagi mendebat dan mencoba memahami Airin.
Ekspresi Airin terlihat tak enak, mengingat ia sudah berbohong pada bibinya. Namun, ia tak punya pilihan selain menyembunyikan hal itu, mengingat itu bukanlah berita yang bagus untuk diceritakan pada keluarganya.
"Ma, aku mau telur." Ucapan Arka membuat Airin mengesampingkan pikiran kalutnya.
"Ok, mama ambilin telurnya. Makan yang banyak, ya!" Kata Airin mengusap lembut puncak kepala anaknya begitu emabrjh telur pada piring anaknya.
"Apa yang harus mama lakukan padamu, nak? Jika papamu tak mengingat mama, lalu bagaimana nasibmu nanti?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments