5. Status Baru

Usianya saat itu baru 21 tahun, dan sedang menjalankan kuliahnya di luar negeri. Berkuliah di Australia karena beasiswa dan tengah masuk ke tahap semester akhir baginya untuk lulus, namun tiba-tiba saja "itu" datang menghampirinya yang seketika meruntuhkan hati dan pikiranya, ditambah dengan kenyataan yang ia dapat bahwa harus berjuang sendirian untuk mengatasi hal "itu" di negeri orang sangatlah tidak mudah baginya, apalagi statusnya masih mahasiswi dan tak ada siapapun disinya.

"Bagaimana ini?" Dengan ekspresi terkejutnya, ia menatap test pack yang tengah memperlihatkan dua garis di depan matanya. Ada lebih dari 5 test pack yang ia beli, dan semuanya menunjukkan hasil yang sama tanpa adanya perubahan.

Terduduk lemas mengetahui hal itu, membuat perempuan yang mempunyai nama lengkap Airin Oktavianti Putri itu terpaku dalam kebingungan. Dengan perasaan dan wajah yang kacau karena shock, ia mencoba menelfon seseorang dengan perasaan panik.

"Gak diangkat." Gumamnya dengan panik melihat telfonya tak diangkat oleh sang penerima.

Tuut.. tuut.. Nomor yang anda tuju tidak aktif.

Seketika menambah kepanikan dalam dirinya ketika mendengar suara operator dari sebrang telfonya, memberitahukan bahwa nomor orang yang ditelfon ternyata tak aktif, meskipun sudah beberapa kali ia coba panggil.

"Padahal tadi masih menyambung, tapi kenapa sekarang malah tidak aktif?" Ucapnya bingung dengan sedikit panik.

Airin meraih tasnya dan merapikan sedikit penampilanya, lalu keluar terburu-buru dari asramanya untuk menemui seseorang.

"Tidak ada! Kenapa dia tidak keluar? Apa dia tidak ada di dalam? Dan kenapa nomornya juga tidak aktif." Airin menggedor dengan putus asa saat tak ada sahutan maupun respon dari sang pemilik apartemen ketika ia memencet tombol apartemen miliknya, bahkan ia menjadi frustrasi saat kesulitan menghubungi pemilik apartemen yang sedang ia datangi saat ini.

"Dia sedang keluar, kan? Pasti, mana mungkin dia pergi tanpa pamit sama aku." Ucapnya mencoba menenangkan dirinya, lalu memilih untuk pergi dari apartemen milik sang kekasih itu, setelah menunggu disana selama hampir 1 jam lebih.

Namun, tetap tak kunjung ia jumpai sosok kekasihnya dalam apartemen miliknya. Ketika ia datang untuk yang kedua, ketiga, keempat dan seterusnya pada apartemen miliknya, namun tetap tak ada tanda-tanda kehidupan dalam apartemen itu. Membuat Airin terduduk lemas memikirkan keberadaanya.

"Sebenarnya kamu kemana? Kamu tidak sedang bercanda kan sama aku? Aku mohon jangan seperti ini sama aku.." Tangis Airin pecah ketika dalam beberapa hari tak bisa menghubungi dan juga bertemu dengan kekasih yang sudah ia kenal selama lebih dari 1 tahun itu.

"Aku harus bagaimana sekarang, apa yang harus kulakukan pada bayi yang ada diperutku?" Tangisnya frustrasi dengan terduduk lemas dalam apartemen milik kekasihnya.

Setelah berkutat pada masalah yang dia alami, ia pun memutuskan untuk mengambil cuti kuliahnya yang seharusnya sebentar lagi lulus itu, karena dia ingin menenangkan dirinya yang lagi terkena depresi berat, mengingat perubahan statusnya dan kepergian kekasihnya yang tanpa kabar padanya itu.

......................

"Arka, om bawa mainan nih, ayo main sama om Dava." Ucap Dava pada Arka yang tengah bermain seorang diri di halaman depan toko milik sang ibu.

"Mau, Arka mau main sama om Dava." Seru Arka dengan ceria, lalu menghampiri Dava dengan cepat.

"Eh, tapi bilang dulu sana sama mama kamu, nanti dia nyariin lagi." Pinta Dava pada anak dari kakak sepupunya itu.

"Ok, om Dava disini ya, jangan tinggalin Arka lho." Lari Arka untuk segera menghampiri mamanya yang berada dalam toko.

"Siap bos." Jawab Dava menangkan Arka.

Dan Arka pun berlari menghampiri Airin yang terlihat tengah sibuk mengatur pesanannya dalam toko bunga miliknya.

"Mama, mama." Panggil Arka pelan pada sang mama yang tengah sibuk.

Airin menoleh pada sang anak yang tengah menarik-narik bajunya. "Ada apa sayang, Arka mau sesuatu sama mama?" Tanya Airin, namun mendapat gelengan kepala dari Arka dengan cepat.

"Lho, terus mau apa dong?" Tanya Airin lagi.

"Arka mau main sama om Dava, apa boleh?" Ucap Arka dengan pelan dan sedikit bisik-bisik.

Airin tersenyum melihat tingkah anaknya, "Om Dava sudah pulang, ya?" Tanya Airin dan mendapat anggukan kecil dari Arka, "Mama izinkan Arka main sama om Dava, tapi jangan sampai malam lho ya mainya. Harus pulang sebelum apa..?"

"Sebelum petang." Jawab Arka yang sudah faham maksud mamanya.

"Bagus, pintarnya anak mama. Yaudah sana main sama om Dava. Baik-baik ya sama om Dava." Ucap Arin mengelus lembut puncak kepala anaknya.

"Yeay.." Ucap Arka yang kini berteriak dengan keras karena terlalu senang, lalu beranjak pergi begitu saja dari hadapan Airin ketika sudah mendatkan izin darinya.

"Arka kenapa tadi kesini?" Tanya bi Rahma yang kebetulan melihat sosoknya yang masuk ke dalam toko.

"Enggak ada apa-apa, dia cuma minta izin sama aku, katanya mau main sama Dava." Jelas Airin.

"Oh Dava sudah pulang, baguslah, jadi ada yang menjaga Arka nanti." Ujar bi Rahma. "Meski Arka anak yang anteng, tapi tetap saja kalau dibiarkan sendiri bisa bahaya." Ujarnya lagi.

"Iya bi, tadi aku juga gak berhenti memperhatikan dia, meski kadang kehilangan pandangan karena terlalu sibuk di toko."

"Iya, bibi sama pamanmu juga tadi sibuk bergantian jaga Arka, meski kadang juga karena kelelahan habis jualan dipasar, jadi ketiduran deh. Tapi, aku gak nyangka anak yang suka merengek dan manja itu bisa dengan sabar menjaga Arka." Kata bi Rahma yang mengacu pada anak semata wayangnya, yaitu Dava.

"Dava sudah dewasa sekarang, jadi bibi bisa tenang sekarang." Senyum Airin.

"Yah semoga sajalah, soalnya suka pusing sendiri lihat dia bikin masalah mulu." Gerutu bi Rahma yang sangat berharap pada anaknya Dava yang sudah menginjak usia 18 tahun itu, agar lebih dewasa lagi kedepanya.

...

Dava dan Arka berjalan menuju taman bermain yang tak jauh dari rumahnya. Mereka saling bergandengan tangan menuju ke taman bermain, dengan sedikit candaan kecil yang mengiringi perjalanan mereka. Terlihat ceria dan penuh tawa, tak hentinya mereka untuk saling meledek satu sama lain.

"Arka mau main nih?" Sapa seseorang pada Arka yang tengah berjalan bersama Dava disampingnya.

"Iya, Arka mau main sama om Dava." Jawab Arka pada seorang ibu-ibu yang tengah menyapanya, ia menjawabnya penuh dengan keceriaan, khas seorang anak kecil seusianya.

Para tetangga rumahnya, tampak mengenal akrab seorang Arka, bahkan di antaranya sangat menyukai sifatnya yang selalu ceria ketika disapa.

"Anaknya selalu ceria ya, Airin pasti bangga punya anak seperti dia. Udah pintar, anteng, penurut dan ceria lagi." Tampak bangga seorang ibu yang menyapa Arka tadi, melihat sosok Arka yang selalu ceria itu.

Episodes
1 1. Melbourne
2 2. Airin's Garden
3 3. Permataku
4 4. Pulang Kerumah Bibi
5 5. Status Baru
6 6. Hikmah Memilikinya
7 7. Kehangatan Mengelilingiku
8 8. Bertemu Teman Lama
9 9. Rasa Yang Tertinggal
10 10. Mengantar Pesanan Bunga
11 11. Bertemu Denganya
12 12. Dia Ada Di Depanku, Namun Tak Bisa Ku Dekati
13 13. Kenyataan Yang Menghuncam
14 14. Pikiran Yang Mengganggu
15 15. Ingatan Yang Tiba-tiba Muncul
16 16. Kecelakaan Berakibat Fatal
17 17. Memori Yang Hilang
18 18. Hal Yang Dilupakan
19 19. Suara Hati
20 20. Hubungan Yang Kaku
21 21. Ada Yang Janggal
22 22. Big News
23 23. Gawat!
24 24. Hati Yang Terluka
25 25. Bayangan Akan Dirinya
26 26. Masih Merindukannya?
27 27. Mencari Jawaban
28 28. Ingin Mencari Titik Terangnya
29 29. Mencari Arka Yang Hilang
30 30. Pertemuan Yang Tak Diharapkan
31 31. Begitu Dekat, Namun Terasa Jauh
32 32. Harus Bagaimana?
33 33. Perasaan Yang Aneh Ketika Melihatnya
34 34. Serpihan Ingatan
35 35. Perempuan Yang Sama?
36 36. Ketika Hati Telah Terikat Oleh Perasaan
37 37. Awal Dari Puzzle
38 38. Potongan Puzzle
39 39. Susunan Pazzle
40 40. Titik Terangnya
41 41. Mengatakan Kebenaran
42 42. Perjalanan Airin Membesarkan Anaknya
43 43. Mencari Harapan
44 44. Jatuh Sakit
45 45. Sebuah Firasat
46 46. Momen Kedekatan
47 47. Kenangan Masa Lalu
48 48. Pulang Dari Rumah Sakit
49 49. Airin dan Keputusannya
50 50. Darren Yang Merasa Aneh
51 51. Identitas Diri
52 52. Akhirnya Pulang
53 53. Tak Lagi Berharap
54 54. Ada Yang Salah
55 55. Keputusan Yang Sulit
56 56. Teka Teki
57 57. Sebuah Gambaran
58 58. Siluet Bayangan
59 59. Harapan Tiba?
60 60. Langkah Darren
61 61. Pergolakan Hati
62 62. Isi Hati Seorang Arkana
63 63. Kepingan Cerita
64 64. Berita Yang Mengejutkan
65 65. Pertemuan Yang Tak Terduga
66 66. Arka Sudah Tau?
67 67. Darren Akhirnya Ingat?
68 68. Kenangan dan Harapan
69 69. Rasa Mengharukan
70 70. Tampil Bersama
71 71. Kumpul Bertiga?
72 72. Perasaan Yang Tertahan
73 73. Babak Baru
74 74. Berbagi Cerita
75 75. Breaking News
76 76. Ikatan Batin
77 77. Langkah Yang Tak Mudah
78 78. Sidang Keluarga
79 79. Langkah Selanjutnya
80 80. Langkah Awal
81 81. Airin dan Bunga
82 82. Kesalahpahaman
83 83. Kecemasan
84 84. Meminta Maaf
85 85. Perkenalan Diri Dari Darren
86 86. Meredakan Amarah Airin
87 87. Penjelasan Darren
88 88. Mencari Airin
89 89. Mencari Airin 2
90 90. Menemukanmu
91 91. Bertemu
92 92. Emosional
93 93. Hukuman
94 94. Menebus Kesalahan
95 95. Airin Sadar
Episodes

Updated 95 Episodes

1
1. Melbourne
2
2. Airin's Garden
3
3. Permataku
4
4. Pulang Kerumah Bibi
5
5. Status Baru
6
6. Hikmah Memilikinya
7
7. Kehangatan Mengelilingiku
8
8. Bertemu Teman Lama
9
9. Rasa Yang Tertinggal
10
10. Mengantar Pesanan Bunga
11
11. Bertemu Denganya
12
12. Dia Ada Di Depanku, Namun Tak Bisa Ku Dekati
13
13. Kenyataan Yang Menghuncam
14
14. Pikiran Yang Mengganggu
15
15. Ingatan Yang Tiba-tiba Muncul
16
16. Kecelakaan Berakibat Fatal
17
17. Memori Yang Hilang
18
18. Hal Yang Dilupakan
19
19. Suara Hati
20
20. Hubungan Yang Kaku
21
21. Ada Yang Janggal
22
22. Big News
23
23. Gawat!
24
24. Hati Yang Terluka
25
25. Bayangan Akan Dirinya
26
26. Masih Merindukannya?
27
27. Mencari Jawaban
28
28. Ingin Mencari Titik Terangnya
29
29. Mencari Arka Yang Hilang
30
30. Pertemuan Yang Tak Diharapkan
31
31. Begitu Dekat, Namun Terasa Jauh
32
32. Harus Bagaimana?
33
33. Perasaan Yang Aneh Ketika Melihatnya
34
34. Serpihan Ingatan
35
35. Perempuan Yang Sama?
36
36. Ketika Hati Telah Terikat Oleh Perasaan
37
37. Awal Dari Puzzle
38
38. Potongan Puzzle
39
39. Susunan Pazzle
40
40. Titik Terangnya
41
41. Mengatakan Kebenaran
42
42. Perjalanan Airin Membesarkan Anaknya
43
43. Mencari Harapan
44
44. Jatuh Sakit
45
45. Sebuah Firasat
46
46. Momen Kedekatan
47
47. Kenangan Masa Lalu
48
48. Pulang Dari Rumah Sakit
49
49. Airin dan Keputusannya
50
50. Darren Yang Merasa Aneh
51
51. Identitas Diri
52
52. Akhirnya Pulang
53
53. Tak Lagi Berharap
54
54. Ada Yang Salah
55
55. Keputusan Yang Sulit
56
56. Teka Teki
57
57. Sebuah Gambaran
58
58. Siluet Bayangan
59
59. Harapan Tiba?
60
60. Langkah Darren
61
61. Pergolakan Hati
62
62. Isi Hati Seorang Arkana
63
63. Kepingan Cerita
64
64. Berita Yang Mengejutkan
65
65. Pertemuan Yang Tak Terduga
66
66. Arka Sudah Tau?
67
67. Darren Akhirnya Ingat?
68
68. Kenangan dan Harapan
69
69. Rasa Mengharukan
70
70. Tampil Bersama
71
71. Kumpul Bertiga?
72
72. Perasaan Yang Tertahan
73
73. Babak Baru
74
74. Berbagi Cerita
75
75. Breaking News
76
76. Ikatan Batin
77
77. Langkah Yang Tak Mudah
78
78. Sidang Keluarga
79
79. Langkah Selanjutnya
80
80. Langkah Awal
81
81. Airin dan Bunga
82
82. Kesalahpahaman
83
83. Kecemasan
84
84. Meminta Maaf
85
85. Perkenalan Diri Dari Darren
86
86. Meredakan Amarah Airin
87
87. Penjelasan Darren
88
88. Mencari Airin
89
89. Mencari Airin 2
90
90. Menemukanmu
91
91. Bertemu
92
92. Emosional
93
93. Hukuman
94
94. Menebus Kesalahan
95
95. Airin Sadar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!