Usianya saat itu baru 21 tahun, dan sedang menjalankan kuliahnya di luar negeri. Berkuliah di Australia karena beasiswa dan tengah masuk ke tahap semester akhir baginya untuk lulus, namun tiba-tiba saja "itu" datang menghampirinya yang seketika meruntuhkan hati dan pikiranya, ditambah dengan kenyataan yang ia dapat bahwa harus berjuang sendirian untuk mengatasi hal "itu" di negeri orang sangatlah tidak mudah baginya, apalagi statusnya masih mahasiswi dan tak ada siapapun disinya.
"Bagaimana ini?" Dengan ekspresi terkejutnya, ia menatap test pack yang tengah memperlihatkan dua garis di depan matanya. Ada lebih dari 5 test pack yang ia beli, dan semuanya menunjukkan hasil yang sama tanpa adanya perubahan.
Terduduk lemas mengetahui hal itu, membuat perempuan yang mempunyai nama lengkap Airin Oktavianti Putri itu terpaku dalam kebingungan. Dengan perasaan dan wajah yang kacau karena shock, ia mencoba menelfon seseorang dengan perasaan panik.
"Gak diangkat." Gumamnya dengan panik melihat telfonya tak diangkat oleh sang penerima.
Tuut.. tuut.. Nomor yang anda tuju tidak aktif.
Seketika menambah kepanikan dalam dirinya ketika mendengar suara operator dari sebrang telfonya, memberitahukan bahwa nomor orang yang ditelfon ternyata tak aktif, meskipun sudah beberapa kali ia coba panggil.
"Padahal tadi masih menyambung, tapi kenapa sekarang malah tidak aktif?" Ucapnya bingung dengan sedikit panik.
Airin meraih tasnya dan merapikan sedikit penampilanya, lalu keluar terburu-buru dari asramanya untuk menemui seseorang.
"Tidak ada! Kenapa dia tidak keluar? Apa dia tidak ada di dalam? Dan kenapa nomornya juga tidak aktif." Airin menggedor dengan putus asa saat tak ada sahutan maupun respon dari sang pemilik apartemen ketika ia memencet tombol apartemen miliknya, bahkan ia menjadi frustrasi saat kesulitan menghubungi pemilik apartemen yang sedang ia datangi saat ini.
"Dia sedang keluar, kan? Pasti, mana mungkin dia pergi tanpa pamit sama aku." Ucapnya mencoba menenangkan dirinya, lalu memilih untuk pergi dari apartemen milik sang kekasih itu, setelah menunggu disana selama hampir 1 jam lebih.
Namun, tetap tak kunjung ia jumpai sosok kekasihnya dalam apartemen miliknya. Ketika ia datang untuk yang kedua, ketiga, keempat dan seterusnya pada apartemen miliknya, namun tetap tak ada tanda-tanda kehidupan dalam apartemen itu. Membuat Airin terduduk lemas memikirkan keberadaanya.
"Sebenarnya kamu kemana? Kamu tidak sedang bercanda kan sama aku? Aku mohon jangan seperti ini sama aku.." Tangis Airin pecah ketika dalam beberapa hari tak bisa menghubungi dan juga bertemu dengan kekasih yang sudah ia kenal selama lebih dari 1 tahun itu.
"Aku harus bagaimana sekarang, apa yang harus kulakukan pada bayi yang ada diperutku?" Tangisnya frustrasi dengan terduduk lemas dalam apartemen milik kekasihnya.
Setelah berkutat pada masalah yang dia alami, ia pun memutuskan untuk mengambil cuti kuliahnya yang seharusnya sebentar lagi lulus itu, karena dia ingin menenangkan dirinya yang lagi terkena depresi berat, mengingat perubahan statusnya dan kepergian kekasihnya yang tanpa kabar padanya itu.
......................
"Arka, om bawa mainan nih, ayo main sama om Dava." Ucap Dava pada Arka yang tengah bermain seorang diri di halaman depan toko milik sang ibu.
"Mau, Arka mau main sama om Dava." Seru Arka dengan ceria, lalu menghampiri Dava dengan cepat.
"Eh, tapi bilang dulu sana sama mama kamu, nanti dia nyariin lagi." Pinta Dava pada anak dari kakak sepupunya itu.
"Ok, om Dava disini ya, jangan tinggalin Arka lho." Lari Arka untuk segera menghampiri mamanya yang berada dalam toko.
"Siap bos." Jawab Dava menangkan Arka.
Dan Arka pun berlari menghampiri Airin yang terlihat tengah sibuk mengatur pesanannya dalam toko bunga miliknya.
"Mama, mama." Panggil Arka pelan pada sang mama yang tengah sibuk.
Airin menoleh pada sang anak yang tengah menarik-narik bajunya. "Ada apa sayang, Arka mau sesuatu sama mama?" Tanya Airin, namun mendapat gelengan kepala dari Arka dengan cepat.
"Lho, terus mau apa dong?" Tanya Airin lagi.
"Arka mau main sama om Dava, apa boleh?" Ucap Arka dengan pelan dan sedikit bisik-bisik.
Airin tersenyum melihat tingkah anaknya, "Om Dava sudah pulang, ya?" Tanya Airin dan mendapat anggukan kecil dari Arka, "Mama izinkan Arka main sama om Dava, tapi jangan sampai malam lho ya mainya. Harus pulang sebelum apa..?"
"Sebelum petang." Jawab Arka yang sudah faham maksud mamanya.
"Bagus, pintarnya anak mama. Yaudah sana main sama om Dava. Baik-baik ya sama om Dava." Ucap Arin mengelus lembut puncak kepala anaknya.
"Yeay.." Ucap Arka yang kini berteriak dengan keras karena terlalu senang, lalu beranjak pergi begitu saja dari hadapan Airin ketika sudah mendatkan izin darinya.
"Arka kenapa tadi kesini?" Tanya bi Rahma yang kebetulan melihat sosoknya yang masuk ke dalam toko.
"Enggak ada apa-apa, dia cuma minta izin sama aku, katanya mau main sama Dava." Jelas Airin.
"Oh Dava sudah pulang, baguslah, jadi ada yang menjaga Arka nanti." Ujar bi Rahma. "Meski Arka anak yang anteng, tapi tetap saja kalau dibiarkan sendiri bisa bahaya." Ujarnya lagi.
"Iya bi, tadi aku juga gak berhenti memperhatikan dia, meski kadang kehilangan pandangan karena terlalu sibuk di toko."
"Iya, bibi sama pamanmu juga tadi sibuk bergantian jaga Arka, meski kadang juga karena kelelahan habis jualan dipasar, jadi ketiduran deh. Tapi, aku gak nyangka anak yang suka merengek dan manja itu bisa dengan sabar menjaga Arka." Kata bi Rahma yang mengacu pada anak semata wayangnya, yaitu Dava.
"Dava sudah dewasa sekarang, jadi bibi bisa tenang sekarang." Senyum Airin.
"Yah semoga sajalah, soalnya suka pusing sendiri lihat dia bikin masalah mulu." Gerutu bi Rahma yang sangat berharap pada anaknya Dava yang sudah menginjak usia 18 tahun itu, agar lebih dewasa lagi kedepanya.
...
Dava dan Arka berjalan menuju taman bermain yang tak jauh dari rumahnya. Mereka saling bergandengan tangan menuju ke taman bermain, dengan sedikit candaan kecil yang mengiringi perjalanan mereka. Terlihat ceria dan penuh tawa, tak hentinya mereka untuk saling meledek satu sama lain.
"Arka mau main nih?" Sapa seseorang pada Arka yang tengah berjalan bersama Dava disampingnya.
"Iya, Arka mau main sama om Dava." Jawab Arka pada seorang ibu-ibu yang tengah menyapanya, ia menjawabnya penuh dengan keceriaan, khas seorang anak kecil seusianya.
Para tetangga rumahnya, tampak mengenal akrab seorang Arka, bahkan di antaranya sangat menyukai sifatnya yang selalu ceria ketika disapa.
"Anaknya selalu ceria ya, Airin pasti bangga punya anak seperti dia. Udah pintar, anteng, penurut dan ceria lagi." Tampak bangga seorang ibu yang menyapa Arka tadi, melihat sosok Arka yang selalu ceria itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments