Aku masih berharap, dengan harapan besar agar bisa bertemu kembali denganya suatu hari nanti. Banyak hal yang ingin aku tanyakan padanya jika bertemu kembali nanti. Dia yang pernah ku cintai, bisakah nanti kita bertemu kembali?
Berjalan dalam kehampaan tanpa sosoknya, dengan keadaan yang sedikit menyiksa jiwa karena kepergiannya yang mendadak, namun ia masih mampu bertahan untuk menjalaninnya.
Satu tahun setelah ia mengenal dan menjalin hubungan dengannya, tanpa sekalipun terlintas dipikiranya bahwa dia akan bergi dari sisinya. Namun, sekarang sudah lebih dari 5 tahun ia tak melihatnya lagi. Jejaknya seolah hilang di telan bumi, hingga harapan itu tak lagi menghampiri dirinya, meski sudut kecil dalam hatinya tetap ingin dipertemukan kembali dengannya.
......................
Airin tak mengikuti acara pernikahan Silvia hingga selesai, ia pergi setelah apa yang ingin dia katakan pada Silvia telah tersampaikan dengan baik, meski sebenarnya ia ingin berpamitan pada Silvia sebelum pulang, namun teihat tak memungkinkan, karena situasinya yang tak mendukungnya saat ini, mengingat Silvia begitu sibuk sekarang.
"Yang penting aku sudah menyampaikan ucapan selamat padanya." Ucapnya yang akhirnya meninggalkan lokasi acara.
Perlahan menyusuri setiap tempat yang ia lalui, kakinya pun mulai menjauhi arena tempat acara. Dengan perlahan, tanpa terburu-buru seperti saat pertama kali ia datang kesini.
Ada hati yang bergejelok ketika ia melihat pesta pernikahan milik Silvia yang terlihat indah itu. Ia berjalan melamun sembari terus melirik, seolah tak bisa melepaskan pandanganya pada tempat tersebut. Bahkan sebelum ia benar-benar pergi, dalam diam dia menatap sudut-sudut ruangan yang penuh dengan dekorasi indah yang penuh dengan nuansa kesakralan dan juga ke anggunan.
Airin terlihat membeku ketika melihatnya, seolah terkagum dengan hal yang di lihatnya. Ekspresi yang ia pancarkan sekarang, entah mengapa seolah menginginkan keinginan yang sama untuk bisa menggelar acara serupa suatu hari nanti.
"Apa aku salah jika sedikit mengharapkannya?"
Airin hanya bisa tersenyum simpul ketika membayangkannya, seolah menyadarkan kembali kenyataan akan dirinya saat ini.
"Sepertinya itu memang sulit. Mending aku pulang saja lah." Ucapnya mengakhiri lamunannya sendiri, dan kembali melangkahkan kakinya yang sempat terhenti.
"Wah, tamunya banyak juga ternyata, mana semua kelihatan elegan dan mahal lagi pakaiannya." Ucap Airin ketika melihat beberapa tamu undangan yang hendak masuk ke dalam acara pernikahan Silvia, ketika ia hendak menuju kedalam lift.
Meski sempat terpecah perhatianya karena bersimpangan dengan tamu Silvia, namun Airin tetap melanjutkan langkahnya menuju lift. Ketika sampai depan lift, sayangnya ia harus menunggu sejenak, karena meski sudah memencet tombol lift, pintunya tetap tak terbuka, karena masih ada yang menggunakannya. Dilihatnya lagi lift sedang menuju ke arah tempatnya berada saat ini.
"Sepertinya ini juga tamunya Silvia." Gumamnya melihat arah lift yang mengarah pada lokasinya saat ini.
Ting, pintu lift pun akhirnya terbuka setelah Airin menunggunya dalam beberapa menit. Ketika pintu itu terbuka lebar, dilihatnya ada beberapa orang yang hendak keluar secara bergiliran tanpa henti, hingga membuatnya menyingkir sejenak ke pinggir, untuk memberi jalan bagi mereka yang akan turun dari lift. Karena cukup banyak yang keluar dari dalam lift, hingga sedikit menimbulkan kegaduhan di dalamnya, mengingat terdengar suara sepatu mereka yang bergerak berbarengan ketika mereka keluar.
"Duh rame juga ternyata.." Gumamnya ketika melihat banyaknya orang yang keluar dari dalam lift, saat ia yang hendak naik kedalam.
Karena dirasa sudah tidak akan ada yang turun lagi dalam lift, Airin pun dengan segera mencoba masuk kedalam lift, karena takut pintu lift akan tertutup dan nanti dia yang harus jadi menunggu lagi. Namun, belum sampai ia masuk, ia dikejutkan oleh dua orang laki-laki yang terlihat tengah berdebat di dalam lift. Airin sedikit terkejut ketika melihatnya sekilas, bahkan ekspresinya tampak canggung ketika berada di tengah-tengah mereka saat ini. Ia tak melihat wajah mereka, karena ia yang langsung masuk kedalam dan membelakangi mereka yang masih berdebat.
"Maaf, saya menahan pintunya dulu, ya." Ucap seorang laki-laki dengan setelan jas rapi ketika melihat Airin masuk kedalam lift dan hendak memencet tombolnya. Laki-laki yang memiliki tahi lalat di tanganya itu secara spontan menahan pintu lift agar tak tertutup kembali.
"Ayo keluar, memangnya kamu mau turun lagi?" Ucap laki-laki itu lagi, pada temanya yang masih di dalam, dan tak kunjung mau keluar juga. Dengan agak canggung melihat Airin, laki-laki itu memaksa temannya untuk segera turun dengan memberikan kode kedipan mata, seolah memberikan isyarat pada temanya itu untuk malu pada perempuan disampingnya, yang tengah menungg dirinya keluar.
Apa yang dilakukan oleh laki-laki dengan tahi lalat ditanganya itu tak lepas dari pandangan Airin yang berada disampingnya. Ketika melihat laki-laki itu dengan sekuat tenaga meyakinkan temanya untuk segera keluar, membuat Airin tak bisa menahan senyumnya.
"Mereka berdua lucu." Batinya merasa geli melihat interaksi lucu kedua laki-laki tersebut.
Teman laki-laki itu melirik sekilas perempuan yang disampingnya, dan melihat senyuman tipis dalam sudut bibirnya, "Aku kan sudah pernah bilang gak mau datang ke tempat semacam ini? Kenapa masih memasukanku kedalam agenda ini?" Balasnya kemudian, dengan sedikit menggerutu kesal pada temannya yang masih memegang pintu lift untuknya.
"Sial, tanganku pegel tau, cepat keluar atau aku laporkan sama papamu." Umpatnya kesal dengan sedikit mengancam.
"Lapor aja, aku tinggal menghadapinya." Laki-laki yang memiliki tinggi badan sedikit lebih tinggi dari teman yang memegang pintu lift untuknya itu tampak tak takut akan ancaman temannya, namun ia tetap keluar meski sebelumnya terlihat enggan untuk keluar.
Tanpa mereka berdua sadari bahwa ada sepasang mata yang kini tengah menatap mereka dengan kaget. Benar, orang itu adalah Airin, yang saat ini tengah menunjukkan ekspresi keterkejutanya. Ia yang sempat acuh dengan obrolan dua laki-laki itu, tiba-tiba saja dibuat terkejut ketika mendengar suara yang ia kenal.
Sempat terbesit untuk melirik kebelakang ketika mendengar suara itu dalam lift, namun karena terlanjur terpaku dan perasaan yang masih sulit di percaya, Airin tetap diam. Sampai laki-laki yang keluar paling akhir itu keluar dari lift, Ia tak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya, seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.
Tanganya gemetar, hingga tanpa sadar matanya mulai menggenang, dan nyaris meneteskan air mata. Ekspresinya itu tak lepas dari pandangan laki-laki dengan tahi lalat ditanganya, yang melihat dengan sekilas ekspresi Airin ketika ia dengan cepat melepas tanganya dari pintu lift karena sedikit kram dan pegal.
"Eh, sepertinya dia nangis deh." Ucapnya setelah melepaskan tanganya dari pintu lift yang ia tahan, dan tak sengaja melihat ekspresi Airin ketika pintu lift akan tertutup
"Siapa yang nangis?" Tanya teman laki-laki itu.
"Itu, perempuan yang ada di dalam lift tadi."
"Hah!" Teman laki-laki itu tampak terkejut, dan ingin memastikanya, namun lift ternyata sudah tertutup.
"Gak ada tuh?"
"Pintunya kan sudah ku lepas, ya berarti sudah pergi."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments