6 tahun yang lalu, pukul 8 malam waktu melbourne.
"Sial, mereka sudah tau aku ada disini?"
Dengan kecepatan yang tinggi, Darren melajukan mobilnya untuk menghindari orang yang mengikutinya dari belakang. Dengan wajah yang penuh ketegangan, ia mencoba menghindar sebisa mungkin dari sebuah mobil yang tengah mengejarnya.
"Mereka gak mengejarku lagi, kan?" Ucapnya menghentikan mobilnya setelah berhasil mengelabui mobil yang mengejarnya. Dengan mengambil nafas yang panjang tanda lega karena sudah tak terkejar oleh mereka, namun Darren masih tetap tak bisa tenang.
"Sial, kenapa mereka bisa tau aku ada disini?" Umpatnya kesal dengan hal yang baru saja ia alami. Sepertinnya Darren sangat tau siapa orang yang mengejarnya tadi, terlebih pada orang yang menyuruh mereka.
Drrt.. Drrt.., getaran kecil dalam saku bajunya mengalihkan pandanganya, dan membuatnya terfokus akan itu. Tanganya pun meraih ponsel yang terus bergetar itu, dan dilihatnya nama sang penelfon. Darren menyunggingkan senyuman pada nama yang tertera dalam layar ponselnya, Sayangku, begitulah nama itu diberi nama.
Brakk... Sebuah tubrukan kecil menghantam bagian belakang mobilnya yang hendak mengangkat telfon. Ekspresinya begitu terkejut, hingga membuat ponsel yang ia pegang jatuh, namun ketika hendak kembali mengambil ponselnya yang jatuh kebawah, mobil dibelakangnya kembali menabrak bagian belakang mobilnya.
Darren ingin keluar dari mobil dan memarahi pemilik mobil dibelakangnya, namun Darren merasa janggal dengan mobil itu, hingga mengurungkan niatnya. Karena merasa aneh, Darren kembali melajukan mobilnya dan berujung tak menjawab telfon dari pacarnya. Ia ingin menjauh dari orang-orang yang mengejarnya tadi, dan pada mobil yang bermasalah dibelakangnya tadi.
"Aneh, kenapa aku merasa mobil itu mengikutiku?" Gumam Darren merasa janggal dengan lergerakan mobil dibelakangnya.
Ia mencoba mengingat-ingat warna mobil yang mengikutinya tadi, dan terlihat ada perbedaan disana.
"Sepertinya itu bukan mobil yang mengikutiku, tadi? Tapi, kenapa mobil itu malah mengikutiku terus?"Gumam Darren merasa aneh dan terus melihat kebelakang.
Ia mencoba melajukan mobilnya dengan cepat, dan terlihat mobil itu terus saja mengikutinya dan menyamakan kecepatan laju mobilnya.
"Sial, sepertinya mereka bukan suruhan dari kakek." Gumamnya yang merasa janggal pada mobil yang mengikuti dirinya sekarang.
Setelah berhasil lolos dari kejaran suruhan Kakeknya, Darren kembali harus berurusan pada orang yang terus mengincarnya sekarang.
"Sial, mau mereka apa sebenarnya? Kenapa mereka mengikutiku terus? Haruskah aku turun?" Umpatnya merasa kesal bercampur marah, namun tak mengalihkan pandanganya pada jalannya.
Berbarengan dengan dirinya yang berusaha sekuat tenaga meloloskan diri dari kejaran seseorang, ponsel yang ada disampingnya juga terus berdering menunggu jawaban darinya.
"Maafkan aku, nanti aku akan menelfonmu balik." Ucapnya menatap ponselnya dengan rasa bersalah pada sang penelfon, yang tak lain adalah pacarnya.
Namun tanpa ia sadari, ketika pandanganya sempat teralihkan sebentar, mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi itu tak bisa mengendalikan dirinya karena harus membanting lajunya untuk menghindari kendaraan yang datang dari arah berlawanan denganya.
Brakk... Tabrakan beruntun pun akhirnya tak bisa dihindari dan mengakibatkan dirinya yang sempat mencoba menghindar, berputar-putar dan dalam kondisi yang penuh darah dari dalam mobilnya yang kini dalam posisi terbalik.
"Padahal, ak- ku harus membalas telfonya." Gumam Darren dengan lemah dari dalam mobil, sembari mengingat akan telfon dari sang pacar yang sempat tak bisa ia jawab.
...
"Kenapa ini bisa jadi kecelakaan?" Teriak kakek Ferdinan yang marah pada dua orang suruhanya ketika ia tiba dalam rumah sakit bersama sekretaris pribadinya.
Dua orang itu sama-sama merunduk ketakutan setelah mendapat dampratan dari kakek.
"Maafkan kami." Jawabnya menyesalkan kejadian yang sudah terlanjur terjadi.
"Aku bilang kan, bawa dia pulang, bukan malah membuatnya jadi kecelakaan begini?" Kakek marah besar pada kedua orang suruhanya.
"Soal itu, kami juga mengharapkan begitu. Tapi, tuan muda terus saja kabur dari kami, karena itu kami terpaksa mengejarnya. Tapi, bukan kami yang membuat tuan muda kecelakaan, karena kami datang setelah sudah terjadi kecelakaan." Jelasnya lagi.
"Kalau bukan karena kalian, lalu bagaimana dia bisa kecelakaan? Katanya kalian mengejarnya tadi?"
"Sebenarnya kami berdua sempat kehilangan jejak dari tuan muda. Kami bertemu kembali dengan tuan muda setelah tak sengaja lewat dalam tempat kecelakaan. Kami berdua turun untuk melihat apa yang terjadi disana, lalu saat kami turun, kami melihat mobil tuan muda ada disana, jadi kami langsung menolong dan membawanya ke rumah sakit." Jelasnya lagi.
Amarah kakek menjadi reda setelah mendengar penjelasan dari mereka. Ia tak lagi bersungut, dan memilih menjenguk cucunya yang tengah terbaring tak sadarkan diri.
"Soal masalah ini, tolong kamu atasi, agar tak menyebar kemanapun, dan coba cari tahu penyebab kecelakaanya?" Pinta kakek Ferdi pada sekretaris pribadinya, Doni.
"Baik, akan segera saya laksanakan." Jawab Doni, lalu pamit undur diri dari hadapan kakek Ferdi yang tengah menjenguk cucunya.
Kakek Ferdi sepertinya tak tega ketika melihat cucunya yang terbaring lemah, bahkan dengan tubuhnya yang penuh luka seperti itu. Ia menatap sedih wajah sang cucu yang masih tak sadarkan diri.
......................
Kembali ke apartmen Darren, kini terlihat sedang dilanda perasaan punh tanya akan hal yang baru ia alami tadi siang.
"Cas, menurutmu perempuan itu kenal aku, gak sih?" Tanya Darren pada Lucas yang masih ada di apartment nya.
"Perempuan yang mana?" Lucas terlihat bingung dengan perkataan Darren. "Ah, perempuan yang tadi siang itu?" Ingatnya kemudian
"Iya, menurutmu apa ada indikasi kalau aku mengenal dia dulu?" Tanya Darren lagi.
"Em.., aku juga gak tau soal itu." Lucas tak bisa menjawabnya, karena dia sendiri tak mengenal baik perempuan yang baru pertama kali ia temui tadi. "Memangnya kenapa kamu ingin tau banget soal dia?" Tanya Lucas balik.
"Gak tau, aku hanya merasa terganggu dengan reaksi dia ketika menatapku tadi." Jawab Darren merasa bingung sendiri dengan sikapnya.
"Sudahlah, jangan mikirin kejadian tadi terus. Mending kamu segera periksakan kondisimu yang sempat kambuh tadi." Ujar Lucas meminta Darren untuk tak lagi memikirkan hal yang mengganggunya.
"Aku gapapa gini, ngapain harus periksa, coba?" Balas Darren yang terlihat enggan menuruti perintah sahabat, sekaligus sekretaris pribadinya itu.
"Dasar ini anak, susah banget kalau disuruh periksa kesehatannya sendiri." Lucas terlihat tak bisa mendebat pada sikap Darren yang terus menolak periksa kesehatan.
Di saat Lucas tengah menceramahinya yang terus saja menolak untuk periksa kondisinya, Darren masih saja terhanyut dalam lamunanya sendiri. Seolah punya dunianya sendiri.
"Ah, sial kepalaku pusing lagi." Batinya yang merasakan denyutan lagi dalam kepalanya.
"Iya, iya. Ok. Aku akan periksa kondisiku." Ucapnya yang akhirnya menyerah pada ocehan Lucas yang tak ada hentinya itu.
"Bagus, akan segera aku carikan waktunya untukmu." Balas Lucas dengan puas menatap wajah Darren yang memperlihatkan ekspresi pasrah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments