Dari pagi, Airin sudah sangat sibuk dengan pesanan bunganya, kalau tak ia kerjakan kemarin malam, setelah Rendi pulang dan menidurkan Arka, mungkin hari ini dia tak akan bisa menyelesaikan pesanannya.
"Istirahat saja, kamu kan dari kemarin malam sudah lembur." Tegur bi Rahma pada Airin yang masih berkutat pada pekerjaanya, setelah mengantar anaknya sekolah.
"Tanggung, bik. Sebentar lagi selesai kok." Balas Airin yang masih tetap fokus untuk menyelesaikan pesanannya.
"Iya, bibi tau, tapi maksud bibi jangan terlalu memaksa juga. Kamu bisa santai sedikit, kan masih 2 jam lagi pengirimanya."
"Justru karena kurang 2 jam lagi, Airin harus segera menyelesaikanya rangkaian bunganya, buar nanti kalau sudah terkirim tak ada masalah lagi. Ini tinggal cek aja kok, jadi bibi tenang saja, ok." Ucap Airin menenangkan bibinya yang tengah menghawatirkanya.
"Yasudah kalau begitu, bibi masuk ke rumah dulu kalau begitu." Rahma tak lagi mendebat, dan lebih memilih masuk ke dalam rumahnya.
Tampaknya karena pesanan ini cukup banyak, ditambah dengan pemesan pertaman bagi Airin's Garden untuk pernikahan, membuat Airin tak hentinya untuk mengecek berulang kali, karena jika mendapat respon baik, akan berdampak baik pada toko bunganya. Mengingat masih baru, karena itu Airin membutuhkan banyak pelanggan, meski yang sekarang juga sudah cukup banyak untuk ukuran toko bunganya yang masih baru. Bisa dibilang, sosial media adalah bantuan terbesar bagi toko bunganya.
"Akhirnya selesai juga, fiuh.." Lega Airin pada pesanan bunganya.
"Akhirnya ya mbak, kita bisa menyelesaikan rangkaian bunganya. Melihat ribetnya itu, sempat pesimis juga aku." Timpal salah satu pegawai toko bunganya yang bernama Dewi.
"Benar, akhirnya kita bisa menyelesaikanya. Terimakasih ya buat kalian yang sudah bekerja keras selama 3 hari ini." Ucap Airin merasa berterimakasih pada 2 pegawai toko bunganya, yang juga ikut bersamanya dalam merangkai bunganya.
"Iya mbak, kan ini juga pekerjaan kami." Timpal Rini.
"Yaudah, kita siap-siap sekarang yuk. Tolong atur bunganya dengan rapi ya dalam mobil, agar nanti sampai ditempatnya tidak lecek dan masih fresh. Tolong siapkan ya, selagi aku mengganti baju." Pinta Airin pada pegawai toko bunganya untuk segera mempersiapkan pesanannya, karena akan segera dikirim ke pemilik pesanan.
"Ok mbak, jangan khawatir, kami akan atur dengan baik." Balas Dewi dan juga Rini.
"Ok, aku percayakan pada kalian ya." Airin pun bergegas ke rumah untuk mengganti baju, agar terlihat rapi sedikit. Saat selesai mengganti bajunya dan hendak kembali ke toko bunganya, Airin tak lupa menghampiri bibinya untuk menyampaikan izin perginya, sekaligus menitipkan Arka padanya.
"Bik, Airin mau mengantarkan pesanan dulu, tolong titip Arka dan toko ya selama Airin pergi." Ucapnya pada sang bibi yang sedang memasak.
"Oh sudah mau pergi, yasudah pergi saja, jangan khawatir soal toko, dan nanti soal Arka, biar bibi saja yang jemput dia di sekolah." Jawab bi Rahma menghentikan sejenak masakanannya.
"Iya, tolong ya bi. Maaf nih, kalau Airin merepotkan."
"Aduh, kamu ini seperti ngomong sama siapa aja, sudah sana pergi, sebelum makin macet nanti jalanannya."
"Ok, Airin pamit ya, bik." Pamit Airin kemudian, dan meninggalkan bibinya yang kembali melanjutkan memasaknya.
Sedangkan Airin kembali ke toko bunganya, untuk mengecek kembali bunga pesanannya sebelum dia pergi, agar tak ada satupun yang terlewat atau ada masalah lainya.
"Kalian sudah mengeceknyanya lagi, kan?" Tanya Airin pada Dewi dan Rini.
"Sudah mbak, tinggal berangkat aja sekarang." Jawab Rini.
"Ok, aku percaya sama kalian." Balas Airin mengangguk percaya pada dua pegawai toko bunganya yang selama 3 hari ikut lembur bersamanya.
"Tapi mbak, apa harus mbak Airin yang mengantarnya langsung?, kan Dewi atau Rini juga bisa, dan biasanya juga kita berdua yang ikut mengirim jika dekat, atau juga pakai jasa pengiriman." Tanya Dewi melihat Airin yang berinisiatif mengantar bunga pesanannya langsung.
"Iya sih, tapi khusus hari ini aku ingin mengantarkan langsung ke pemiliknya, soalnya yang pesan kebetulan kenalanku, sekalian mau mengucapkan selamat atas pesta pernikahanya gitu." Jelas Airin soal buket bunga pesanan kenalanya yang ingin ia kirimkan langsung ke pemiliknya.
"Tapi, yang ini tetap aku pakai jasa pengiriman, soalnya mobilku kan gak muat buat mengantarkannya." Ucapnya merujuk pada beberapa karangan bunga.
"Oh yaudah kalau begitu, hati-hati ya mbak." Dewi pun akhirnya mengangguk mengerti.
"Oh iya, kalau nanti bibiku lupa soal menjemput Arka, kalian berdua tolong jemput Arka di sekolah, ya? Soalnya kalau nungguin Arka pulang, takutnya gak keburu." Ujar Airin pada Dewi dan Rini.
"Mbak Airin tenang saja, nanti kami akan jemput Arka." Balas Rini.
"Iya mbak, jangan khawatir. Toko sama Arka, nanti percayakan saja sama kita berdua." timpal Dewi.
"Ok, aku jadi tenang mendengarnya. Terimakasih ya, kalau begitu aku pergi dulu." Pamit Airin pada Dewi dan Rini. Ia pun meninggalkan kediamanya menuju lokasi kenalannya.
...
Jalanan yang ia lalui cukup ramai, namun karena jarak lokasi gedung dan rumahnya tak terlalu jauh, Airin tetap ingin sampai ditempat dengan cepat, agar buket bunganya bisa sampai dengan segera.
Saat mengantarkan buketnya, ia memakai baju yang agak sopan dengan sedikit lebih feminim, mengingat ini acara penting kenalannya, dan ia yang tak ingin kelihatan buruk nanti saat masuk ke dalam lokasi acara. Tak lupa, ia juga membawa undangan yang diberikan oleh kenalanannya itu.
45 menit perjalanannya menuju lokasi, dan kurang dari setengaj jam lagi acaranya akan dimulai. Airin bergegas ingin segera masuk ke dalam untuk menemui sang punya acara, dan tak lupa membawa buket bunganya. Ia mengeluarkan dari dalam mobilnya dengan penuh ke hati-hatian agar tak rusak.
"Lantai berapa ya?" Gumamnya sambil mengingat-ingat lokasi acarannya.
Tak butuh waktu lama baginya mencari, mengingat ia yang kembali mengingat akan lokasi acaranya.
"Semoga gak telat ya." Gumamnya sendiri sembari berlari kecil menuju lokasi acara. "Ah, itu, fiuh.. belum dimulai." Lega Airin melihat acaranya yang belum dimulai. Ia beralih mencari kenalanya itu, untuk memberikan buketnya.
"Silvia.." Panggil Airin begitu melihat Silvia yang berada dalam ruang ganti pengantin.
"Oh gosh, Airin akhirnya kamu datang, aku dari tadi nungguin kamu lho. Mana buket bunganya." Ucap Silvia merasa lega melihat kedatangan Airin.
"Iya maaf, tadi jalanan agak rame dan macet juga, dan ini buket bungan pesanan kamu." Ucap Airin merasa bersalah, lalu menyerahkan langsung buket bunganya.
"Woa, bagus banget. It's my style, thanks ya Airin, ini benar-benar bagus banget." Silvia tampak senang melihat rangkaian bunga Airin.
Setelah mendengar pujian dari Silvia, Airin merasa lega, ia tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.
"Oh iya, selamat atas pernikahanya ya. Buket itu anggap saja hadiah pernikahan dariku." Ujar Airin memberikan selamat pada Silvia atas pernikahanya.
"Eh, kok gitu. Gak bisa dong, aku tetap harus bayar." Silvia sedikit terkejut mendengarnya, namun dengan tegas dia menolak perkataan yang di lontarkan oleh Airin.
"Gapapa, soalnya aku gak bisa ngasih hadiah yang mahal ke kamu, karena itu kamu terima saja, ok." Ujarnya lagi.
"Ok deh, aku terima. Thanks ya." Silvia tak lagi mendebat, dan menerima hadiah dari Airin.
Ketika Silvia sibuk membenarkan riasan dan gaunya, Airin keluar dari ruangan untuk memberikan ruang baginya, terlebih lagi dia sudah mengatakan apa yang mau dia katakan hari ini, yaitu memberi selamat untuk Silvia.
"Sepertinya aku harus pulang, kasihan nanti Arka nungguin aku. Yah... Tapi, aku belum sempat pamitan sama Silvia." Kata Airin merasa sayang, dan melirik ke arah ruangan Silvia yang sempat ia datangi tadi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments