Satu minggu setelah insiden kemarin telah berlalu begitu saja, dan kini Darren telah kembali pada kehidupan yang biasa ia lakukan seperti biasanya. Setelah berkonsultasi pada dokter seputar masalah kesehatanya, kini ia tak lagi merasa ada masalah, meski sempat dilanda perasaan bingung mengingat pertemuanya dengan seorang perempuan yang baru pertama kali ia temui dalam acara pernikahan kenalannya.
Jika melihat Darren yang kembali pada aktivitas pribadinya, meski beberapa hari yang lalu sempat terganggu akan pikiran-pikiran yang mengganggunya. Satu minggu yang sudah seperti satu tahun yang lalu baginya.
"Hari ini akan ada pertemuan dengan keluarga Laura, jam 8 malam." Jelas Lucas menyampaikan pada Darren.
"Aku gak mau datang." Jawab Darren terlihat ogah.
"Tidak bisa, meski kamu menolaknya, kamu harus tetap datang, karena kamu sudah tiga kali menolak bertemu mereka, jadi aku tidak punya cara lagi untuk mencari alasan." Kata Lucas.
"Yasudah, bilang saja kalau aku sedang sakit."
"Itu sudah pernah aku gunakan."
"Kalau begitu pakai lagi saja."
"Tidak bisa."
"Kenapa gak bisa?"
"Kamu kan sedang sehat sekarang!"
"Bukanya dulu juga aku sehat, sekarang lakukan seperti itu lagi."
"Tidak bisa." Tekan Lucas dengan tegas.
"Apasih, pokoknya aku tetap gak mau datang." Kekeh Darren.
"Kalau kamu gak mau datang, berita tentang pernikahnmu dengan Laura akan langsung di publikasikan."
"Hah! Siapa yang mengatakan itu?" Darren cukup terkejut mendengarnya, ia bahkan sampai menghentikan kesibukanya, karena saking tak percayanya dengan yang dikatakan oleh Lucas.
"Tentu saja oleh kakek dan papamu." Jawab Lucas.
"Mereka berdua benar-benar keterlaluan banget, sih. Kemarin aku masih diam soal mereka yang mempublikasikan pertunangan itu tanpa sepengetahuanku, dan sekarang pernikahan katanya?" Ucap Darren membanting pulpen yang tengah di pegangnya. Dia mendecak tak percaya pada sikap kakek dan papanya itu.
"Kakek Ferdi menyuruku untuk segera membawamu ke acara makan malam nanti, dan pesan dari papamu juga tidak jauh berbeda, dia memintaku untuk membawamu ke acara yang di adakan nanti." Ucap Lucas yang lebih memilih menyampaikan pesan dari kakek dan papa Darren, dibandingkan menanggapi ekspresi kesal Darren.
"Apa bedanya aku datang dan tidak? Toh, pembahasan seputar pernikahan akan tetap ada!" Sambung Darren menatap kesal Lucas yang berdiri di depanya.
"Setidaknya lu bisa menolak secara langsung kalau datang kesana?" Ucap Lucas yang kini berbicara agak santai.
"Di depan kedua orang tua Laura?"
"Kenapa? Apa lu takut kalau menolak secara terbuka di depan orang tuanya? Bukanya sikapmu yang terus menolak untuk datang ke acara makan bersama keluarga mereka, juga sudah menunjukkan kalau lu sudah menolak pernikahan itu?"
"Iya sih, tapi aku gak yakin ini akan berhasil! Mengingat mereka yang terus saja tak mau mendengar alasanku untuk menolak pernikahan itu."
"Benar juga, mereka seperti tidak mau melepaskanmu, begitupun dengan Laura."
"Karena itu aku semakin tidak mau datang ke acara itu. Ah, bilang saja kalau aku lagi kencan gitu."
"Hah! Jangan mengada-ada, bagaimana aku bisa bilang begitu, kalau lu sendiri gak pernah pacaran. Yang ada mereka tidak percaya sama alasan yang aku buat."
"Aku pernah pacaran, kali! Jangan menghina kau." Protes Darren tak terima.
"Ya ya ya.., terserah lu aja lha." Cuek Lucas tak perduli dengan protes Darren. "Aku gak mau tau, nanti jam 8 malam, lu harus tetap datang ke acara itu. Aku udah capek mencarikanmu alasan terus, hari ini tidak ada penolakan pokoknya." Tekan Lucas pada setiap kalimat yang dia ucapkan.
"Males, ah. Yaudah lu aja yang gantikan aku pergi kesana, gimana?" Ucap Darren yang masih terus menolak untuk datang.
"Yaudah, biar aku telfon Laura saja, biar dia menjemputmu langsung." Ancam Lucas dengan memegang ponselnya hendak menelfon Laura.
Darren melempar kertas yang ia gulung pada Lucas karena kesal, namun dengan cepat Lucas menghindarinya, hingga kertas yang dilempar olehnya sedikit melebar.
"Sialan, ok aku akan datang." Jawab Darren yang kembali pasrah dengan ancaman Lucas seolah merasa dejavu dengan apa yang dilakukanya.
...
Pukul 8 malam telah ada di depan mata, Lucas dengan sekuat tenaganya menghiring Darren yang bersikeras menolak datang ke tempat acara makan malam bersama keluarga besarnya, juga keluarga dari Laura.
"Lepas, aku bisa jalan sendiri." Darren mencoba melepaskan tangan Lucas yang terus menggiringnya jalan.
"Yasudah, silahkan jalan kalau begitu." Lucas mempersilahkan Darren untuk berjalan di depanya.
Meski memasang wajah yang masih enggan dan kesal ketika menatap Lucas, Darren tetap menuruti keinginanya, dan berjalan kedalam ruangan tempat keluarga besarnya dan keluarga Laura berkumpul saat ini.
Darren masuk saat semua sudah pada berkumpul, hingga membuat dirinya menjadi pusat perhatian dalam perkumpulan itu.
"Maaf, saya terlambat." Ucapnya yang langsung memilih duduk, tanpa mencoba berbasa-basi.
"Wah, si bintang utama akhirnya datang juga." Celetuk papa Laura dengan wajah sumringah.
Darren mengacuhkan ucapan itu, dan memilih meminum minuman yang kebetulan sudah tersedia di depan mejanya. Sikapnya yang dingin itu tak bisa lepas dari pandangan dari papa dan kakeknya yang seperti menahan ekspresi kesal, terutama papanya yang terlihat memasang wajah menahan marah pada sikap angkuh yang sedang ditunjukkan oleh Darren saat ini.
"Ren, sudah lama ya kita gak bertemu." Sapa Laura pada Darren yang duduk di depanya. Ekspresi Laura terlihat bahagia melihat wajah Darren.
"Perasaan baru 3 hari yang lalu kita bertemu, lebih tepatnya kamu yang menemuiku." Balas Darren cuek, mengabaikan keheningan yang sempat meliputi suasana karena jawabanya yang terlampau dingin pada Laura.
"Ehem, sebaiknya kita makan dulu, takut makanannya dingin." Ucap kakek Ferdi memecah keheningan.
"Ha ha, benar kata kakek, sebaiknya kita memakan makanannya, takut dingin nanti." Timpal papa Laura agak canggung.
......................
Di seberang tempat yang berbeda, memperlihatkan kondisi Airin yang masih todak bisa melupakan pertemuanya dengan Darren. Meski terus menjalani kehidupannya seperti biasa, ingatan akan Darren tetap muncul dalam otaknya, hingga tanpa sadar membuat eskpresi murung dan beberapa kali terlihat tak bersemangat.
"Suara hatiku ingin menemuinya lagi, bertanya lalu mencoba mengajaknya berbicara. Banyak hal yang ingin aku tau, terutama alasanya meninggalkanku."
Meski sudah satu minggu yang lalu tak pernah ada kabar lagi tentang laki-laki yamg pernah mengisi hatinya dulu, namun nyatanya masih membuat Airin tak bisa melupakanya. Seolah ia masih tak bisa menerima kenyataan soal fakta yang baru ia terima.
"Saat itu, aku terlalu kaget, hingga tanpa sadar hanya bisa menangis." Ucap Airin memikirkan kejadian saat bertemu Darren di acara pernikahan kenalannya.
"Apa saat itu harusnya aku mengajaknya berbicara, ya? Dengan begitu aku bisa lega." Ucapnya lagi mengacu pada pertemuanya dengan Darren.
"Sekarang, apa yang harus aku lakukan? Aku sendiri tidak tau dia tinggal dimana dan.."
Helaan nafas panjangnya, mengakhiri kegundahan hatinya yang selama seminggu ini terus saja terpikiran akan pertemuanya dengan Darren. Meski ia masih bingung dengan rasa dilemanya, nyatanya berbanding terbalik dengan hal yang dilakukan oleh Darren saat ini.
Terlihat Darren masih bisa menjalani kehidupannya dengan normal seperti biasanya, meski sempat terfikirkan sebentar akan kejadian beberapa hari lalu dalam acara pesta pernikahan yang ia datangi, namun setelah berjalanya waktu ia memilih melupakanya. Dan sekarang, dia tengah berada dalam acara keluarga.
"Aku tidak akan pernah menikah." Darren membuat semua orang terdiam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments