19. Suara Hati

Satu minggu setelah insiden kemarin telah berlalu begitu saja, dan kini Darren telah kembali pada kehidupan yang biasa ia lakukan seperti biasanya. Setelah berkonsultasi pada dokter seputar masalah kesehatanya, kini ia tak lagi merasa ada masalah, meski sempat dilanda perasaan bingung mengingat pertemuanya dengan seorang perempuan yang baru pertama kali ia temui dalam acara pernikahan kenalannya.

Jika melihat Darren yang kembali pada aktivitas pribadinya, meski beberapa hari yang lalu sempat terganggu akan pikiran-pikiran yang mengganggunya. Satu minggu yang sudah seperti satu tahun yang lalu baginya.

"Hari ini akan ada pertemuan dengan keluarga Laura, jam 8 malam." Jelas Lucas menyampaikan pada Darren.

"Aku gak mau datang." Jawab Darren terlihat ogah.

"Tidak bisa, meski kamu menolaknya, kamu harus tetap datang, karena kamu sudah tiga kali menolak bertemu mereka, jadi aku tidak punya cara lagi untuk mencari alasan." Kata Lucas.

"Yasudah, bilang saja kalau aku sedang sakit."

"Itu sudah pernah aku gunakan."

"Kalau begitu pakai lagi saja."

"Tidak bisa."

"Kenapa gak bisa?"

"Kamu kan sedang sehat sekarang!"

"Bukanya dulu juga aku sehat, sekarang lakukan seperti itu lagi."

"Tidak bisa." Tekan Lucas dengan tegas.

"Apasih, pokoknya aku tetap gak mau datang." Kekeh Darren.

"Kalau kamu gak mau datang, berita tentang pernikahnmu dengan Laura akan langsung di publikasikan."

"Hah! Siapa yang mengatakan itu?" Darren cukup terkejut mendengarnya, ia bahkan sampai menghentikan kesibukanya, karena saking tak percayanya dengan yang dikatakan oleh Lucas.

"Tentu saja oleh kakek dan papamu." Jawab Lucas.

"Mereka berdua benar-benar keterlaluan banget, sih. Kemarin aku masih diam soal mereka yang mempublikasikan pertunangan itu tanpa sepengetahuanku, dan sekarang pernikahan katanya?" Ucap Darren membanting pulpen yang tengah di pegangnya. Dia mendecak tak percaya pada sikap kakek dan papanya itu.

"Kakek Ferdi menyuruku untuk segera membawamu ke acara makan malam nanti, dan pesan dari papamu juga tidak jauh berbeda, dia memintaku untuk membawamu ke acara yang di adakan nanti." Ucap Lucas yang lebih memilih menyampaikan pesan dari kakek dan papa Darren, dibandingkan menanggapi ekspresi kesal Darren.

"Apa bedanya aku datang dan tidak? Toh, pembahasan seputar pernikahan akan tetap ada!" Sambung Darren menatap kesal Lucas yang berdiri di depanya.

"Setidaknya lu bisa menolak secara langsung kalau datang kesana?" Ucap Lucas yang kini berbicara agak santai.

"Di depan kedua orang tua Laura?"

"Kenapa? Apa lu takut kalau menolak secara terbuka di depan orang tuanya? Bukanya sikapmu yang terus menolak untuk datang ke acara makan bersama keluarga mereka, juga sudah menunjukkan kalau lu sudah menolak pernikahan itu?"

"Iya sih, tapi aku gak yakin ini akan berhasil! Mengingat mereka yang terus saja tak mau mendengar alasanku untuk menolak pernikahan itu."

"Benar juga, mereka seperti tidak mau melepaskanmu, begitupun dengan Laura."

"Karena itu aku semakin tidak mau datang ke acara itu. Ah, bilang saja kalau aku lagi kencan gitu."

"Hah! Jangan mengada-ada, bagaimana aku bisa bilang begitu, kalau lu sendiri gak pernah pacaran. Yang ada mereka tidak percaya sama alasan yang aku buat."

"Aku pernah pacaran, kali! Jangan menghina kau." Protes Darren tak terima.

"Ya ya ya.., terserah lu aja lha." Cuek Lucas tak perduli dengan protes Darren. "Aku gak mau tau, nanti jam 8 malam, lu harus tetap datang ke acara itu. Aku udah capek mencarikanmu alasan terus, hari ini tidak ada penolakan pokoknya." Tekan Lucas pada setiap kalimat yang dia ucapkan.

"Males, ah. Yaudah lu aja yang gantikan aku pergi kesana, gimana?" Ucap Darren yang masih terus menolak untuk datang.

"Yaudah, biar aku telfon Laura saja, biar dia menjemputmu langsung." Ancam Lucas dengan memegang ponselnya hendak menelfon Laura.

Darren melempar kertas yang ia gulung pada Lucas karena kesal, namun dengan cepat Lucas menghindarinya, hingga kertas yang dilempar olehnya sedikit melebar.

"Sialan, ok aku akan datang." Jawab Darren yang kembali pasrah dengan ancaman Lucas seolah merasa dejavu dengan apa yang dilakukanya.

...

Pukul 8 malam telah ada di depan mata, Lucas dengan sekuat tenaganya menghiring Darren yang bersikeras menolak datang ke tempat acara makan malam bersama keluarga besarnya, juga keluarga dari Laura.

"Lepas, aku bisa jalan sendiri." Darren mencoba melepaskan tangan Lucas yang terus menggiringnya jalan.

"Yasudah, silahkan jalan kalau begitu." Lucas mempersilahkan Darren untuk berjalan di depanya.

Meski memasang wajah yang masih enggan dan kesal ketika menatap Lucas, Darren tetap menuruti keinginanya, dan berjalan kedalam ruangan tempat keluarga besarnya dan keluarga Laura berkumpul saat ini.

Darren masuk saat semua sudah pada berkumpul, hingga membuat dirinya menjadi pusat perhatian dalam perkumpulan itu.

"Maaf, saya terlambat." Ucapnya yang langsung memilih duduk, tanpa mencoba berbasa-basi.

"Wah, si bintang utama akhirnya datang juga." Celetuk papa Laura dengan wajah sumringah.

Darren mengacuhkan ucapan itu, dan memilih meminum minuman yang kebetulan sudah tersedia di depan mejanya. Sikapnya yang dingin itu tak bisa lepas dari pandangan dari papa dan kakeknya yang seperti menahan ekspresi kesal, terutama papanya yang terlihat memasang wajah menahan marah pada sikap angkuh yang sedang ditunjukkan oleh Darren saat ini.

"Ren, sudah lama ya kita gak bertemu." Sapa Laura pada Darren yang duduk di depanya. Ekspresi Laura terlihat bahagia melihat wajah Darren.

"Perasaan baru 3 hari yang lalu kita bertemu, lebih tepatnya kamu yang menemuiku." Balas Darren cuek, mengabaikan keheningan yang sempat meliputi suasana karena jawabanya yang terlampau dingin pada Laura.

"Ehem, sebaiknya kita makan dulu, takut makanannya dingin." Ucap kakek Ferdi memecah keheningan.

"Ha ha, benar kata kakek, sebaiknya kita memakan makanannya, takut dingin nanti." Timpal papa Laura agak canggung.

......................

Di seberang tempat yang berbeda, memperlihatkan kondisi Airin yang masih todak bisa melupakan pertemuanya dengan Darren. Meski terus menjalani kehidupannya seperti biasa, ingatan akan Darren tetap muncul dalam otaknya, hingga tanpa sadar membuat eskpresi murung dan beberapa kali terlihat tak bersemangat.

"Suara hatiku ingin menemuinya lagi, bertanya lalu mencoba mengajaknya berbicara. Banyak hal yang ingin aku tau, terutama alasanya meninggalkanku."

Meski sudah satu minggu yang lalu tak pernah ada kabar lagi tentang laki-laki yamg pernah mengisi hatinya dulu, namun nyatanya masih membuat Airin tak bisa melupakanya. Seolah ia masih tak bisa menerima kenyataan soal fakta yang baru ia terima.

"Saat itu, aku terlalu kaget, hingga tanpa sadar hanya bisa menangis." Ucap Airin memikirkan kejadian saat bertemu Darren di acara pernikahan kenalannya.

"Apa saat itu harusnya aku mengajaknya berbicara, ya? Dengan begitu aku bisa lega." Ucapnya lagi mengacu pada pertemuanya dengan Darren.

"Sekarang, apa yang harus aku lakukan? Aku sendiri tidak tau dia tinggal dimana dan.."

Helaan nafas panjangnya, mengakhiri kegundahan hatinya yang selama seminggu ini terus saja terpikiran akan pertemuanya dengan Darren. Meski ia masih bingung dengan rasa dilemanya, nyatanya berbanding terbalik dengan hal yang dilakukan oleh Darren saat ini.

Terlihat Darren masih bisa menjalani kehidupannya dengan normal seperti biasanya, meski sempat terfikirkan sebentar akan kejadian beberapa hari lalu dalam acara pesta pernikahan yang ia datangi, namun setelah berjalanya waktu ia memilih melupakanya. Dan sekarang, dia tengah berada dalam acara keluarga.

"Aku tidak akan pernah menikah." Darren membuat semua orang terdiam.

Episodes
1 1. Melbourne
2 2. Airin's Garden
3 3. Permataku
4 4. Pulang Kerumah Bibi
5 5. Status Baru
6 6. Hikmah Memilikinya
7 7. Kehangatan Mengelilingiku
8 8. Bertemu Teman Lama
9 9. Rasa Yang Tertinggal
10 10. Mengantar Pesanan Bunga
11 11. Bertemu Denganya
12 12. Dia Ada Di Depanku, Namun Tak Bisa Ku Dekati
13 13. Kenyataan Yang Menghuncam
14 14. Pikiran Yang Mengganggu
15 15. Ingatan Yang Tiba-tiba Muncul
16 16. Kecelakaan Berakibat Fatal
17 17. Memori Yang Hilang
18 18. Hal Yang Dilupakan
19 19. Suara Hati
20 20. Hubungan Yang Kaku
21 21. Ada Yang Janggal
22 22. Big News
23 23. Gawat!
24 24. Hati Yang Terluka
25 25. Bayangan Akan Dirinya
26 26. Masih Merindukannya?
27 27. Mencari Jawaban
28 28. Ingin Mencari Titik Terangnya
29 29. Mencari Arka Yang Hilang
30 30. Pertemuan Yang Tak Diharapkan
31 31. Begitu Dekat, Namun Terasa Jauh
32 32. Harus Bagaimana?
33 33. Perasaan Yang Aneh Ketika Melihatnya
34 34. Serpihan Ingatan
35 35. Perempuan Yang Sama?
36 36. Ketika Hati Telah Terikat Oleh Perasaan
37 37. Awal Dari Puzzle
38 38. Potongan Puzzle
39 39. Susunan Pazzle
40 40. Titik Terangnya
41 41. Mengatakan Kebenaran
42 42. Perjalanan Airin Membesarkan Anaknya
43 43. Mencari Harapan
44 44. Jatuh Sakit
45 45. Sebuah Firasat
46 46. Momen Kedekatan
47 47. Kenangan Masa Lalu
48 48. Pulang Dari Rumah Sakit
49 49. Airin dan Keputusannya
50 50. Darren Yang Merasa Aneh
51 51. Identitas Diri
52 52. Akhirnya Pulang
53 53. Tak Lagi Berharap
54 54. Ada Yang Salah
55 55. Keputusan Yang Sulit
56 56. Teka Teki
57 57. Sebuah Gambaran
58 58. Siluet Bayangan
59 59. Harapan Tiba?
60 60. Langkah Darren
61 61. Pergolakan Hati
62 62. Isi Hati Seorang Arkana
63 63. Kepingan Cerita
64 64. Berita Yang Mengejutkan
65 65. Pertemuan Yang Tak Terduga
66 66. Arka Sudah Tau?
67 67. Darren Akhirnya Ingat?
68 68. Kenangan dan Harapan
69 69. Rasa Mengharukan
70 70. Tampil Bersama
71 71. Kumpul Bertiga?
72 72. Perasaan Yang Tertahan
73 73. Babak Baru
74 74. Berbagi Cerita
75 75. Breaking News
76 76. Ikatan Batin
77 77. Langkah Yang Tak Mudah
78 78. Sidang Keluarga
79 79. Langkah Selanjutnya
80 80. Langkah Awal
81 81. Airin dan Bunga
82 82. Kesalahpahaman
83 83. Kecemasan
84 84. Meminta Maaf
85 85. Perkenalan Diri Dari Darren
86 86. Meredakan Amarah Airin
87 87. Penjelasan Darren
88 88. Mencari Airin
89 89. Mencari Airin 2
90 90. Menemukanmu
91 91. Bertemu
92 92. Emosional
93 93. Hukuman
94 94. Menebus Kesalahan
95 95. Airin Sadar
Episodes

Updated 95 Episodes

1
1. Melbourne
2
2. Airin's Garden
3
3. Permataku
4
4. Pulang Kerumah Bibi
5
5. Status Baru
6
6. Hikmah Memilikinya
7
7. Kehangatan Mengelilingiku
8
8. Bertemu Teman Lama
9
9. Rasa Yang Tertinggal
10
10. Mengantar Pesanan Bunga
11
11. Bertemu Denganya
12
12. Dia Ada Di Depanku, Namun Tak Bisa Ku Dekati
13
13. Kenyataan Yang Menghuncam
14
14. Pikiran Yang Mengganggu
15
15. Ingatan Yang Tiba-tiba Muncul
16
16. Kecelakaan Berakibat Fatal
17
17. Memori Yang Hilang
18
18. Hal Yang Dilupakan
19
19. Suara Hati
20
20. Hubungan Yang Kaku
21
21. Ada Yang Janggal
22
22. Big News
23
23. Gawat!
24
24. Hati Yang Terluka
25
25. Bayangan Akan Dirinya
26
26. Masih Merindukannya?
27
27. Mencari Jawaban
28
28. Ingin Mencari Titik Terangnya
29
29. Mencari Arka Yang Hilang
30
30. Pertemuan Yang Tak Diharapkan
31
31. Begitu Dekat, Namun Terasa Jauh
32
32. Harus Bagaimana?
33
33. Perasaan Yang Aneh Ketika Melihatnya
34
34. Serpihan Ingatan
35
35. Perempuan Yang Sama?
36
36. Ketika Hati Telah Terikat Oleh Perasaan
37
37. Awal Dari Puzzle
38
38. Potongan Puzzle
39
39. Susunan Pazzle
40
40. Titik Terangnya
41
41. Mengatakan Kebenaran
42
42. Perjalanan Airin Membesarkan Anaknya
43
43. Mencari Harapan
44
44. Jatuh Sakit
45
45. Sebuah Firasat
46
46. Momen Kedekatan
47
47. Kenangan Masa Lalu
48
48. Pulang Dari Rumah Sakit
49
49. Airin dan Keputusannya
50
50. Darren Yang Merasa Aneh
51
51. Identitas Diri
52
52. Akhirnya Pulang
53
53. Tak Lagi Berharap
54
54. Ada Yang Salah
55
55. Keputusan Yang Sulit
56
56. Teka Teki
57
57. Sebuah Gambaran
58
58. Siluet Bayangan
59
59. Harapan Tiba?
60
60. Langkah Darren
61
61. Pergolakan Hati
62
62. Isi Hati Seorang Arkana
63
63. Kepingan Cerita
64
64. Berita Yang Mengejutkan
65
65. Pertemuan Yang Tak Terduga
66
66. Arka Sudah Tau?
67
67. Darren Akhirnya Ingat?
68
68. Kenangan dan Harapan
69
69. Rasa Mengharukan
70
70. Tampil Bersama
71
71. Kumpul Bertiga?
72
72. Perasaan Yang Tertahan
73
73. Babak Baru
74
74. Berbagi Cerita
75
75. Breaking News
76
76. Ikatan Batin
77
77. Langkah Yang Tak Mudah
78
78. Sidang Keluarga
79
79. Langkah Selanjutnya
80
80. Langkah Awal
81
81. Airin dan Bunga
82
82. Kesalahpahaman
83
83. Kecemasan
84
84. Meminta Maaf
85
85. Perkenalan Diri Dari Darren
86
86. Meredakan Amarah Airin
87
87. Penjelasan Darren
88
88. Mencari Airin
89
89. Mencari Airin 2
90
90. Menemukanmu
91
91. Bertemu
92
92. Emosional
93
93. Hukuman
94
94. Menebus Kesalahan
95
95. Airin Sadar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!