Dengan tubuh yang masih terpaku dalam lift, Airin seolah masih tak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang. Bersender lemas dengan hal yang baru ia alami, dan tanpa sadar air mata telah membasahi pipinya yang mulus.
"Itu.. benar dia, kan?" Ucapnya pada seorang laki-laki yang sempat bersamanya dalam lift.
Langkahnya begitu berat, dengan tubuh yang sedikit gemetar dengan apa yang baru ia lihat, Airin kembali naik ke atas untuk memastikan apa yang ia lihat tadi. Memastikan kembali bahwa ia tak salah mengira pada orang yang sempat dilihatnya.
Karena 5 tahun sudah tak bertemu, dan tak saling bertukar kontak, membuat Airin sudah kehilangan harapan untuk bisa bertemu kembali denganya. Namun, tiba-tiba saja dia muncul kembali bagai sebuah takdir yang tak terduga, dan mengagetkan Airin yang sempat berhenti berharap untuk bisa bertemu kembali. Ketika hendak masuk kembali ke dalam acara pernikahan Silvia, tiba-tiba langkahnya terhenti, mengingat perasaanya yang penuh campur aduk ketika hendak menemuinya kembali setelah sekian lama.
"Apa yang akan aku lakukan kalau sudah bertemu denganya?"
"Apa aku harus memasang ekspresi marah? Lalu memakinya, memukul, dan berteriak padanya?, atau justru hanya diam dan menangis tersedu dihadapanya?"
Airin seolah bertengkar dengan pikiranya sendiri. Ia mencoba mengatur kembali pikiran dan juga perasaanya yang sedikit tak beraturan karena terlalu shock. Dengan perlahan ia mencoba mencari keberadaan orang yang dikenalnya itu, diantara kumpulan orang-orang yang datang dalam acara pernikahan Silvia. Dengan Mengusap air mata yang tak sengaja keluar membasahi pipinya, Airin mencoba membaur di tengah-tengah mereka.
"Aku sudah ada disini, tapi aku bingung dengan apa yang akan aku lakukan nanti jika bertemu denganya?" Batinya merasa dilema sendiri, mengingat tak mudah berbicara denganya ditengah kumpulan orang-orang seperti ini.
Disaat semua orang bergembira dan menikmati pestanya, hanya Airin yang dalam kondisi serba dilema dan perasaan yang berkecamuk dari hatinya, dan tengah mencari keberadaan sosok yang dicarinya dalam kerumunan orang-orang. Air matanya mulai menggenang ketika sosok itu terlihat oleh matanya. Melihatnya sedang mengobrol dengan santai ditengah kumpulan orang-orang, tanpa sadar membuatnya terpaku ketika melihatnya, seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Karena tak lagi bisa membendung kesedihan, air mata yang sebelumnya tertahan, akhirnya kembali menetes jatuh kedalam kedua pipinya, karena akhirnya bisa menatap wajah yang kini bisa ia lihat dengan jelas, meski sediki jauh dari tempatnya. Langkah kakinya perlahan melangkah ke arah sosok yang ia lihat untuk sedikit memperpendek jarak pandangnya.
"Eh, gak nyangka ya seorang Darren Aditya Pratama akan datang ke acara ini." Celetuk seorang tamu.
Nama yang ia kenal itu begitu menarik perhatian Airin, hingga membuatnya menghentikan langkah kakinya ketika seseorang membahas nama itu saat ia yang hendak melangkah ke arah sosok yang ia lihat.
"Iya juga ya, padahal yang ku dengar, dia gak terlalu suka sama acara beginian." Timpal lainya.
"Wajar lha, pemilik acara ini kan, salah satu kolega penting keluarganya, jadi pasti dia harus datang. Tapi, mungkin saja dia sekalian mau berdaptasi soal acara ini, karena dia kan juga mau menikah nanti." Ucap lainya.
"Wah bisa jadi tuh, kan pertunanganya juga sudah di umumkan, jadi mungkin aja dia datang untuk beradaptasi dengan suasana pernikahan seperti ini." Jawabnya yang seolah setuju dengan tebakan temanya.
Deg, seketika hati dan perasaan Airin berkecamuk mendengar obrolan beberapa tamu yang datang. Ketika ia hendak melangkah menghampiri sosok yang ia lihat, yang juga merupakan sosok laki-laki yang sudah lama meninggalkanya itu, membuat Airin terpaku dan begitu terguncang ketika mendengar obrolan itu.
"Menikah?" Ucapnya dengan sedikit bergetar.
Dengan tatapan tak percaya menatap sosok yang kini tengah mengobrol dengan beberapa tamu, Airin tak lagi bisa membendung kesedihanya. Air matanya semakin membasahi pipinya yang mulus, dan menatap penuh tanya pada orang yang dulu sangat ia cintai itu.
"Dia bilang, mau menikah?" Ucapnya menahan tangisanya, dan menatap tak percaya pada orang yang baru ia temui lagi setelah lima tahun tak pernah bertemu.
Jaraknya dengan sosok yang ia kenal hanya beberapa langkah, namun ia memilih menatapnya dari jauh tanpa mau melangkah menghampirinya, mengingat perasaanya yang saat ini terlihat begitu terguncang.
"Maaf, kenapa anda menangis? Apa ada sesuatu yang terjadi sama anda?" Tegur seseorang pada Airin yang tengah berdiam diri menatap ke arah sosok yang sangat ia temui dengan air mata yang masih membasahi pipinya.
Airin lalu menoleh ke arah orang yang menegurnya, tanpa mencoba membasuh air mata yang sudah terlanjur membasahi pipinya. "Saya tidak ada apa-apa, kok." Jawabnya menatap orang yang menegurnya. "Maaf, apa saya boleh bertanya sesuatu pada anda?" Tanya Airin kemudian.
"Pada saya? Boleh, sih? Memangnya anda mau tanya soal apa?"
"Orang yang disana, apa benar nama lengkapnya adalah Darren Aditya Pratama?" Tanya Airin menunjuk ke arah sosok di depanya saat ini, seolah ingin memastikan apa yang ia dengar tadi.
Tamu yang menegur Airin tadi, langsung melihat ke arah yang Airin maksud. "Oh dia, iya benar itu memang nama lengkapnya. Semua yang disini juga tau soal itu. Kenapa memangnya?"
"Tidak apa, terimakasih sudah mau menjawab pertanyaan saya." Balas Airin mencoba tersenyum pada orang yang mengurnya tadi.
"Iya sama-sama, tapi anda beneran tidak ada apa-apa, kan?" Tanya orang itu lagi mencoba memastikan lagi kondisi Airin.
"Iya, saya beneran tidak apa. Ini mungkin karena saya merasa terharu setelah melihat Silvia menikah." Jawab Airin sedikit mengelak.
"Oh, anda temanya Silvia, wajar kalau begitu. Saya sempat kaget melihat anda nangis begitu, takutnya terjadi sesuatu. Yasudah kalau tidak ada apa-apa, saya jadi ikut lega mendengarnya." Ucap tamu itu terlihat lega dengan penjelasan Airin. "Saya permisi kesana dulu ya, silahkan menikmati pestanya." Sambungnya, lalu meinggalkan Airin seorang diri.
Airin membiarkan tamu itu pergi meninggalkanya, dan ia membalasnya dengan senyum tipis dan anggukan kecil dari kepalanya. Meski tak dalam kondisi baik, ia tetap mencoba membalas kebaikan orang tersebut dengan sopan.
Namun, tanpa sadar kehadiranya saat ini ternyata menarik perhatian seseorang yang tiba-tiba saja mengingat dirinya. Dari arah berlawanan denganya, orang tersebut menatapnya dengan sedikit terkejut.
"Woo, dia bukanya perempuan yang nangis di dalam lift tadi, ya?" Celetuk Lucas ketika melihat Airin dari sebrang tempanya berdiri.saat ini.
"Perempuan yang nangis dalam lift?" Darren ikut melihat ke arah yang dilihat oleh Lucas.
Benar, dua orang yang sempat bersama dalam lift, dan yang juga salah satu kenalan Airin, saat ini tengah menatapnya dari arah sebrangnya.
"Dia perempuan yang kamu maksud tadi? Yang sempat menangis saat aku turun dari lift?" Tanya Darren masih menatap ke arah Airin.
"Iya, dia perempuan yang aku maksud tadi." Balas Lucas.
"Apa menurutmu dia mengenalku? Kenapa sekarang dia seolah menatap marah padaku, ya?"
"Hah, yang benar? Mana?" Seru Lucas mencoba menatap ke arah Airin, namun sudah tertutup oleh kumpulan beberapa orang yang menghalangi, hingga sosoknya tak lagi bisa ditemukan dalam gerombolan itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments