8. Bertemu Teman Lama

Dengan menuntun Arka sepulangnya mereka dari membeli makanan diluar, tanpa sadar ia berjumpa kembali dengan teman lamanya ketika tengah berjalan pulang ke rumah.

Pertemuan yang cukup canggung karena tak bertemu setelah sekian lamanya, ditambah dengan kondisi dirinya yang berbeda membuatnya sedikit merasa insecure, apalagi teman lamanya itu adalah orang yang cukup spesial dimatanya.

"Ma, Arka gak mau makanan itu." Kata Arka menujuk makanan yang dibeli oleh Airin.

"Arka gak mau makanan ini? kenapa? Ini kan makanan kesukaanya Arka?" Tanya Airin setelah membeli ikan bakar di salah satu warung makan.

"Arka lebih suka makanan buatan mama." Ucap Arka dengan jujur.

Perkataan Arka yang sederhana ternyata membuat Airin merasa tersentuh. "Nanti mama masakin makanan yang enak, hari ini kita makan ini dulu ya, bareng-bareng sama om Dava, ibu Rahma, lalu ayah Bilal juga." Kata Airin dengan berjongkok menatap wajah anaknya, dan mencoba memberikan sedikit penjelasan pada anaknya.

Arka tampak memikirkan ucapan Airin, meski ekspresinya tampak enggan. "Baiklah, tapi mama janji ya nanti masakin Arka makanan yang buaanyak dan yang enak-enak." Jawab Arka yang kembali ceria dan tak mempermasalahkan lagi makanan yang dibeli oleh Airin.

"Ok, mama janji, nanti pasti mama masakin makanan yang buaanyak untuk Arka, jadi kita sekarang pulang yuk. Let's go.." Seru Airin sembari menggandeng tangan anaknya.

"Let's go.." Arka menimpali perkataan mamanya dengan semangat.

Tak terlalu jauh warung makan yang ia datangi saat ini bersama Arka dari arah rumahnya, karena mereka tak perlu membawa kendaraan untuk kesana, hanya berjalan beberapa menit untuk sampai ketempatnya.

"Arka mau di gendong, kaki Arka sakit." Kata Arka mengeluh kecapean pada Airin.

"Wah sayang banget, padahal sebentar lagi sampai lho. Ayo jalan lagi." Balas Airin mencoba menyemangati anaknya yang baru berusia 3,5 tahu itu.

"Gak mau, Arka maunya di gendong aja." Rengek Arka yang sudah merasa kecapean.

"Yaudah, sini mama gendong. Ups, kok berat gini, anak siapa ini?." Dengan menggendong anaknya, Airin sedikit bercanda soal berat badanya.

"Hehe anak mama." Balas Arka tertawa kecil mendengar candaan mamanya.

"Emang anaknya siapa sih?"

"Mama Airin." Jawab Arka.

"Pintarnya." Ucap Airin, lalu mencium gemas pipi anaknya yang gembul.

Dengan saling bercanda selama perjalanan menuju rumah, terlihat raut kebahagiaan dari wajah keduanya. Hingga seperempat perjalanan mereka, tiba-tiba ada sosok yang tengah memanggilnya, membuat Airin seketika menoleh ke arahnya.

"Airin kan?" Panggilnya lagi, sambil menghampiri Airin.

Tentu saja ekspresi Airin tak bisa menyembunyikan keterkejutanya ketika melihat orang tersebut. "Kak Rendi." Balas Airin pada sapaan laki-laki yang bernama Rendi tersebut.

"Wah aku gak nyangka bisa ketemu sama kamu disini, sudah lama ya Airin. Kamu apa kabar?" Rendi tampak senang bertemu kembali dengan juniornya sewaktu SMA.

Airin tersenyum canggung menatap Rendi, dengan menggendong Arka dalam pelukanya, Airin merasakan perasaan tak nyaman bertatap muka dengan Rendi, namun ia mencoba tetap tenang dengan sesekali memperlihatkan senyuman kecil di bibirnya.

"Kabar Airin baik kok kak, kak Rendi sendiri bagaimana kabarnya?" Balas Airin kemudian.

"Aku juga baik, tapi kamu habis darimana? Lalu ini..." Tanya Rendi mengacu pada anak yang di gendong oleh Airin.

"Ah tadi saya habis dari beli makanan, kak Rendi sendiri ngapain disekitar sini?" Airin tak menjawab pertanyaan soal anak yang tengah di gendongnya.

"Ah, aku lagi beli kue untuk ulang tahun mamaku. Kebetulan lagi lewat sini dan mampir saat melihat ada toko kue. Oh iya, kenapa kamu tidak bawa kendaraan, kenapa kamu jalan kaki beli makanannya?" Balas Rendi sembari menunjukkan kue yang sedang dia bawa dan bertanya pada Airin yang terlihat berjalan kaki membeli makananya bersama seorang anak disampingnya.

"Airin tinggal disekitar sini, karena itu Airin jalan saja belinya, lagian juga deket tempatnya. Oh iya kak, sepertinya Airin harus pergi, soalnya makanannya sudah di tungguin orang rumah."

"Oh ok, maaf aku sudah menahanmu, tapi kalau boleh tau siapa anak yang lagi kamu gendong itu? Keponakanmu?"

"Dia.. Anakku." Jawab Airin yang sempat terdiam sejenak, sebelum akhirnya menjawabnya dengan jujur.

"Ah.. Begitu. Yasudah lanjutkan jalannya, aku juga mau pergi." Rendi tampak sedikit terkejut mendengar jawaban dari Airin, bahkan saat Airin sudah menjauh darinya, ia tak bisa memalingkan wajahnya.

"Dia sudah menikah ternyata, sangat tidak terbayangkan." Gumamnya lalu mencoba masuk ke dalam mobilnya, dan pergi dari sana.

Tak hanya Rendi yang sedikit terkejut, sepertinya begitu juga dengan Airin. Selama ia berjalan pulang, ekspresinya terbayang selalu soal pertemuanya dengan Rendi tadi. Bahkan, tadi sempat terbesit untuk menyembunyikan soal identitas Arka, ketika ditanya olehnya, namun ia jadi tersadar ketika melihat wajah anaknya yang menatapnya dengan lembut ketika dia berbicara dan anehnya tetap anteng dalam gendongannya ketika sedang mengobrol dengan Rendi tadi. Airin merasa menyesal karena sempat terfikirkan oleh pikiran itu.

"Arka ko diam saja tadi? Kenapa? Apa Arka sakit?" Tanya Airin pada anaknya yang diam sejak bertemu dengan Rendi tadi.

"Gapapa, Arka bosen aja." Jujur Arka.

"Wah begitu ya, maaf ya jadi lama pulangnya." Ucap Airin menyesal, dan dibalas hanya anggukan dari Arka.

Selama dalam obrolanya dengan Rendi, anehnya Arka tak mencoba berontak padanya, ia justru terlihat tak begitu tertarik dengan obrolan mamanya.

...

Karena pertemuan yang tak disengaja itu, anehnya malah mengeratkan hubungan Airin dan Rendi yang sempat terputus lama. Berkat Arka hubungan keduanya jadi semakin akrab, meski sempat dilanda kecanggungan karena sudah lama tak bertemu, namun seiring waktu menjadi semakin dekat dengan semakin mereka bertemu.

Rendi awalnya terkejut melihat Airin sudah memiliki seorang anak, karena itu ia cukup berhati-hati saat berdekatan denganya, karena ia mengira Airin sudah menikah. Namun, saat melihat tak ada cincin pada jari manis Airin, membuatnya merasa heran sendiri.

"Kenapa tak ada cincin di jari manisnya? Apa aku salah lihat ya?" Gumamnya dalam hati sembari mengamati jari Airin. Ia hanya diam nengamati tanpa berani untuk bertanya pada Airin.

Obrolanya dengan Arka, yang merupakan anak Airin begitu nyambung untuk Rendi, ia juga entah mengapa merasa nyaman ketika bersamanya, karena itu terkadang membuatnya ingin bertemu denganya.

"Arka gak di jemput sama mama?" Tanya Rendi pada Arka yang tengah duduk dengan anteng di taman dekat sekolahnya, ketika ia tak sengaja lewat setelah berkunjung kerumah teman dekatnya yang kebetulan tinggal di lokasi yang sama dengan Airin.

Arka hanya menggelengkan kepalanya.

"Lalu, Arka di jemput sama siapa dong? Sama Ayah Arka ya?"

"Arka gak punya ayah, Arka sedang menunggu om Dava." Jawab Arka sedikit bosan.

"Eh.." Seketika Rendi menjadi diam setelah mendengar jawabanya.

Episodes
1 1. Melbourne
2 2. Airin's Garden
3 3. Permataku
4 4. Pulang Kerumah Bibi
5 5. Status Baru
6 6. Hikmah Memilikinya
7 7. Kehangatan Mengelilingiku
8 8. Bertemu Teman Lama
9 9. Rasa Yang Tertinggal
10 10. Mengantar Pesanan Bunga
11 11. Bertemu Denganya
12 12. Dia Ada Di Depanku, Namun Tak Bisa Ku Dekati
13 13. Kenyataan Yang Menghuncam
14 14. Pikiran Yang Mengganggu
15 15. Ingatan Yang Tiba-tiba Muncul
16 16. Kecelakaan Berakibat Fatal
17 17. Memori Yang Hilang
18 18. Hal Yang Dilupakan
19 19. Suara Hati
20 20. Hubungan Yang Kaku
21 21. Ada Yang Janggal
22 22. Big News
23 23. Gawat!
24 24. Hati Yang Terluka
25 25. Bayangan Akan Dirinya
26 26. Masih Merindukannya?
27 27. Mencari Jawaban
28 28. Ingin Mencari Titik Terangnya
29 29. Mencari Arka Yang Hilang
30 30. Pertemuan Yang Tak Diharapkan
31 31. Begitu Dekat, Namun Terasa Jauh
32 32. Harus Bagaimana?
33 33. Perasaan Yang Aneh Ketika Melihatnya
34 34. Serpihan Ingatan
35 35. Perempuan Yang Sama?
36 36. Ketika Hati Telah Terikat Oleh Perasaan
37 37. Awal Dari Puzzle
38 38. Potongan Puzzle
39 39. Susunan Pazzle
40 40. Titik Terangnya
41 41. Mengatakan Kebenaran
42 42. Perjalanan Airin Membesarkan Anaknya
43 43. Mencari Harapan
44 44. Jatuh Sakit
45 45. Sebuah Firasat
46 46. Momen Kedekatan
47 47. Kenangan Masa Lalu
48 48. Pulang Dari Rumah Sakit
49 49. Airin dan Keputusannya
50 50. Darren Yang Merasa Aneh
51 51. Identitas Diri
52 52. Akhirnya Pulang
53 53. Tak Lagi Berharap
54 54. Ada Yang Salah
55 55. Keputusan Yang Sulit
56 56. Teka Teki
57 57. Sebuah Gambaran
58 58. Siluet Bayangan
59 59. Harapan Tiba?
60 60. Langkah Darren
61 61. Pergolakan Hati
62 62. Isi Hati Seorang Arkana
63 63. Kepingan Cerita
64 64. Berita Yang Mengejutkan
65 65. Pertemuan Yang Tak Terduga
66 66. Arka Sudah Tau?
67 67. Darren Akhirnya Ingat?
68 68. Kenangan dan Harapan
69 69. Rasa Mengharukan
70 70. Tampil Bersama
71 71. Kumpul Bertiga?
72 72. Perasaan Yang Tertahan
73 73. Babak Baru
74 74. Berbagi Cerita
75 75. Breaking News
76 76. Ikatan Batin
77 77. Langkah Yang Tak Mudah
78 78. Sidang Keluarga
79 79. Langkah Selanjutnya
80 80. Langkah Awal
81 81. Airin dan Bunga
82 82. Kesalahpahaman
83 83. Kecemasan
84 84. Meminta Maaf
85 85. Perkenalan Diri Dari Darren
86 86. Meredakan Amarah Airin
87 87. Penjelasan Darren
88 88. Mencari Airin
89 89. Mencari Airin 2
90 90. Menemukanmu
91 91. Bertemu
92 92. Emosional
93 93. Hukuman
94 94. Menebus Kesalahan
95 95. Airin Sadar
Episodes

Updated 95 Episodes

1
1. Melbourne
2
2. Airin's Garden
3
3. Permataku
4
4. Pulang Kerumah Bibi
5
5. Status Baru
6
6. Hikmah Memilikinya
7
7. Kehangatan Mengelilingiku
8
8. Bertemu Teman Lama
9
9. Rasa Yang Tertinggal
10
10. Mengantar Pesanan Bunga
11
11. Bertemu Denganya
12
12. Dia Ada Di Depanku, Namun Tak Bisa Ku Dekati
13
13. Kenyataan Yang Menghuncam
14
14. Pikiran Yang Mengganggu
15
15. Ingatan Yang Tiba-tiba Muncul
16
16. Kecelakaan Berakibat Fatal
17
17. Memori Yang Hilang
18
18. Hal Yang Dilupakan
19
19. Suara Hati
20
20. Hubungan Yang Kaku
21
21. Ada Yang Janggal
22
22. Big News
23
23. Gawat!
24
24. Hati Yang Terluka
25
25. Bayangan Akan Dirinya
26
26. Masih Merindukannya?
27
27. Mencari Jawaban
28
28. Ingin Mencari Titik Terangnya
29
29. Mencari Arka Yang Hilang
30
30. Pertemuan Yang Tak Diharapkan
31
31. Begitu Dekat, Namun Terasa Jauh
32
32. Harus Bagaimana?
33
33. Perasaan Yang Aneh Ketika Melihatnya
34
34. Serpihan Ingatan
35
35. Perempuan Yang Sama?
36
36. Ketika Hati Telah Terikat Oleh Perasaan
37
37. Awal Dari Puzzle
38
38. Potongan Puzzle
39
39. Susunan Pazzle
40
40. Titik Terangnya
41
41. Mengatakan Kebenaran
42
42. Perjalanan Airin Membesarkan Anaknya
43
43. Mencari Harapan
44
44. Jatuh Sakit
45
45. Sebuah Firasat
46
46. Momen Kedekatan
47
47. Kenangan Masa Lalu
48
48. Pulang Dari Rumah Sakit
49
49. Airin dan Keputusannya
50
50. Darren Yang Merasa Aneh
51
51. Identitas Diri
52
52. Akhirnya Pulang
53
53. Tak Lagi Berharap
54
54. Ada Yang Salah
55
55. Keputusan Yang Sulit
56
56. Teka Teki
57
57. Sebuah Gambaran
58
58. Siluet Bayangan
59
59. Harapan Tiba?
60
60. Langkah Darren
61
61. Pergolakan Hati
62
62. Isi Hati Seorang Arkana
63
63. Kepingan Cerita
64
64. Berita Yang Mengejutkan
65
65. Pertemuan Yang Tak Terduga
66
66. Arka Sudah Tau?
67
67. Darren Akhirnya Ingat?
68
68. Kenangan dan Harapan
69
69. Rasa Mengharukan
70
70. Tampil Bersama
71
71. Kumpul Bertiga?
72
72. Perasaan Yang Tertahan
73
73. Babak Baru
74
74. Berbagi Cerita
75
75. Breaking News
76
76. Ikatan Batin
77
77. Langkah Yang Tak Mudah
78
78. Sidang Keluarga
79
79. Langkah Selanjutnya
80
80. Langkah Awal
81
81. Airin dan Bunga
82
82. Kesalahpahaman
83
83. Kecemasan
84
84. Meminta Maaf
85
85. Perkenalan Diri Dari Darren
86
86. Meredakan Amarah Airin
87
87. Penjelasan Darren
88
88. Mencari Airin
89
89. Mencari Airin 2
90
90. Menemukanmu
91
91. Bertemu
92
92. Emosional
93
93. Hukuman
94
94. Menebus Kesalahan
95
95. Airin Sadar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!