Dengan menuntun Arka sepulangnya mereka dari membeli makanan diluar, tanpa sadar ia berjumpa kembali dengan teman lamanya ketika tengah berjalan pulang ke rumah.
Pertemuan yang cukup canggung karena tak bertemu setelah sekian lamanya, ditambah dengan kondisi dirinya yang berbeda membuatnya sedikit merasa insecure, apalagi teman lamanya itu adalah orang yang cukup spesial dimatanya.
"Ma, Arka gak mau makanan itu." Kata Arka menujuk makanan yang dibeli oleh Airin.
"Arka gak mau makanan ini? kenapa? Ini kan makanan kesukaanya Arka?" Tanya Airin setelah membeli ikan bakar di salah satu warung makan.
"Arka lebih suka makanan buatan mama." Ucap Arka dengan jujur.
Perkataan Arka yang sederhana ternyata membuat Airin merasa tersentuh. "Nanti mama masakin makanan yang enak, hari ini kita makan ini dulu ya, bareng-bareng sama om Dava, ibu Rahma, lalu ayah Bilal juga." Kata Airin dengan berjongkok menatap wajah anaknya, dan mencoba memberikan sedikit penjelasan pada anaknya.
Arka tampak memikirkan ucapan Airin, meski ekspresinya tampak enggan. "Baiklah, tapi mama janji ya nanti masakin Arka makanan yang buaanyak dan yang enak-enak." Jawab Arka yang kembali ceria dan tak mempermasalahkan lagi makanan yang dibeli oleh Airin.
"Ok, mama janji, nanti pasti mama masakin makanan yang buaanyak untuk Arka, jadi kita sekarang pulang yuk. Let's go.." Seru Airin sembari menggandeng tangan anaknya.
"Let's go.." Arka menimpali perkataan mamanya dengan semangat.
Tak terlalu jauh warung makan yang ia datangi saat ini bersama Arka dari arah rumahnya, karena mereka tak perlu membawa kendaraan untuk kesana, hanya berjalan beberapa menit untuk sampai ketempatnya.
"Arka mau di gendong, kaki Arka sakit." Kata Arka mengeluh kecapean pada Airin.
"Wah sayang banget, padahal sebentar lagi sampai lho. Ayo jalan lagi." Balas Airin mencoba menyemangati anaknya yang baru berusia 3,5 tahu itu.
"Gak mau, Arka maunya di gendong aja." Rengek Arka yang sudah merasa kecapean.
"Yaudah, sini mama gendong. Ups, kok berat gini, anak siapa ini?." Dengan menggendong anaknya, Airin sedikit bercanda soal berat badanya.
"Hehe anak mama." Balas Arka tertawa kecil mendengar candaan mamanya.
"Emang anaknya siapa sih?"
"Mama Airin." Jawab Arka.
"Pintarnya." Ucap Airin, lalu mencium gemas pipi anaknya yang gembul.
Dengan saling bercanda selama perjalanan menuju rumah, terlihat raut kebahagiaan dari wajah keduanya. Hingga seperempat perjalanan mereka, tiba-tiba ada sosok yang tengah memanggilnya, membuat Airin seketika menoleh ke arahnya.
"Airin kan?" Panggilnya lagi, sambil menghampiri Airin.
Tentu saja ekspresi Airin tak bisa menyembunyikan keterkejutanya ketika melihat orang tersebut. "Kak Rendi." Balas Airin pada sapaan laki-laki yang bernama Rendi tersebut.
"Wah aku gak nyangka bisa ketemu sama kamu disini, sudah lama ya Airin. Kamu apa kabar?" Rendi tampak senang bertemu kembali dengan juniornya sewaktu SMA.
Airin tersenyum canggung menatap Rendi, dengan menggendong Arka dalam pelukanya, Airin merasakan perasaan tak nyaman bertatap muka dengan Rendi, namun ia mencoba tetap tenang dengan sesekali memperlihatkan senyuman kecil di bibirnya.
"Kabar Airin baik kok kak, kak Rendi sendiri bagaimana kabarnya?" Balas Airin kemudian.
"Aku juga baik, tapi kamu habis darimana? Lalu ini..." Tanya Rendi mengacu pada anak yang di gendong oleh Airin.
"Ah tadi saya habis dari beli makanan, kak Rendi sendiri ngapain disekitar sini?" Airin tak menjawab pertanyaan soal anak yang tengah di gendongnya.
"Ah, aku lagi beli kue untuk ulang tahun mamaku. Kebetulan lagi lewat sini dan mampir saat melihat ada toko kue. Oh iya, kenapa kamu tidak bawa kendaraan, kenapa kamu jalan kaki beli makanannya?" Balas Rendi sembari menunjukkan kue yang sedang dia bawa dan bertanya pada Airin yang terlihat berjalan kaki membeli makananya bersama seorang anak disampingnya.
"Airin tinggal disekitar sini, karena itu Airin jalan saja belinya, lagian juga deket tempatnya. Oh iya kak, sepertinya Airin harus pergi, soalnya makanannya sudah di tungguin orang rumah."
"Oh ok, maaf aku sudah menahanmu, tapi kalau boleh tau siapa anak yang lagi kamu gendong itu? Keponakanmu?"
"Dia.. Anakku." Jawab Airin yang sempat terdiam sejenak, sebelum akhirnya menjawabnya dengan jujur.
"Ah.. Begitu. Yasudah lanjutkan jalannya, aku juga mau pergi." Rendi tampak sedikit terkejut mendengar jawaban dari Airin, bahkan saat Airin sudah menjauh darinya, ia tak bisa memalingkan wajahnya.
"Dia sudah menikah ternyata, sangat tidak terbayangkan." Gumamnya lalu mencoba masuk ke dalam mobilnya, dan pergi dari sana.
Tak hanya Rendi yang sedikit terkejut, sepertinya begitu juga dengan Airin. Selama ia berjalan pulang, ekspresinya terbayang selalu soal pertemuanya dengan Rendi tadi. Bahkan, tadi sempat terbesit untuk menyembunyikan soal identitas Arka, ketika ditanya olehnya, namun ia jadi tersadar ketika melihat wajah anaknya yang menatapnya dengan lembut ketika dia berbicara dan anehnya tetap anteng dalam gendongannya ketika sedang mengobrol dengan Rendi tadi. Airin merasa menyesal karena sempat terfikirkan oleh pikiran itu.
"Arka ko diam saja tadi? Kenapa? Apa Arka sakit?" Tanya Airin pada anaknya yang diam sejak bertemu dengan Rendi tadi.
"Gapapa, Arka bosen aja." Jujur Arka.
"Wah begitu ya, maaf ya jadi lama pulangnya." Ucap Airin menyesal, dan dibalas hanya anggukan dari Arka.
Selama dalam obrolanya dengan Rendi, anehnya Arka tak mencoba berontak padanya, ia justru terlihat tak begitu tertarik dengan obrolan mamanya.
...
Karena pertemuan yang tak disengaja itu, anehnya malah mengeratkan hubungan Airin dan Rendi yang sempat terputus lama. Berkat Arka hubungan keduanya jadi semakin akrab, meski sempat dilanda kecanggungan karena sudah lama tak bertemu, namun seiring waktu menjadi semakin dekat dengan semakin mereka bertemu.
Rendi awalnya terkejut melihat Airin sudah memiliki seorang anak, karena itu ia cukup berhati-hati saat berdekatan denganya, karena ia mengira Airin sudah menikah. Namun, saat melihat tak ada cincin pada jari manis Airin, membuatnya merasa heran sendiri.
"Kenapa tak ada cincin di jari manisnya? Apa aku salah lihat ya?" Gumamnya dalam hati sembari mengamati jari Airin. Ia hanya diam nengamati tanpa berani untuk bertanya pada Airin.
Obrolanya dengan Arka, yang merupakan anak Airin begitu nyambung untuk Rendi, ia juga entah mengapa merasa nyaman ketika bersamanya, karena itu terkadang membuatnya ingin bertemu denganya.
"Arka gak di jemput sama mama?" Tanya Rendi pada Arka yang tengah duduk dengan anteng di taman dekat sekolahnya, ketika ia tak sengaja lewat setelah berkunjung kerumah teman dekatnya yang kebetulan tinggal di lokasi yang sama dengan Airin.
Arka hanya menggelengkan kepalanya.
"Lalu, Arka di jemput sama siapa dong? Sama Ayah Arka ya?"
"Arka gak punya ayah, Arka sedang menunggu om Dava." Jawab Arka sedikit bosan.
"Eh.." Seketika Rendi menjadi diam setelah mendengar jawabanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments