Oek.. oek.. Oek..
Tangisnya dengan lantang dari seorang bayi berjenis laki-laki yang baru lahir. Tubuhnya begitu mungil dan terlihat masih lemah denhan sayup-sayup tangis darinya. Bayi yang baru lahir itu masih kemerahan ketika dipeluk oleh sang ibunya.
Dengan keringat yang masih membasahi wajahnya, Airin menangis memeluk anak yang baru ia lahirkan itu.
"Anakku.." Ucapnya memeluk anaknya. "Maafkan mama, hu.. hu.. hu.." Tangis Airin pecah ketika memeluk sang anak yang baru ia lahirkan dengan susah payah. "Maafkan mama, hiks.. hiks.." Tangisnya lagi tak bisa membendung kesedihan memeluk sang anak.
Dalam usia yang masih muda, tak mudah bagi Airin saat itu untuk menyambut anaknya, namun meski begitu ia tetap bertanggung jawab akan hal itu, mengingat anak itu lahir dari rahimnya sendiri. Meski sulit dan penuh tantangan, ia bersama sang anak mencoba untuk melewatinya bersama, hingga tumbuh dengan baik saat ini.
...
"Bibi.." Dengan menggendong anak yang masih kecil dipangkuannya, Airin menghadap pada bibi yang baru ia temui lagi setelah hampir 5 tahun lebih pergi untuk sekolah ke luar negeri.
Rahma, bibi sekaligus keluarga satu-satunya yang ia miliki, begitu kaget setelah melihat sang keponakan membawa seorang anak dalam gendongannya. Di lihatnya lagi keponakan yang tengah menangis dengan tersedu dihadapanya itu.
"Aku minta maaf, bi." Ucap Airin bersujud di hadapan bibinya dengan anak yang masih dalam gendonganya. Bersama dengan tangisan darinya, anak dalam gendongannya pun menjadi ikutan menangis bersama dirinya.
Meski terkejut, Rahma mencoba memeluk keponakannya itu dan mencoba menenangkanya. Ia kaget dan sedikit terpaku pada apa yang dilihatnya. Namun, ia tetap menyambut dengan baik keponakannya itu bersama anak yang digendongnya.
"Kita masuk dulu, ok. Tenangkan dirimu, lalu bicara pelan-pelan sama bibi nanti, kasihan anak yang sedang kamu gendong, sepertinya dia ikut sedih melihat kamu menangis." Ucap Rahma menenangkan Airin yang tengah menangis dengan tersedu.
Dalam kesedihan yang ia alami, beruntungnya dia bisa diterima dengan baik oleh bibi dan keluarganya, meski sempat malu untuk kembali dengan kondisi seperti itu. Namun, karena sambutan hangat dari bibi dan keluarganya, membuatnya merasa kuat untuk membesarkan anak disampingnya.
...
Kembali saat ini, terlihat Airin tengah menyiapkan makan siang untuk anaknya yang baru pulang sekolah.
"Bagaimana masakan mama? Enak?" Tanya Airin pada Arka yang saat ini makan dengan lahapnya.
"Enak banget." Jawab Arka dengan memberi jempol pada Arin.
"Yaudah, habisin makananya." Kata Airin mengelus lembut puncak kepala anaknya.
Maafkan mama ya belum bisa jadi orang tua yang baik untukmu.
Airin merenungi sikap anaknya yang tanpa mengeluh sedikit pun meski tak ada ayah disampingnya. Kadang membuat Airin merasa heran melihat anaknya yang selalu ceria dan berhenti menanyakan soal ayahnya.
"Ma, apa Arka tidak punya papa?" Tanya Arka dengan wajah polos pada Airin.
Di usia yang masih muda, yaitu 3 tahun, pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut sang anak. Karena melihat hanya dirinya yang tak memiliki ayah, Arka spontan menanyakannya pada Airin, tanpa ia tahu pertanyaan itu ternyata menyakiti perasaan ibunya.
Airin terlihat bingung mendengar pertanyaan dari anak yang baru berusia 3 tahun itu, hingga tanpa sadar membuatnya sedih dan meneteskan air mata.
"Mama nangis, apa Arka berbuat salah? Maafkan Arka, Arka minta maaf. Mama jangan menangis." Ucap Arka memeluk Airin dan ikut menangis dalam pelukanya.
Airin memeluk anaknya erat, ia tak bisa menyembunyikan kesedihannya dan hanya bisa menangis dalam diam tanpa bisa menjawab pertanyaan sederhana dari sang anak.
Maafkan mama Arka.
...
Airin termenung memikirkan kembali pertanyaan yang di ajukan pertama kalinya oleh Arka soal ayahnya. Saat itu, ia tak bisa menjawab pertanyaan sang anak, dan tanpa sadar hanya bisa menangis. Namun, sebenarnya itu sedikit membuatnya menyesal, karena tak bisa menjawab dengan baik pertanyaan dari sang anak. Tapi, anehnya setelah itu Arka tak lagi menanyakan soal ayahnya padanya, hingga membuatnya sedikit bingung.
"Arka sayang gak sama mama?" Tanya Airin disela makan anaknya.
"Aku sayang buuuaaannget saaaammaaa mama." Jawabnya dengan membentuk lingkaran besar di kedua tanganya.
"Benarkah? Wah terimakasih, ya. Mama juga suuuaaayang banget sama Arka." Elus Airin dengan lembut pada pipi anaknya.
"Aku sudah selesai makan. Habis.." Ucapnya sembari menunjukkan piringnya yang bersih.
"Wah pintarnya, ayo cuci tanganya sekarang." Balas Airin, lalu mencoba menggiringnya untuk mencuci tangan dan mulutnya yang kotor karena makanan.
Meski terlahir menjadi ibu tunggal, Airin cukup sabar dan telaten pada anak semata wayangnya, meski ia sendiri tak pernah belajar merawat anak sebelumnya.
Permataku, hartaku, cintaku dan juga kesayanganku. Akan kulakukan semua hal untukmu, demi melihatmu tersenyum selalu, wahai anakku yang lucu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments