17. Memori Yang Hilang

Setelah kejadian pecahnya gelas yang ia lakukan dalam acara pernikahan Silvia kemarin, sepertinya telah masuk kedalam telinga papa dan juga kakeknya Darren. Meski sudah mendapat pesan dari papanya untuk pulang ke rumah, Darren tetap tak mau menuruti perintahnya dan memilih mengabaikan setiap panggilan dari papanya, bahkan dari kakeknya sekalipun.

"Lu beneran gak mau pulang? Aku yakin hari ini om Edward gak akan tinggal diam, apalagi soal masalah kemarin!" Kata Lucas memperingati.

"Memangnya aku perduli soal itu? dia kan selalu begitu, mempermasalahkan hal yang sebenarnya tidak seberapa, dan pura-pura sok perduli padahal tidak." Balas Darren dengan cuek.

Lucas faham betul pada hubungan Darren dan papanya, yang tak pernah ada kata hangat di antara mereka berdua. "Bukanya kakek Ferdi juga menelfonmu? Apa tidak apa kamu tidak mengangkatnya?"

"Bukanya lu sudah melaporkan semua padanya?"

"Sudah, sih. Tapi, kan setidaknya lu jawab telfon darinya."

"Yasudah, kalau begitu masalah selesai, kan! Jadi, gak ada alasan buatku untuk mengangkat telfonya." Jawab Darren terlihat tak perduli akan itu.

"Dia menghawatirkanmu, bukan ingin memarahimu, apa tidak bisa lu jawab telfonya sebentar?" Kata Lucas mengacu pada kakek Darren.

"Kalau khawatir, harusnya dia datang saja kesini, kenapa harus menelfonku? Lagian aku lagi malas menjawab telfon dari siapapun." Balas Darren cuek.

"Dasar, dingin banget sih jadi orang." Lucas benar-benar kehabisan kata pada sikap sahabat sekaligus atasanya itu. Meski sudah lama mengenalnya, terkadang masih membuatnya kebingungan menyikapi sikapnya.

"Terserah lu aja lha, yang penting hari ini lu harus datang ke rumah sakit."

"Hah! Ngapain aku harus ke rumah sakit?" Ucap Darren bingung menatap Lucas.

"Jangan bilang lu lupa sama janji lu kemarin? Kan hari ini ada jadwal pemeriksaan kesehatanmu!" Jelas Lucas menatap tajam Darren.

"Aku tau, tapi kemarin kan lu masih bilang akan menjadwalkanya? Kenapa jadi cepet banget, gini?"

"Ya habisnya dokter Heru bisanya hari ini. Jadi, mau gak mau harus hari ini."

"Ah, males banget. Lagian aku udah gak kenapa-napa gini! Batalin aja lha, aku lagi gak mood banget buat datang ke rumah sakit." Tukas Darren yang terlihat enggan untuk datang.

"Nggak bisa, janji tetap jaji. Kemarin lu bilang mau, jadi hari ini tetap harus datang." Jawab Lucas dengan tegas, bahkan tak memberikan celah satupun pada Darren.

"Yasudah datang aja sana sendiri ke rumah sakit. Aku tetap gak mau datang." Kekeh Darren.

Sepertinya Lucas sudah faham betul dengan sifat Darren, hingga dia yang tetal tenang meski Darren kekeh menolak untuk datang ke rumah sakit.

"Oh, yaudah. Aku akan melaporkannya pada kakek Ferdi biar beliau sendiri yang mengantarmu langsung ke rumah sakit." Kata Lucas sedikit mengancam.

Darren kehabisan kata melihat ancaman Lucas, ia pun hanya bisa menghela nafas kesal dan tak lagi mendebat.

"Bagus, anak manis memang selalu penurut." Ucap Lucas sedikit menggoda Darren.

"Hah! Asal tau aja, aku begini bukan karena takut dengan ancamanmu, hanya tidak nau dengar ceramahan dari kakek."

"Ya ya ya, ok lha, aku faham, kok." Lucas mengangguk mengerti pada sanggahan Darren, seperti enggan untuk menanggapinya.

...

Setelah berkutat pada pekerjaan yang super sibuk, Darren dan Lucas akhirnya mendatangi rumah sakit seperti rencana mereka sebelumnya. Mereka datang saat hari sudah agak sore, yakni pukul 4 sore, mengingat jadwal keduanya yang sama-sama kosong pada jam itu.

Darren mendatangi rumas sakit milik dokter kenalanya, yang juga sangat dipercaya oleh keluarga besanya.

"Bagaimana kondisinya dokter? Apa terjadi masalah pada otaknya?" Tanya Lucas yang ikut menemani Darren memeriksakan kondisinya.

"Sebenarnya tidak ada masalah serius dalam otaknya." Jawab dokter Heru.

"Tuh, aku bilang juga apa! Aku tuh baik-baik saja, hanya sedikit pusing aja kemarin." Timpal Darren mencoba meyakinkan Lucas.

Meski begitu, Lucas tetap tak bisa menerimanya begitu saja.

"Apa benar tidak terjadi apa-apa dok sama dia? Soalnya kemarin dia mengerang kesakitan pada kepalanya?" Tanya Lucas ingin memastikan kembali.

"Dari hasil pemeriksaanya memang tidak ada masalah serius pada otaknya" Ujar dokter Heru sambil memperlihatkan hasil pemerikasanya pada Lucas dan Darren.

"Lalu, kalau gak kenapa-napa dengan otaknya, kenapa kemarin dia mengerang kesakitan pada kepalanya?" Tanya Lucas mengacu pada kondisi Darren yang kemarin sempat kesakitan, bahkan tanpa sadar memecahkan gelas yang sedang ia pegang.

"Kalau melihat hasil gambar yang terlihat memang tidak terjadi masalah yang serius. Namun, karena Darren pernah mengalami cedera parah pada kepalanya, hingga memori sebagianya hilang, dan seringkali merasakan sakit pada bagian kepalanya. Sebenarnya ini adalah karena efek samping yang ditimbulkan dari cederanya saat itu." Jelas dokter.

"Apa maksud dokter, ini karena Darren teringat kembali akan separuh memorinya yang hilang?" Tanya Lucas lagi.

"Benar, sepertinya ada hal yang membuat otaknya bereaksi pada ingatan memori masa lalunya yang sempat hilang, hingga menimbulkan rasa sakit pada kepalanya."

Baik Lucas maupun Darren menjadi diam setelah mendengar penjelasan dari dokter Heru. terutama bagi Darren itu sendiri, yang kembali memikirkan akan separuh memorinya yang hilang.

"Hal yang membuat otakku bereaksi?"

Darren terlihat bingung dengan maksud dari dokter Heru, mengingat saat itu dia masih baik-baik saja dan tak ada hal yang mengganggunya. Namun, tiba-tiba saja ia teringat akan pertemuanya dengan perempuan yang dia temui pada acara pernikahan kemarin.

"Ah, gak mungkin ada kaitanya dengan itu? Kita kan baru pertama kali bertemu?"

Dengan segera dia menyangkal pada pikiranya sendiri, karena merasa sangat tak masuk akal akan itu.

"Dok, apa menurut dokter memoriku yang hilang itu bisa kembali lagi?" Tanya Darren kemudian.

"Bisa saja, tapi semua memang membutuhkan waktu. Amnesia itu bukan berarti tidak bisa di sembuhkan, apalagi kamu hanya mengalami amnesia sebagian, itu pun kamu hanya melupakan kenanganmu selama berada di australia, lainya kamu masih ingat. Kalau kamu mau terapi, sebenarnya masih bisa." Jelas dokter Heru.

"Terapi?" Gumamnya.

Darren tersadar bahwa selama terbangun dari komanya, hal yang ia lakukan hanya memulihkan luka dalam tubuhnya, bahkan ketika sadar pertama kali, ia bahkan sempat melupakan kejadian yang ia alami.

"Kalau terapi, apa kenangan akan kecelakaannya dulu juga akan kembali teringat, dok?" Tanya Lucas.

"Bisa saja, semua hal yang dia lupakan selama di australia, mungkin saja bisa teringat kembali. Karena itu, jika mau sembuh dan mengingat kembali memori yang hilang, harus siap mengorek luka lamanya."

"Wah kalau begitu gawat. Pasti tidak mudah buat melakukanya." Ucap Lucas menatap Darren dengan rasa empati.

Benar, hanya memori selama tinggal di australia yang Darren lupakan. Tentang kecelakaanya, teman-temanya, kehidupanya selama disana semua tak bisa di ingat lagi oleh Darren. Setiap mencoba mengingatnya, yang muncul pertama kali justru tentang kecelakaan dirinya yang membuatnya koma dan berbaring dalam ranjang rumah sakit selama hampir satu tahun. Kepalanya akan merasakan sakit setiap kali mencoba mengingatnya, hingga akhirnya membuatnya menyerah dan tak lagi mengorek akan itu dan memilih melupakanya.

"Benar, kenapa hanya memori itu yang aku lupakan?"

Episodes
1 1. Melbourne
2 2. Airin's Garden
3 3. Permataku
4 4. Pulang Kerumah Bibi
5 5. Status Baru
6 6. Hikmah Memilikinya
7 7. Kehangatan Mengelilingiku
8 8. Bertemu Teman Lama
9 9. Rasa Yang Tertinggal
10 10. Mengantar Pesanan Bunga
11 11. Bertemu Denganya
12 12. Dia Ada Di Depanku, Namun Tak Bisa Ku Dekati
13 13. Kenyataan Yang Menghuncam
14 14. Pikiran Yang Mengganggu
15 15. Ingatan Yang Tiba-tiba Muncul
16 16. Kecelakaan Berakibat Fatal
17 17. Memori Yang Hilang
18 18. Hal Yang Dilupakan
19 19. Suara Hati
20 20. Hubungan Yang Kaku
21 21. Ada Yang Janggal
22 22. Big News
23 23. Gawat!
24 24. Hati Yang Terluka
25 25. Bayangan Akan Dirinya
26 26. Masih Merindukannya?
27 27. Mencari Jawaban
28 28. Ingin Mencari Titik Terangnya
29 29. Mencari Arka Yang Hilang
30 30. Pertemuan Yang Tak Diharapkan
31 31. Begitu Dekat, Namun Terasa Jauh
32 32. Harus Bagaimana?
33 33. Perasaan Yang Aneh Ketika Melihatnya
34 34. Serpihan Ingatan
35 35. Perempuan Yang Sama?
36 36. Ketika Hati Telah Terikat Oleh Perasaan
37 37. Awal Dari Puzzle
38 38. Potongan Puzzle
39 39. Susunan Pazzle
40 40. Titik Terangnya
41 41. Mengatakan Kebenaran
42 42. Perjalanan Airin Membesarkan Anaknya
43 43. Mencari Harapan
44 44. Jatuh Sakit
45 45. Sebuah Firasat
46 46. Momen Kedekatan
47 47. Kenangan Masa Lalu
48 48. Pulang Dari Rumah Sakit
49 49. Airin dan Keputusannya
50 50. Darren Yang Merasa Aneh
51 51. Identitas Diri
52 52. Akhirnya Pulang
53 53. Tak Lagi Berharap
54 54. Ada Yang Salah
55 55. Keputusan Yang Sulit
56 56. Teka Teki
57 57. Sebuah Gambaran
58 58. Siluet Bayangan
59 59. Harapan Tiba?
60 60. Langkah Darren
61 61. Pergolakan Hati
62 62. Isi Hati Seorang Arkana
63 63. Kepingan Cerita
64 64. Berita Yang Mengejutkan
65 65. Pertemuan Yang Tak Terduga
66 66. Arka Sudah Tau?
67 67. Darren Akhirnya Ingat?
68 68. Kenangan dan Harapan
69 69. Rasa Mengharukan
70 70. Tampil Bersama
71 71. Kumpul Bertiga?
72 72. Perasaan Yang Tertahan
73 73. Babak Baru
74 74. Berbagi Cerita
75 75. Breaking News
76 76. Ikatan Batin
77 77. Langkah Yang Tak Mudah
78 78. Sidang Keluarga
79 79. Langkah Selanjutnya
80 80. Langkah Awal
81 81. Airin dan Bunga
82 82. Kesalahpahaman
83 83. Kecemasan
84 84. Meminta Maaf
85 85. Perkenalan Diri Dari Darren
86 86. Meredakan Amarah Airin
87 87. Penjelasan Darren
88 88. Mencari Airin
89 89. Mencari Airin 2
90 90. Menemukanmu
91 91. Bertemu
92 92. Emosional
93 93. Hukuman
94 94. Menebus Kesalahan
95 95. Airin Sadar
Episodes

Updated 95 Episodes

1
1. Melbourne
2
2. Airin's Garden
3
3. Permataku
4
4. Pulang Kerumah Bibi
5
5. Status Baru
6
6. Hikmah Memilikinya
7
7. Kehangatan Mengelilingiku
8
8. Bertemu Teman Lama
9
9. Rasa Yang Tertinggal
10
10. Mengantar Pesanan Bunga
11
11. Bertemu Denganya
12
12. Dia Ada Di Depanku, Namun Tak Bisa Ku Dekati
13
13. Kenyataan Yang Menghuncam
14
14. Pikiran Yang Mengganggu
15
15. Ingatan Yang Tiba-tiba Muncul
16
16. Kecelakaan Berakibat Fatal
17
17. Memori Yang Hilang
18
18. Hal Yang Dilupakan
19
19. Suara Hati
20
20. Hubungan Yang Kaku
21
21. Ada Yang Janggal
22
22. Big News
23
23. Gawat!
24
24. Hati Yang Terluka
25
25. Bayangan Akan Dirinya
26
26. Masih Merindukannya?
27
27. Mencari Jawaban
28
28. Ingin Mencari Titik Terangnya
29
29. Mencari Arka Yang Hilang
30
30. Pertemuan Yang Tak Diharapkan
31
31. Begitu Dekat, Namun Terasa Jauh
32
32. Harus Bagaimana?
33
33. Perasaan Yang Aneh Ketika Melihatnya
34
34. Serpihan Ingatan
35
35. Perempuan Yang Sama?
36
36. Ketika Hati Telah Terikat Oleh Perasaan
37
37. Awal Dari Puzzle
38
38. Potongan Puzzle
39
39. Susunan Pazzle
40
40. Titik Terangnya
41
41. Mengatakan Kebenaran
42
42. Perjalanan Airin Membesarkan Anaknya
43
43. Mencari Harapan
44
44. Jatuh Sakit
45
45. Sebuah Firasat
46
46. Momen Kedekatan
47
47. Kenangan Masa Lalu
48
48. Pulang Dari Rumah Sakit
49
49. Airin dan Keputusannya
50
50. Darren Yang Merasa Aneh
51
51. Identitas Diri
52
52. Akhirnya Pulang
53
53. Tak Lagi Berharap
54
54. Ada Yang Salah
55
55. Keputusan Yang Sulit
56
56. Teka Teki
57
57. Sebuah Gambaran
58
58. Siluet Bayangan
59
59. Harapan Tiba?
60
60. Langkah Darren
61
61. Pergolakan Hati
62
62. Isi Hati Seorang Arkana
63
63. Kepingan Cerita
64
64. Berita Yang Mengejutkan
65
65. Pertemuan Yang Tak Terduga
66
66. Arka Sudah Tau?
67
67. Darren Akhirnya Ingat?
68
68. Kenangan dan Harapan
69
69. Rasa Mengharukan
70
70. Tampil Bersama
71
71. Kumpul Bertiga?
72
72. Perasaan Yang Tertahan
73
73. Babak Baru
74
74. Berbagi Cerita
75
75. Breaking News
76
76. Ikatan Batin
77
77. Langkah Yang Tak Mudah
78
78. Sidang Keluarga
79
79. Langkah Selanjutnya
80
80. Langkah Awal
81
81. Airin dan Bunga
82
82. Kesalahpahaman
83
83. Kecemasan
84
84. Meminta Maaf
85
85. Perkenalan Diri Dari Darren
86
86. Meredakan Amarah Airin
87
87. Penjelasan Darren
88
88. Mencari Airin
89
89. Mencari Airin 2
90
90. Menemukanmu
91
91. Bertemu
92
92. Emosional
93
93. Hukuman
94
94. Menebus Kesalahan
95
95. Airin Sadar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!