Setelah kejadian pecahnya gelas yang ia lakukan dalam acara pernikahan Silvia kemarin, sepertinya telah masuk kedalam telinga papa dan juga kakeknya Darren. Meski sudah mendapat pesan dari papanya untuk pulang ke rumah, Darren tetap tak mau menuruti perintahnya dan memilih mengabaikan setiap panggilan dari papanya, bahkan dari kakeknya sekalipun.
"Lu beneran gak mau pulang? Aku yakin hari ini om Edward gak akan tinggal diam, apalagi soal masalah kemarin!" Kata Lucas memperingati.
"Memangnya aku perduli soal itu? dia kan selalu begitu, mempermasalahkan hal yang sebenarnya tidak seberapa, dan pura-pura sok perduli padahal tidak." Balas Darren dengan cuek.
Lucas faham betul pada hubungan Darren dan papanya, yang tak pernah ada kata hangat di antara mereka berdua. "Bukanya kakek Ferdi juga menelfonmu? Apa tidak apa kamu tidak mengangkatnya?"
"Bukanya lu sudah melaporkan semua padanya?"
"Sudah, sih. Tapi, kan setidaknya lu jawab telfon darinya."
"Yasudah, kalau begitu masalah selesai, kan! Jadi, gak ada alasan buatku untuk mengangkat telfonya." Jawab Darren terlihat tak perduli akan itu.
"Dia menghawatirkanmu, bukan ingin memarahimu, apa tidak bisa lu jawab telfonya sebentar?" Kata Lucas mengacu pada kakek Darren.
"Kalau khawatir, harusnya dia datang saja kesini, kenapa harus menelfonku? Lagian aku lagi malas menjawab telfon dari siapapun." Balas Darren cuek.
"Dasar, dingin banget sih jadi orang." Lucas benar-benar kehabisan kata pada sikap sahabat sekaligus atasanya itu. Meski sudah lama mengenalnya, terkadang masih membuatnya kebingungan menyikapi sikapnya.
"Terserah lu aja lha, yang penting hari ini lu harus datang ke rumah sakit."
"Hah! Ngapain aku harus ke rumah sakit?" Ucap Darren bingung menatap Lucas.
"Jangan bilang lu lupa sama janji lu kemarin? Kan hari ini ada jadwal pemeriksaan kesehatanmu!" Jelas Lucas menatap tajam Darren.
"Aku tau, tapi kemarin kan lu masih bilang akan menjadwalkanya? Kenapa jadi cepet banget, gini?"
"Ya habisnya dokter Heru bisanya hari ini. Jadi, mau gak mau harus hari ini."
"Ah, males banget. Lagian aku udah gak kenapa-napa gini! Batalin aja lha, aku lagi gak mood banget buat datang ke rumah sakit." Tukas Darren yang terlihat enggan untuk datang.
"Nggak bisa, janji tetap jaji. Kemarin lu bilang mau, jadi hari ini tetap harus datang." Jawab Lucas dengan tegas, bahkan tak memberikan celah satupun pada Darren.
"Yasudah datang aja sana sendiri ke rumah sakit. Aku tetap gak mau datang." Kekeh Darren.
Sepertinya Lucas sudah faham betul dengan sifat Darren, hingga dia yang tetal tenang meski Darren kekeh menolak untuk datang ke rumah sakit.
"Oh, yaudah. Aku akan melaporkannya pada kakek Ferdi biar beliau sendiri yang mengantarmu langsung ke rumah sakit." Kata Lucas sedikit mengancam.
Darren kehabisan kata melihat ancaman Lucas, ia pun hanya bisa menghela nafas kesal dan tak lagi mendebat.
"Bagus, anak manis memang selalu penurut." Ucap Lucas sedikit menggoda Darren.
"Hah! Asal tau aja, aku begini bukan karena takut dengan ancamanmu, hanya tidak nau dengar ceramahan dari kakek."
"Ya ya ya, ok lha, aku faham, kok." Lucas mengangguk mengerti pada sanggahan Darren, seperti enggan untuk menanggapinya.
...
Setelah berkutat pada pekerjaan yang super sibuk, Darren dan Lucas akhirnya mendatangi rumah sakit seperti rencana mereka sebelumnya. Mereka datang saat hari sudah agak sore, yakni pukul 4 sore, mengingat jadwal keduanya yang sama-sama kosong pada jam itu.
Darren mendatangi rumas sakit milik dokter kenalanya, yang juga sangat dipercaya oleh keluarga besanya.
"Bagaimana kondisinya dokter? Apa terjadi masalah pada otaknya?" Tanya Lucas yang ikut menemani Darren memeriksakan kondisinya.
"Sebenarnya tidak ada masalah serius dalam otaknya." Jawab dokter Heru.
"Tuh, aku bilang juga apa! Aku tuh baik-baik saja, hanya sedikit pusing aja kemarin." Timpal Darren mencoba meyakinkan Lucas.
Meski begitu, Lucas tetap tak bisa menerimanya begitu saja.
"Apa benar tidak terjadi apa-apa dok sama dia? Soalnya kemarin dia mengerang kesakitan pada kepalanya?" Tanya Lucas ingin memastikan kembali.
"Dari hasil pemeriksaanya memang tidak ada masalah serius pada otaknya" Ujar dokter Heru sambil memperlihatkan hasil pemerikasanya pada Lucas dan Darren.
"Lalu, kalau gak kenapa-napa dengan otaknya, kenapa kemarin dia mengerang kesakitan pada kepalanya?" Tanya Lucas mengacu pada kondisi Darren yang kemarin sempat kesakitan, bahkan tanpa sadar memecahkan gelas yang sedang ia pegang.
"Kalau melihat hasil gambar yang terlihat memang tidak terjadi masalah yang serius. Namun, karena Darren pernah mengalami cedera parah pada kepalanya, hingga memori sebagianya hilang, dan seringkali merasakan sakit pada bagian kepalanya. Sebenarnya ini adalah karena efek samping yang ditimbulkan dari cederanya saat itu." Jelas dokter.
"Apa maksud dokter, ini karena Darren teringat kembali akan separuh memorinya yang hilang?" Tanya Lucas lagi.
"Benar, sepertinya ada hal yang membuat otaknya bereaksi pada ingatan memori masa lalunya yang sempat hilang, hingga menimbulkan rasa sakit pada kepalanya."
Baik Lucas maupun Darren menjadi diam setelah mendengar penjelasan dari dokter Heru. terutama bagi Darren itu sendiri, yang kembali memikirkan akan separuh memorinya yang hilang.
"Hal yang membuat otakku bereaksi?"
Darren terlihat bingung dengan maksud dari dokter Heru, mengingat saat itu dia masih baik-baik saja dan tak ada hal yang mengganggunya. Namun, tiba-tiba saja ia teringat akan pertemuanya dengan perempuan yang dia temui pada acara pernikahan kemarin.
"Ah, gak mungkin ada kaitanya dengan itu? Kita kan baru pertama kali bertemu?"
Dengan segera dia menyangkal pada pikiranya sendiri, karena merasa sangat tak masuk akal akan itu.
"Dok, apa menurut dokter memoriku yang hilang itu bisa kembali lagi?" Tanya Darren kemudian.
"Bisa saja, tapi semua memang membutuhkan waktu. Amnesia itu bukan berarti tidak bisa di sembuhkan, apalagi kamu hanya mengalami amnesia sebagian, itu pun kamu hanya melupakan kenanganmu selama berada di australia, lainya kamu masih ingat. Kalau kamu mau terapi, sebenarnya masih bisa." Jelas dokter Heru.
"Terapi?" Gumamnya.
Darren tersadar bahwa selama terbangun dari komanya, hal yang ia lakukan hanya memulihkan luka dalam tubuhnya, bahkan ketika sadar pertama kali, ia bahkan sempat melupakan kejadian yang ia alami.
"Kalau terapi, apa kenangan akan kecelakaannya dulu juga akan kembali teringat, dok?" Tanya Lucas.
"Bisa saja, semua hal yang dia lupakan selama di australia, mungkin saja bisa teringat kembali. Karena itu, jika mau sembuh dan mengingat kembali memori yang hilang, harus siap mengorek luka lamanya."
"Wah kalau begitu gawat. Pasti tidak mudah buat melakukanya." Ucap Lucas menatap Darren dengan rasa empati.
Benar, hanya memori selama tinggal di australia yang Darren lupakan. Tentang kecelakaanya, teman-temanya, kehidupanya selama disana semua tak bisa di ingat lagi oleh Darren. Setiap mencoba mengingatnya, yang muncul pertama kali justru tentang kecelakaan dirinya yang membuatnya koma dan berbaring dalam ranjang rumah sakit selama hampir satu tahun. Kepalanya akan merasakan sakit setiap kali mencoba mengingatnya, hingga akhirnya membuatnya menyerah dan tak lagi mengorek akan itu dan memilih melupakanya.
"Benar, kenapa hanya memori itu yang aku lupakan?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments