Kejujuran

Sonya tersenyum melihat punggung Ezza yang semakin menjauh darinya. "Coba saja punggung itu menjadi tempatku bersandar, pasti bahagia sekali." Batin Sonya.

Sonya kembali melakukan kegiatannya. Ia mempelajari berkas pasien yang akan Ia periksa sembari menunggu jadwal prakteknya. Handphone Sonya berdering. Andre.

Sonya bingung hendak menjawab apa. Namun Ia tidak ingin lari dari masalah. Sonya menekan tombol menerima panggilan.

"Halo."

"Halo Sonya, kamu baik-baik aja?"

"Iya aku baik, kenapa memangnya?"

"Aku khawatir. Ezza tadi gak ngapa-ngapain kamu kan?"

"Enggak, dia gak ngapa-ngapain."

"Terus, bagaimana kalian bisa kenal?"

"Penting banget kah?"

"Ya bukan gitu. Aku cuma pengen tau aja kok kalian bisa kenal. Emh, Ezza tadi cerita sesuatu apa enggak sama kamu?"

"Cerita apa?" Sonya pura-pura tidak paham.

"Ooh ya bagus kalau dia gak cerita apa-apa. Takutnya karena emosi dia jadi cerita yang aneh-aneh."

"Emang kenapa dia sampai bisa emosi sama kamu? Kamu ngelakuin salah apa sama Ezza?"

"Aku juga gak tau Sonya, kamu tau sendiri tadi aku cuma mau ngenalin kalian, tiba-tiba dia mukul aku. Aku gak terima dong dia seperti itu." Sonya sudah menebak jika dia terang-terangan emosi pada Andre, maka nantinya Ezza yang akan menjadi pelampiasan emosi Andre. Sonya lebih memilih pura-pura tidak tau apapun agar Andre tidak nekat melakukan hal yang buruk pada Ezza.

"Mungkin semuanya cuma salah paham saja Ndre. Masalahnya gak usah diperpanjang."

"I iya Sonya. Yaudah kalau gitu kamu lanjut lagi kerjanya. Bye."

"Bye."

***

Setelah menjalani kuliah yang cukup melelahkan Mela, Ika, Anya dan Oki duduk di kantin untuk menikmati minuman segar.

"Gila dikasih tugas tapi banyaknya gak kira-kira." Keluh Oki di ikuti anggukan dari teman-temannya.

"Tangan gue sampe sakit banget, saking banyaknya yang ditulis. Sampe ada yang belum selesai yaudah gue kumpulin aja, bukan karena gak ngerti tapi karena gak sanggup nulis."

Curhat Mela sambil menyeruput soda gembira dihadapannya.

"Mungkin bu Dewi lagi PMS kali ya. Tumben-tumbenan loh ngasih tugas sebanyak itu. Biasanya juga take home tugasnya." Tambah Anya.

"Bahaya emang kalau cewek lagi PMS." Oki menimpali sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Makanya jadi cowok mesti ngertiin dong." Balas Ika.

"Yeee curang, minta dingertiin mulu. Cowok kan walaupun gak PMS juga punya perasaan. Kalau dimarah-marahin terus juga bisa badmood lama-lama."

"Lu kok kayak curhat Ki." Selidik Mela.

"Hahahaha curhat colongan nih ceritanya." Goda Anya.

"Yeee siapa yang curhat. Tuh kan serba salah emang ngobrol sama cewek-cewek tuh."

Anya, Mela dan Ika tergelak melihat tingkah Oki.

"Emang cewek lu ngeselin gitu kalau PMS Ki?" Ika kepo.

"Dia yah, gak PMS aja udah ngeselin terus. Sampe gak paham gue jadwalnya dia tanggal berapa."

"Sabar yah Ki, kuat-kuatin." Tambah Mela.

"Gue udah gak kuat. Tapi masih gak punya cara mutusin dia."

"Lu beneran mau nyari bukti dia selingkuh?" Tanya Anya. Oki mengangguk.

"Gimana bisa dapat bukti, kalian aja LDR." Tambah Ika.

"Lu mesti ke Jogja lagi kayak kemarin. Diem-diem aja gak usah ngasih tau cewek lu."

"Kalau pas dia gak keluar sama selingkuhannya gimana? Zonk banget dong gue jadinya."

"Iya lu balik lagi ke Jogja minggu depannya." Jawab Anya enteng.

"Lu kira ke Jogja kayak ke pasar apa? Bisa seenaknya setiap minggu. Butuh biaya Anya. Belum tempat nginepnya, belum transportnya."

"Ya namanya juga perjuangan Ki, perjuangan buat putus." Ika menimpali.

Oki memang berencana memutuskan Lusi, tapi tidak semudah itu kalau tidak ada bukti bahwa Lusi selingkuh darinya. Oki juga sudah lelah karena cemburu buta yang selalu Lusi lakukan. Lusi selalu cemburu dengan Anya sejak dulu, ketika melihat foto Anya di handphone Oki, Lusi langsung berasumsi kalau mereka punya hubungan terlarang. Oki pun sudah menjelaskan bahwa mereka sudah berteman sejak awal masuk kuliah. Kalau memang dia ada niatan mendekati Anya kenapa tidak dari awal saja saat pertama mengenal Anya. Namun semua tidak dilakukan karena memang hubungannya dengan Anya hanya sebatas teman.

Lusi yang mendengar penjelasan itu tetap tidak mau mengerti. Setiap saat Ia selalu cemburu dengan Anya dengan alasan Ia takut kalau nantinya Oki selingkuh, apalagi mereka LDR yang tidak memungkinkan Lusi tau kegiatan sehari-hari Oki. Oki mulai jengah dengan tuduhan Lusi yang tidak jelas, percuma memberi penjelasan pada Lusi kalau memang hasilnya sama saja Ia tidak akan percaya. Mungkin karena rasa lelah itu perlahan rasa cinta Oki menjadi terkikis. Ditambah kejadian saat Ia ke Jogja dan melihat sendiri kelakuan Lusi dengan laki-laki lain, membuatnya sudah hilang feeling dengan Lusi. Apalagi sekarang sudah ada seorang wanita yang mulai masuk dalam hatinya. Oki tidak ingin menjadi lelaki yang brengs*k. Dia akan menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu dengan Lusi, baru berencana mendekati wanita yang sudah memasuki hatinya dengan perlahan.

***

Hari ini Anya dijemput oleh Yoga untuk melihat pembangunan rumah yang dilakukan Yoga. Mereka sampai disana dan masih terlihat beberapa pekerja yang sudah membersihkan diri hendak pulang karena memang hari sudah sore.

"Halo Pak Udin." Sapa Yoga pada salah satu pekerja disana.

"Halo Pak, Bu." Anya berdiri disebelah Yoga dan tersenyum.

"Bagaimana Pak pembangunannya? Lancar?"

"Lancar Pak. Ini sudah hampir selesai untuk beberapa titik pondasinya dan sudah ada yang mulai pengerjaan kolom."

"Ada kendala pak?"

"Tidak ada Pak Yoga. Semua aman. Semoga bisa tepat waktu jadi Pak Yoga dan istri bisa segera pindah." Ucap Pak Udin.

"Istri?" Anya terheran dengan omongan Pak Udin.

"Ya udah Pak Yoga, saya beres-beres dulu."

"Iya Pak silakan."

Anya melirik ke Yoga.

"Hmm, kok bisa Pak Udin ngira aku istrinya kakak? Kakak cerita apa aja?" Selidik Anya.

"Haah? Cerita apaan? Aku gak cerita apa-apa kok."

"Jangan alasan kak! Keliatan banget tuh bingung cari alasan." Anya memicingkan matanya.

"Iya biar cepet selesai Anya, aku bilang rumahnya mau ditempatin sama istri."

"Ooh gitu. Kan siapa istrinya juga gak tau kan." Jawab Anya.

"Yah pengennya kamu lah." Anya melotot.

"Ngarep iih. Weeekkk." Anya menjulurkan lidahnya.

"Emang kamu gak mau nikah sama aku?"

"Ya gak lah kak. Anya tuh gak ada pikiran nikah nikah begitu. Mending kakak cari orang lain. Kan banyak tuh kemarin cewek-cewek yang ngeliatin."

Yoga memonyongkan bibirnya.

"Yah, padahal pengennya sama kamu. Penonton kecewa dong."

"Iiih apaan sih kak. Anya gak mau nikah sama kakak. Mimpi Anya masih panjang, gak mau rusak cuma karena nikah."

"Kalau kakak tetep bolehin kamu ngejar mimpi kamu, mau yah nikah sama aku?"

"Kakak nih kesambet yah. Kita pacaran aja pura-pura. Ini malah ngajak nikah. Pokoknya awas aja kakak sampe ngelakuin hal yang aneh-aneh lagi."

"Iya iya." Yoga memutuskan menyerah dengan keinginannya untuk sementara waktu.

***

Hari ini Sonya memberanikan diri untuk bicara dengan Mama Meli tentang kebenarannya. Mereka sedang duduk di sofa sambil menonton tivi.

"Ma.."

"Apa sayang?"

"Kalau seandainya Sonya, emm.." Sonya nampak berfikir untuk melanjutkan ucapannya.

"Sonya mau membatalkan perjodohan dengan Andre. Pendapat mama bagaimana?"

Mama Meli terdiam menatap Sonya.

"Kamu yakin?"

Sonya mengangguk.

"Memangnya kenapa dengan Andre? Kalian bertengkar?"

Sonya menggeleng.

"Sebenarnya Sonya baru tau kenyataan dari seseorang ma. Andre masih punya pacar."

"Andre juga mau menikahi Sonya karena dia akan dapat firma hukum dari papanya dan yang paling penting Sonya sudah coba cinta sama Andre, tapi gak bisa ma." Sambung Sonya. Mama Meli terdiam dan berfikir.

"Ma, mama marah? Atau kalau memang mama gak setuju Sonya gak papa untuk lanjutin perjodohan ini. Setidaknya Sonya sudah berusaha jujur sama mama."

Mama Meli tersenyum. Ia membelai rambut Sonya.

"Mama setuju nak. Mama hanya ingin anak-anak mama bahagia. Bisa menikah dengan orang yang mereka cintai." Mama Meli menggenggam tangan Sonya. Tak terasa air mata Sonya meleleh.

"Menikah dengan orang yang dicintai adalah kebahagiaan yang tak ternilai. Mama pernah merasakan kebahagiaan itu. Mama gak akan rela anak-anak mama tidak merasakan kebahagiaan itu." Sambung Mama Meli sambil mengusap air mata Sonya.

"Maafin Sonya yah ma. Sudah bikin mama kecewa." Sonya memeluk mamanya erat.

"Tidak ada yang salah sayang. Kalau memang cinta antara kamu dan Andre tidak bisa tumbuh ya mau bagaimana lagi. Justru akan lebih menyiksa untuk kalian berdua."

"Terus apa kamu sudah ada calon yang kamu suka?"

Sonya tersipu.

"Sebenarnya Sonya suka sama seseorang ma. Tapi Sonya takut mama gak setuju."

"Memangnya kenapa?" Mama Meli mengernyitkan dahi.

"Dia sudah pernah nikah ma, dan punya satu orang putri."

Mama Meli cukup kaget.

"Kalau memang dia serius sama kamu, coba kamu kenalkan dulu dengan mama. Tapi apa kamu yakin? Karena jika kamu sama dia, kamu nantinya bukan hanya menjadi seorang istri, tapi juga sekaligus menjadi ibu." Mama Meli memberi petuah.

"Makanya itu ma, Sonya juga bingung. Sonya belum yakin bisa menjadi ibu yang baik. Apalagi anak kecil pasti sangat sensitif perasaannya."

"Lakukan yang menurut kamu benar nak. Mama selalu dukung keputusanmu. Tapi lebih baik kamu kenalkan dulu orangnya sama mama. Biar mama yang menilai."

"Iya ma, terima kasih yah ma." Sonya kembali memeluk mamanya.

"Iiihhh apaan nih kok peluk-pelukan, Anya gak diajak." Anya yang baru pulang melihat mamanya dan kakaknya berpelukan.

"Ada deeehhh." Goda Sonya.

"Iiihh apaan sih. Kepo nih." Anya bergegas duduk di sebelah Mama Meli.

"Apaan ma? Ada apa ada apa? Kok Anya gak diajakin peluk-pelukannya?" Anya menggoyang-goyangkan paha mamanya sambil bicara dengan nada manja.

"Kakak kamu menolak perjodohan dengan Andre." Mama Meli menjelaskan kepada Anya.

"Haaah serius kak? Baguuuuuusss." Anya sumringah dan mengulurkan ibu jarinya.

Mama Meli dan Sonya keheranan melihat Anya yang lebih bahagia mendengar kabar tersebut.

"Kakak tau, tempo hari Anya sempat liat Kak Andre di cafe sama cewek. Mesra banget pula pake peluk-pelukan gitu. Kak Andre itu punya pacar selain Kak Sonya." Sambung Anya.

Anya melihat ekspresi mamanya dan kakaknya yang datar.

"Loh kok gak ada yang kaget sih. Anya serius nih, Anya beneran liat Kak Andre sama cewek. Nih Anya ada buktinya kalau gak percaya." Anya mengeluarkan handphonenya dan mencari foto yang sempat Ia ambil.

"Nih kak, ini Kak Andre sama cewek. Peluk pelukan. Enggak banget kan nih orang."

"Mama sama Sonya sudah tau kok kalau Andre ternyata punya pacar. Makanya kakakmu mau batalin semua rencana perjodohan ini. Ternyata Andre mau menikah dengan kakakmu juga karena ingin mendapat firma hukum dari orangtuanya."

"Haaah? Seriusan? Parah tuh orang. Emang mending harus dibatalin. Sudah punya pacar padahal masih aja mau dijodohin biar dapat firma hukum. Apalagi yah kak, pacarnya itu seksi banget bajunya."

"Eeh gak boleh julid."

"Hehehe iya maaf kak." Anya menutup mulutnya dengan telapak tangannya.

"Pokoknya Anya happy dengernya. Semoga lancar sama pak dosen yah."

"Pak dosen? Siapa ini? Kalau yang ini mama belum tau ceritanya." Mama Meli memasang wajah ingin tau.

"Ups. Keceplosan berarti."

"Iya yang tadi Sonya ceritain itu ma, dia itu ternyata dosennya Anya."

"Oiya? Waah mama jadi penasaran."

"Ganteng kok ma. Makanya Kak Sonya klepek-klepek." Tambah Anya.

"Iiih apaan sih." Pipi Sonya bersemu merah. Mereka bertiga berpelukan bersama.

"Ingat yah sayang, mama selalu ingin kalian berdua bahagia. Mama sudah cukup menyesal dulu tidak menjadi figur ibu yang baik waktu kalian kecil, sekarang mama ingin menebus semuanya dengan mendengarkan dan mengutamakan kebahagiaan anak-anak mama."

"Mama, jangan ingat yang dulu-dulu. Sonya dan Anya tau kalau mama pasti sangat sayang sama almarhum papa. Mama juga pasti kehilangan banget waktu papa gak ada. Apalagi papa seseorang yang hebat semasa hidupnya."

"Mama menyesal aja, tidak seharusnya mama terlalu larut dalam kesedihan kehilangan papa kalian hingga menelantarkan kalian, bahkan masa kecil kalian kurang dari kasih sayang mama. Karena mama sibuk membenahi perasaan mama sendiri."

"Mama, jangan dipikirin lagi yah. Kita berdua juga selalu ingin mama bahagia."

"Harusnya mama bersyukur, walaupun papamu pergi meninggalkan mama untuk selamanya, tapi ada kalian yang bisa mengobati kerinduan mama sama almarhum papamu."

"Emang papa dulu ganteng ma? Kok sampe mama bucin banget." Anya bertanya dengan wajah polosnya.

"Ganteng banget." Mama Meli terkekeh.

"Mama itu banyak yang ngejar dulu tanya aja sama Om Ehan. Banyak yang ngapel ke rumah kalau malam minggu, tapi semua mama tolak. Pas mama liat papa kalian, mama langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Apalagi pas tau orangnya pintar dan baik. Mama langsung minta tolong Om Ehan jodohin mama sama papa kalian, karena kebetulan papa kalian itu asisten dosen Om Ehan waktu kuliah."

Anya tersenyum mendengar cerita mamanya.

"Papa sekarang pasti bahagia di surga ma. Melihat wanita yang dicintainya menjadi sangat hebat dan kuat sekarang." Tambah Sonya.

"Iya sayang, papa kalian sudah bahagia di surga. Sekarang tugas kita yang mencari kebahagiaan kita masing-masing. Tentunya kebahagiaan mama yah liat anak-anak mama yang cantik ini bahagia dengan orang yang disayangi." Mama Meli memandang satu per satu putrinya.

"Iya mama. Terima kasih." Anya dan Sonya menjawab bersamaan dan menghempaskan badan ke dalam pelukan mamanya.

Terpopuler

Comments

HARTIN MARLIN

HARTIN MARLIN

lanjut lagi thor

2022-09-13

0

ni

ni

kak , terlalu banyak pemeran nya , coba fokus sama Anya aja

2022-09-04

0

lihat semua
Episodes
1 What A Day?
2 Salah Tangkap
3 Pantang Menyerah
4 Keinginan Mama Meli
5 Ide cemerlang
6 Dasar Lelaki
7 Bantuan Si Boy
8 Kejujuran yang Tertunda
9 Egois
10 Gosip
11 Hati yang Patah
12 Rencana Gila
13 Perjodohan
14 Posesif
15 Andre
16 Apakah Ini Rindu?
17 Kembali
18 Playboy
19 Kenyataan
20 Kejujuran
21 Pengakuan
22 Pacaran Beneran
23 Cemas
24 Panggilan Sayang
25 Sesuatu Tersembunyi
26 Keberanian Gista
27 Cemburu
28 Pengorbanan
29 Dalang dibalik penyerangan
30 Kepulangan Yoga
31 Lamaran
32 Keseriusan Ezza
33 Ciuman pertama
34 LDR lagi
35 Kamu cantik malam ini
36 Kehilangan
37 Menjauh demi Kebaikan
38 Kecewa
39 Bucin Akut
40 Persiapan Pernikahan
41 Mabuk
42 Seleksi Alam
43 Bidadari
44 Kesepian
45 Tua Bangka
46 Diapelin
47 Permintaan Maaf
48 Tanggung jawab
49 Berpisah
50 Kepingan Puzzle
51 Pembuktian
52 Terungkap
53 Terbongkar
54 Pegawai Baru
55 Kesempatan kedua
56 Blunder
57 Penyesalan
58 Hari Pernikahan
59 Malam Pertama
60 Ungkapan Perasaan
61 Kehadiran
62 Pesaing
63 Niat Busuk
64 Memberontak
65 Berusaha
66 Lulus
67 Hamil
68 Kabar Gembira
69 Pelukan
70 Papa dan Mama
71 Pamit
72 Terpukul
73 Lebih Aman
74 Kewajiban
75 Menjaga Perasaan
76 Handphone baru
77 Opname
78 Berdegup
79 Berbeda
80 Pertikaian
81 Perasaan Mela
82 Salah Tingkah
83 Status baru
84 Tiga serangkai
85 Malaikat kecil
86 Be Strong
87 Membangun keluarga
88 Rambut baru
89 Memperbaiki masa lalu
90 Ikatan batin
91 Terjebak di Lift
92 hormon
Episodes

Updated 92 Episodes

1
What A Day?
2
Salah Tangkap
3
Pantang Menyerah
4
Keinginan Mama Meli
5
Ide cemerlang
6
Dasar Lelaki
7
Bantuan Si Boy
8
Kejujuran yang Tertunda
9
Egois
10
Gosip
11
Hati yang Patah
12
Rencana Gila
13
Perjodohan
14
Posesif
15
Andre
16
Apakah Ini Rindu?
17
Kembali
18
Playboy
19
Kenyataan
20
Kejujuran
21
Pengakuan
22
Pacaran Beneran
23
Cemas
24
Panggilan Sayang
25
Sesuatu Tersembunyi
26
Keberanian Gista
27
Cemburu
28
Pengorbanan
29
Dalang dibalik penyerangan
30
Kepulangan Yoga
31
Lamaran
32
Keseriusan Ezza
33
Ciuman pertama
34
LDR lagi
35
Kamu cantik malam ini
36
Kehilangan
37
Menjauh demi Kebaikan
38
Kecewa
39
Bucin Akut
40
Persiapan Pernikahan
41
Mabuk
42
Seleksi Alam
43
Bidadari
44
Kesepian
45
Tua Bangka
46
Diapelin
47
Permintaan Maaf
48
Tanggung jawab
49
Berpisah
50
Kepingan Puzzle
51
Pembuktian
52
Terungkap
53
Terbongkar
54
Pegawai Baru
55
Kesempatan kedua
56
Blunder
57
Penyesalan
58
Hari Pernikahan
59
Malam Pertama
60
Ungkapan Perasaan
61
Kehadiran
62
Pesaing
63
Niat Busuk
64
Memberontak
65
Berusaha
66
Lulus
67
Hamil
68
Kabar Gembira
69
Pelukan
70
Papa dan Mama
71
Pamit
72
Terpukul
73
Lebih Aman
74
Kewajiban
75
Menjaga Perasaan
76
Handphone baru
77
Opname
78
Berdegup
79
Berbeda
80
Pertikaian
81
Perasaan Mela
82
Salah Tingkah
83
Status baru
84
Tiga serangkai
85
Malaikat kecil
86
Be Strong
87
Membangun keluarga
88
Rambut baru
89
Memperbaiki masa lalu
90
Ikatan batin
91
Terjebak di Lift
92
hormon

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!