Keinginan Mama Meli

Mobil Yoga memasuki kawasan perumahan yang cukup elite. Sampailah mereka di depan tanah kosong yang menghadap ke timur dengan pemandangan bukit yang indah. Dalam kawasan itu terdapat beberapa rumah yang sudah jadi dengan desain yang indah.

"Ini lokasinya"

Anya terheran, kawasan ini cukup elite. Tentu saja untuk membeli tanahnya saja sudah pasti akan mahal. Belum lagi tanah yang ditunjukkan Yoga ternyata cukup luas. Anya merasa tidak yakin, seorang polisi bisa membeli rumah daerah sini. "Emang cukup gajinya, jangan-jangan nih orang korup*i lagi, terus ini upaya mon*ylaundr*. Waah kalau kasus bisa-bisa aku kena masalah juga nih." batin Anya. Sebelumnya Anya dibuat melongo dengan mobil yang ditumpangi oleh Yoga, itu termasuk mobil yang cukup mahal. Tapi Anya menepis mungkin Yoga membeli dari hasil tabungannya. Namun ketika sekarang dibuat kaget dengan rencana rumah yang akan dia bangun di daerah yang elite kecurigaan Anya makin menjadi-jadi.

"Tunggu.. tunggu.. Lu punya tanah disini? terus lu ini kerjanya polisi kan?" Tanya Anya mulai panik dan memakai lu gue dan gak sadar dengan ucapannya.

"Lu Gue?" Balas Yoga kaget.

"Eehh sori sori gue keceplosan. Tapi yaudahlah enak lu gue juga ngomongnya. Tunggu deh, ini beneran punya lu?"

"Iyalah, kenapa memangnya?"

"Emmmhhh, lokasi ini kan cukup wow gitu harganya. Terus lu masih bangun rumah juga. emhhh, lu yakin disini lokasinya?"

Yoga terdiam dan mengernyitkan dahi mendengar ucapan Anya.

"Gini giniii.. Gue tau gue masih anak kuliahan bau kencur atau apalah. Tapi gue gak mau kena masalah karena seorang polisi ngelakuin korup*i dan duitnya buat bayar desain gue. ntar pasti bakal repot juga gue nih"

Yoga terbelalak mendengar penjelasan Anya.

"Siapa yang korup*i woooiii?" Jawab Yoga.

"Nah coba logika aja sih, lu kan polisi terus bisa beli mobil mewah, beli tanah di tempat elite. Apa coba namanya kalau bukan polisi kor*p?"

"Giniii Anyaaa, intinya saya gak seperti yang kamu omongin. Soal tanah, mobil dan semua yang saya punya itu saya beli murni dari hasil kerja keras saya sendiri"

"Yakin lu? Awas aja sampe gue ada kasus. Gue bisa laporin semuanya." Ancam Anya.

"Yakinlah. Oiya, saya ini kan klien kamu, yang akan bayar kamu nanti. Jadi tolong bersikap yang lebih sopan" Ucap Yoga.

"Iya iya sorriii. Yaudah, terus kamu rencana mau desain yang bagaimana?" Tanya Anya dan terpaksa mencoba lebih sopan dan mengakhiri lu gue nya.

"Yaudah yuk sekalian kita kesana" ajak Yoga sembari meninggalkan Anya menuju tanah yang akan Ia bangun.

Anya tidak berani bertanya lebih jauh lagi. Walaupun pikirannya masih penuh tanda tanya. Ia hanya berusaha profesional dan kembali fokus untuk membicarakan desain rumah yang akan Ia gambar. Ia mencari tau desain yang diinginkan oleh Yoga dan dipadu-padankan dengan imajinasinya yang langsung disetujui oleh Yoga.

"Yaudah kalau gitu draftnya nanti saya kirim deh" Ucap Anya.

Yoga mengambil sketchbook dan pensil yang dipegang Anya, menuliskan beberapa deret angka.

"Ini nomor saya, hubungi saya kalau udah selesai draftnya"

"Okeee, saya yakin anda tidak akan kecewa." Ucap Anya dengan pedenya.

Anya memang suka sekali mendesain dan menggambar. Semua berawal dari masa kecil Anya yang sering menemani mamanya menyendiri di danau sepeninggalan ayah mereka. Awalnya Anya hanya bermain-main sambil melihat sekeliling, lama-lama Anya mulai menggambar danau, gedung-gedung yang terlihat sambil menunggu mamanya menenangkan diri. Akhirnya Anya menemukan kesukaannya dalam bidang desain dan Ia suka mendesain bangunan karena Ia senang melihat bangunan yang indah. Namun saat memutuskan jurusan untuk kuliah, Anya lebih memilih teknik sipil. Ia berharap kelak bisa mendesain dan menghitung rumah masa depannya sendiri. Tanpa membutuhkan jasa orang lain. Begitulah Anya, selalu perfeksionis dalam semua hal yang dilakukannya.

"Yaudah kalau gitu saya antar kamu pulang, yukk" Yoga membukakan pintu mobil untuk Anya. Anya terheran. "Kenapa nih orang" batin Anya.

krrriiiingggg...

"Halooo, kenapa kak?"

"Mama di UGD dek, cepetan kesini"

"Apaaaa? Iyaaaa iyaaa kaaakk, Anya segera kesana"

tuuuttt..

"Kenapa Nya?" Tanya Yoga melihat ekspresi panik Anya.

"Ma mama mama.." Anya masih terdiam kaget.

"Kenapa mama kamu?"

"Mama di UGD kak, Anya mau ke rumah sakit sekarang"

"Yaudah ayo aku anterin"

***

Di parkiran kampus, Oki menyusuri parkiran menuju ujung untuk mengambil motornya. Oki memang suka parkir di ujung di bawah pohon agar motornya bisa terhalang pohon dan terjaga dari terik matahari saat siang. Saat sedang berjalan Oki melihat ada sosok yang dikenal sedang berjongkok mengecek ban sepeda motor maticnya. Oki berjalan mendekatinya.

"Kenapa motornya, dek?" Wanita itu menoleh ke arah suara tersebut.

"Eehhh kak Oki, gak tau nih kak. tiba-tiba bannya kempes" Jelas Sisil yang sedang berjongkok dan meratapi ban motornya yang kempes.

"Kalau jam segini kayaknya tambal ban udah pada tutup dek" Oki melihat jam tangan yang melingkar di tangannya dan sudah menunjukkan pukul 8 malam.

"Iya kak, yaudah mungkin tinggal disini dulu aja deh. Baru besok Sisil urusin. Sisil bilang ke bapak jaganya dulu aja" Sisil hendak berjalan ke pos parkir untuk menemui bapak penjaga parkir.

"Aku anterin ke kosan yuk sekalian" Sisil kaget dengan tawaran Oki, Ia yang berlalu melewati Oki memutar badan menatap Oki.

"Gak papa kah kak? tar ngerepotin"

"Gak papa dek, yaudah cepet sana bilang dulu ke pak parkirnya. Aku tunggu di motor" Oki menunjuk motornya dan berlalu. Ia terlebih dahulu mengambilkan helm Sisil yang masih tergantung di spion motor matic Sisil. Sisil berlari kecil menyelesaikan urusannya dan langsung menghampiri Oki.

"Udah ayook naik, cepetan keburu malem loh"

"Beneran gak papa nih kak?" Tanya Sisil yang merasa sungkan dengan tawaran Oki.

"Gak papa beneraaaannnn"

"Nanti cewek kak Oki gak marah?"

"Enggak, kalaupun marah ntar aku yang urus" Oki menjawab dengan lembut dan mendekatkan wajahnya sejajar dengan wajah Sisil dan tersenyum manis. Wajah Sisil bersemu merah. Ia segera menaiki motor dan Oki bergegas melajukan motornya.

***

"Kaaakkk Sonya" Anya berteriak saat menemui Kak Sonya didepan ruang UGD. Kak Sonya sedang berbincang dengan dokter jaga perihal kondisi mama Meli. Anya berlari kecil menghampiri Sonya diikuti dengan Yoga yang berjalan cepat di belakangnya.

"Deeekk"

"Mama kenapa kak? Kok bisa tiba-tiba masuk UGD?"

"Kakak juga gak tau. Kayaknya mama kecapekan dek, tadi Bi Yuni yang lihat mama pingsan di dapur. Untung langsung dibawa ke rumah sakit dek. Kita tunggu dulu aja yah hasil pemeriksaannya" Terang Sonya pada adiknya sambil mengelus lengan adiknya.

"Iya kak"

"Yaudah, kakak cek kondisi mama dulu. Nanti kalau udah dipindah ke ruang inap kamu temui mama disana. Oke?"

"Iya kak"

Anya berdiri di samping pintu UGD, pikirannya kacau dan panik. Ia takut membayangkan sesuatu yang buruk terjadi pada mamanya. Ia merasa belum sempat membuat mamanya bangga. Bahkan untuk lulus kuliahpun belum. Tentu Ia berharap mama Meli bisa terus menemaninya sampai lulus, bekerja bahkan menikah jika memang sudah menemukan pendamping yang sesuai.

"Duduk dulu Nya" Ucap Yoga.

"Iya kak" Anya menuruti titah Yoga dan duduk dengan lemas. Ia menahan tangis, matanya memerah.

"Sabar yah dek, semoga mama baik-baik aja" Ucap Yoga dengan lembut.

"Amiin. Makasih kak" Anya menatap mata Yoga dan tersenyum dengan paksa.

Cekleeekk.. Sonya keluar dari ruang UGD, Anya berdiri mendekati. Syukurnya tidak ada hal yang mengkhawatirkan dari kondisi mama Meli. Mama Meli hanya sedikit capek dan banyak pikiran, mama Meli juga sudah dipindahkan ke ruang inap. Anya segera menuju ruang inap untuk menemui mamanya disusul oleh Anya dan Yoga.

***

Setelah pulang dari cafe, Ika ingin langsung pulang ke kosannya. Ia pulang dengan taxi online karena Mela di jemput oleh Viko, pacarnya. Sebenarnya Ika di ajak untuk pulang bersama, tapi karena tidak enak Ika memutuskan untuk menolak dan pulang sendiri. Ika memutuskan turun di depan jalan utama kosannya karena ingin membeli makanan terlebih dahulu daripada harus keluar lagi nanti malam karena kelaparan. Malam ini Ika hanya ingin berleha-leha di kamar kosnya.

"Bang, pecel lelenya 1 yah. Sambalnya yang pedas."

"Siaaap mbak"

15 menit kemudian pesanan Ika sudah siap, Ia membayar dan meninggalkan tenda penjual pecel lele tersebut. Ika berjalan kaki menuju kosannya karena memang jaraknya tidak terlalu jauh. Saat berjalan dan belum memasukkan dompetnya Ika tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang mengincarnya sedari tadi. Seorang yang parkir dipinggir jalan itu menjalankan sepeda motornya dan mengambil dompet Ika yang sedang di pegang dan belum sempat dimasukkan ke tas, motor itu lalu berjalan kencang. Ika kaget dan berteriak..

"Copeeeetttt.. Tolooooonggggg... Tolooongggggg...." Ika sangat panik dan tak sadar Ia menangis. Ada beberapa orang yang menghampirinya dan mencoba menenangkan dan ada satu motor pria dengan knalpot racing yang tadi melewati jalan itu langsung mengejar pencopet tersebut.

Ika terduduk lemas di pinggir jalan, ada beberapa warga yang memberinya minum untuk membuatnya lebih tenang. Jaraknya dari tempat Ia duduk dan kosan sangat dekat, tapi rasanya sangat jauh karena Ika sedang bingung dan panik bercampur menjadi satu. Setelah beberapa saat Ika mulai tenang dan beberapa warga sudah mulai kembali masing-masing, Ika mencoba melanjutkan perjalanan menuju kosannya. Baru beberapa langkah ada motor pria yang tadi mengejar pencopet itu berhenti di hadapannya.

Pria berhelm fullface itu menyodorkan dompet Ika yang tadi di copet. Ika terbelalak kaget, Ia bahagia karena dompetnya berhasil kembali ke empunya.

"Terima kasiiiihhhhh banyak" Ika mengambil dompetnya, berterima kasih dengan membungkukkan badan dan terisak.

"Samasama" Lelaki itu membuka helmnya.

Betapa kagetnya Ika, pria itu adalah Eric. Si playboy yang tadi sempat menjadi topik perbincangannya dengan sahabatnya, kini menjadi superhero baginya.

"Kamu Ika kan? Temennya Mela?"

"I-iiyaaa.. Kamu siapa?" Ika berpura-pura tidak mengenalinya.

"Aku Eric, temennya Viko. Pacarnya Mela."

"Ooohh Kak Eric. Halo kak, salam kenal. sekali lagi makasih yah kak udah dibantuin" Ucap Ika sambil mengangkat dompetnya kode bahwa maksudnya adalah dibantu untuk mengambil dompetnya lagi yang tadi di copet.

"Makasih doang nih? Padahal aku tadi sampe kena tonjok looohhh. Aduuuuhhh" Eric menunjuk perutnya dan meringis kesakitan.

"Haaahhh, seriusan? Mana mana yang sakit? mau ke rumah sakit kah?" Tanya Ika panik.

Eric menghentikan aksinya mengeluh kesakitan berganti dengan tertawa cekikikan melihat ekspresi panik Ika yang baginya sangat lucu.

"Iiihhh apaan sih, ngerjain banget"

"Hahahaha mana mungkin Eric kena tonjok. yang ada tuh copet yang udah babak belur"

"Eehhh seriusan copetnya babak belur? Kan kasian kalau sampai babak belur, mending dikasih ke pihak berwajib aja"

Eric terbahak kembali melihat wajah polos Ika yang baginya sangat menggemaskan.

"Udah gak usah bingungin tuh copet, copetnya udah diurus sama yang warga kok tadi. Sekarang tinggal kamu urusin imbalan buat aku yang udah balikin dompet kamu nih" Jawab Eric sambil menaikturunkan alisnya.

"Yaelaaah, gak ikhlas ternyata. Yaudah kamu butuh berapa?" Ika bertanya sembari membuka dompetnya hendak mengeluarkan uang di dalamnya.

"Eeehhh, bukan itu maksudnyaaa. Maksud aku imbalannya itu.. nomor hape kamu" Jawab Eric sambil cengar cengir.

"Haaaahhh? Nomor hape?" Ika terkejut dengan permintaan Eric. Ia teringat ucapan Mela bahwa Eric adalah playboy, tapi bagaimanapun Eric sudah menyelamatkan dompetnya yang tadi di copet.

"Yaaahh nomor hape doang gak papa kali yah, kan gak berarti gue mau juga sama dia" Batin Ika.

"Yaudah sini hape kamu, aku catet nomorku"

Eric menyerahkan handphonenya sambil tersenyum kegirangan. Setelah selesai dan disave oleh Ika, Eric melakukan panggilan ke nomor Ika.

"Itu nomorku, save yaaa. Imbalannya belum selesai sampai sini. Biar aku pikir lagi mau apaan"

"Looohh kok gitu" Protes Ika.

"Eeiiitss, gak boleh protes. Pokoknya tunggu chat dari aku. Byeeee" Eric menyalakan mesin motornya dan bergegas meninggalkan Ika yang masih tidak terima dengan imbalan yang tak kunjung usai.

***

"Mamaaaaaa" Anya bergegas memeluk mamanya yang bersandar di bed pasien dengan selang infus yang melekat ditangannya.

"Mama ini kenapa kok tiba-tiba beginiiii, mikirin apaan siiihhh"

"Mama itu gak boleh kecapekan. Udah tokonya biar pegawai yang urus ma. Mama tinggal duduk diem dirumah"

"Mama juga gak boleh banyak pikiraaaan. Udah jangan mikir yang aneh-aneh pokoknya". Anya terus nyerocos tanpa memberi Mama Meli celah untuk menjawab. Anya terus nyerocos sambil memeluknya.

Sonya yang disebelah sisi lain mama meli cuma bisa tersenyum sambil mengelus-elus lengan mamanya.

Yoga tersenyum melihat tingkah Anya seperti bayi besar yang bisa mengomeli mamanya sendiri. Ada perasaan iri melihat kedekatan Anya dan mamanya karena Yoga tidak begitu dekat dengan mamanya, selain karena papanya yang sibuk dengan bisnisnya dan mamanya harus menemani papanya keluar kota. Yoga jadi terbiasa mandiri dan tertutup dengan kedua orang tuanya.

Pandangan mama meli beralih ke Yoga. Yoga yang menyadari memberikan senyum sekaligus sedikit membungkuk. Anya melepaskan pelukannya ketika tau mamanya bertanya-tanya kenapa Yoga bisa ada di situ bersama anaknya.

"Emhhh, ini Yoga ma. polisi yang kemarin salah nangkep Anya. Tadi dia ke kampus Anya buat minta maaf sekaligus minta tolong untuk Anya desainin rumahnya" Jelas Anya menghindari salah paham.

"Ooh gitu. Halo nak Yoga"

"Halo tante. Semoga lekas sembuh tante"

"Iyaaa Amiin. Duduk dulu nak Yoga" Jawab mama meli sambil tersenyum dan mempersilakan Yoga di kursi sofa. Kamar inap mama Meli memang kamar VIP sehingga ada sofa untuk berbincang dan bed pasien yang nyaman dan dilengkapi oleh fasilitas yang baik. Yoga segera menuruti perintah mama Meli dan duduk di sofa. Sebenarnya Yoga ingin segera pamit pulang, tapi dia khawatir nantinya Anya tidak ada yang mengantarkan pulang.

"Mama itu kepikiran apaan sih ma?" Tanya Anya.

"Iya ma, kalau ada masalah cerita sama Sonya"

"Sama Anya juga bisa ma ceritanya"

"Gimana mama mau cerita, orang yang mama pikirin itu kalian"

Anya dan Sonya saling pandang.

"Emang mikirin kita kenapa ma? Kerjaan Sonya baik-baik aja kok ma" Tanya Sonya.

"Iya maaa, Anya juga udah disetujui proposal tugas akhirnya. semester depan Anya udah bisa lulus ma"

"Bukan kerjaan Sonya ataupun kuliah Anya yang mama pikirin"

"Terus apaan mama sayaaaanggg?" Tanya Sonya makin kebingungan.

"Mama itu kepikiran kalian berdua. Mama liat selama ini kalian berdua belum ada pacar ataupun calon mantu buat mama"

"Haaahhh? Calon mantu? Buat apaan ma? Kak Sonya sama Anya kan mau nemenin mama. Mau bareng-bareng sama mama." Jelas Anya.

Mama Meli tersenyum mendengar penjelasan Anya yang menggebu-gebu.

"Gak bisa gitu dong Anya, mama itu sudah tua nak. Umur manusia kita gak ada yang tau. Justru mama akan lebih tenang kalau sudah ada yang bertanggung jawab atas anak-anak mama yang cantik-cantik ini" Mama Meli menjelaskan kembali dengan tutur kata yang lembut.

"Kalau kalian berdua belum ada calon, mama bisa jodohin kalian sama anak temen mama. Siapa tau cocok. Gimana?"

"Haaahhh? Dijodohin? Anuu ituuu aku enggak deh maa. Mending Kak Sonya aja ma. Anya kan masih kuliah ma, nanti malah ganggu skripsi Anya" Anya berkelit.

"Looohhh, kok jadi aku sih. Tapi maaa, Sonya itu bisa cari cowok sendiri gak perlu dijodohin"

"Iya terus mana buktinya? mama gak pernah liat tuh kamu deket sama cowok selain sama iqbal"

"Yaaahh tunggu maaa, kan masih PDKT"

"Yaudah, mama tunggu sampai bulan depan. Kalau belum ada calon, kamu harus nurut mama kenalin anak temennya mama. Deal"

"Yaaaahh, kok gitu sih maaa.. Tapi Sonya kan.."

"Sssttt udah gak ada tapi tapian. Emang kalian mau mama banyak pikiran terus drop lagi gitu?"

"Yaaah gak mamaaaa. Yaudah deh Sonya nurut. Satu bulan loh yah pokoknya. Tunggu aja Sonya bawa calon buat mama nanti" Jawab Sonya mantap walaupun aslinya dia bingung harus mencari calon pacar dimana. Secara dia tidak ada satupun laki-laki yang dekat atau bahkan bisa jadi pacar dalam waktu dekat.

"Buat Anya juga" mama meli menoleh ke Anya yang cengar cengir merasa dirinya akan aman.

"Mama gak mau tau juga, kamu mesti bawa calon juga atau berakhir di perjodohan. Ngerti?"

"Tapi maa, Anya kan masih kuliaaah, nanti malah ganggu kuliah Anya maa"

"Gak ada tapi tapian.. udah sekarang mama mau istirahat dulu"

"Iyaaa maaa" Anya memanyunkan bibirnya karena bingung kemana harus mencari calon pacar secara selama ini dia tidak pernah dekat dengan laki-laki selain Oki. Oki pun juga sudah punya pacar.

Sonya dan Anya keluar kamar diikuti Yoga.

"Nya, lu balik aja ke rumah. Kakak ada jadwal jaga, besok pagi mungkin kakak pulang buat bersih-bersih. Sekalian biar mama kakak yang jaga"

"Iya udah kak kalau gitu. Anya besok juga ada kuliah pagi. Anya pamit yah kak."

"Iyaaa. Titip adik gue yah" Sonya melihat ke arah Yoga dan tersenyum.

"Iiih apaan sih kak, Anya bisa balik sendiri kok"

"Gak papa aku anterin aja" Sergah Yoga.

"Pamit yah" Yoga berpamitan dan menarik bahu Anya untuk meninggalkan rumah sakit.

Setelah agak jauh dari depan kamar inap, Anya berusaha melepaskan tangan Yoga dibahunya.

"Iiih lepasin lepasin, enak aja pegang-pegang"

"Sori sori.."

Mereka bergegas ke parkiran mobil dan mobil Yoga melaju meninggalkan parkiran rumah sakit.

***

"Makasih Kak"

"Sama-sama. Yaudah aku balik dulu yah"

"Hati-hati yah kak, sorry banget Sisil jadi ngerepotin kak Oki"

"Enggak ngerepotin deeekkkk" Jawab Oki sambil mengacak rambut Sisil. Pipi Sisil bersemu merah.

"Balik yah, byeee"

"Byeee"

Sesampainya di rumah Oki mengecek handphonenya dan belum ada balasan chat dari pacarnya. Nomornya juga di block sehingga tidak bisa menghubunginya.

Oki pun pasrah, tak mungkin juga Ia harus mendatangi pacarnya yang jauh di Jogja. Karena perkuliahan sedang padat. Beberapa saat kemudian handphone Oki berdering menandakan ada pesan chat baru. Buru-buru Ia mengecek.

makasih ya Kak Oki .

maaf udah ngerepotin .

iya sisil, samasama

gak ngerepotin sama sekali adek sisil

besok sisil traktir makan ya kak

buat ucapan terima kasih

sisil gak enak nih kalau ditolak

iya deh terserah sisil aja enaknya gimana biar gak sungkan lagi

yeeesss

kak Oki udah sampe rumah ?

sudah

yaudah kalau gitu kak oki istirahat aja

byeee kak

byeee

goodnite kak 😊

🙂

Sisil mengakhiri pesan chatnya. Ia merasa bahagia , entah kenapa malam ini dia merasa akan bermimpi indah.

***

"Kenapa senyum-senyum kak?" Anya bertanya sambil tetap manyun di mobil.

"Tuuuhhh maju bener bibirnya" jelas Yoga.

"Yaaaah abis mama tuh ada ada aja deh. Cari dimana coba calon secepet itu" Anya kesal.

"Ya tinggal cari aja dong, kan gampang buat kamu pasti. Atau balikan sama mantan, kan gak perlu pendekatan lagi tuh" Usul Yoga.

"Kalau ada mah enak. Mantan juga gak punya, gebetan apalagi" Anya tertunduk lemas kebingungan.

Yoga tersenyum menyadari gadis cantik disebelahnya ternyata belum pernah pacaran.

"Makasih yah kak" Anya turun dari mobil disusul oleh Yoga.

"Sama-sama, Besok kamu kuliah jam berapa?"

"Jam 8 kak, emang kenapa?"

"Aku jemput ya, anggep aja permohonan maafku."

"Iya deh terserah" Anya menyetujui karena memang besok dia bingung juga berangkat ke kampus naik apa. Naik taxi online masih membuatnya merinding.

"Nanti kalau draftnya udah selesai aku email yah kak. Byeee"

"Ehh gak usah buru-buru Anya, mending kamu istirahat dulu aja. Udah malem juga. Yaudah aku balik. Byee"

Yoga berlalu dan meninggalkan rumah mewah dengan desain klasik dan dominan warna putih kesukaan mama meli.

Terpopuler

Comments

Bonita Trisnawati

Bonita Trisnawati

berharap ada pasangan dadakan di eps 5 nih 🤩🤩

2022-08-14

1

keyla safira

keyla safira

up lagi

2022-08-14

1

lihat semua
Episodes
1 What A Day?
2 Salah Tangkap
3 Pantang Menyerah
4 Keinginan Mama Meli
5 Ide cemerlang
6 Dasar Lelaki
7 Bantuan Si Boy
8 Kejujuran yang Tertunda
9 Egois
10 Gosip
11 Hati yang Patah
12 Rencana Gila
13 Perjodohan
14 Posesif
15 Andre
16 Apakah Ini Rindu?
17 Kembali
18 Playboy
19 Kenyataan
20 Kejujuran
21 Pengakuan
22 Pacaran Beneran
23 Cemas
24 Panggilan Sayang
25 Sesuatu Tersembunyi
26 Keberanian Gista
27 Cemburu
28 Pengorbanan
29 Dalang dibalik penyerangan
30 Kepulangan Yoga
31 Lamaran
32 Keseriusan Ezza
33 Ciuman pertama
34 LDR lagi
35 Kamu cantik malam ini
36 Kehilangan
37 Menjauh demi Kebaikan
38 Kecewa
39 Bucin Akut
40 Persiapan Pernikahan
41 Mabuk
42 Seleksi Alam
43 Bidadari
44 Kesepian
45 Tua Bangka
46 Diapelin
47 Permintaan Maaf
48 Tanggung jawab
49 Berpisah
50 Kepingan Puzzle
51 Pembuktian
52 Terungkap
53 Terbongkar
54 Pegawai Baru
55 Kesempatan kedua
56 Blunder
57 Penyesalan
58 Hari Pernikahan
59 Malam Pertama
60 Ungkapan Perasaan
61 Kehadiran
62 Pesaing
63 Niat Busuk
64 Memberontak
65 Berusaha
66 Lulus
67 Hamil
68 Kabar Gembira
69 Pelukan
70 Papa dan Mama
71 Pamit
72 Terpukul
73 Lebih Aman
74 Kewajiban
75 Menjaga Perasaan
76 Handphone baru
77 Opname
78 Berdegup
79 Berbeda
80 Pertikaian
81 Perasaan Mela
82 Salah Tingkah
83 Status baru
84 Tiga serangkai
85 Malaikat kecil
86 Be Strong
87 Membangun keluarga
88 Rambut baru
89 Memperbaiki masa lalu
90 Ikatan batin
91 Terjebak di Lift
92 hormon
Episodes

Updated 92 Episodes

1
What A Day?
2
Salah Tangkap
3
Pantang Menyerah
4
Keinginan Mama Meli
5
Ide cemerlang
6
Dasar Lelaki
7
Bantuan Si Boy
8
Kejujuran yang Tertunda
9
Egois
10
Gosip
11
Hati yang Patah
12
Rencana Gila
13
Perjodohan
14
Posesif
15
Andre
16
Apakah Ini Rindu?
17
Kembali
18
Playboy
19
Kenyataan
20
Kejujuran
21
Pengakuan
22
Pacaran Beneran
23
Cemas
24
Panggilan Sayang
25
Sesuatu Tersembunyi
26
Keberanian Gista
27
Cemburu
28
Pengorbanan
29
Dalang dibalik penyerangan
30
Kepulangan Yoga
31
Lamaran
32
Keseriusan Ezza
33
Ciuman pertama
34
LDR lagi
35
Kamu cantik malam ini
36
Kehilangan
37
Menjauh demi Kebaikan
38
Kecewa
39
Bucin Akut
40
Persiapan Pernikahan
41
Mabuk
42
Seleksi Alam
43
Bidadari
44
Kesepian
45
Tua Bangka
46
Diapelin
47
Permintaan Maaf
48
Tanggung jawab
49
Berpisah
50
Kepingan Puzzle
51
Pembuktian
52
Terungkap
53
Terbongkar
54
Pegawai Baru
55
Kesempatan kedua
56
Blunder
57
Penyesalan
58
Hari Pernikahan
59
Malam Pertama
60
Ungkapan Perasaan
61
Kehadiran
62
Pesaing
63
Niat Busuk
64
Memberontak
65
Berusaha
66
Lulus
67
Hamil
68
Kabar Gembira
69
Pelukan
70
Papa dan Mama
71
Pamit
72
Terpukul
73
Lebih Aman
74
Kewajiban
75
Menjaga Perasaan
76
Handphone baru
77
Opname
78
Berdegup
79
Berbeda
80
Pertikaian
81
Perasaan Mela
82
Salah Tingkah
83
Status baru
84
Tiga serangkai
85
Malaikat kecil
86
Be Strong
87
Membangun keluarga
88
Rambut baru
89
Memperbaiki masa lalu
90
Ikatan batin
91
Terjebak di Lift
92
hormon

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!