Rencana Gila

Sore hari Mama Meli pulang dari luar kota, Ia mendapati rumah yang sepi. Bi Yuni menghampiri Mama Meli dan membawakan kopernya.

"Anak-anak belum pulang Bi?"

"Belum Nyonya, Non Sonya bilangnya ada seminar di luar kota. Non Anya tadi keluar ke mall sama temennya."

Mama Meli mengangguk mendengar penjelasan Bi Yuni.

"Makasih yah Bi."

Mama Meli duduk di sofa sambil mengecek ponselnya.

Tok tok..

"Permisi.."

Mama Meli membuka pintu untuk melihat siapa yang datang.

"Permisi tante, Anya ada?"

"Nak Yoga yah?"

"Iya tante.." Yoga menyalami punggung tangan Mama Meli.

"Anya belum pulang, masih keluar sama temannya. Apa mau ditunggu di dalam?"

"Boleh tante kalau tidak merepotkan."

"Ya enggak Nak Yoga. Ayok masuk dulu."

"Terima kasih tante."

***

"Sejak kapan lu deket sama kak Eric?" Anya bertanya pada Ika saat mereka sama-sama berpamitan ke kamar mandi.

"Gak deket-deket banget kok. Cuma beberapa kali pernah ketemu."

"Tapi kok Kak Ericnya kayak suka banget gitu sama lu?"

"Perasaan lu aja kali." Ika mengelak.

"Hmm, pasti ada apa apa nih." Anya mode detektif melihat Ika sambil memicingkan mata.

"Ihh apaan, emang gak ada apa-apaan kok. Kapan dulu gue pernah kecopetan di depan kosan dan kebetulan banget yang nolongin gue kak Eric. Setelah itu beberapa kali aja kita pernah keluar bareng karena gue mau berterima kasih. Udah gitu doang."

"Yakin gitu doang? Gak ada benih-benih asmara gitu?"

"Enggak ada Anya. Gue gak mau sama playboy kayak Kak Eric. Makan hati tiap hari."

"Kalau playboynya tobat hayoo?"

"Iih namanya playboy ya tetep playboy."

Anya manggut-manggut mendengar penjelasan Ika. Kedua sahabat itu kembali menuju tempat makan dan berpamitan dengan mama Eric karena hari sudah semakin gelap.

"Ika, lain kali mampir yah ke rumah tante. Tante senang sekali ketemu sama kamu. Persis kayak yang diceritakan Eric." Mama Eric berkata sambil memegang tangan Ika.

"Emang Kak Eric cerita apa aja tante?" Mama Eric tersenyum melihat Eric dan menjawab pertanyaan Ika.

"Eric bilang kalau Ika cantik dan baik."

"Tante bisa aja. Ika kan jadi malu."

"Kenapa malu, kenyataan kok." Ucapan Mama Eric semakin membuat Ika tersipu.

"Terima kasih banyak untuk makanannya tante."

"Iya sama-sama."

Mereka berempat berpisah setelah hari mulai malam. Anya terlebih dahulu mengantar Ika kekosan dan pulang. Sesampainya di kosan Ika tersenyum sendiri mengingat kejadian di mall tadi. "Ih apaan kok gue jadi mikirin Kak Eric sih." Batin Ika.

***

Hari ini Mela dan Vico pergi ke pantai untuk menikmati momen kebersamaan mereka yang sebentar lagi harus terpisah jarak. Sepanjang perjalanan Vico menggenggam tangan Mela seperti tidak ingin berpisah.

Setelah satu setengah jam perjalanan mereka sampai ke pantai. Kedua manusia yang sedang jatuh cinta itu berjalan dan menyusuri pantai bersama. Sesekali mereka bercanda dan saling kejar mengejar satu sama lain dan kembali tertawa dan berpelukan. Setelah lelah bermain mereka ini duduk di atas pasir sambil memandangi matahari yang sudah berubah warna menjadi jingga.

"Kalau aku disana, kamu jangan macem-macem yah."

"Kayaknya kamu yang nanti macem-macem." Mela memicingkan matanya.

"Enggak lah sayang. Aku disana kan cuma sementara. Sebisa mungkin aku nanti minta penempatan disini biar bisa deket sama kamu." Rayu Vico sambil mencolek ujung hidung Mela.

Mela menghela nafas dalam, mengingat akan berpisah dengan Vico tiba-tiba membuat sudut matanya basah. Ia berusaha menahan agar air mata tidak menetes namun tidak berhasil.

"Maafin aku sayang." Vico menghapus air mata Mela yang menetes.

"Enggak sayang. Nggak ada yang perlu dimaafin. Kamu gak salah apa-apa." Mela mencoba menenangkan diri.

"Tapi aku bikin kamu sedih. Harusnya aku orang yang bisa bahagiain kamu, bukan malah bikin kamu sedih seperti ini."

"Kamu selalu bikin aku bahagia, Vico. Kamu sudah buat aku ngerasain dicintai dan mencintai. Kamu juga sudah buat aku ngerasa takut kehilangan, pingin berubah menjadi lebih baik untuk hubungan kita. Itu semua karena kamu, karena kesabaran kamu menghadapi aku."

"Jujur, selama ini aku memang tidak pernah membayangkan hubungan LDR. Tapi dengan kamu, aku akan berusaha. Karena aku gak sanggup kehilangan kamu." Mela menumpahkan semua perasaannya pada Vico setelah Ia pendam selama ini.

"Aku juga gak ingin kehilangan kamu sayang." Vico memegang kedua pipi Mela, menyatukan keningnya pada kening Mela.

"I love you, Mela."

Cup..

Mela memejamkan mata, merasakan ada yang menyentuh bibirnya. Sore ini, bahagia dan sedih menyatu di hati Mela.

***

Dari pagi hingga siang, Ezza mencoba menghubungi Sonya. Kali ini dia dibuat kaget karena Ia tau nomornya di blokir. Ezza mengambil kontak mobil dan bergegas menuju rumah sakit.

Ia menyusuri rumah sakit menuju tempat praktek Sonya, namun tidak ada tanda-tanda adanya kegiatan di dalamnya. Ia berlalu menuju ruangan Sonya, dari luar nampak lampu padam yang menandakan tidak ada orang di dalamnya. Ezza mengusap wajahnya kasar. "Kamu dimana Sonya. Aku mau jelasin semuanya." Gumam Ezza.

Ezza berjalan mondar mandir di depan ruangan Sonya berharap Sonya tiba-tiba datang. Namun hampir 15 menit tidak ada tanda-tanda kedatangannya. Iqbal yang setelah praktek melihat ada lelaki di depan ruang Sonya. Ia mendekati lelaki itu.

"Cari siapa mas?"

"Eeh, iya. Saya cari dokter Sonya. Apa dokter Sonya ada praktek yah?"

"Dokter Sonya cuti beberapa hari. Apa kamu orang yang sudah bikin Sonya sakit?"

"Sonya sakit? Sakit apa? Tolong kasih tau saya dimana Sonya sekarang. Ada hal penting yang ingin saya jelaskan sama dia."

"Saya rasa gak ada yang perlu anda jelaskan. Sonya bukan wanita gampangan yang bisa seenaknya anda mainkan begitu saja."

"Ta tapi saya gak ada niat mainin Sonya. Saya benar-benar tulus sama Sonya."

"Tulus anda bilang. Brengs*kk." Iqbal menghadiahi pukulan tepat di sudut bibir Ezza.

"Saya peringatkan, jangan pernah ganggu Sonya lagi. Lebih baik anda urusi istri dan anak anda. Biarkan Sonya bahagia."

Iqbal berlalu meninggalkan Ezza yang memegang sudut bibirnya yang berdarah.

"Sonya, aku gak seperti yang kamu pikirkan. Kamu salah paham." Mata Ezza memerah menahan airmata. Ia benar-benar bingung harus bagaimana menjelaskan semuanya pada Sonya.

***

Anya memasuki halaman rumahnya. Nampak mobil yang tak asing baginya parkir disana. Ia ragu untuk turun dan masuk, namun Ia tidak ada tujuan lain selain pulang.

"Malam ma.." Anya melihat mamanya tengah asik ngobrol dengan Yoga.

"Baru pulang Nak. Yuk sini duduk, di sebelah Yoga sana." Mama Meli menunjuk kursi kosong disebelah Yoga.

Anya menuruti titah Mama Meli. Ia duduk di sebelah Yoga tanpa banyak berdebat.

"Anya, kenapa gak bilang sama mama sih soal kamu dan nak Yoga?"

"Hah, bilang apaan ma?" Anya melihat Yoga mencoba mencari jawaban dari pertanyaan Mama Meli.

"Gak papa tante. Mungkin Anya masih belum yakin dan masih malu. Saya juga maklum karena prioritas Anya kan kuliah, saya tidak ingin egois tante."

Anya semakin tidak bingung, apa yang tengah diomongin oleh mama dan Yoga.

"Ini ada apa sih ma?" Anya mencoba tenang dan bertanya untuk mencari jawaban kebingungannya.

"Ish gak usah pura-pura deh. Ini nak Yoga udah cerita kok ke mama. Kalau kalian sebenarnya pacaran."

"PACARAN?"

"Iya pacaran. Udah gak usah sembunyi-sembunyi lagi. Mama gak kolot kok, mama tentu aja ngasih kalian kebebasan untuk saling mengenal, asal tetap tau batasannya."

Anya terkaget, Ia tidak paham apa yang sudah Yoga ucapkan pada Mama Meli.

"Ma, Anya bicara sebentar yah sama Kak Yoga."

"Iya, lama juga gak papa kok. Yaudah mama masuk dulu yah. Kalian ngobrol aja."

"Makasih tante." Yoga tersenyum.

Setelah mengunggu Mama Meli masuk, Anya tak segan memukul lengan Yoga yang kekar.

"Aaakkhh sakit sayang."

"Sayang sayang palalu."

"Apa-apaan sih kak. Ngapain pake ngomong gitu segala ke mama? Kakak kira ini bercandaan apa?"

"Sstt jangan marah-marah dong. Nanti cepet tua."

"Aku jawab satu-satu yah, yang pertama aku ngomong karena aku tetap pingin bantu kamu. Yang kedua aku juga gak pernah anggap ini bercanda kok. Justru aku anggap ini semua serius."

"Aaarrrggghhhh.. Pokoknya aku gak mau tau, secepatnya aku bakal bilang ke mama kalau kita gak pacaran."

Yoga memegang lengan Anya.

"Jangan dong, nanti bisa nambah pikiran mama kamu."

"Ya terus? Siapa yang pacaran sama kakak coba. Itu sama aja bohong."

"Kalau gitu jangan dibuat bohong."

"Maksudnya?"

"Ya kita pacaran beneran Anya." Yoga menatap mata Anya lekat.

"Najis." Anya berlalu masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Yoga sendiri.

Yoga tersenyum, setidaknya Ia membuat rencana yang selangkah lebih di depan dibanding Eka.

#flashback on..

Yoga dan Boy sedang melatih adik juniornya kembali. Nampak Eka sedang mengikuti latihan fisik yang dilakukan. Dengan tubuh yang kekar, Eka cukup mumpuni dalam latihan fisik.

Setelah latihan fisik selesai, para junior masih terlihat berisitirahat. Yoga melihat Boy dan Eka sedang mengobrol. Yoga mendekati secara perlahan dan pura-pura minum untuk bisa mendengarkan perbincangan mereka.

"Latihan fisik lu bagus, bisa terus dipertahanin dengan rajin olahraga."

"Siap kak." Jawab Eka.

"Oiya, gimana kelanjutan lu sama Anya?" Eka terlihat malu-malu. Yoga yang awalnya mendengarkan agak jauh langsung bergeser agak mendekat supaya bisa mendengar.

"Sejauh ini kita saling chat kak. Anya masih sibuk sama kuliahnya. Tapi minggu besok aku rencana mau ajak dia keluar."

"Aku mau coba bilang kalau mau serius sama dia kak." Ucap Eka sedikit berbisik.

Yoga terbelalak mendengar ucapan Eka. Tanpa sadar tangannya mengepal.

"Hmm, iya harusnya gitu. Anya emang bukan cewek sembarangan, gak seharusnya lu main-main sama adeknya temen gue." Ucap Boy sambil menepuk pundak Eka.

"Enggak lah kak, saya gak ada niat main-main sama Anya. Saya pasti berusaha mendapatkan hatinya." Jawab Eka mantap sambil senyum-senyum.

Yoga yang mendengar percakapan itu semakin geram. Kalau seandainya Eka bicara ingin serius, besar kemungkinan Anya bisa menerima karena Anya memang butuh calon agar tidak berakhir dengan perjodohan. "Si*l, gue mesti cari cara nih." Batin Yoga. Yoga terpikir rencana gila yang bisa mencegah terjalinnya hubungan Eka dan Anya. "Oke, gue mesti nekat." Gumamnya.

#flashback off..

***

Anya masuk ke kamar dengan jengkel, bisa-bisanya Yoga bilang ke mama kalau mereka pacaran. Tak lama handphone Anya berdering.

"Halo."

"Halo Anya, aku ganggu gak?"

"Enggak kok, emang ada apa?"

"Aku rencana mau ajak kamu besok keluar bisa?"

"Besok ya? Mau kemana?"

"Mau ngajak resfreshing aja. Kamu pasti capek abis seminggu ini kuis terus kan."

"Boleh aja sih."

"Oke, besok aku jemput yah. Bye."

"Bye.."

Sesaat kemudian pintu kamar Anya diketuk oleh Mama Meli.

"Apa ma?" Tanya Anya sambil bergelayut di pintu yang hanya Ia buka setengah.

"Temenin nak Yoga. Jangan gak sopan gitu."

"Iish, mama aja deh."

"Namanya orang pacaran gak baik ngambek-ngambekan gitu. Belajar dewasa Anya."

"Ngambek?" "Si*l, ini pasti tuh orang yang pake bilang ke mama aku ngambek. Siapa yang ngambek coba." Batin Anya.

"Iya iya ma, Anya ganti baju dulu."

Anya berganti pakaian dan bergegas turun menemui Yoga.

"Puas? Pake bilang ngambek segala." Yoga tersenyum.

"Jangan ngambek-ngambek lagi dong sayangku." Yoga mengelus kepala Anya.

"Iiih apaan." Anya menepis tangan Yoga.

"Kakak nih ngeselin banget deh." Ucap Anya sambil melipat kedua tangannya.

"Jangan sebel-sebel gitu, nanti jatuh cinta."

"Terserah deh. Terus kakak kapan pulangnya nih?"

"Masa pacar sendiri diusir sih. Gak kangen apa?" Goda Yoga sambil menaikturunkan alisnya.

Anya menggeleng-gelengkan kepala sambil memutar bola mataya.

"Yaudah aku pulang dulu kalau gitu. Besok aku jemput buat liat pembangunan rumah. Tadi aku udah ijin sama mama kamu."

"Eeh seenaknya main jemput-jemput. Gak bisa, aku ada janji."

"Sama siapa?" Yoga memicingkan mata.

"Sama Eka, kita mau keluar besok."

"Gak bisa, besok keluar sama aku. Bilang aja gak bisa sama Eka."

"Ish gak bisa gitu dong."

"Kamu mau mamamu tau?"

"Ngeselin amat sih. Iya iya deh."

"Nah gitu dong. Jadi pacar harus nurut yah sayang. Jangan ngambek-ngambek juga. Byeee." Yoga pulang dengan senyum kemenangan.

Dirumah Anya duduk sambil menonton tivi untuk menghilangkan rasa jengkelnya pada Yoga. Mama Meli menghampiri dan duduk disampingnya.

"Mama setuju sama nak Yoga." Anya menoleh ke arah Mama Meli.

"Dia tadi cerita kalau kalian pacaran, dan kamu gak berani cerita ke mama karena takut mama gak setuju kan? Mama setuju kok. Nak Yoga orangnya dewasa dan pastinya bisa ngemong kamu, bisa lebih ngalah dan ngejaga kamu." Anya tersenyum kaku.

"Ngemong apanya, ngalah apanya, yang ada egois banget." Batin Anya.

"Dia juga cerita kalau rumah yang kamu desain itu untuk rumah masa depan kalian nantinya."

Uhuukkk.. Anya tersedak..

"Masa depan apaan ma?"

"Iya masa depan sayang, dia udah ada planning untuk pernikahan. Tapi dia tetep mau tunggu kamu selesai kuliah tentunya." Anya terhenyak.

"Dia pasti belum cerita ke kamu, tapi yang namanya laki-laki sudah menyiapkan semua itu berarti tandanya dia serius nak."

"I iya ma." Anya tidak ingin memperpanjang percakapan dengan mama.

Episodes
1 What A Day?
2 Salah Tangkap
3 Pantang Menyerah
4 Keinginan Mama Meli
5 Ide cemerlang
6 Dasar Lelaki
7 Bantuan Si Boy
8 Kejujuran yang Tertunda
9 Egois
10 Gosip
11 Hati yang Patah
12 Rencana Gila
13 Perjodohan
14 Posesif
15 Andre
16 Apakah Ini Rindu?
17 Kembali
18 Playboy
19 Kenyataan
20 Kejujuran
21 Pengakuan
22 Pacaran Beneran
23 Cemas
24 Panggilan Sayang
25 Sesuatu Tersembunyi
26 Keberanian Gista
27 Cemburu
28 Pengorbanan
29 Dalang dibalik penyerangan
30 Kepulangan Yoga
31 Lamaran
32 Keseriusan Ezza
33 Ciuman pertama
34 LDR lagi
35 Kamu cantik malam ini
36 Kehilangan
37 Menjauh demi Kebaikan
38 Kecewa
39 Bucin Akut
40 Persiapan Pernikahan
41 Mabuk
42 Seleksi Alam
43 Bidadari
44 Kesepian
45 Tua Bangka
46 Diapelin
47 Permintaan Maaf
48 Tanggung jawab
49 Berpisah
50 Kepingan Puzzle
51 Pembuktian
52 Terungkap
53 Terbongkar
54 Pegawai Baru
55 Kesempatan kedua
56 Blunder
57 Penyesalan
58 Hari Pernikahan
59 Malam Pertama
60 Ungkapan Perasaan
61 Kehadiran
62 Pesaing
63 Niat Busuk
64 Memberontak
65 Berusaha
66 Lulus
67 Hamil
68 Kabar Gembira
69 Pelukan
70 Papa dan Mama
71 Pamit
72 Terpukul
73 Lebih Aman
74 Kewajiban
75 Menjaga Perasaan
76 Handphone baru
77 Opname
78 Berdegup
79 Berbeda
80 Pertikaian
81 Perasaan Mela
82 Salah Tingkah
83 Status baru
84 Tiga serangkai
85 Malaikat kecil
86 Be Strong
87 Membangun keluarga
88 Rambut baru
89 Memperbaiki masa lalu
90 Ikatan batin
91 Terjebak di Lift
92 hormon
Episodes

Updated 92 Episodes

1
What A Day?
2
Salah Tangkap
3
Pantang Menyerah
4
Keinginan Mama Meli
5
Ide cemerlang
6
Dasar Lelaki
7
Bantuan Si Boy
8
Kejujuran yang Tertunda
9
Egois
10
Gosip
11
Hati yang Patah
12
Rencana Gila
13
Perjodohan
14
Posesif
15
Andre
16
Apakah Ini Rindu?
17
Kembali
18
Playboy
19
Kenyataan
20
Kejujuran
21
Pengakuan
22
Pacaran Beneran
23
Cemas
24
Panggilan Sayang
25
Sesuatu Tersembunyi
26
Keberanian Gista
27
Cemburu
28
Pengorbanan
29
Dalang dibalik penyerangan
30
Kepulangan Yoga
31
Lamaran
32
Keseriusan Ezza
33
Ciuman pertama
34
LDR lagi
35
Kamu cantik malam ini
36
Kehilangan
37
Menjauh demi Kebaikan
38
Kecewa
39
Bucin Akut
40
Persiapan Pernikahan
41
Mabuk
42
Seleksi Alam
43
Bidadari
44
Kesepian
45
Tua Bangka
46
Diapelin
47
Permintaan Maaf
48
Tanggung jawab
49
Berpisah
50
Kepingan Puzzle
51
Pembuktian
52
Terungkap
53
Terbongkar
54
Pegawai Baru
55
Kesempatan kedua
56
Blunder
57
Penyesalan
58
Hari Pernikahan
59
Malam Pertama
60
Ungkapan Perasaan
61
Kehadiran
62
Pesaing
63
Niat Busuk
64
Memberontak
65
Berusaha
66
Lulus
67
Hamil
68
Kabar Gembira
69
Pelukan
70
Papa dan Mama
71
Pamit
72
Terpukul
73
Lebih Aman
74
Kewajiban
75
Menjaga Perasaan
76
Handphone baru
77
Opname
78
Berdegup
79
Berbeda
80
Pertikaian
81
Perasaan Mela
82
Salah Tingkah
83
Status baru
84
Tiga serangkai
85
Malaikat kecil
86
Be Strong
87
Membangun keluarga
88
Rambut baru
89
Memperbaiki masa lalu
90
Ikatan batin
91
Terjebak di Lift
92
hormon

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!