Yoga berlalu dan meninggalkan rumah mewah dengan desain klasik dan dominan warna putih kesukaan mama meli.
***
Keesokan paginya..
Anya menelpon kakaknya pada pagi hari dan menanyakan kondisi mamanya, untungnya kondisi mama meli sudah mulai membaik dan disarankan agar tidak banyak pikiran. Anya jadi tidak berani untuk keras menolak permintaan mamanya meminta calon pacar. Bisa-bisa nanti mama malah drop karena ulah Anya. Disisi lain Anya juga bingung dimana bisa mendapat calon dalam waktu yang singkat. Mau pasrah menerima perjodohan juga rasanya tidak semudah itu. "Apa gue cari pacar pura-pura aja yah?" batin Anya. Tapi siapaaa. Anya tau bahwa tidak ada laki-laki yang dekat dengannya selain Oki, tapi Oki hanyalah seorang sahabat dan dia juga punya seorang pacar. Mama Meli juga tidak akan percaya begitu saja kalau mereka bilang sedang pacaran. Anya berpikir keras sambil bersiap diri untuk kuliah. Saat hendak keluar rumah dengan tetap melamun bagaimana cara mendapatkan calon pacar dia di kagetkan dengan bunyi klakson mobil Yoga. Lamunan Anya terbuyar dan Ia menoleh ke arah bunyi klakson.
"Oooh iya" Anya menepok jidat karena lupa bahwa kemarin Yoga akan menjemputnya. Ia mendekati mobil dan masuk ke kursi penumpang. Yoga yang duduk di kursi pengemudi menggunakan seragam polisinya, terlihat gagah.
"Mau kemana tadi?"
"Hehehe lupa kalau kakak tadi mau jemput. Mau ke gerbang depan cari taxi tadi" jawab Anya sambil menggunakan seatbelt.
"Makanya jangan banyak pikiran" Sindir Yoga yang tau kalau Anya sedang bingung dengan masalah perjodohan yang membuatnya jadi tidak konsen. Yoga menjalankan mobilnya menuju kampus Anya.
***
Oki sampai di depan gedung kampusnya, suasana masih sepi. Ia duduk bersender dan mencoba menekan tombol panggila. Tapi panggilan tersebut tidak bisa terhubung karena nomornya masih diblock oleh pacarnya, Lusi. Oki gak habis pikir, bagaimana mungkin Lusi bisa mendapat foto saat dia bersama Anya. Ia merasa seperti ada seseorang yang sengaja membuat keruh hubungannya dengan Lusi, tapi siapa. Oki mencoba menepis perasaannya curiganya. Sudah beberapa kali Lusi melakukan aksi begini ketika Ia marah, memblock nomor Oki sehingga dengan terpaksa Oki meninggalkan kuliah dan pergi ke Jogja untuk merayunya. Namun kali ini Oki merasa lelah, penyebab marahnya Lusi selalu sama, kedekatannya dengan Anya yang hanya sebatas teman. Saat bersama dan Oki menjelaskan Lusi mengangguk dan mengerti. Tapi saat kembali LDR Ia kembali dengan mode cemburuan dan posesifnya membuat Oki jengah.
"Kenapa Bro?" Sapa Doni yang baru datang dan duduk di kursi sebelah Oki.
"Tuh temen Lu, gampang ngambek banget. Ini aja nomor gue di block." Curhat Oki sambil menghela nafas.
"Lusi? hahahaha. Lu awet banget coba sama dia. dulu jaman SMA rasa-rasanya Lusi gak pernah awet kalau pacaran. Sering gonta ganti gitu deh. Gue aja gak nyangka lu bisa luluh di deketin dia"
"Awalnya sih dia dulu pengertian banget, entah makin kesini makin sering ngambek, baru baikan setelah gue samperin ke jogja. lama-lama tekor gue"
Doni terbahak..
***
"Terima kasih kak"
"Pulang jam berapa nanti? Biar aku jemput"
"Siang. Gak usah kak, nanti Anya ke rumah sakit abis kuliah. Lagian kakak pasti masih kerja kan"
"Hmmm terus ke rumah sakit sama siapa?"
"Sama temen"
"Yaudah duluan. Byee.." Anya melambaikan tangan dan masuk ke gedung kuliah.
Yoga sebenarnya ingin tau teman yang dimaksud Anya, tapi Ia mencoba menahan kekepoannya.
Di kantor..
"Tumben lu jam segini baru dateng?"
"Iya tadi macet." Yoga berkilah.
"Lu mau kemana?" Yoga bertanya melihat Boy yang berkemas dan memakai jaket.
"Gue mau balik broo, mau mandi dulu istirahat. Nanti siang mau jengukin nyokapnya temen gue"
"Siapa?" Tanya Yoga menyelidik.
"Yang kemarin itu loh brooo, yang adiknya gak sengaja lu tangkep. Nah nyokapnya yang kemarin kesini itu masuk rumah sakit."
"Ooohhh" Yoga pura-pura baru mendengar padahal dialah yang kemarin menemani Anya ke rumah sakit.
"Wuiiihhh, kejem banget lu. Ada orang sakit reaksinya cuma Oooohhh.. prihatiin dong. Emang repot sama nih kulkas berjalan." Ledek Boy.
Yoga tetap terdiam. Dia menduga "teman" yang dianggap Anya adalah Boy.
"Lu ke rumah sakit sama siapa?"
"Sama Anya, cewek yang gak sengaja lu tangkep itu. Kenapa emang?"
"Gak papa. Yaudah sana balik. gue absen dulu. byeee" Yoga meninggalkan Boy. Ada perasaan sesak tapi dia menyadari tidak selayaknya marah. Anya adalah gadis yang baru dua kali Ia temui. Tapi saat bersamanya Ia merasa berbeda, gadis ini benar-benar membawa warna yang tidak pernah Ia dapat dari wanita lain. Yoga pernah berpacaran memang, tapi berakhir tragis dengan perselingkuhan. Setelah bertemu Anya kemarin, Ia merasa bersalah karena kenyataannya Anya tidak seperti yang Ia tuduhkan saat pertama bertemu. Justru Anya adalah gadis baik-baik yang bisa menjaga diri dan hatinya. Tapi mengetahui kenyataan bahwa Anya akan pergi dengan Boy, sahabatnya dan tadi Anya tidak memberitahunya menyadarkan dirinya bahwa hubungannya dengan Anya hanyalah partner kerja untuk desain rumahnya.
***
Di lorong rumah sakit, Sonya sedang mengobrol dengan dokter Rudi, dokter yang merawat mama Meli. Kondisi mama Meli sudah membaik dan apabila tidak ada keluhan besok sudah bisa pulang ke rumah, akan tetapi mama Meli tetap harus beristirahat dan mengurangi aktivitas dan pikiran agar hal seperti kemarin tidak terjadi lagi. Iqbal keluar dari kamar mama Meli dan bergabung dengan Sonya dan Dokter Rudi.
"Pokoknya mama kamu gak boleh capek dan banyak pikiran. Makannya juga dijaga jangan sampai telat."
"Iya dok, terima kasih banyak"
Dokter Rudi mengakhiri perbincangannya dan berpamitan untuk melakukan visit pasien yang lain.
"Lu udah sarapan Nya?"
"Belum nih, temenin gue yukk, gue butuh kafein pake banget"
Iqbal dan Sonya melenggang ke kafetaria rumah sakit untuk sarapan. Saudara sepupu ini memang akrab karena mereka satu SMA, mereka juga sering bermain bersama Boy. Sayangnya Boy tidak tertarik dengan dunia kesehatan dan memilih menjadi polisi seperti superhero. Kesibukan masing-masing membuat mereka bertiga jadi jarang berkumpul. Sewaktu SMA mereka bertiga sering berkumpul di rumah Sonya, karena masakan mama Meli yang membuat Iqbal dan Boy betah dan ketagihan. Dari jaman SMA banyak lelaki yang naksir dengan Sonya, selain cantik Sonya juga pintar. Terbukti dengan percepatan kelas saat SMP, dan menyelesaikan kuliah kedokterannya dengan cepat, belum lagi Ia langsung melanjutkan spesialis di luar negeri dan lulus dengan pujian. Namun, banyak yang salah paham dengan Iqbal. Jarang yang tau kalau mereka adalah saudara sepupu seperti Boy yang awalnya juga mengira Iqbal dan Sonya berpacaran. Tapi hal itu tidak masalah bagi Sonya yang memang tidak tertarik berpacaran.
Saat asyik ngobrol handphone Iqbal berdering dan suara di seberang membutuhkan kehadiran Iqbal untuk memeriksa pasien. Iqbal terpaksa meninggalkan Sonya. Sonya menikmati kesendirian di cafetaria yang memang masih sepi sambil mencomot croissant dan americano di mejanya. Sonya menghilangkan rasa kantuknya sembari melihat sekeliling. Tatapannya tertuju pada lelaki yang sedang berdiri untuk membeli minuman di cafetaria.
"Ezza" Gumamnya.
Ezza melihat sekeliling saat hendak duduk dan tatapannya tertuju pada Sonya. Ia tersenyum dan mendekat dengan tangan kanan memegang segelas minuman.
"Boleh duduk disini?"
Sonya mengangguk.
"Oh iya, bagaimana mobilnya?" Sonya membuka obrolan.
"Belum, mungkin besok baru bisa ke bengkel"
"Oooh oke. Kabarin aja kalau udah dari bengkel dan tau biayanya."
"Siaaapp" Ezza tersenyum.
"Kok pagi-pagi udah disini? Bukannya kamu dosen? Kok malah nongkrongnya dirumah sakit"
"Iya, tadi ngecek pembangunan paviliun itu sebelum pekerjanya datang aku ngopi dulu aja." Jawab Ezza tersenyum.
"Kamu sendiri? Praktek pagi yah?"
"Bukan praktek pagi, tapi jaga semalaman. Ini makanya ngopi juga biar gak jadi zombie"
Ezza tergelak mendengar ucapan Sonya.
"Mana ada zombie secantik kamu" Ezza menjawab sambil tersenyum. Pipi Sonya bersemu merah.
"Kamuuu... Emmmhhh..." Ezza mendadak ragu dengan pertanyaannya.
"Kenapa?" Sonya menatap Ezza dengan penasaran.
"Kamu sudah menikah?"
"Belum"
"Sudah punya pacar?"
"Belum" Ezza seperti ingin melanjutkan tapi terhenti.
"Kenapa memangnya?" Sonya berinisiatif bertanya.
"Emhhh, kalau aku pengen kenal kamu lebih dekat boleh?"
Sonya kaget dengan pertanyaan Ezza yang to the point. Jantung Sonya berdetak kencang, Ia mencoba tenang. Ia mengingat permintaan mamanya. Bak gayung bersambut ide cemerlang terbesit dibenaknya, sekarang ada lelaki yang mendekatinya jadi sonya gak perlu repot-repot mencari atau mendekati laki-laki lain. Kalaupun nanti Ia dan Ezza tidak cocok tidak masalah yang penting sudah ada cara untuk lolos dari rencana perjodohan mamanya tanpa membuat mamanya kecewa.
"B-boleeeh" Sonya mengiyakan pertanyaan Ezza yang ingin dekat dengannya. Pertama kali bagi Sonya membiarkan lelaki masuk ke dalam hidupnya.
Ezza tersenyum. Sonya juga membalas senyumannya karena merasa beban pikiran tentang keinginan mamanya sudah teratasi.
***
Siang hari yang terik Ika di pinggir jalan menunggu sosok yang tadi pagi mengiriminya pesan chat. Ika menutupi dahinya dengan kedua tangannya untuk menghalangi silaunya matahari siang.
#flashback on
'pagi Ikaaa..'
Ika cuma membaca tanpa membalas. Ia sadar jangan sampai membuat masalah dengan playboy.
'uhuk gak dibales'
'bales plis, ini tentang imbalan yg kemarin'
Ika mendengus kesal membacanya. Terpaksa Ia menekan layar tempat membalas chat dan mengetik balasan.
'### apaan?'
'### jutek amat sih'
'senyum dikit boleh lah'
'### iiissh udaah cepet apaan kok imbalannya?'
'traktir?'
'nanti siang jam 1 tunggu aku depan gerbang utama'
'aku jemput'
'no komplain'
'byeee'
Ika merutuki nasibnya. Berurusan dengan playboy yang tampan, tajir takut membuatnya goyah dan berujung sakit hati. Ika memang tipe yang mudah baper dengan perhatian seseorang. Oleh karena itu Ia pandai menjaga jarak sebelum sakit hati terlebih dahulu.
#flashback off
"Lamaaaa banget, jangan jangan dia cuma mau ngerjain gue" Batin Ika. Hampir 10 menit Ika menunggu berdiri ditepi jalan terbakar terik matahari. Kulit tangannya mulai kemerahan menerima sengatan matahari.
Tak lama dari kejauhan muncullah laki-laki dengan sepeda sport dan helm fullface mendekati tempat Ika berdiri.
"Udah lama?" Tanya laki-laki itu sambil membuka kaca helmnya, menampilkan setengah wajahnya saja, tapi tanpa menghilangkan aura ketampanannya.
"Lama bangeeet, nih liat tangan gue sampe gosong" keluh Ika sambil menunjukkan tangan dan bibir dimonyongin.
"Hahaha sori sori"
"Udah cepet, apaan imbalannya sekarang? Lu mau apaan?"
"Niiihhh" Eric menyodorkan helm.
"Buat apaan nih? Mau kemana?"
"Udah cepetan naik, daripada makin gosong nanti"
"Iyaaa tapi mau kemanaaaa iniiii? gue gak mau ntar lu nyulik gue. Iiih serem"
"Bawel aahh, cepet naik. Mana ada orang nyulik jemputnya pake chat dulu."
"Ya kaliiii"
Ika menuruti titah Eric, menaiki motor sport berwarna merah. Ika menjaga jarak lumayan jauh.
"Pegangaaann"
"Iya udah" tangan Ika berpegangan di bahu Eric.
"Bukan disitu, disini" Eric menunjuk pinggangnya.
"Iiissshhh" Ika terpaksa berpegangan di ujung jaket yang dikenakan Eric.
"Dibilang pegangan susah amaaattt" Eric menarik tangan Ika dan sontak badan Ika jatuh menubruk punggung Eric. Tangan Ika melingkar di pinggang Eric. Eric segera memacu motornya dengan kecepatan cepat menyusuri jalanan, untungnya wajahnya yang tersenyum tak nampak karena tertutup helm fullfacenya.
***
"Anyaaa..." Anya celingukan mencari suara dari sosok yang akan ditemuinya.
"Kak Booooyyy"
"Yuuk berangkat sekarang?"
"Yuuk"
Di mobil..
"Kak Boy"
"Apa?"
"Makasih ya kak udah dibantuin pas di kantor polisi kemarin"
"Sama-sama dek. Terus tante Meli gimana kok bisa masuk rumah sakit dek?"
"Anya juga kaget kak, kemarin sore pas mau pulang kak Sonya telpon kalau mama pingsan dan di UGD"
"Kemarin kakak hibernasi dek, jadi bisa bales chat kamu malem. Tapi untung deh balesnya malem jadi kakak tau kalau tante Meli sakit"
Boy berbincang dengan lembut pada Anya. Anya tersenyum mendengar penjelasan Boy dengan sesekali melirik ke arah Boy yang sedang mengemudi.
"Apa kak Boy aja yah" Batin Anya.
Di rumah sakit..
"Mamaaa"
"Halo tante" Boy mendekati mama meli dan mencium punggung tangannya.
"Halo nak Boy, makasih udah jengukin" Boy membawakan sekeranjang buah dan diletakkan di atas meja.
"Mama gimana kondisinya?"
"Sudah enakan kok, besok mungkin sudah bisa pulang"
"Tapi gak boleh capek capek loh maaa" Anya mengomel.
"Iya tante, istirahat dulu aja tante"
"Iya nak Boy, tante tuh kepikiran anak-anak ini loh."
"Kenapa emang sama Sonya sama Anya nte?"
"Emang anak-anak tante gak cantik kah Boy?"
Boy terkaget dengan pertanyaan yang diterima, Ia melirik sekilas ke Anya.
"Cantik kok nte, cantik-cantik semua malah"
"Naaah itu makanya, kok bisa belum pada laku-laku. Pusing tante mikirinnya"
"Yeee mama, udah aah masalah gitu gak usah dipikirin. Anya dan kak Sonya itu wanita mandiri, jadi tetep bisa mandiri tanpa lelaki. Eaaaa"
"Ya gak bisa gitu dong, mama kan makin tua. Mama juga pengen dirumah itu jadi rame ada anak kecil yang lari-lari gemes gitu"
Boy tertawa mendengar ucapan mama meli. Tak lama pintu kamar terbuka.
"Booooyyyyy" Sonya dan Iqbal menghampiri sahabat SMAnya itu dan memeluknya. Mereka bertiga bercanda gurau membuat mama meli ikut tertawa dan mereka ijin untuk mengobrol di cafetaria, mereka bertiga ingin bernostalgia saat menjadi trio kwek kwek. Anya menemani mama meli di kamar karena tidak ingin mengganggu trio kwek kwek bernostalgia. Mama Meli tertidur setelah minum obat dari dokter dan Anya duduk di sofa dekat bed tempat mamanya beristirahat.
tok tok tok..
Pintu kamar inap terbuka, betapa kagetnya Anya melihat yang ada di balik pintu. Anya melangkah setengah berlari sambil berjinjit agar tak menimbulkan suara, menuju ke arah pintu.
Yoga hendak masuk, tapi tangan Anya mendarat di dada Yoga dan mendorong keluar sebelum sempat masuk kamar.
"Sssttt mama lagi tidur" Ucap Anya sambil berbisik. Posisi mereka begitu dekat, Yoga menatapnya lekat dan melihat ke arah tangan Anya yang masih mendarat di dadanya. Anya menyadari.
"Eehh sori" Anya salah tingkah.
"Aku yang harusnya minta maaf, aku gak tau kalau tante lagi istirahat"
"Ngapain kesini?" Anya tetap berbisik. Posisi mereka yang sangat dekat tidak berubah sedikitpun, entah siapa yang enggan menjauh. Sampai ada perawat yang melewati mereka barulah mereka tersadar dan saling melompat menjauh bersamaan. Anya makin salah tingkah, Yoga menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Kakak ngapain kesini?"
"Eemmmhhh, anu itu.. Mau ngomongin desain"
"Haaah? Harus sekarang banget ya?"
"I-iyaaa.. Keburu lupa takutnya"
"Yaudah kakak duduk disitu aja dulu, Anya ambil sketchbook sama notebook dulu di dalam" Anya menunjuk kursi panjang di lorong rumah sakit.
Yoga menjelaskan beberapa desain yang hanya asal saja di pikirannya. Sebenarnya rasa penasarannya tentang Boy dan Anya yang membawanya sampai rela datang ke rumah sakit.
"Eemhh, kamu sendiri aja jagain tante?" Yoga mengalihkan pembicaraan.
"Enggak sih, tadi ada kak Sonya, kak Iqbal sama kak Boy"
"Ooohhh"
"Emmmhh, Nya"
"Iya"
Anya menjawab dengan sambil menatap sketchbook dan mencoret-coretnya.
"Soal permintaan mama kamu kemarin gimana?"
"Ooohhh.. Iya masih proses kak. Nanti Anya coba ngobrol ke kak Boy kalau udah ada waktu yang pas"
"BOY???" Yoga terbelalak. Anya kaget dengan respon Yoga yang kaget dan sedikit berteriak.
"Sssttt.. Ini rumah sakit kak" Anya mendekatkan jari telunjuknya ke depan bibirnya.
"I-iya sori. Emang apa hubungannya sama Boy? ngapain mesti ngobrolin ke dia dulu?" Yoga makin kepo.
"Anya sih rencananya mau minta tolong kak Boy, entah cariin pacar atau siapa tau kak Boy mau jadi calon pacar" Jawab Anya enteng.
"GAK BISA DOOONG!!" Yoga kembali berteriak.
"Kakak, apaan sih kok teriak-teriak mulu dari tadi" Anya mendelik sambil berbisik.
"Emang kenapa gak bisa?"
"Ya itu anuuu emmhhh, si Boy itu lagi deketin adikku. Ya kasian adikku kalau dimainin sama tuh playboy" Kilah Yoga.
"Ooohhh, yaudah ntar aku minta tolong cariin pacar aja kalau gitu. Temen kak Boy kan pasti banyak, atau mungkin adik tingkatnya di kepolisian"
"GAK BISAAAA"
"Kakaaaakkk iiiihhh, apaan sih kok dari tadi teriak-teriak" Anya semakin emosi tapi tetep mengendalikan volume suaranya.
"Gak bisa dek, polisi baru itu pasti sibuk. Sama senior dilarang pacar-pacaran dulu"
"Emang gitu yah?" Tanya Anya dengan polosnya.
"Hmmm terus gimana yah?" Anya memutar bola matanya dan berpikir.
"Kalau aku bantuin gimana?"
"Maksud kakak?"
"Iya aku bisa jadi calon pacar kamu, kamu bisa bilang gitu ke mama kamu. bisa bilang kalau kita lagi dekat atau masa penjejakan."
"Tapi kita kan gak pendekatan kak, malah cuma hubungan kerja doang"
"Iya anggep aja aku cuma pengen bantuin partner kerja aku, biar gak ganggu desain yang aku pengenin" Yoga berusaha mencari alasan senatural mungkin.
"Asal kamu jangan sampai jatuh cinta beneran sama aku" Lanjut Yoga dengan pedenya.
"Iiihhhh, siapa juga. Kakak kali yang nanti jatuh cinta sama Anya. Yaudah deaaalll, Anya terima bantuan kakak" Anya menyodorkan tangannya.
"Deaalll"
Yoga tersenyum bahagia, strateginya berhasil. Ia membenarkan kata Anya, mungkin bisa jadi nanti Ia yang akan benar-benar jatuh cinta pada Anya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Lili Suryani Yahya
Dasar sok cuek
2022-11-15
0
HARTIN MARLIN
keren 👍👍 ceritanya
2022-09-12
0
Bonita Trisnawati
up up
2022-08-15
1