Perjodohan

Pagi hari Yoga menjemput Anya di rumahnya. Yoga bahagia sepanjang perjalanan, walaupun Ia tau Anya pasti semakin jutek padanya. Tapi yang terpenting adalah mencegah kedekatan Anya dan Eka. Masalah hati Anya, dia akan mencoba melakukan yang terbaik untuk mendapatkannya.

Anya sudah bersiap karena Mama Meli yang tau rencana Yoga akan mengajak Anya keluar tidak berhenti membangunkan Anya yang ingin sekali rebahan.

"Pagi.." Yoga menyapa Anya dengan senyum sumringah. Anya tetap dengan mode juteknya.

"Udah aah ayok cepetan." Anya memanyunkan bibirnya. Ia memasang airpods dan memejamkan matanya.

Sesampainya di pembangunan rumah Yoga, terlihat pengurukan dilakukan dan sudah ada pembangunan pondasi. Anya berkeliling melihatnya untuk memastikan pondasi yang dipasang sudah sesuai dengan desain yang Ia buat. Setelah selesai mereka berdua beristirahat di mobil sejenak.

"Nanti untuk interiornya gimana? Mau konsep seperti apa?" Tanya Anya.

"Terserah kamu aja." Anya mengernyitkan dahi.

"Ya kan interiornya sesuai keinginan yang punya rumah kak. Kalau sesuai keinginanku aku kasih konsep hello kitty semua mau? Serba pink gitu."

"Gak papa." Yoga tersenyum.

"Seriusan kak. Biar Anya bisa mikirin konsepnya sekalian."

"Beneran terserah kamu Anya sayaaang. Itu kan nanti rumah kita berdua." Ucap Yoga dengan penuh keyakinan.

"Apaan sih kak. Udah deh pura-puranya. Cukup pura-puranya di depan mama aja." Anya memalingkan wajahnya ke arah kaca dan memikirkan desain interior yang sekiranya cocok dengan karakter Yoga.

"Aku gak pura-pura Anya." Yoga menggenggam tangan Anya membuatnya tersentak kaget dan menoleh ke arah Yoga.

"Kamu boleh pura-pura di depan mama. Tapi aku gak pura-pura. Aku akan berusaha jagain kamu seperti yang sudah aku bilang ke mama kamu."

Hati Anya berdebar namun dengan sadar Ia langsung menepis tangan Yoga.

"Apaan sih kak. Gak jelas banget." Yoga tersenyum melihat reaksi Anya yang salah tingkah.

"Udah aah ayok balik cepetan."

"Makan dulu yah. Pliis."

"Ih kakak nih emang kok. Yaudah terserah."

Mobil Yoga berlalu menuju resto. Yoga memilih tempat yang private agar bisa bebas mengobrol dengan Anya. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan mumpung bisa berdua dengan Anya tanpa gangguan siapapun.

Anya dan Yoga menikmati makanan yang sudah terhidang di atas meja. Anya makan dengan lahap seperti anak kecil yang membuatnya belepotan.

"Kayak anak kecil banget makannya. Atau modus pengen dilapin yah." Goda Yoga sambil mengelap bibir Anya dengan tisu. Anya terkaget.

"Yee ngapain modusin kakak. Namanya orang makan ya wajarlah belepotan kak." Anya tidak mau kalah.

"Tapi kalau belepotannya begitu kan bikin aku jadi pengen.."

"Pengen apa kak?"

"Pengen.. aah lupain aja. Udah makan lagi sana."

"Gak jelas deh iih."

***

Sonya menikmati udara pagi yang sejuk di villa. Perasaannya kini sudah lebih tenang.

"Non, mau sarapan apa?"

"Nasi kuning enak kayaknya bi."

"Siap non."

Sonya memberikan selembar uang ratusan ribu pada Bi Darti.

"Beli tiga sekalian bi, buat bibi sama kang ujang."

"Terima kasih non."

Tak berselang lama Bi Darti membawakan nasi kuning request dari Sonya.

"Bi, temenin Sonya makan sini yuk." Bi Darti duduk di kursi sebelah Sonya menuruti keinginannya.

"Non lagi galau yah?" Bi Darti memberanikan diri bertanya.

"Hm, bisa dibilang begitu sih bi."

"Kalau ada masalah, dibicarakan saja non. Dulu waktu bibi masih muda juga sering gitu ngambek sama kang ujang, eeh setelah kang ujang ngerayu yah bibi luluh lagi."

"Haha gitu yah bi." Sonya lebih memilih memendam ceritanya agar bisa cepat melupakan Ezza.

Siang hari Sonya bersiap untuk kembali ke rumah. Besok Ia sudah kembali bekerja dan tentunya Ia harus mengikhlaskan semua perasaannya pada Ezza. Sonya berpamitan dengan Bi Darti dan bergegas pulang.

Sesampainya dirumah Sonya disambut Mama Meli.

"Pasti capek yah, seminar kemana sayang?"

"Emmh seminar ke bandung ma." Sonya berkilah.

"Ma, Sonya mau ngomong sesuatu."

"Apa sayang?"

Mama Meli dan Sonya duduk di ruang keluarga.

"Ma, Sonya mau nurut sama mama. Sonya mau menerima perjodohan sama anak temen mama."

"Beneran nak?"

Sonya mengangguk. Hatinya berat, namun cepat atau lambat hal ini akan tetap Ia perbincangkan dengan mamanya. Biarlah waktu yang menyembuhkan lukanya.

"Yaudah kalau gitu mama hubungi teman mama dulu."

"Iya ma, Sonya istirahat dulu yah ma."

Sonya merebahkan tubuhnya di kasur. Ia sudah berusaha ikhlas melepaskan Ezza yang bahkan belum sempat Ia genggam dari hatinya. Bulir air dari sudut matanya menetes. "Ini yang terakhir Sonya plis. Rasa cinta ini harus aku kubur dalam-dalam." Batin Sonya.

***

Anya bergegas ke kantin di pagi hari untuk mencari Ika, Mela dan Oki.

"Ada apaan ini kok pagi-pagi ngumpul disini?"

"Nih temen lu galau."

Oki terdiam dan duduk sambil menopang dagunya.

"Kok masih galau Ki? Bukannya lu kemarin dari Jogja yah?" tanya Anya sambil duduk di kursi yang kosong dekat Mela.

"Iya, tapi gue gak ketemu cewek gue."

"Lah, kok bisa?" Mela menimpali.

"Dia keluar sama cowok lain." Oki menatap kosong keluar jendela.

"Lu yakin? Jangan suudzon dulu dong. Harusnya lu obrolin itu siapa." Ika ikut menimpali.

Oki menghela nafas panjang.

"Pas disana, rencana gue mau kasih dia surprise. Sampai dikosan dia, gue yang dibikin kaget. Ada cowok yang jemput dia, bahkan pakaian yang dia pakai, gak pernah gue liat dia pakai pakaian terbuka kurang bahan begitu. Belum lagi dia sama cowok itu pelukan dan ciuman."

"Positif thinking dulu Ki. Kalau itu saudaranya gimana?" Anya menenangkan Oki.

"Saudara tapi ke hotel Nya? Gue ikutin mereka kemana, dan mereka pergi ke hotel." Oki mengusap rambutnya kasar.

"Terus rencana lu gimana Ki?"

"Iya gue bakal putusin dia."

Mela, Ika dan Anya hanya bisa terdiam. Ika yang disebelah Oki hanya bisa menepuk-nepuk pundaknya untuk menenangkan emosinya.

***

Anya ke ruangan dosen untuk mencari dosen pembimbingnya. Ada hal yang ingin Ia diskusikan tentang proposalnya. Namun masih tidak terlihat batang hidung dosen pembimbingnya. Anya mencoba menghubungi dosen tersebut, sayangnya Anya harus menunggu satu jam lagi karena ada rapat dadakan dengan petinggi kampus. Anya yang malas untuk mondar mandir memilih menunggu di sofa depan ruangan dosen dan bermain handphone.

Ezza hendak menuju ruangannya, Ia melihat Anya duduk di sofa.

"Anya, bisa bicara diruangan saya sebentar?"

Anya melihat Ezza berbicara padanya.

"Iya pak." Anya mengikuti Ezza menuju ruangannya.

"Silakan duduk."

"Makasih pak. Ada apa pak?" Walaupun Ezza adalah dosen Anya, tapi Anya tidak pernah mendapat mata kuliah Ezza karena sudah lebih dahulu diisi oleh senior-senior yang ingin cari perhatian oleh Ezza. Anya lebih memilih pasrah siapapun dosen yang mengajarnya, karena asalkan Ia tetap belajar Ia akan mendapat nilai yang baik tidak peduli siapa yang mengajar.

"Saya mau bicara tentang kakak kamu. Sepertinya ada kesalahpahaman antara kami."

"Maaf pak, saya tidak ingin ikut campur. Tapi saya juga tidak ingin kakak saya tersakiti."

"Saya tidak ingin menyakiti Sonya, saya benar-benar tulus dengannya."

"Tulus? Tapi kondisinya bapak sudah menikah Pak. Wanita mana yang tidak sakit hati kalau kenyataannya dia cuma dijadikan yang kedua."

"Itulah kesalahpahamannya Anya, makanya saya ingin jelaskan semuanya. Saya sudah berkali-kali mencoba menghubungi Sonya, tapi dia sudah memblokir nomor saya. Di rumah sakit saya juga tidak bisa temui dia."

"Kesalahpahan seperti apapun, tidak mungkin membuat kak Sonya mau menghancurkan hati wanita lain pak. Kakak saya lebih memilih pergi dan merasakan sakit hatinya seorang diri."

"Anya, tidak ada hati yang tersakiti jika saya dekat dengan Sonya. Saya memang pernah menikah 3 tahun lalu. Tapi saya sudah berpisah."

"Ma maksud bapak? Bapak cerai gitu? Karena kak Sonya?"

"Saya sudah berpisah lama dan bukan karena Sonya. Saya sudah bermaksud menjelaskan semuanya ke kakak kamu, tapi saya takut Sonya tidak bisa menerima keadaan saya yang pernah menikah."

"Hah? Beneran pak? Tapi gimana yah pak." Anya kebingungan.

"Gimana apanya?"

"Iya gimana emm ngomongnya ke bapak."

"Iya tentang apa?"

"Emm kak Sonya, terlanjur menerima perjodohan dari mama pak."

"Apaaa?" Anya mengangguk bersalah. Sedikit banyak Ia yang membuat Sonya dan Ezza merenggang. Harusnya Ia terlebih dahulu bertanya tentang kebenarannya, bukan malah asal cerita ke kakaknya. Ezza tertunduk sambil mengusap wajahnya kasar.

"Maafin saya pak, saya yang cerita kalau bapak sudah menikah. Saya sempat mendengar cerita itu waktu saya maba. Saya tidak tau kalau bapak sudah bercerai."

"Iya Anya, yang terpenting sekarang saya harus menjelaskan semua hal ini ke Sonya. Soal siapa yang nantinya dipilih urusan belakangan. Tolong bantu saya agar saya bisa menjelaskan ke Sonya semua ini."

"I iya pak, saya akan coba bantu."

Mereka berdua menyusun rencana agar bisa menjelaskan semuanya pada Sonya sebelum terlambat.

***

Keesokan harinya Anya menjalankan rencana yang sudah Ia susun dengan Ezza sebelumnya. Anya meminta berangkat bersama dengan Sonya. Ia beralasan nanti akan pulang dengan Mela, sehingga tidak perlu membawa mobil. Ia juga menawarkan diri menyetir mobil.

"Sini kak, gue aja yang nyetir. Lu kan pasti capek."

"Tumben lu. Kesambet apaan."

"Yeee giliran nawarin diri buat nyetir malah diledekin."

"Haha iya iya nih kuncinya. Gue mau molor."

Mobil Sonya melaju kencang menuju kampus Anya. Namun, sebelum sampai di kampus Anya malah menghentikan mobilnya di pinggir jalan dekat supermarket.

"Bentar yah kak, gue mau beli sesuatu."

"Hmm, cepetan."

Anya bergegas turun. Sonya memejamkan matanya kembali. Tiba-tiba ada yang masuk kembali ke dalam mobil.

"Cepet amat.." Sonya terkaget mendapati Ezza yang masuk ke dalam kursi kemudi. Ezza menekan tombol lock agar Sonya tidak turun untuk menghindarinya.

"Mau apa lagi Ezza?" Sonya membuang muka.

"Sonya, kamu salah paham. Kemarin aku sudah tau semuanya dari Anya."

"Salah paham apa lagi?"

"Aku memang pernah menikah."

Sonya tersenyum kecut.

"Tapi kami sudah berpisah." Sonya terkaget dengan penuturan Ezza.

"Tiga tahun lalu aku pernah memang pernah menikah, tapi jauh sebelum kita kenal aku sudah berpisah."

"Awalnya aku ingin bicara hal ini sama kamu, tapi aku ragu. Aku takut kamu gak bisa nerima keadaanku. Tapi justru karena ketidakjujuranku membuat semua jadi seperti ini. Maafkan aku Sonya." Sonya menatap Ezza yang meminta maaf dengan tulus.

"Aku ingin kita seperti dulu, sepertinya aku suka sama kamu." Ezza melanjutkan ucapannya yang semakin membuat Sonya terdiam. Ia bingung harus menjawab apa. Sedangkan disisi lain dia sudah setuju dengan perjodohan dari mamanya.

"Ezza, maafin aku." Sonya menunduk.

"Perjodohan?" Ezza menebak.

Sonya mengangkat kepalanya karena Ezza paham apa yang dia pikirkan.

"Aku cuma ingin menjelaskan semua sama kamu, termasuk perasaanku. Sisanya aku serahkan ke kamu Sonya. Kamu yang berhak menentukan semuanya."

Sonya mengangguk.

"Maafin aku Ezza, aki gak pingin buat mama aku kecewa dan drop lagi." Ezza mengangguk dan tersenyum tipis.

"Iya aku paham Sonya. Mungkin aku yang salah selama ini harusnya aku memulai semuanya dengan kejujuran."

Sonya hanya menatap Ezza.

"Aku pamit yah, besok-besok kalau kita gak sengaja bertemu jangan ragu buat sapa aku." Ezza berpamitan dan turun dari mobil.

Ezza menghela nafas panjang. Terlihat matanya merah, menahan kesedihan. Ia berjalan melewati Anya yang menunggu dengan raut bertanya-tanya.

"Makasih Anya, sudah bantu saya untuk menjelaskan semuanya. Tolong jaga Sonya. Saya hanya ingin dia bahagia." Ezza melangkah menuju mobilnya dan melaju meninggalkan Anya yang terdiam melihat kepergiannya.

Anya bergegas masuk ke mobil melihat kakaknya. Sonya menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangisnya pecah, Ia bahagia mendengar penjelasan Ezza, namun Ia juga menyesali kini sudah terikat perjodohan. Mungkin bisa dengan mudah Ia bilang ke mama Meli untuk tidak jadi dijodohkan. Namun sikap egoisnya bisa membuat mamanya kecewa dan sakit. Sonya benar-benar bingung harus bagaimana. Mungkin hanya pasrah adalah jalan yang baik untuk nantinya takdir membawanya pada jodoh yang telah ditetapkan.

"Kak, are you okay?" Anya bertanya dengan hati-hati.

Cukup lama Sonya terisak. Anya menunggu dengan sabar kakaknya mencurahkan perasaannya hingga bisa membuatnya tenang.

Beberapa menit kemudian Sonya mengangkat wajahnya, menyeka airmatanya dengan tisu. Ia menoleh ke arah Anya dan tersenyum.

"I'm okay dek. Makasih lu udah bantuin Ezza jelasin yang sebenarnya. Setidaknya gue lega, gue tau Ezza benar-benar lelaki yang baik. Dia tidak mendekati gue disaat terikat dengan wanita lain."

"Kalau kakak memang suka pak Ezza, ungkapin kak. Kalian berhak bahagia." Bujuk Anya sambil menggenggam tangan Sonya. Sonya menggeleng.

"Sudah tidak semudah itu dek. Kakak sudah terlanjur menerima perjodohan dari mama."

"Kakak bisa bilang ke mama kalau kakak sudah punya pacar dan gak jadi dijodohin."

"Gak bisa dek, mama pasti kecewa. Belum juga nama baik mama didepan temannya akan rusak. Kalaupun aku tiba-tiba bilang begitu, tidak ada jaminan Ezza mau langsung aku ajak serius dek." Jawab Sonya panjang lebar. Sonya memang selalu memikirkan jangka panjang saat membuat keputusan.

"Tapi kak. Gak seharusnya semua berakhir begini kak. Semua karena Anya. Maafin Anya kak. huhu." Anya ikut sedih dan bersalah atas hal yang menimpa kakaknya.

"No.. itu bukan salah lu. Memang aku dan Ezza tidak ditakdirkan bersama." Sonya memaksakan senyum untuk menenangkan hati Anya. Kedua kakak adik itu berpelukan.

Terpopuler

Comments

keyla safira

keyla safira

semangat thoor doubel up donk tiap hari👍👍👍

2022-08-24

1

lihat semua
Episodes
1 What A Day?
2 Salah Tangkap
3 Pantang Menyerah
4 Keinginan Mama Meli
5 Ide cemerlang
6 Dasar Lelaki
7 Bantuan Si Boy
8 Kejujuran yang Tertunda
9 Egois
10 Gosip
11 Hati yang Patah
12 Rencana Gila
13 Perjodohan
14 Posesif
15 Andre
16 Apakah Ini Rindu?
17 Kembali
18 Playboy
19 Kenyataan
20 Kejujuran
21 Pengakuan
22 Pacaran Beneran
23 Cemas
24 Panggilan Sayang
25 Sesuatu Tersembunyi
26 Keberanian Gista
27 Cemburu
28 Pengorbanan
29 Dalang dibalik penyerangan
30 Kepulangan Yoga
31 Lamaran
32 Keseriusan Ezza
33 Ciuman pertama
34 LDR lagi
35 Kamu cantik malam ini
36 Kehilangan
37 Menjauh demi Kebaikan
38 Kecewa
39 Bucin Akut
40 Persiapan Pernikahan
41 Mabuk
42 Seleksi Alam
43 Bidadari
44 Kesepian
45 Tua Bangka
46 Diapelin
47 Permintaan Maaf
48 Tanggung jawab
49 Berpisah
50 Kepingan Puzzle
51 Pembuktian
52 Terungkap
53 Terbongkar
54 Pegawai Baru
55 Kesempatan kedua
56 Blunder
57 Penyesalan
58 Hari Pernikahan
59 Malam Pertama
60 Ungkapan Perasaan
61 Kehadiran
62 Pesaing
63 Niat Busuk
64 Memberontak
65 Berusaha
66 Lulus
67 Hamil
68 Kabar Gembira
69 Pelukan
70 Papa dan Mama
71 Pamit
72 Terpukul
73 Lebih Aman
74 Kewajiban
75 Menjaga Perasaan
76 Handphone baru
77 Opname
78 Berdegup
79 Berbeda
80 Pertikaian
81 Perasaan Mela
82 Salah Tingkah
83 Status baru
84 Tiga serangkai
85 Malaikat kecil
86 Be Strong
87 Membangun keluarga
88 Rambut baru
89 Memperbaiki masa lalu
90 Ikatan batin
91 Terjebak di Lift
92 hormon
Episodes

Updated 92 Episodes

1
What A Day?
2
Salah Tangkap
3
Pantang Menyerah
4
Keinginan Mama Meli
5
Ide cemerlang
6
Dasar Lelaki
7
Bantuan Si Boy
8
Kejujuran yang Tertunda
9
Egois
10
Gosip
11
Hati yang Patah
12
Rencana Gila
13
Perjodohan
14
Posesif
15
Andre
16
Apakah Ini Rindu?
17
Kembali
18
Playboy
19
Kenyataan
20
Kejujuran
21
Pengakuan
22
Pacaran Beneran
23
Cemas
24
Panggilan Sayang
25
Sesuatu Tersembunyi
26
Keberanian Gista
27
Cemburu
28
Pengorbanan
29
Dalang dibalik penyerangan
30
Kepulangan Yoga
31
Lamaran
32
Keseriusan Ezza
33
Ciuman pertama
34
LDR lagi
35
Kamu cantik malam ini
36
Kehilangan
37
Menjauh demi Kebaikan
38
Kecewa
39
Bucin Akut
40
Persiapan Pernikahan
41
Mabuk
42
Seleksi Alam
43
Bidadari
44
Kesepian
45
Tua Bangka
46
Diapelin
47
Permintaan Maaf
48
Tanggung jawab
49
Berpisah
50
Kepingan Puzzle
51
Pembuktian
52
Terungkap
53
Terbongkar
54
Pegawai Baru
55
Kesempatan kedua
56
Blunder
57
Penyesalan
58
Hari Pernikahan
59
Malam Pertama
60
Ungkapan Perasaan
61
Kehadiran
62
Pesaing
63
Niat Busuk
64
Memberontak
65
Berusaha
66
Lulus
67
Hamil
68
Kabar Gembira
69
Pelukan
70
Papa dan Mama
71
Pamit
72
Terpukul
73
Lebih Aman
74
Kewajiban
75
Menjaga Perasaan
76
Handphone baru
77
Opname
78
Berdegup
79
Berbeda
80
Pertikaian
81
Perasaan Mela
82
Salah Tingkah
83
Status baru
84
Tiga serangkai
85
Malaikat kecil
86
Be Strong
87
Membangun keluarga
88
Rambut baru
89
Memperbaiki masa lalu
90
Ikatan batin
91
Terjebak di Lift
92
hormon

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!