Sudah dua hari Yoga tidak bertemu Anya. Baru hari minggu kemarin mereka bertemu, namun sekarang Yoga ingin melihat wajah cantik Anya. Ia memutuskan untuk mencari Anya dirumahnya, karena masih pagi mungkin saja Anya belum berangkat ke kampus.
Mobil Yoga meluncur ke rumah Anya. Ia melihat mobil Anya masih terparkir dirumahnya. Ia tersenyum sendiri mengira sang pujaannya masih dirumah. Ia bergegas turun dari mobilnya dan mengetuk pintu rumah yang bercat putih.
"Permisi"
"Iya, cari siapa?" Bi Yuni membuka pintu.
"Anya ada bi?"
"Non Anya udah berangkat mas dari tadi."
"Ooh, gak bawa mobil yah bi?"
"Enggak mas, tadi berangkat sama non Sonya." Yoga mengangguk dan kembali berangkat ke kantor.
Yoga berinisiatif nanti menjemput Anya pulang kuliah agar bisa mengenal satu sama lain tentunya.
***
Ika berjalan menuruni gedung kuliahnya, Ia ingin ke kantin untuk membeli air mineral. Teman-temannya sudah memahami bahwa Ika harus selalu mengonsumsi air mineral yang cukup karena ginjalnya yang pernah bermasalah. Namun belum sampai kantin Ia melihat Eric sedang mengobrol dengan wanita yang cantik dan terlihat akrab. Sesekali terlihat mereka tertawa bersama. "Hmm, dasar playboy." Gumam Ika.
Eric melihat Ika sekilas. Ika melanjutkan langkahnya. Saat mendekati kantin, Eric menarik tangannya.
"Kak Eric? Ada apaan kak?"
"Nih buat kamu." Eric menyodorkan botol air mineral di tangannya.
"Kok tau gue mau beli air mineral?" Ika terheran.
"Ya tau dong. Eric gitu loh. Udah banyakin minum, biar selalu sehat."
"Iya iya." Ika membuka botol dan meminumnya.
"Itu tadi temen sejurusan aku. Kita dulu se SMA dan dia infoin bakal ada reuni." Eric membuka percakapan kembali.
Ika manggut-manggut.
"Gue gak nanya kok, ngapain dijelasin coba."
"Iya biar gak cemburu dan salah paham aja."
"Siapa yang cemburu atau salah paham coba. Dijelasin gak dijelasin juga gak ngaruh." Protes Ika.
"Kan lebih baik mencegah dari pada mengobati."
"Maksudnya?"
"Iya lebih baik mencegah kecemburuan daripada mengobati kecemburuan. Makanya mending gue jelasin aja."
"Emang susah kalau lawan playboy kelas kakap. Pinter amat kalau ngomong."
"Siapa yang playboy?" Protes Eric.
"Ya kakak lah. Semua juga tau kalau kak Eric tuh playboy."
"Yee itu fitnah tau. Cewek cewek yang pada ngejar kok. Gue kan cuma mau bikin mereka bahagia dengan menyambut perasaan mereka."
"Sama aja dong. Niatnya udah mainin perasaan, gak serius."
"Gak mainin Ika. Cuma pengen mereka bahagia. Setelah dicoba dan gue gak bisa balas perasaan mereka ya gue jelasin baik-baik."
"Buat cewek kok coba-coba. Dasar playboy." Ika hendak meninggalkan Eric.
"Eeh tunggu, mau kemana?"
"Balik lah ke jurusan." Ika menunjuk gedung jurusannya.
"Ini gak gratis loh." Eric menunjuk botol air mineral di tangan Ika.
"Iya iya, berapa? Sini gue bayar." Ika membuka dompetnya.
"Bayarnya gak boleh pake duit."
"Terus pake apaan? Pake daun?" Eric menggeleng.
"Hmm bayarannya, nanti pulang bareng gue. lu selesai kuliah jam berapa?"
"Sore kak."
"Oke, tunggu di depan gedung. Bye." Eric pergi dengan mengusap kepala Ika.
"Sungguh pesona playboy memang. Kuat Ikaaa. Jangan tergoda." Batin Ika.
***
Mela dan Anya menunggu Ika yang tak kunjung kembali di kelas. Anya mengingat kalau Ia hendak bareng pulang Mela nanti sore.
"Mel, gue nebeng pulang yah? Gue gak bawa mobil." Pinta Anya sambil memajukan bibirnya.
"Yaaah Nya, gue juga gak bawa mobil. Gue nanti dijemput Vico. Mumpung masih deketan, belum jadi pejuang LDR."
"Yaaah, pulang bareng siapa dong gue."
"Sama Oki coba."
"Oki pulangnya malem, tadi gue udah coba nanya. Yaudah deh gue nanti naik taxi online aja."
"Emang gak dijemput pak polisi Nya?" Tanya Mela antusias.
"Polisi siapa?" Tanya Anya pura-pura gak paham.
"Polisi yang kemarin ke sini. Dia nemuin kita pas di kantin buat nanyain lu lagi dimana."
"Haah? Masa iya?"
"Dia naksir kayaknya sama lu, mana ganteng lagi. Sikat Nya." Mela terkekeh.
"Gila lu, semua cowok aja disikat. Gue gak siap pacaran-pacaran gitu."
"Kenapa gak siap? Takut patah hati?"
"Mungkin. Gue juga bingung kenapa kok selalu ada tembok di hati gue Mel."
"Coba buka hati lu, Anya. Lupain masa lalu yang ngebuat lu takut. Gue sama kayak lu, bedanya gue dengan ketakutan itu jadi sering gonta ganti pacar tanpa mau ada perasaan yang dalam. Tapi setelah ketemu Vico, kesabarannya nanggepin gue bikin gue luluh dan gak bisa kehilangan dia." Anya manggut-manggut.
"Gue gak siap sakit hati aja Mel, kayak nyokap pas ditinggal bokap dulu. Masih inget banget gimana depresinya nyokap tiap hari nangis dan gue yang anak kecil waktu itu gak bisa berbuat apa-apa. Kemarin pas gue liat kak Sonya makin bikin gue takut." Mela memahami yang dirasakan sahabatnya.
"Kadang kalau lu udah jatuh cinta, keberanian untuk menanggung resiko sakit hati itu bakal lu temuin kok. Karena lu lebih memilih kesempatan bersama orang yang lu sayang daripada sendiri tapi bikin merana. Let it flow aja, kalau tuh polisi emang suka sama lu, pasti nantinya bakal berjuang. Asal jangan lu tutup terus tuh hati." Mela menunjuk dada Anya.
"Iyaaa, gue bakal berusaha buka hati buat laki-laki yang tepat nantinya."
"Uuuuwwwhh tayang-tayang." Kedua sahabat itu berpelukan di kelas.
"Ikutan dong." Oki tiba-tiba muncul.
"Apaan sih. Sana-sana lu gak diajak ngerti, lu bukan circle kita." Mela bercanda dengan gaya mengusir Oki. Mereka bertiga tertawa bersama.
***
Eka selesai dengan pelatihannya. Ia teringat janjinya dengan Anya yang dibatalkan oleh Anya karena ada urusan lain. Eka terpikir untuk menemui Anya di kampus. Eka memutuskan menghubungi Anya.
"Halo Anya."
"Halo Eka."
"Kamu lagi apa?"
"Lagi di kampus. Kamu sendiri?"
"Aku juga baru selesai pelatihan. Kamu selesai kuliah jam berapa?"
"Sore mungkin. Kenapa?"
"Aku jemput yah. Pliss."
"Hmm, i iya deh. Kalau gak ngerepotin ya gak papa."
"Gak ngerepotin kok. Tunggu yah nanti. Bye."
"Bye."
Eka bahagia, Ia segera bersiap-siap untuk menjemput Anya. Entah kenapa setelah perkenalan dengan Anya pertama kali, Ia merasa Anya adalah wanita yang Ia cari. Eka memang pernah merasakan cinta monyet ketika duduk di bangku SMA. Namun, semua sudah berakhir dan berujung pertemanan. Ketika memasuki pendidikan kepolisian dia lebih memilih fokus. Ia tidak menyangka pertemuan dengan Anya membuatnya tertarik dan tidak lepas dari memikirkan Anya.
Saat hari menjelang sore Eka memutuskan segera meluncur ke kampus Anya. Ia tidak ingin membuat Anya menunggu, lebih baik pria yang menunggu dari pada wanita.
Eka sampai di kampus Anya dan memarkir mobil di depan gedung. Ia turun dan menunggu di depan gedung kuliah Anya, setelah itu Ia mengirim pesan singkat ke Anya bahwa Ia sudah di depan gedung kuliahnya. Tak berselang lama Anya selesai mengikuti kelas dan menghampiri Eka yang menunggunya.
"Lama nunggunya?"
"Enggak kok, barusan malah." Jawab Eka sambil menggeleng.
"Yaudah yuk."
"Yuk."
"Makan dulu yuk sebelum pulang?"
"Boleh." Anya menyetujui.
Mereka berjalan beriringan menuju mobil Eka yang terparkir di depan gedung. Saat hendak masuk ke dalam mobil Eka, seseorang menarik tangan Anya.
"Aaakhhh. Apaan sih." Anya berusaha melepaskan. Eka terkaget melihat seniornya.
"Ikut aku."
"Ngapain? Lepasin. Aku udah ada janji sama Eka."
"Tapi pacar kamu ngelarang kamu keluar sama dia." Yoga menunjuk Eka.
"Pacar?" Eka terbelalak dengan ucapan Yoga.
"Apa apaan sih kak, siapa yang jadi pacar kamu. Lepasin."
"Aku bakal lepasin kalau kamu ikut aku."
"Apaan siiih." Anya melihat Eka dengan perasaan bersalah. Eka mengangguk dan tersenyum mengiyakan agar Anya pergi dengan Yoga.
"Sorry ya." Bisik Anya pada Eka.
"Ngapain maaf maaf, orang kamu gak salah kok." Yoga tetap menggandeng tangan Anya menuju mobilnya.
"Udah lepasin, aku bisa naik sendiri."
Di perjalanan Anya menekuk wajahnya.
"Jutek amat tuh muka." Yoga melirik Anya sekilas.
"Abisnya kakak, ngapain pake acara ke kampus segala. Bilang ke Eka kalau kita pacaran lagi. Kita itu gak pacaran kak."
"Bagi aku kita pacaran kok. Apalagi mama kamu udah restuin kan. Belum tentu kalau sama Eka kamu bakal direstui loh."
"Mama gak kayak gitu. Asal aku bahagia, pasti mama ngerestuin. Aku bisa bilang kalau kita emang gak cocok. GAK COCOK." Anya memalingkan wajahnya ke arah jendela.
"Tapi kesehatan mama kamu yang utama Anya." Yoga berkata tanpa menoleh.
Mereka sampai di depan rumah Anya.
"Lain kali gak usah jemput-jemput lagi. Aku bisa pulang sendiri." Anya melepas seatbelt.
"Enggak, aku gak bolehin kamu pulang sendiri kalau ujung-ujungnya cuma pulang sama cowok lain. Itu sama aja selingkuh."
"Selingkuh?" Anya mengernyitkan dahi.
"Kak, pacaran aja enggak gimana bisa selingkuh sih. Plis deh jangan ngeselin gini. Aku mau deket sama siapa aja, itu hak aku. Ngerti? Selama janur kuning belum melengkung, kakak gak punya hak apapun. APAPUN."
Yoga menarik tangan Anya.
"Kalau gitu kita bikin janur kuning melengkung untuk kita. Gimana?"
"Iiihhhh gak mauuuu. Udah lepasin. Aku mau turun. Byeee."
"Anyaaa.."
"Apaan lagi kakak?"
"Kamu cantik kalau ngomel-ngomel gitu." Anya terdiam pipinya tersipu.
"Apaan sih kak, gak jelas."
Anya turun dari mobil dan membanting pintu mobil dengan kencang meluapkan kekesalannya. Yoga membuka jendela pintu mobil.
"Anyaaa.."
"Apaan lagi kakak?" Anya menoleh semakin kesal.
"Jangan angkat telpon Eka." Anya mendelik melihat Yoga. Yoga menutup jendela dan mengendarai mobilnya yang meninggalkan Anya berdiri sendiri menahan kekesalannya.
Anya memasuki rumahnya. Ada Mama Meli yang juga baru sampai rumah dan menyiapkan makanan di meja makan.
"Sudah pulang nak?" Mama Meli melihat Anya baru datang.
"Iya ma."
"Diantar siapa nak?"
"Sama kak Yoga."
"Loh kok gak disuruh masuk nak? Kan bisa makan bareng kita."
"Hmm sibuk ma, kak Yoga banyak urusan. Lain kali Anya coba ajakin." Anya beralasan.
"Yaudah ayok makan dulu. Pasti laper kan."
"Iya ma." Anya makan bersama Mama Meli.
"Ma.."
"Apa sayang?"
"Mama setuju Anya sama kak Yoga?" Mama Meli menelan makanannya, terdiam sejenak dan berbicara.
"Mama setuju sayang. Yoga laki-laki yang bertanggung jawab. Kamu tau waktu dia salah tangkep kamu di kantor polisi dulu?" Anya manggut-manggut.
"Kamu udah keluar duluan dari ruangan. Waktu mama belum keluar, dia minta maaf ke mama atas kesalahannya waktu itu. Awalnya dia berniat minta maaf ke kamu, tapi mama tau kamu masih emosi. Jadi mama melarangnya."
"Iya kalau itu kan dia memang salah mama."
"Iya sayang, tapi laki-laki yang berani mengakui kesalahan itu adalah salah satu contoh laki-laki yang bertanggung jawab. Tapi tentunya mama ingin anak mama bahagia."
"Mama hanya menilai bahwa nak Yoga adalah laki-laki yang baik, yang bisa dengan sabar menerima keras kepalamu."
"Iya ma, makasih ya ma." Anya mencoba tersenyum. Ia tidak tega mengatakan bahwa sebenarnya Ia tidak ada hubungan apapun dengan Yoga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
keyla safira
up lagi thor
2022-08-27
0