Pantang Menyerah

"Boleh Saya bicara sambil duduk?" pinta Yoga tenang.

"Terserah" jawab Anya asal dan memutar bola mata malas menanggapi.

"Jadi gini, saya mau menjelaskan masalah kemarin. Sebenarnya semalam itu saya dan tim saya berencana untuk melakukan patroli di jalan Arjuno. Tetapi karena anda dan teman anda tiba-tiba.."

"Ciiihhhhhhh" Anya menatap mata Yoga dengan tajam membuat Yoga berhenti berkata-kata.

"Anda tidak pernah diajarin minta maaf kah? atau karena anda seorang polisi berpangkat seenaknya mengabaikan kesalahan anda sendiri? saya benar-benar tidak ada waktu bicara dengan orang se arogan anda" Anya berdiri dengan emosi. Bisa-bisanya lelaki ini datang dan bukannya kata maaf yang dia ucapkan malah ingin menjelaskan kronologi kejadian semalam, bagi Anya hal yang tidak perlu Ia dengar dan ingat kembali.

"Tunggu" Yoga menahan tangan Anya yang hendak pergi.

"Saya juga ingin minta maaf atas kejadian kemarin, atas ucapan saya yang kasar dan tidak mendengarkan penjelasan anda" jawab Yoga menatap mata Anya dengan tatapan teduh yang bisa membuat wanita auto mleyoot. Anya berusaha melepaskan tangan Yoga.

"Saya akan lakukan apa saja asal anda mau memaafkan saya" pinta Yoga.

"Kalau gitu jangan temui saya lagi, dan kalaupun kita tidak sengaja bertemu jangan pernah tegur saya. Saya akan maafkan. Jelas?"

"Jangan begitu, saya janji saya akan bersikap baik. Kalau syaratnya begitu apa bedanya dengan gak dimaafin, syarat lain plis. Saya antar pulang kek, atau saya traktir mungkin. gimana?" rayu Yoga membuat Anya sedikit kaget. Lelaki tegas yang kemarin ditemuinya juga punya sisi lain yang bisa merayu seperti ini.

"Gak perluuuu. saya bisa naik taxi online, saya punya uang buat makan. jadi gak perlu repot-repot om. permisi"

"Om?" Sekali lagi Yoga menarik tangan Anya yang hendak pergi.

"Iya om, udah jelas kalau anda jauuuh lebih tua dari saya. jadi gak masalah kan kalau di panggil om."

"Saya ini masih seumuran Boy. masa boy dipanggil kakak saya dipanggil om sih" protes Yoga.

"Ya suka suka saya dong. Situ ngatain saya wanita panggilan aja juga suka suka situ kan" jawab Anya dengan nada bergetar dan emosi mengingat ucapan Yoga semalam.

"Sa saya bener bener minta maaf atas ucapan saya semalam. saya menyesal, sangat menyesal. tolong maafkan saya" ucap Yoga dengan lembut.

"Saya pikirkan dulu, saya mau ada kuliah. permisi" Anya menjawab dengan suara lesu. Ia menahan airmata agar tidak tumpah didepan Yoga dan Yoga menyadarinya. Yoga membiarkan Anya berlalu dan memandangi punggung yang pergi menjauh. Yoga melihat di sudut meja ada sketchbook yang tertinggal, saat Ia membuka halaman depan terdapat nama yang ditulis dengan karikatur yang indah "Anya".

Yoga memberanikan diri membuka sketchbook itu dan terkesima dengan desain rumah yang digambar oleh Anya. Yoga tersenyum karena menemukan ide untuk bisa mendapatkan maaf dari Anya.

***

"Pagi Dokter Sonya yang cantiiikkk" sapa Iqbal masuk ke ruangan Sonya dan merebahkan tubuhnya di sofa.

"Hmmm pagi. Ini pasti ada maunya nih pasti muji-muji begitu"

"Traktir gue kopi pliiiisssss, gue ngantuk banget semalem abis jaga, abis ini praktek. mata gue udah lengket niiihhh"

"Yaudah okee, lu tunggu sini gue beliin kopi"

Sonya mengantri membeli kopi di kafetaria rumah sakit. Sesaat handphonenya berdering..

"Haloo.. "

"Iya haloo, siapa ini?"

"Ini saya yang mobilnya ditempelin nomor anda"

"Ooohhh iya mas, jadi tadi waktu parkir saya gak sengaja serempet mobil mas. Emmhhh, kalau untuk ganti rugi nanti mas bisa kirim billnya aja biar saya yang bayar perbaikannya. sekali lagi maaf yah mas"

"Kalau ketemuan dulu dan diomongin apa bisa mbak?"

"Hmm, bisa sih mas. sekarang saya ada di kafetaria. Masnya kerja di rumah sakit juga kah?"

"Saya segera kesana. saya pakai kemeja biru celana krem"

"Ooh baik, saya pakai kemeja merah rok hitam"

Setelah memesan kopi, Sonya memilih duduk di tempat yang agak tenang sembari menunggu pemilik mobil yang tadi tidak sengaja diserempet. Pagi tadi setelah mengantar Anya ke kampus dan bergegas ke rumah sakit, Sonya kaget parkiran rumah sakit khusus dokter sangat penuh. Biasanya Ia selalu datang terlalu pagi sehingga tidak menyangka jam segini parkiran akan penuh sekali. Setelah berputar-putar Sonya hanya menemukan tempat parkir paralel, sudah lama keahlian parkir paralel Sonya menguap yang berujung menyerempet mobil di depannya.

"Permisi.." Sonya berbalik melihat arah suara tersebut. Berdiri dihadapannya lelaki tampan dan gagah. Sonya mematung sejenak mengagumi ciptaan Tuhan yang sungguh indah di depannya.

"Eheemmm" Lelaki itu terbatuk membuat Sonya tersadar dari kekagumannya.

"Eeh iya, si silakan duduk" Jawab Sonya.

"Jadi gini, saya tadi gak sengaja nyerempet mobil mas karena buru-buru. Untuk ganti ruginya mas bisa sampaikan ke saya biar nanti saya yang bayar. bagaimana?" Sonya berkelit menyerempet karena buru-buru karena gengsi di hadapan cowok ganteng harus mengakui kegagalannya parkir paralel, bisa menurunkan harga diri.

"Saya Ezza, nama kamu siapa?" Tanya Ezza tidak menjawab pertanyaan Sonya.

"Saya Sonya, terus bagaimana?"

"Iya gampang mbak Sonya, saya bisa perbaiki dulu nanti ke bengkel langganan saya, dan.." Ezza mengambil handphone menekan tombol call. Sedetik kemudian handphone Sonya berdering.

"Itu nomor saya" Ucap Ezza tersenyum membuat Sonya berdegup. Sonya menyimpan nomor tersebut dan mengatur ritme jantung agar tetap nampak tenang.

"Mbak Sonya kerja disini?"

"Iya, saya dokter disini mas. Kalau Mas Ezza sendiri?" Sonya yang penasaran karena tidak pernah melihat dokter seperti Ezza setelah hampir 3 tahun bekerja.

"Saya dosen mbak, tapi karena ada proyek perbaikan paviliun rumah sakit, saya bertanggung jawab sebagai pengawas proyek"

"Dosen dimana?"

"Di universitas Bina Nusabakti"

Krriiiiingggg.. Handphone Ezza berdering.

"Baik Pak, saya segera kembali ke kampus"

"Sonya, saya ada urusan dan harus segera kembali ke kampus. Nanti kalau urusan bengkel sudah selesai saya akan infokan ke kamu. See you, nice to meet you" Pamit Ezza dengan senyum manis di wajahnya.

"Oohh oke, nice to meet you too"

Sonya kembali ke ruangan dan mencari Iqbal, sepupunya. Tapi tampaknya Ia sudah kembali ke ruangannya untuk praktek. Sonya duduk di sofa untuk menenangkan diri baru kali ini Sonya dibuat berdebar-debar oleh lelaki saat pertama kali bertemu.

"Eehh dia kan dosen di tempat Anya, coba tanya dia deeh" batin Sonya dan segera meraih handphonenya menelpon Anya.

"Aaah, gak diangkat. Kuliah kali dia" Batin Sonya.

***

"Lu balik sama siapa, Nya?" Tanya Oki saat mereka nongkrong di kantin.

"Sama taxi online mungkin, maunya sih tadi nebeng lu tapi lu balik malem. Gue agak trauma balik malem nih"

"Eehhh, tuh kayaknya nyariin lu lagi deh" Oki menunjuk ke arah lelaki yang masuk ke dalam kantin.

"Siapa?" Anya menoleh dan kaget melihat sosok yang tidak ingin dia lihat.

"Gue nyari Doni sama yang lain dulu yah. byeee"

"Eehhh kiiii, awas luuu"

Yoga melihat Oki meninggalkan kursinya dan seketika Ia mendekat ke meja Anya dan duduk dihadapan Anya.

"Haiii" Sapa Yoga yang tidak ditanggapin oleh Anya. Anya membuang muka ke samping sambil bersandar di kursi dan melipat kedua tangan di dada.

"Sudah selesai kuliahnya? Mau saya anter pulang? sebagai permintaan maaf saya"

"Gak usah terima kasih" jawab Anya singkat.

"Saya bener-bener minta maaf atas kejadian kemarin"

"Kalau gitu jangan temui saya lagi, pasti saya maafkan"

"Jangan begitu dong, pliiss. Saya siap antar kamu pulang, atau traktir kamu mungkin. Biar kamu mau maafin saya"

"Gak perlu repot-repot"

"Pliss, saya cuma pengen anter kamu pulang. Supaya aman dan selamat sampai rumah"

"Yang bikin saya gak aman kemarin kan ulah situ juga" Jawab Anya menohok.

"Iya saya tau, makanya saya minta maaf dan ingin mengantar kamu pulang"

"Gak usah, saya mau ambil mobil saya dibengkel dan langsung pulang SENDIRI" ucap Anya sambil menekankan kata sendiri.

"Hmmm, kalau gitu saya anterin ke bengkelnya gimana?" Bujuk Yoga.

"Saya bisa naik taxi online kok"

"Yasudah kalau gitu saya temenin sampai dapat taxi online gapapa?" Tanya Yoga pantang menyerah.

"Gini ya om, saya masih nunggu info dulu dari bengkel. Kalau mobilnya sudah bisa diambil nah baru deh saya berangkat kesana. Jadi kalau om nemenin saya, nanti bisa kelamaan dan bosen jadinya. Apalagi om kan polisi, pasti banyak urusan kan. Lagian nih, om ngapain dari tadi keliaran di kampus terus" Jawab Anya halus ingin mengusir Yoga secara tidak langsung yang mulai risih karena Yoga tak juga menyerah meminta maaf.

"Jadi jawaban pertanyaan pertama, saya hari ini sedang libur, jadi bisa bebas nemenin kamu nunggu. Lalu jawaban yang kedua, saya keliaran disini karena ... ini punya kamu kan?" Yoga menyerahkan sketchbook milik Anya.

"Saya mau balikin ini" Yoga menaruh buku itu di hadapan Anya.

"Oohh, iya makasih" Raut wajah Anya kaget karena tadi mencari buku itu dan Ia kira tertinggal di rumah.

Oh iya saya tadi gak sengaja lihat gambaran kamu.. bagus."

"Hmmm, makasih" Ucap Anya yang tetap sok jutek.

"Kalau semisal saya minta tolong gambarin desain rumah bisa?"

"Bayaaarrr" Jawab Anya asal supaya Yoga menyerah basa basi busuk padanya.

"Iya, saya akan bayar pastinya untuk desain sebagus karya-karya kamu"

"MAHAAALLLLLL"

"Gak masalah, saya bayar"

"Sayaaa SIBUUKKKK"

"Waah sayang banget. Padahal kan lumayan untuk portfolio kamu. Pasti kalau kamu sudah punya pengalaman desain, pas sudah lulus dan nyari kerja bisa lebih mudah. Tapi yasudah kalau emang sibuk mau gimana lagi."

Anya berpikir sejenak. Benar yang diomongin Yoga, dengan adanya portfolio desain Anya, tentu di dunia kerja nantinya kemampuan Anya akan lebih diakui.

"Okeeee okeeee, emmmmhhh saya mau desainin, emang mau desain yang seperti apa kira-kira?" Anya mulai antusias dan menegakkan badannya yang tadi bersender di kursi sambil tetap memasang mimik jutek.

"Yeesss, berarti saya dimaafin juga yah?"

"Haaahhhh, apa hubungannya coba"

"Yaaahhh, masa gak dimaafin sih. Padahal saya nanti rela nguras semua tabungan saya loh buat bayar desain kamu. Maafin yaaah pliiisss"

"Iyaaa iyaaaa.." Anya sebenarnya sudah mulai memaafkan Yoga sejak awal dia mencoba meminta maaf, tapi yang namanya wanita, semakin dirayu semakin pula Ia jual mahal. Anya juga melihat ketulusan Yoga untuk meminta maaf dan sisi lain Yoga yang lembut, berbeda dengan kemarin yang tegas saat melakukan pekerjaan.

"Terus mau desain yang seperti apa nih?"

"Saya sih sukanya yang minimalis. Tapi detail per ruangnya saya jelaskan sekalian melihat lokasinya juga gimana? Sekalian saya antar kamu pulang nanti."

"Kan saya sudah bilang kalau masih nunggu orang bengkel..."

krrriiinngg....

"Haloo, gimana pak? sudah bisa saya ambil mobilnya sekarang?"

"Maaf mbak, ini ada sparepart yang baru ready besok atau lusa. Mungkin lusa baru beres mobilnya. Nanti saya infokan lagi gimana?" jawab suara di seberang telepon.

"Ooh gitu Pak, gak bisa lebih cepet pak?" Anya menjawab sedikit berbisik karena malu dengan Yoga.

"Iya nih mbak, sudah diusahakan. Soalnya sudah banyak yang harus ganti mbak, kelewat berapa kali servis ini"

"hehe iya sih Pak, yasudah kalau gitu. Infokan aja kalau sudah beres"

klikkk.. telepon terputus.

Yoga tersenyum seolah tau apa yang terjadi.

"Yuuukk ikut saya liat lokasinya. Nanti saya infokan juga detail desain yang saya inginkan"

Dengan terpaksa Anya mengikuti Yoga demi portfolio dan pengalaman desainnya.

***

Di mobil..

"Emmmh, jadi kamu adiknya temen Boy?" Tanya Yoga memecah keheningan mereka berdua.

"Iya" jawab Anya singkat.

"Udah lama berarti kenal sama Boy?"

"Hmmm.. lama"

"Singkat amat jawabannya." Ucap Yoga sambil melirik Anya yang melihat keluar jendela mobil.

"Terus harus jawab gimana?"

"Ya gak gimana gimana" Yoga memilih mengalah, setelah mendapat maaf dari Anya dia tidak ingin memancing kemarahan wanita itu lagi dengan terlalu ingin tau.

Mobil pun melaju dan mereka berdua larut dalam pikiran masing-masing. Jalanan sore itu cukup macet. Anya memutuskan memasang airpods dan mendengarkan lagu kesukaannya. Yoga meliriknya lagi, menyadari bahwa Anya cantik, sangat cantik.

***

"Vanila Latte satu sama ice cappucino satu ya mas" Mela dan Ika sedang nongkrong di cafe depan kampus setelah seharian lelah mengikuti perkuliahan.

"Gilaaaa capek banget gue, panes nih otak gue ngitung terus di kelas" Keluh Ika.

"Samaaa, gue juga. Kayaknya gitu salah jurusan dehhhh.. huhuhu"

"Huhuhu"

Kedua gadis cantik itu bercengkerama melepaskan penat perkuliahan.

"Gimana lu sama cowok lu Mel? Belum putus?"

"Enak aja luuu, awet gue sekarang" Mela emang paling sering gonta ganti pacar. Berbeda dengan Ika yang pernah pacaran dengan kakak kelasnya waktu SMA dan berakhir tragis dengan perselingkuhan. Sejak saat itu Ika betah menjomblo.

"Kenalin gue sama temen cowok lu coba. Emang gak ada anak mesin yang ganteng tapi jomblo?"

Pacar Mela berasal dari Jurusan teknik Mesin. Mela pacaran sudah hampir 6 bulan dan ini yang paling awet dari yang sebelum-sebelumnya.

"Lu mau sama Eric gak? Temennya Viko. Cuma ya playboy akut, paling sebulan jalan tar lu udah diputusin." Viko pacar Mela, dia setahun diatas Mela tapi belum lulus dan sedang mengambil tugas akhir, begitupun teman playboynya, Eric.

"Yaaahhh, jangan yang playboy dong. Emang sih kak Eric ganteng, badboy, tapi lu tau sendiri gue trauma diselingkuhi Mel"

"Gak ada jaminan cowok itu setiaaaa Ikaaaseyeeengg, Lu liat mantan lu dulu, modelan juga cupu tapi selingkuh juga kan. Siapa tau yang badboy begitu bisa lu jinakin" Mela menjawab sambil menyulut rok*k di tangannya.

"Yaelaaah, makan atiii ntar gueee. Stok lain gak ada apa Mel?"

"Kalau yang lain udah banyak yang lulus Ka, makanya Viko mainnya sama Eric mulu kan. Eeh, tapi si Eric tuh pernah nanyain Lu dulu. Nanya-nanya nama lu sih, cuma karena gue tau dia playboy cap gomeh jadi gak gue ladenin pas dia nanyain lu"

"Hmmmm gimana yah Mel, gue benernya pengen cari yang serius. Modelan Eric yang tebar pesona kesana kesini gue mah males"

"Kalau lu cari yang serius jangan ke gue Ikaaaa, lu kayak gak tau aja gimana pacaran gue. Kalau mau cari pacar buat seneng-seneng baru gue bantu cari" Mela menghisap rok*knya dan menghembuskan asapnya membentuk lingkaran.

"Tapi lu mau cari yang serius juga ngapain sih? Mau nikah besok lu?" Ledek Mela.

"Iya enggak gitu, cuma gue males aja gitu loh pake acara putus, cari cowok lagi, putus cari lagi. Riweuh pisan eeeuuhh"

"Justru itu enaknya Ka, lu bisa ngerasain banyak cowok hahahaha" Bisik Mela sambil tertawa cekikikan.

"Ogaaah aahh, males gue koleksi mantan. cukup satu mantan yang brengs*k itu aja cukup. emangnya elu, mantan-mantan lu dikumpulin udah bisa bikin club sendiri tuh"

Mela kembali terkekeh mendengar ucapan Ika. Benar yang Ika ucapkan, mantan Mela memang banyak, rata-rata hanya sebulan atau dua bulan sudah ganti lagi yang baru. Walau sering ganti pacar Mela masih termasuk bisa menjaga diri. Ia tidak mau disentuh dan kalau sudah menunjukkan gelagat pacarnya ingin sesuatu yang lebih dari Mela, Mela langsung meminta putus. Bahkan Ia pacaran dengan Viko ini bisa bertahan 6 bulan karena Viko memang cowok yang gak macem-macem. Mela menghisap rokoknya dan terkekeh membayangkan club mantan Mela.

Gaya Mela yang sedikit tomboy tapi cantik dan menarik membuatnya tak asing dengan rok*k. Belum lagi lingkungan kuliah yang rata-rata adalah perok*k membuatnya lebih leluasa lagi. Ada beberapa cowok di jurusan yang naksir dengan Mela, tapi Mela anti untuk berpacaran dengan teman satu jurusan, karena tipe yang gampang bosen Mela dan langsung minta putus saat bosen, Mela takut hal tersebut bisa berpengaruh ke perkuliahannya karena pacaran dengan teman satu jurusan. Berbeda dengan Ika yang tampilannya lebih kalem, dengan wajah imut dan kulit kuning langsat khas mojang bandung.

***

Oki berjalan menuju gasebo kampus untuk memulai asistensi dengan adik tingkatnya. Wajahnya sedikit kusut setelah tadi pacarnya mengirim pesan gambar foto Ia duduk bersama Anya di kantin. Pacarnya marah besar dan memblock nomornya. Oki sudah menjelaskan bahwa hubungannya dengan Anya hanya sekedar teman tapi tetap saja pacarnya marah karena cemburu.

Oki sudah berpacaran hampir 8 bulan. Tapi Ia merasa lelah dengan sifat cemburuan pacarnya ini. Ia selalu mengalah karena pacarnya selalu beralasan Ia takut Oki ke lain hati karena hubungan mereka yang LDR. Lusi, pacar Oki mahasiswa di Jogja. Lusi sendiri sebenarnya teman SMA Doni. Setahun lalu Lusi berlibur ke Jakarta bersama teman-temannya. Saat mampir ke rumah Doni tidak sengaja Ia bertemu dengan Oki. Lusi langsung jatuh hati dan minta di comblangin oleh Doni. Setelah tiga bulan menjalani hubungan LDR sifat Lusi menjadi berubah posesif, Oki sering dibuat kaget dengan kiriman foto aktivitas Oki, entah dari mana foto itu di dapat oleh Lusi. Sering kali foto itu memperlihatkan saat Oki duduk bersama Anya. Hal itulah yang selalu menjadi pemicu pertengkaran mereka. Lusi juga sering marah kalau Oki keluar tanpa memberinya kabar. Oki sudah cukup sabar selama ini menjelaskan bahwa tidak mempunyai hubungan apapun dengan Anya, tetapi Lusi yang cemburu buta selama ini selalu menjadikan hal itu perselisihan.

"Kakak Oki, kenapa kak kok kusut banget?"

"Eehhh Sisil, gak papa dek. Mana yang lain? jadi kan asistensinya?"

"Jadi kak, tunggu bentar yah. Ini udah saya share di grup kalau kakak sudah nunggu" Sisil menjawab dengan senyum manis terukir di bibirnya.

Sisil adalah adik tingkat Oki, Sisil dikenal rajin dan cantik. Badannya yang tidak terlalu tinggi membuatnya juga terlihat imut. Rambutnya bergelombang dan sering dikuncir kuda lengkap dengan ransel kecil yang dipakai, membuatnya masih cocok menjadi anak SMP dibanding anak kuliahan semester 4.

***

Hai haiii.. Boleh yah penulis curhat sebentar, sebenarnya nih penulis baru banget mencoba nulis novel begini. Jujur masih kaku dan bingung dengan alur cerita. Penulis ingin mengucapkan terima kasih banyak buat pembaca. Mohon like dan supportnya agar penulis bisa semangaaattt. Boleh banget loh support komentar untuk masukan buat penulis yang masih perlu banyak belajar ini.

Sekali lagi terima kasih buat pembaca, LOVEEE YOUUUU . Aku tanpamuu butiran debuuuu uwooo~

Terpopuler

Comments

Teti Hayati

Teti Hayati

Yee... mana mau ya Pak Pol, masa gak ketemu lagi... 😂

2023-11-14

0

lihat semua
Episodes
1 What A Day?
2 Salah Tangkap
3 Pantang Menyerah
4 Keinginan Mama Meli
5 Ide cemerlang
6 Dasar Lelaki
7 Bantuan Si Boy
8 Kejujuran yang Tertunda
9 Egois
10 Gosip
11 Hati yang Patah
12 Rencana Gila
13 Perjodohan
14 Posesif
15 Andre
16 Apakah Ini Rindu?
17 Kembali
18 Playboy
19 Kenyataan
20 Kejujuran
21 Pengakuan
22 Pacaran Beneran
23 Cemas
24 Panggilan Sayang
25 Sesuatu Tersembunyi
26 Keberanian Gista
27 Cemburu
28 Pengorbanan
29 Dalang dibalik penyerangan
30 Kepulangan Yoga
31 Lamaran
32 Keseriusan Ezza
33 Ciuman pertama
34 LDR lagi
35 Kamu cantik malam ini
36 Kehilangan
37 Menjauh demi Kebaikan
38 Kecewa
39 Bucin Akut
40 Persiapan Pernikahan
41 Mabuk
42 Seleksi Alam
43 Bidadari
44 Kesepian
45 Tua Bangka
46 Diapelin
47 Permintaan Maaf
48 Tanggung jawab
49 Berpisah
50 Kepingan Puzzle
51 Pembuktian
52 Terungkap
53 Terbongkar
54 Pegawai Baru
55 Kesempatan kedua
56 Blunder
57 Penyesalan
58 Hari Pernikahan
59 Malam Pertama
60 Ungkapan Perasaan
61 Kehadiran
62 Pesaing
63 Niat Busuk
64 Memberontak
65 Berusaha
66 Lulus
67 Hamil
68 Kabar Gembira
69 Pelukan
70 Papa dan Mama
71 Pamit
72 Terpukul
73 Lebih Aman
74 Kewajiban
75 Menjaga Perasaan
76 Handphone baru
77 Opname
78 Berdegup
79 Berbeda
80 Pertikaian
81 Perasaan Mela
82 Salah Tingkah
83 Status baru
84 Tiga serangkai
85 Malaikat kecil
86 Be Strong
87 Membangun keluarga
88 Rambut baru
89 Memperbaiki masa lalu
90 Ikatan batin
91 Terjebak di Lift
92 hormon
Episodes

Updated 92 Episodes

1
What A Day?
2
Salah Tangkap
3
Pantang Menyerah
4
Keinginan Mama Meli
5
Ide cemerlang
6
Dasar Lelaki
7
Bantuan Si Boy
8
Kejujuran yang Tertunda
9
Egois
10
Gosip
11
Hati yang Patah
12
Rencana Gila
13
Perjodohan
14
Posesif
15
Andre
16
Apakah Ini Rindu?
17
Kembali
18
Playboy
19
Kenyataan
20
Kejujuran
21
Pengakuan
22
Pacaran Beneran
23
Cemas
24
Panggilan Sayang
25
Sesuatu Tersembunyi
26
Keberanian Gista
27
Cemburu
28
Pengorbanan
29
Dalang dibalik penyerangan
30
Kepulangan Yoga
31
Lamaran
32
Keseriusan Ezza
33
Ciuman pertama
34
LDR lagi
35
Kamu cantik malam ini
36
Kehilangan
37
Menjauh demi Kebaikan
38
Kecewa
39
Bucin Akut
40
Persiapan Pernikahan
41
Mabuk
42
Seleksi Alam
43
Bidadari
44
Kesepian
45
Tua Bangka
46
Diapelin
47
Permintaan Maaf
48
Tanggung jawab
49
Berpisah
50
Kepingan Puzzle
51
Pembuktian
52
Terungkap
53
Terbongkar
54
Pegawai Baru
55
Kesempatan kedua
56
Blunder
57
Penyesalan
58
Hari Pernikahan
59
Malam Pertama
60
Ungkapan Perasaan
61
Kehadiran
62
Pesaing
63
Niat Busuk
64
Memberontak
65
Berusaha
66
Lulus
67
Hamil
68
Kabar Gembira
69
Pelukan
70
Papa dan Mama
71
Pamit
72
Terpukul
73
Lebih Aman
74
Kewajiban
75
Menjaga Perasaan
76
Handphone baru
77
Opname
78
Berdegup
79
Berbeda
80
Pertikaian
81
Perasaan Mela
82
Salah Tingkah
83
Status baru
84
Tiga serangkai
85
Malaikat kecil
86
Be Strong
87
Membangun keluarga
88
Rambut baru
89
Memperbaiki masa lalu
90
Ikatan batin
91
Terjebak di Lift
92
hormon

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!